“Hebat juga lu, Yan,” kata Mikel. “Bisa bikin mereka kabur.”
Riyan mengangkat bahu. “Biasa aja. Mereka cuma sok berani kalau lawannya sendirian.”
Mikel mengangguk. Matanya menyipit. “Tapi gue liat tadi... lu jatuhin Joni cuma dengan satu tendangan. Adal juga. Lu ternyata terkuat di SMP, ya?”
Riyan tersenyum tipis. “Gak ada yang perlu tau.”
Mikel tertawa kecil. “Rahasia lagi, ya. Kayak si Yusri.”
Riyan hanya diam, lalu menyalakan motornya. “Gue duluan.”
“Siap,” kata Mikel.
Riyan melaju pergi, meninggalkan Mikel yang masih berdiri di depan tongkrongan PS, merenung. Malam mulai turun di Sungai Geringging. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, dan di kejauhan, tower BTS berdiri sunyi, menyimpan rahasia pertarungan yang baru saja usai.
Yusri, Yasril, Riyan, Mikel empat anak SMP yang berbeda, tapi terhubung oleh sesuatu yang tak terduga. Mereka saling membantu tanpa direncanakan. Mereka melindungi satu sama lain tanpa janji.
Dan di antara mereka, ada ikatan yang mulai terbentuk. Ikatan yang mungkin akan menjadi kekuatan terbesar mereka.
Hari ujian akhir akhirnya tiba.
Langit Sungai Geringging cerah tanpa mendung. Matahari pagi bersinar terang, menyinari halaman SMP 4 Suger yang sudah ramai sejak pukul setengah tujuh. Seragam putih abu-abu tampak rapi, berbeda dari hari-hari biasa yang sering kusut dan tidak dimasukkan. Ada gugup di wajah-wajah para siswa. Ada degup jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
Yusri berdiri di depan gerbang sekolah, menyesap napas dalam-dalam. Tangannya yang dulu sakit kini sudah sembuh total. Perban sudah dilepas sejak tiga hari lalu. Sekarang, tangan kirinya bisa mengepal kuat lagi, siap untuk bertempur bukan melawan anak SMA atau anak SMP 2 Suger, tapi melawan soal-soal ujian yang akan menentukan kelulusannya.
“Hari ini perang,” gumamnya pada diri sendiri, setengah serius setengah bercanda.
Dia masuk ke dalam sekolah, mengikuti arahan guru yang membagikan daftar ruang ujian. Setiap peserta dibagi ke dalam dua sesi pagi dan siang. Satu ruang hanya diisi dua puluh orang, dengan kursi-kursi yang diatur berjarak. Sistem ini dibuat agar ujian berlangsung kondusif, tidak ada kecurangan, dan pengawas bisa fokus.
Yusri menerima secarik kertas kecil dari panitia. Matanya menyusuri baris demi baris.
Nama: Yusri
Nomor Peserta: 234
Ruang: 7
Sesi: Pagi
“Ruang 7 di sebelah timur,” kata seorang guru sambil menunjuk.
Yusri mengangguk dan berjalan ke arah yang ditunjuk. Langkahnya terasa ringan. Dia sudah belajar cukup keras beberapa minggu terakhir. Fisika dan matematika adalah senjata utamanya. Bahasa Indonesia juga lumayan. Hanya bahasa Inggris yang masih membuatnya sedikit berkeringat.
Tapi semua rasa percaya diri itu langsung buyar ketika dia memasuki ruang 7.
Papan nama di luar menunjukkan meja-meja telah diatur dengan nomor urut. Yusri mencari nomor 234. Matanya menyusuri dari depan, ke tengah, lalu ke belakang.
Nomor 234 ada di deretan kedua dari depan, persis di sebelah jendela.
Dan tepat di sebelah kanannya, ada meja dengan nomor 235.
Yusri berhenti. Jantungnya tiba-tiba berdebar lebih cepat. Bukan karena ujian.
“Ya Allah,” gumamnya pelan.
Di meja 235, seorang gadis sedang duduk rapi sambil membuka-buka catatan kecil. Rambutnya diikat ke belakang dengan sederhana, seragam putih abu-abunya bersih dan wangi. Wajahnya cantik dengan senyum tipis yang selalu membuat siapa pun yang melihatnya ikut tersenyum.
Devi.
Yusri membeku di tempat. Dia mencoba menenangkan diri. Ayo, biasa aja. Ini cuma ujian. Dia cuma duduk di samping. Tidak ada yang istimewa.
Tapi kakinya terasa berat saat berjalan mendekati mejanya.
Devi mengangkat kepala ketika bayangan Yusri jatuh di atas meja. Matanya menyipit, lalu melebar, lalu tersenyum.
“Eh, kamu ruangan ini juga, Yusri?” sapanya ceria.
Yusri berusaha tersenyum, tapi senyumnya kaku. “I-iya, Devi.”
“Nomor berapa?”
“234.”
Devi menunjuk meja di sebelah kanannya. “Itu sana. Di samping aku.”
Yusri menoleh. Meja 234 memang persis di sebelah kanan Devi. Jaraknya hanya satu lengan. Dia bisa mencium samar aroma sabun atau parfum yang menguar dari gadis itu.
Anjir, teriak hatinya. Udah berusaha kuat, tapi kenapa masih deg-degan gini sih? Tenang, Yusri. Tenang!
Dia menarik kursinya, duduk dengan gerakan yang dibuat-buat tenang. Tas diletakkan di lantai. Pensil dan penghapus dikeluarkan satu per satu dengan sangat hati-hati, seperti sedang menangani bom.
Devi memperhatikan gerakan Yusri dari samping. Alisnya sedikit naik ketika melihat Yusri menarik napas dalam-dalam, lalu menghela, lalu menarik napas lagi.
Ada-ada saja si Yusri ini, pikir Devi sambil menahan tawa.
Belum semuanya tenang, Yusri menoleh ke belakang. Matanya menangkap sosok lain yang duduk tiga baris di belakangnya. Rambut panjang hitam, wajah cantik dengan kulit putih bersih, senyum yang selalu membuat kelas ramai.
Intan...!
Tercantik di sekolah. Idaman banyak cowok. Dan dia juga ada di ruang yang sama.
Yusri hampir tersedak udaranya sendiri.
“Anjir,” bisiknya spontan, lalu cepat-cepat menutup mulut. Dia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada guru yang mendengar.
Dia melihat sekeliling ruangan. Tidak ada Yasril. Tidak ada Mikel. Tidak ada Riyan. Semua teman cowok yang dia kenal tidak ada di ruang ini. Ruang 7 hanya diisi oleh wajah-wajah dari kelas lain yang tidak begitu dia kenal, dan dua cewek Devi di sampingnya, Intan di belakang.
Gini amat nasib gue, keluhnya dalam hati. Dah fokus aja ke ujian!
Bel berbunyi. Guru pengawas masuk seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan ekspresi serius. Dia membacakan tata tertib dengan suara berat, membagikan lembar jawaban, lalu membuka amplop soal.
“Kerjakan dengan jujur. Waktu kalian seratus dua puluh menit. Mulai.”
Seketika menjadi Sunyi. Hanya suara pensil di atas kertas dan detak jarum jam yang terdengar.
Yusri menarik napas, lalu mulai membaca soal pertama. Matematika. Ini adalah pelajaran yang dia kuasai. Pikirannya perlahan fokus, mengusir segala kegugupan tentang Devi yang duduk di sampingnya.
Satu jam berlalu. Yusri sudah menyelesaikan sebagian besar soal. Sesekali dia melirik ke samping bukan karena ingin melihat Devi, tapi karena reflek. Dan setiap kali itu terjadi, jantungnya berdegup lagi.
Fokus, i***t! bentaknya dalam hati.
Ujian pertama selesai. Ada jeda lima belas menit sebelum ujian kedua dimulai. Yusri memilih keluar ruangan, mencari udara segar di halaman.
Di luar, suasana terasa sepi dan berbeda. Tidak ada Yasril yang biasa menepuk pundaknya. Tidak ada Mikel yang menyapa dengan “Bro”. Tidak ada Riyan yang duduk di pojok dengan senyum sinisnya.
Semua kembali seperti dulu. Yusri sendiri. Menyender di tiang bendera, menatap langit, merasakan kesepian yang dulu begitu akrab.
Anjir, pikirnya, ternyata mereka semua masuk siang. Gue dapat pagi sendiri.
Dia tersenyum kecil, bukan senyum manis, tapi senyum getir. Selama beberapa bulan terakhir, dia terbiasa ditemani Yasril, Mikel, bahkan Riyan. Kini, tanpa mereka, dia merasa seperti kembali ke masa lalu,ketika dia hanya anak pendiam yang tidak punya teman.
“Tiga hari lagi,” gumamnya. “Atau berapa hari? Ah, lupa.”
Ujian kedua dimulai. Bahasa Inggris.
Yusri memegang lembar soal, membaca kalimat demi kalimat, tapi kepalanya terasa berat. Kata-kata asing itu seperti berenang di depan matanya tanpa mau masuk ke otak. Dia mengerjakan beberapa nomor dengan tebak-tebakan, tapi semakin ke bawah, semakin sulit.
Dia mulai gelisah. Pensilnya berhenti di nomor lima belas. Dia tidak tahu jawabannya.
Dulu gue gak pernah belajar bahasa Inggris. Sekarang nyesel.
Dia menatap lembar jawaban kosong. Di sampingnya, Devi menulis dengan tenang, sesekali membalik halaman soal. Dia tampak menguasai.
Yusri ragu. Bibirnya bergerak-gerak, seperti mau bicara tapi ditahan. Beberapa kali dia menoleh ke arah Devi, lalu cepat-cepat menunduk.
Malu, pikirnya. Malu banget.
Tapi waktu terus berjalan. Lima belas menit tersisa.
Akhirnya, dengan suara sekecil mungkin, Yusri berbisik, “Devi...”
Devi menoleh, alisnya naik.
Yusri menunjukkan soal nomor lima belas dengan ujung pensilnya. “Yang ini... gimana?”
Devi tersenyum kecil. Diam-diam, dia menulis sesuatu di tepi kertas buramnya, lalu menggesernya sedikit ke arah Yusri. Bukan jawaban langsung, tapi rumus dan petunjuk.
“Coba pakai pola ini,” bisiknya.
Yusri mengangguk, mencoba mengerjakan. Ternyata setelah mendapat petunjuk, soal itu tidak serumit yang dia kira. Dia menyelesaikannya dalam satu menit.
“Nomor dua puluh?” bisik Yusri lagi.
Devi terkekeh pelan. Dia kembali menulis petunjuk di kertas buram. Yusri mengikutinya, dan soal demi soal mulai terjawab.
Tidak semua Devi bantu. Beberapa soal yang menurut Yusri “susah amat”, Devi hanya menggeleng kecil artinya dia tidak bisa membantu. Tapi setidaknya, Yusri tidak keluar ruangan dengan perasaan hancur.
Bel berbunyi. Ujian selesai.
Yusri menghela napas lega. Dia mengumpulkan lembar jawaban, merapikan alat tulis, lalu berdiri. Devi juga berdiri di sampingnya, memasukkan pensil ke dalam tempatnya.
“Makasih, Devi,” kata Yusri, matanya menatap lantai.
“Sama-sama,” jawab Devi tersenyum.
Yusri mengangguk cepat, lalu berjalan keluar ruangan tanpa menoleh. Langkahnya cepat, seperti biasa,seperti dulu ketika dia lari dari Devi saat pertama kali kenalan.
Devi berdiri di depan pintu ruang 7, menatap punggung Yusri yang semakin menjauh. Dia menggeleng-gelengkan kepala, setengah tersenyum.
“Dingin amat, orang itu,” bisiknya.
Dari belakang, Intan yang baru keluar ruangan mendekat. “Siapa yang dingin?”
“Yusri,” kata Devi. “Barusan aku bantuin dia bahasa Inggris, terus dia pergi begitu aja. Gak ngajak ngobrol atau apa.”
Intan tertawa kecil. Senyumnya manis, membuat beberapa siswa di sekitar menoleh. “Ahaha, emang dia kek gitu dari dulu. Aku juga pernah satu kelas sama dia waktu kelas 8A. Dulu aku mau pinjam penghapus, dia kasih tanpa bicara, terus pergi. Kayak hantu.”
“Hantu?” Devi tertawa.
“Iya. Datang, kasih penghapus, pergi. Gak ada senyum, gak ada kata.”
Devi menggeleng, masih tersenyum. “Tapi aku pernah dengar... katanya sekarang dia udah berubah.”
“Berubah gimana?”
“Lebih berani. Katanya lawan anak SMA, terus lawan anak SMP 2 Suger juga.”
Intan mengangkat alis. “Serius? Yusri yang dulu?”
“Iya. Aku lihat sendiri juga waktu di warung Nizal, dia tiba-tiba mukul anak SMP 2.”
Intan menatap ke arah gerbang tempat Yusri sudah menghilang. “Hmm... menarik juga.”
Yusri berjalan cepat meninggalkan sekolah. Keringat dingin membasahi dahinya, bukan karena ujian, tapi karena jantungnya yang masih berdegup kencang.
Dasar gue, umpatnya dalam hati. Dia baru bantuin, masa gue pergi begitu aja. Gak ngajak ngobrol, gak bilang makasih lagi, apa-apa.
Dia sampai di pengkolan jalan tempat ojek biasanya mangkal. Beberapa tukang ojek sedang duduk di atas motornya, merokok sambil ngobrol.
“Dek, ojek?” tanya seorang pria berkumis tebal.
“Iya, Bang. Ke ujung gang dekat sawah,” jawab Yusri.
Sebelum sempat naik, suara sepeda motor lain terdengar dari belakang. Sebuah motor tua dengan knalpot bising berhenti di sampingnya.
“Woi, lu masuk pagi, ya?” Yasril melepas helm, rambut ikalnya berantakan terkena angin. Wajahnya ceria seperti biasa.
Yusri menoleh, wajahnya masih sedikit tegang. “Iya.”
Yasril tertawa. “Gue siang. Masih santai di rumah tadi. Tidur-tiduran.”
“Untung lu,” kata Yusri bete.
“Kenapa? Ujian susah?”
“Enggak sih, cuma...”
“Cuma?”
Yusri menggeleng. “Gak ada apa-apa.”
Yasril mengamati wajah temannya itu. Wajah Yusri memang biasa saja, tidak terlalu tampan, tapi ada kegugupan yang terlihat dari cara dia menghindari tatapan.
“Ada cewek di ruangan lu, ya?” tebak Yasril sambil menyeringai.
Yusri diam, tapi wajahnya memerah.
“Wahahaha! Gue duga!” Yasril tertawa keras sampai tukang ojek ikut menoleh. “Siapa? Siapa?”
“Diem, lu!” Yusri mendorong bahu Yasril. “Dah, gue pulang. Lu jangan telat ujian.”
“Iya, iya. Gue duluan ya!” Yasril memasang helm, lalu tancap gas sambil masih tertawa.
Yusri menatap motor Yasril yang melaju ke arah perumahan, lalu naik ke ojek.
“Pulang, Bang,” katanya pada tukang ojek.
“Siap, Dek.”
Sepanjang perjalanan, Yusri duduk diam di boncengan. Angin sore membelai wajahnya, membawa bau rumput dan tanah basah. Sawah di kiri kanan jalan mulai menguning, tanda panen sebentar lagi.
Dia memikirkan Devi. Senyumnya. Suaranya yang lembut saat membantunya. Wangi sabun yang samar-samar.
Dasar gue, pikirnya lagi. Kenapa sih gugup terus sama dia?
Lalu dia memikirkan Yasril yang selalu bisa tertawa dalam situasi apa pun. Mikel yang tiba-tiba akrab. Riyan yang ternyata punya kekuatan luar biasa.
Dan ujian. Lima hari lagi. Lima hari penuh ujian sebelum semuanya berakhir.
“Adeh,” keluh Yusri tiba-tiba, dengan nada bete yang dalam.
“Ada apa, Dek?” tanya tukang ojek dari depan.