"Mama kecewa padamu!" Bahkan sampai satu jam berlalu, kemarahan mama masih membludak kepadaku. Sejak tadi ia enggan menunjukkan keramahan pada aku, anaknya sendiri. Entah kenapa dia begitu ngotot ingin mempertahankan Shanum, padahal dulu ia tidak terlalu menyukai kedekatan kami. "Mama yang merekrut dia jadi tenaga pendidik ahli di yayasan mama. Mama didik dia, mama latih dia, bahkan sampai mama datangkan mentor profesional secara gratis agar dia belajar! Tapi kau, seenaknya melepas dia. Mama tidak mau menerima uang itu, dia karyawan mama. Jika mau mengundurkan diri harus dengan persetujuan mama." Aku sedang malas untuk berdebat, apalagi dengan mama. Toh, aku tidak akan pernah menjadi pemenangnya. "Bawa dia kembali ke yayasan! Mama tidak mau tahu!" paksanya yang mungkin tak akan bis

