Di waktu yang bersamaan, di kediaman Gilang Andreas, Bima Sakti tergelak melihat sahabatnya masih menekuk wajah. Bima baru sampai ke rumah mewah itu beberapa menit lalu dan mendapati sosok yang ia kenal begitu tangguh kini tampak rapuh hanya karena omong kosong Wiranto—begitu yang Bima sakti simpulkan. Bos percetakan buku itu sama sekali tidak menyukai situasi muram yang ditunjukkan Andreas. “Came on, Kawan. Kita bersenang-senang malam ini. Aku punya teman seorang pemilik club malam yang hebat. Di sana kau bisa mengencani banyak gadis. Bukankah itu ide menarik?” Bima menyilangkan kaki. Bokongnya menduduki sofa empuk yang hanya berjarak satu meter dari Andreas. “Aku akan menyetujui bila ada Arini di sana.” Suara Andreas parau, ia menatap malas ke arah Bima. Sahabatnya itu sudah pasti me

