Bab 17 : Api yang Menjadi Bayangan

1519 Words
Hujan deras yang tak henti-hentinya mengguyur kawasan perbukitan bagian selatan wilayah Majapahit malam itu menambah nuansa kegelisahan, dengan kilat menyambar-nyambar membelah kelamnya langit seperti suara cambukan para dewa yang menggelegar. Udara malam begitu lembab, membawa aroma besi dan darah yang baru mengalir. Di bawah terpal anyaman yang basah, Sengkala duduk terikat mematung di tengah perkemahan Purwawisesa. Luka lama di bahunya kembali terbuka, membuat darah segar mengalir dan bercampur dengan air hujan yang dingin menetes. Ia gemetar, namun bukan karena takut akan nasib yang mungkin menantinya, melainkan karena panas demam serta amarah yang berkobar dalam dirinya, enggan padam. Meskipun suasana tenda dipenuhi ketegangan, para prajurit Tumbal Pusaka tampak sibuk mempersiapkan pasukan yang lebih besar, memastikan segala sesuatunya dalam kondisi siap tempur. Deretan obor tertancap di tanah yang berlumpur, menerangi pemandangan tubuh-tubuh tanpa kepala yang baru saja dihukum dan dipancung karena gagal menemukan "wahyu" yang diinginkan oleh para bangsawan yang sudah kehilangan nalar. Sementara itu, di tengah gemuruh malam yang tak berkesudahan, Adipati Kertabhumi terduduk di kursi kayu yang rendah, diapit dua prajurit elit yang siap siaga di sisinya. Di tangannya, ia memegang 'Giris Pawaka', sebuah keris yang bergetar halus seolah-olah enggan disentuh oleh siapapun kecuali empunya sendiri. “Cantik, bukan?” ucap Kertabhumi dengan nada datar, namun menyiratkan kebanggaan. “Besi ini punya jiwa. Kau… empu kecil yang datang dari lembah hina, benar-benar tak tahu apa yang telah kau ciptakan sebenarnya.” Sengkala, dengan mata yang mulai lelah dan penglihatan yang samar, menatap Kertabhumi dengan tatapan penuh makna, suaranya parau karena lelah yang melanda. “Keris itu bukan dewa, Adipati. Ia tak dapat membuat siapapun naik menjadi raja.” “Bukan dewa,” Kertabhumi menyeringai, senyumnya licik dan penuh tipu daya. “Namun ia adalah simbol. Dan simbol jauh lebih kuat dari sekadar besi, bahkan lebih berdarah daripada peperangan. Dengan kerismu, orang-orang akan bersujud... dan akhirnya Majapahit akan menjadi milikku sepenuhnya.” Ia berdiri, mendekat, menatap tajam ke arah Sengkala dengan pandangan penuh kebanggaan yang licik. “Kau pikir kami mengejarmu hanya karena logam yang kau miliki? Tidak. Kami mengejar yang lebih dari itu—legitimasi. Orang-orang percaya bahwa keris pusaka ini lahir dari tangan seorang empu yang dipilih oleh para dewa. Selama namamu hidup, keris ini akan terus bernapas.” Sengkala menundukkan kepala, batuknya mengeluarkan darah. “Kalau begitu, bunuh saja aku. Maka keris itu juga akan menjadi mayat.” Kertabhumi tertawa pendek, suaranya sinis. “Tidak semudah itu. Kau harus hidup, cukup lama untuk menyaksikan aku naik takhta. Lalu baru kubunuh kau secara perlahan... agar rakyat tahu siapa pemenangnya yang sesungguhnya.” Di luar tenda, suara hujan semakin menumpahkan airnya. Srintil dan Lurah—yang masih hidup namun terluka—bersembunyi di balik hutan yang mengelilingi perkemahan, mengintip bayangan samar Sengkala yang dibawa ke tiang kayu di pusat perkemahan. Di antara gemericik air, mereka berbisik dengan tegang. “Kita harus masuk malam ini,” gumam Srintil, meski ada keraguan di balik suaranya. “Masuk?” Lurah menatapnya dengan ragu, tangannya masih berlumur darah. “Seratus prajurit menjaga seluruh area tenda. Mereka bisa membunuh kita sebelum kita sempat mendekati Sengkala.” Srintil mengepalkan tangan, berusaha menumbuhkan keberanian. “Kalau kita diam, mereka akan membawanya ke istana timur. Maka segala harapan kita sudah habis.” “Bagaimana caramu melalui para penjaga?” “Aku punya ide.” Ia mengeluarkan bungkusan kecil dari balik ikat pinggang—campuran berbahaya dari belerang dan serbuk arang buatan Sengkala dulu. “Dunia akan berpikir aku menjadi anak murid yang gila. Namun aku belajar dua hal dari Sengkala: api bisa menjadi pelindung atau menjadi penghancur. Kali ini, aku memilih yang kedua.” Mereka sepakat menunggu hingga tengah malam tiba. Ketika kilat mulai menyambar, gemericik hujan menjadi penyamar langkah-langkah berani mereka. Sementara itu, di tenda utama yang dijaga ketat, Sengkala dipaksa duduk dengan kedua tangan terikat erat di belakang tubuhnya. Kertabhumi memutar 'Giris Pawaka' di tangannya, seakan tengah mengagumi sebuah karya seni yang hebat. “Katanya pamor ini hidup kalau disiram darah empunya. Apa benar itu?” ujarnya sambil mengangkat alis, penuh dengan keraguan dan rasa penasaran. “Cobalah,” jawab Sengkala dengan tenang dan tidak tergesa. “Namun jika api menyambar ke arahmu, jangan salahkan aku bila itu terjadi.” Kertabhumi menyipitkan matanya, lalu tertawa keras, seakan mengejek. “Empu sombong yang merendah! Baiklah. Mari kita lihat sendiri hasil karya tanganmu!” Dia mengarahkan ujung keris ke tangan Sengkala, lalu menorehkan luka di pergelangannya. Darah panas menetes ke bilah 'Giris Pawaka'. Saat itu juga, petir menyambar dengan hebat—dan seolah dunia berhenti sejenak dalam satu tarikan napas. Bilah keris itu bergetar hebat, dan dari guratan pamornya memercikkan cahaya merah, bagai urat nadi yang mulai hidup. Obor yang menyala di sekitar tenda meredup sesaat, bergoyang tertiup angin yang entah datang dari mana. Para prajurit mundur ke belakang karena ketakutan. “Adipati! Kerisnya hidup!” Tapi Sengkala tahu: itu hanyalah reaksi dari besi yang bertemu dengan panas darahnya, bukanlah sebuah mukjizat seperti yang mereka kira. Ia tersenyum lemah. “Kau lihat? Takhta bukan tumbuh dari darah, namun dari kebodohan yang percaya padanya.” Kertabhumi murka, menendang kursinya hingga terjungkal. “Kurung empu ini di tiang! Siapkan perarakan ke timur. Besok pagi aku akan menaikkan bendera kerajaan baru di atas kepalanya!” Saat tengah malam tiba. Hujan berhenti secara tiba-tiba, hanya terdengar suara serangga malam dan sisa gemuruh api dari tenda yang masih membara. Srintil menyusup melalui celah parit di belakang, membawa bejana kecil berisi campuran belerang. Dari atas bukit, Lurah menunggu sinyal obor yang akan menjadi pertanda. Suara langkah kaki prajurit terdengar mendekat. Dua penjaga menjaga tiang tempat Sengkala terikat, mengobrol santai tanpa menyadari bahaya yang datang. “Kau percaya keris itu benar-benar milik dewa?” salah satu dari mereka bertanya dengan nada penasaran. Yang lain tertawa, seolah meremehkan. “Kalau benar, kita semua sudah jadi abu tadi.” Detik itu juga, Srintil melempar bejana ke arah dapur tenda—BOOM! Ledakan kecil namun nyaring menyambar atap yang terbuat dari rumbia, dengan cepat menyulut api yang langsung berkobar dengan ganas. Kobaran merah m******t udara malam yang dingin. Kepanikan pun pecah seketika! “Api! Ada kebakaran di dapur!” teriak para prajurit yang terkejut dan panik. Di tengah kekacauan yang terjadi, Lurah berlari turun dari bukit dengan membawa tombak di tangannya. Srintil bergegas menebas tali pengikat Sengkala. “Mas! Bangun!” Sengkala tersentak bangun, setengah sadar dengan tubuh yang kelelahan. “Srintil... kalian sudah gila?” “Ya, tapi gila yang rela mati demi orang yang kami sayangi.” Ia membantu Sengkala berdiri, meskipun tubuhnya masih terasa goyah. Mereka berusaha kabur melalui celah sempit di belakang, tapi prajurit lawan cepat menyadarinya. “Empu kabur! Tangkap segera!” Anjing pemburu mulai mengejar, menggonggong dengan ganas. Tiga panah melesat menembus udara dingin, satu mengenai kaki Srintil, membuatnya jatuh tersungkur ke tanah, tapi ia terus berteriak kepada Lurah dan Sengkala. “Lari! Jaga kerisnya! Aku akan menahan mereka!” “Tidak!” Sengkala ingin berbalik, namun Srintil menatapnya dengan tekad yang kuat. “Pergi, Mas! Jangan biarkan perjuanganku sia-sia!” Ia melempar satu lagi bejana bahan bakar ke arah tenda—ledakan kedua mengguncang medan pertempuran. Api melahap seluruh perkemahan, menelan Srintil bersama puluhan prajurit musuh dalam kobaran yang tidak mengenal ampun. Sengkala menatap dengan mata berkaca-kaca, penuh kesedihan, namun Suradipa menyeretnya, “Kita belum boleh mati hari ini!” Mereka berlari menembus hujan abu yang mulai membasahi wajah, menuju arah barat—menuju hutan lebat yang terletak di balik gunung. Di tangan Sengkala, 'Giris Pawaka' masih bersinar, pamornya merah laksana bara tertahan yang enggan padam di tengah kegelapan malam yang melingkupi. Menjelang subuh, di kaki sebuah gunung, hanya tiga orang yang tersisa—Sengkala, Lurah, dan Suradipa. Mereka berlindung di bawah batu besar, napas mereka tersengal-sengal, pakaian mereka sebagian hangus, tubuh mereka bermandikan luka-luka. Lurah menatap langit yang mulai memerah, lalu bertanya lirih, seakan takut mengganggu pagi yang baru menanjak. “Mas... apakah ini akhir dari perjalanan kita?” Sengkala menatap keris di tangannya, cahaya matanya tajam namun redup oleh kelelahan. “Bukan akhir,” jawabnya dengan suara berat. “Ini hanyalah awal dari kehancuran yang lebih besar. Majapahit sudah terbakar dari dalam, tapi juga kini terbakar oleh ambisi dan pengkhianatan. Kita hanya menyaksikannya menyala.” “Kalau semua sudah terbakar,” kata Suradipa pelan, mengendurkan bahunya yang lelah, “lalu apa yang tersisa untuk kita?” Sengkala menarik napas panjang, menatap nyala kecil di pamor 'Giris Pawaka.' “Api mati saat tak ada lagi yang percaya padanya. Kau lihat? Kita masih hidup. Maka selama kita hidup, api itu akan terus menyala dalam bentuk ingatan dan cerita—bahkan meski yang tersisa hanya bayangan sekelebat.” Di kejauhan, kabut pagi mulai datang perlahan, memperlihatkan jejak desa-desa yang dilalap api, bendera Purwawisesa dan Wikramawardhana berkibar di tempat berbeda—tanda dua kekuatan besar saling mencabik tanah yang sama. Dan di antara reruntuhan sejarah yang besar dan megah itu, tiga pengungsi kecil berjalan perlahan menuju arah barat, membawa sisa-sisa jiwa kebesaran Majapahit yang masih berdenyut dalam bara kecil di keris seorang empu yang tak dikenal namanya. Namun, langkah mereka takkan pernah tenang: para pemburu dari timur telah bangkit kembali, dan Majapahit memasuki babak terakhir dari amuknya yang abadi dan tak berkesudahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD