Bab 7

1267 Words
Pagi itu, langit Sungai Geringging cerah tanpa mendung. Matahari baru saja naik di balik bukit, menyinari gang-gang sempit yang mulai ramai dengan aktivitas warga. Yusri berdiri di teras rumah, menunggu Farrel yang sedang memanaskan motor King hitamnya. “Ayo, naik!” perintah Farrel sambil mengenakan helm. Yusri menaiki motor di belakang kakaknya seperti biasa. Tapi kali ini, Farrel tidak berhenti di persimpangan jalan seperti biasanya. Motor terus melaju, melewati pohon-pohon rindang, hingga akhirnya berhenti tepat di depan gerbang SMP 4 Suger. Yusri terkejut. “Bang, kok sampai depan?” Farrel mematikan mesin, menoleh ke belakang dengan senyum tipis. “Lu kan tangan masih sakit. Masa gue suruh jalan kaki?” Yusri tersenyum kecil. Senyum manisnya muncul, meski samar. “Makasih, Bang.” “Ya udah, masuk. Jangan bolos!” Farrel tancap gas meninggalkan Yusri di depan gerbang. Beberapa siswa yang melihat adegan itu melirik penasaran, tapi Yusri tidak peduli. Dia berjalan masuk sambil memegangi pergelangan kirinya yang masih terbalut kain tipis bekas cedera kemarin. Ruang kelas 9A masih setengah kosong ketika Yusri masuk. Yasril sudah duduk di bangku kebiasaan mereka, di deretan depan dekat jendela. Begitu melihat Yusri masuk dengan tangan yang masih dipegangi, Yasril langsung mengernyit. “Lu kenapa, Ri?” tanyanya khawatir. “Tangan lu kenapa?” Yusri duduk di sampingnya, meletakkan tas di atas meja. “Mau cerita, tapi...” Kring! Bel masuk berbunyi nyaring. Suaranya memecah suasana pagi yang baru saja hening. Pintu-pintu kelas terbuka, siswa-siswa berhamburan masuk dengan suara riuh rendah. Kursi-kursi digeser, buku-buku dibuka, dan obrolan kecil masih terdengar di sana-sini. “Nanti cerita, deh,” kata Yusri sambil membuka buku. Yasril mengangguk, tapi matanya masih memperhatikan tangan temannya itu. Suasana kelas mulai teratur ketika para siswa duduk di tempat masing-masing. Yusri melirik ke bangku belakang. Di sana, Riyan baru saja masuk. Wajahnya lesu, matanya sayu, dan dia berjalan tanpa semangat. Biasanya Riyan masuk dengan suara keras, tertawa, atau setidaknya menyapa teman-temannya. Tapi pagi ini dia seperti bayangan dirinya sendiri. Yasril mencondongkan tubuh ke arah Yusri, berbisik, “Lihat tuh Riyan. Dia kayak habis dimarahin atau... sebaliknya.” Yusri mengamati. Riyan duduk di samping Arif teman sebangkunya yang biasanya selalu diajak bercanda. Tapi pagi ini, Riyan hanya duduk diam, membuka buku tanpa suara. Arif beberapa kali mencoba menyapa, tapi Riyan hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. “Iya,” jawab Yusri pelan. “Dia kelihatan hancur.” Mereka berdua tidak sempat berbicara lebih lanjut. Suara langkah kaki guru terdengar dari lorong. Kelas yang tadinya masih berisik perlahan mereda. Seorang wanita muda masuk ke dalam kelas. Dia mengenakan kemeja putih dan rok panjang biru tua, rambutnya diikat ke belakang dengan simpel. Wajahnya cantik dan manis, dengan senyum yang selalu membuat suasana kelas menjadi lebih ringan. Itu Bu Aida guru fisika yang baru bertugas tahun ini. Bu Aida adalah guru favorit hampir semua siswa. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tapi juga karena cara mengajarnya yang asik, tidak membosankan, dan selalu sabar. Bahkan siswa yang paling bandel sekalipun akan diam ketika Bu Aida mulai menjelaskan. “Selamat pagi, anak-anak,” sapa Bu Aida sambil meletakkan buku di meja. “Selamat pagi, Bu!” seru siswa serempak. “Bagaimana kabar kalian pagi ini?” “Baik, Bu!” Bu Aida tersenyum. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti sejenak di tangan Yusri yang terbungkus kain. Dia mengernyit, tapi tidak bertanya. Mungkin nanti, setelah pelajaran. “Baiklah,” Bu Aida membuka buku. “Hari ini kita akan membahas tentang gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan. Siapa yang masih ingat perbedaannya?” Beberapa siswa mengangkat tangan. Tapi Bu Aida belum menunjuk siapa pun. Dia menulis beberapa soal di papan tulis—lima soal tentang perhitungan kecepatan, jarak, dan waktu. “Siapa yang bisa menjawab kelima soal ini?” tanya Bu Aida sambil menoleh ke kelas. Yusri mengangkat tangan. Fisika adalah pelajaran kesukaannya. Meskipun tangannya masih sakit, semangatnya tetap membara. Tapi sebelum Bu Aida sempat menunjuknya, dari bangku belakang, satu tangan terangkat lebih cepat. Riyan. Semua mata tertuju ke arah Riyan. Beberapa siswa terlihat terkejut. Riyan yang bandel, yang kemarin menangis di kelas, yang dipanggil ke ruang BK tiba-tiba mengangkat tangan untuk menjawab soal fisika? Bu Aida mengangguk. “Silakan, Riyan.” Riyan berdiri. Dia berjalan ke depan dengan langkah mantap, mengambil kapur, dan berdiri di hadapan papan tulis. Matanya membaca soal pertama. “Boleh saya jawab kelimanya sekalian, Bu?” tanyanya, suaranya pelan tapi tegas. Bu Aida tersenyum. “Silakan, jika kamu bisa.” Riyan mulai menulis. Kapur putih itu bergerak cepat di papan hijau. Rumus-rumus ditulis dengan rapi, angka-angka dikalkulasi dengan tepat. Satu soal, dua soal, tiga soal... semua terjawab tanpa kesalahan. Siswa-siswa di kelas mulai berbisik kagum. Di bangku tengah, Farhan siswa peringkat satu yang selalu menduduki posisi teratas menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia menyilangkan tangan di d**a, menatap Riyan dengan pandangan sinis. Lalu dia menoleh ke teman sebangkunya, berbisik dengan suara yang sengaja tidak terlalu pelan. “Apa iya dia bisa? Biasanya si bandel itu mainnya bolos.” Teman sebangkunya terkekeh pelan. Yusri mendengar bisikan itu. Dari bangku depan, suara Farhan terdengar jelas. Mata Yusri menyipit, tangannya yang sehat mengepal di bawah meja. Sombong amat, anjir, pikir Yusri. Kayak lu sangat pintar aja. Dia tahu Farhan memang pintar. Farhan adalah pesaing ketat peringkat satu dan dua, kadang bergantian dengan siswa lain. Tapi sikapnya yang suka mengambil muka di depan guru dan sering mengadu tentang teman-temannya membuat banyak siswa tidak suka. Apalagi, Farhan juga terkenal dekat dengan banyak cewek sesuatu yang membuat iri sebagian siswa laki-laki. Tapi di kelas 9A, cewek-ceweknya memang rata-rata cantik. Ada Intan dengan senyum manisnya, Devi yang anggun dan pendiam, Ola yang enerjik, Nabila yang tomboy tapi menawan, Echa yang selalu rapi seperti boneka, dan masih banyak yang lain. Mereka adalah warna-warni yang membuat kelas 9A selalu menarik untuk dipandang. Yusri teringat sesuatu. Sesuatu yang membuatnya tersenyum di tengah seriusnya Riyan mengerjakan soal. Devi. Pertama kali Devi mendekatinya dulu waktu itu di awal kelas 7 Yusri masih menjadi anak pendiam yang gampang tersinggung. Devi yang manis dan ramah itu datang ke bangkunya, tersenyum, dan mengulurkan tangan. “Halo, namaku Devi. Kita kenalan, yuk!” Apa yang dilakukan Yusri? Bukan menyambut, bukan tersenyum balik. Tapi... lari. Yusri benar-benar bangkit dari kursinya dan berlari keluar kelas, meninggalkan Devi yang bengong di tempat. Sampai sekarang, kalau Yusri mengingat kejadian itu, dia ingin menampar diri sendiri. Tapi kejadian itulah yang membuat Devi dan teman-temannya mulai penasaran dengan Yusri. Dan entah kenapa, sejak saat itu, Devi sering memperhatikannya. Kadang tersenyum dari kejauhan. Kadang menyapanya meski hanya dengan anggukan. Yusri tersenyum sendiri mengingat itu. Senyum manisnya muncul tipis di sudut bibir. “Ngapain lu senyum-senyum sendiri?” bisik Yasril di sampingnya. “Gak apa-apa,” jawab Yusri cepat, berusaha menyembunyikan senyumnya. “Mikirkan cewek, ya?” goda Yasril dengan alis terangkat. “Diem, lu!” Yusri memukul bahu Yasril pelan dengan tangan kirinya dan langsung meringis kena batunya. “Aduh!” Yasril tertawa kecil. “Makanya, jangan pacaran dulu kalau tangan masih sakit.” “Gue gak pacaran!” Di depan kelas, Riyan sudah menyelesaikan soal kelima. Kapur terakhir diletakkan di papan tulis. Lima soal, semua terjawab sempurna. Bu Aida memeriksa jawaban Riyan satu per satu. Matanya membelalak kagum. “Luar biasa, Riyan. Semua benar.” Kelas bergemuruh dengan tepuk tangan. Bukan tepuk tangan gegabah, tapi tepuk tangan yang tulus dari siswa yang memang mengakui kemampuan temannya. Farhan di bangku tengah hanya diam, mulutnya terkatup rapat. Dia tidak bertepuk tangan. Riyan berbalik. Untuk pertama kalinya pagi itu, wajahnya yang lesu sedikit berseri. Dia melirik sekilas ke arah Farhan, lalu kembali ke bangkunya dengan langkah yang lebih ringan. Yasril bersiul kecil. “Riyan ternyata pinter juga, ya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD