45

1589 Words

"Lan, kita engga usah pergi ya," rayu Anika. ia memasang wajah memelas agar suaminya mau menuruti maunya. Orlando tertawa pelan sambil menyentil dahi Anika. "Kita harus dateng, karena kita pemenangnya," bantahnya. Anika merengut, entah kenapa dia tidak bisa sepercaya diri Orlando. "Kalau kenyataannya---" "Sstt.. Engga boleh berpikiran buruk, Sayang. Kalau kamu sendiri engga yakin, Orang-orang yang ngedukung kamu pasti bakal kecewa, termasuk aku," potong nya. Anika meringis tanpa sadar. Semenjak pengakuan ambigu Orlando tentang perasaannya, suaminya itu jadi sering sekali memanggil dirinya dengan sebutan yang manis. Namun meski begitu, Anika masih tidak terbiasa karena bagaimana pun dulu dia dan Orlando tidak memiliki hubungan romantis seperti ini. Apalagi mereka menikah hanya karena

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD