SOG | Sehari Bersama

1052 Words
Tak terasa Sherina sudah menghabiskan waktunya membaca buku selama berjam-jam. Dan selama itu Sagara tak kunjung bangun. Padahal hari sudah mulai beranjak siang. Dengan hati-hati Sherina menggeser kursinya tak ingin menimbulkan suara keras. Tapi usahanya itu sia-sia saja ketika kelopak mata Sagara perlahan terbuka. Sherina menggigit bibir bawahnya gugup begitu netra jelaga Sagara langsung mengarah ke arahnya. Dia masih setengah berdiri ketika Sagara menegakkan tubuhnya. "Mau kemana?" tanya Sagara dengan suara serak khas bangun tidur. Sherina mengerjap, sebelum menjawab."Mau balikin buku ini." Sagara hanya ber-oh ria sembari merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sherina memanfaatkan kesempatan itu dengan segera beranjak dari kursinya. Buru-buru mengembalikan buku yang sempat dia baca tadi ke tempat asalnya. "Kamu mau pulang sekarang, Sherina?" Sagara kembali melontarkan pertanyaan begitu Sherina kembali ke tempat duduknya dan langsung membereskan barang-barangnya. Sherina mengangguk,"Iya, Om. Udah sore, waktunya pulang." jawab gadis itu kalem. Sagara yang menyadari sikap Sherina kembali lembut padanya sempat menaikkan alisnya heran. Tapi dalam hati dia merasa senang juga. Apa gadis itu mulai luluh padanya? "Kalau begitu biar saya antar." Sagara mengajukan diri untuk mengantar Sherina pulang. Sherina buru-buru menggeleng, menolak tawaran Sagara. Gadis itu hanya tidak ingin merepotkan. "Nggak usah, Om. Sherina bisa pulang sendiri kok." tolaknya. Sagara menatap gadis di depannya datar, tak suka dengan penolakan Sherina. Dia hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan gadis itu. Mengingat dirinya justru tertidur di saat niatnya ingin menemani Sherina membaca buku. "Tidak ada penolakan, Baby. Kamu pulang bersama saya." putus Sagara mulai kambuh sikap otoriternya. "Kok Om Saga maksa sih?" dengus Sherina. Raut wajah Sagara tampak melunak walaupun masih terlihat datar."Saya hanya ingin memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat." tuturnya. Sherina yang mendengarnya seketika dibuat terenyuh. Benar kan apa yang dia pikirkan tadi. Sagara begitu perhatian terhadap dirinya. Dan jujur saja, Sherina merasa baper. "Y-Ya udah deh kalo Om Saga maksa." balasnya pura-pura acuh dan lebih dulu berlalu. Sagara tersenyum miring, merasa puas karena Sherina mau dia antar pulang. Pria itu lantas segera menyusul langkah Sherina. Jika diperhatikan, keduanya tampak seperti seorang paman dan keponakannya. Perbedaan usia mereka terlihat sangat kontras. Sherina terlihat seperti remaja pada umumnya yang beranjak dewasa. Sedangkan Sagara terlihat masih muda, namun tidak dapat menutupi kedewasaannya. Keluar dari toko buku, Sherina tampak mengekori Sagara yang berjalan menuju parkiran. Pria itu berhenti di dekat mobil mewah berwarna hitam metalik. Lalu tanpa aba-aba langsung membuka pintu bagian penumpang. "Masuklah, Sherina!" ujar Sagara dengan lembut. Sherina yang mendapat perhatian tersebut tak dapat menyembunyikan rona di pipinya. Gadis itu mengangguk sebelum menunduk melewati Sagara. "Apa kamu tidak keberatan saya ajak makan siang dulu sebelum pulang, Baby?" tanya Sagara di tengah perjalanan. Sherina hampir tersedak liurnya mendengar panggilan Sagara. "Bisa nggak sih, Om Saga jangan panggil aku kaya gitu? Aku tuh bukan sugar baby-nya Om Saga yah." omel Sherina. Sagara justru tertawa mendapat omelan dari Sherina. Baginya gadis itu jadi terlihat semakin menggemaskan. "Memangnya panggilan itu hanya dikhususkan untuk sugar baby saja?" Sagara menimpali dengan santai. Sherina tampak berpikir, sebelum menggelengkan kepalanya."Sherina juga nggak tau. Tapi di novel yang sering Sherina baca, panggilan itu sering dipakai sama daddy jadi-jadian buat manggil baby-nya." jelasnya. Lagi, Sagara dibuat tertawa dengan jawaban polos Sherina. Pria itu tak tahan untuk tidak mencubit pipi gadis itu dengan gemas. Yang membuat Sherina mendengus kesal. "Kamu terlalu termakan drama. Panggilan itu bisa juga dipakai seseorang pada kekasihnya." jawab Sagara menatap Sherina sebentar. Sebelum kembali fokus pada kemudinya. Sherina mengetuk dagunya dengan ujung telunjuk."Terus kenapa Om Saga panggil Sherina kaya gitu? Kita nggak pacaran. Sherina juga bukan sugar baby-nya Om Saga." "Kalau saya bilang saya ingin kamu menjadi sugar baby saya bagaimana?" Sagara mengatakannya tanpa ragu. "Ap-eh? APA? OM SAGA BILANG APA TADI?" pekik Sherina keras. Sagara yang terkejut spontan mengerem mendadak. Mobilnya itu sampai oleng karena gerakannya yang tiba-tiba. "Ya Tuhan, Om. Sherina kaget tau Om Saga tiba-tiba ngerem mendadak. Om mau bikin Sherina jantungan?" Sherina justru marah-marah. Tak menyadari jika apa yang Sagara lakukan barusan karena dirinya terkejut mendengar teriakan gadis itu. Sagara mendengus,"Kamu ini benar-benar berisik sekali. Saya tidak mungkin seperti ini jika bukan karena terkejut mendengar teriakan kamu." Sherina masih menampilkan raut judes."Y-Ya siapa yang nggak kaget denger ucapan Om Saga tadi." Sagara menatap sekitar sebelum melepaskan seat-beltnya. Pria itu lantas menggeser duduknya menjadi menghadap ke arah Sherina yang tengah menunduk. "Kenapa harus terkejut? Saya memang sudah sejak lama tertarik sama kamu. Jadi apa kamu mau menerima tawaran saya?" ujar Sagara dengan intonasi yang lebih rendah. Tak ada jawaban dari gadis di depannya ini. Sherina justru sibuk memainkan jari-jarinya yang ada di atas pangkuannya. Dengan lembut Sagara mengambil sebelah tangan Sherina untuk dia genggam. Membuat gadis itu tersentak dan memberanikan diri untuk melihat ke arahnya. Jantung Sherina berdebar dengan cepat ketika iris beningnya bertemu pandang dengan netra jelaga milik Sagara. Gadis itu mencoba menerka apa yang akan dilakukan oleh pria dewasa itu. Seharusnya dia merasa marah karena tawaran gila dari Sagara. Tapi Sherina masih mencoba untuk berpikir positif. Mungkin saja pria itu hanya bercanda. "Saya tahu hidup kamu merasa terkekang selama ini karena tuntutan papa kamu. Ssstt.. jangan potong ucapan saya dulu." Sagara meletakkan telunjuknya di depan bibir Sherina ketika gadis itu hendak protes. "Saya sudah mencari tahu semua tentang kamu, Sherina. Papa kamu, Ardhio terlalu keras mendidik kamu. Dia tidak pernah memberikan kamu kebebasan dan terus menuntut kamu agar mendapat peringkat pertama. Jujur saja pada saya, apa kamu baik-baik saja selama ini?" tanya Sagara pada akhir kalimatnya. Sherina memalingkan wajahnya mendengar pertanyaan itu. Bohong jika dirinya tidak tertekan dan baik-baik saja dengan sikap papanya. Selama ini Sherina ingin memberontak, tapi dia tidak bisa berbohong jika dirinya masih membutuhkan papanya untuk bertahan hidup. "Om Saga nggak usah sok tahu. Sherina baik-baik aja selama ini." jawab Sherina membulatkan tekad. Sagara terdiam, mengamati raut wajah Sherina yang menyimpan getir. Dia sadar jika gadis itu berusaha untuk menampik perasaannya. "Saya tahu kamu tidak baik-baik saja, Sherina. Kamu boleh membohongi saya tapi kamu tidak boleh membohongi diri kamu sendiri." ujar Sagara dengan berani mengelus sisi wajah Sherina. Sherina bergeming, tak ada maksud untuk menepis tangan Sagara yang dengan lancang menyentuhnya. Gemuruh di dadanya masih belum reda. Gejolak batin antara menyangkal atau menerimanya. "Jadilah simpanan saya. Saya akan menjamin hidup kamu baik-baik saja. Dan kamu akan terlepas dari jeratan papa kamu." bisik Sagara sebelum kemudian mengecup sudut bibir Sherina dengan lembut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD