Seseorang masuk ke dapur. Orang itu adalah Attar, dan dia berbicara dengan nada ketus.
"Jangan masak! Kembali ke kamar!" Perintahnya.
Zahra dan Bi Asih saling menatap, bingung dengan perintah tiba-tiba itu. Dengan ragu, Zahra memandang ke arah Attar. Kemudian, dia dengan enggan meninggalkan dapur.
Di sisi lain, Bi Asih memberi tatapan kasihan kepada Zahra saat ia melihatnya pergi. Attar berjalan ke arah kamarnya dengan langkah cepat dan tegas.
Setelah sampai di kamar, Attar melihat Zahra duduk di atas sofa. Dengan suara yang dingin, dia berkata, "Jangan berlagak ingin menjadi menantu dan istri yang baik bagiku. Aku tidak akan pernah menyukaimu bahkan mencintaimu."
Zahra hanya bisa mendengarkan kata-kata Attar tanpa bisa mengatakan apapun. Ia merasa bingung dan tersentak oleh sikap Attar yang tiba-tiba. Saat itu, ia malah teringat ucapan Liliana yang menyebutkan bahwa Attar sangat menyukai kue cupcake buatannya.
Attar, yang tampak semakin marah karena tidak mendapatkan respon dari Zahra, berbicara dengan kasar, "Apa kamu dengar apa yang aku katakan?"
Zahra tersentak oleh nada keras Attar dan segera menatap ke atas. Dengan gemetar, ia menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Iya, aku dengar."
Setelah mengatakan itu Attar pergi dari kamar. Zahra pun menatap kepergian Attar.
Sementara itu Attar berjalan ke arah dapur dan ia menemui bi Asih. Attar mendekati Bi Asih yang sedang sibuk menyiapkan bahan makanan untuk sarapan.
Tentu, berikut adegan tersebut:
Attar mendekati Bi Asih, "Bi Asih! Bi Asih pun menjawab, "Iya, tuan."
Attar berkata dengan tegas, "Bi, tolong ya, larang Zahra untuk masak. Kapanpun itu. Saya tidak mau dia masak."
Tentu, berikut adegan selanjutnya:
Bi Asih menjawab dengan hormat, "Baik, tuan. Nanti jika nona meminta izin untuk masak, saya akan melarangnya."
Attar mengangguk dan mengucapkan terima kasih, "Terima kasih atas kerjasamanya, Bi."
Setelah mengatakan itu Attar keluar dari dapur.
Liliana tak sengaja melihat Attar keluar dari dapur dan ia akhirnya ke dapur.
Liliana berjalan ke arah dapur. Sesampainya di dapur, ia melihat Asih tengah sibuk menyiapkan bahan makanan untuk sarapan. Liliana memanggil Asih,
"Bi Asih!" Panggilan Liliana membuat Asih segera memandang ke arah majikannya.
"Nyonya?" jawab Asih dengan ramah.
Liliana bertanya, "Bi, tadi Attar ke sini ya?"
Asih menjawab, "Iya, Nyonya."
Liliana penasaran, "Kenapa Attar sudah masuk dapur sepagi ini?"
Asih menjelaskan, "Oh iya, tadi Nona Zahra berencana memasak untuk sarapan. Tapi tiba-tiba tuan Attar yang melarangnya. Akhirnya, nona Zahra diminta untuk kembali ke kamar. Kemudian, tuan Attar kembali dan menginstruksi saya untuk melarang nona Zahra untuk memasak memasak."
Liliana memperhatikan setiap kata yang dikatakan oleh Bibi Asih dan mengatakan, "Baik, saya mengerti sekarang. Terima kasih, bi Asih. Selamat bekerja!"
Asih tersenyum dan mengucapkan, "Iya, baik, Nyonya." Lalu, Liliana meninggalkan dapur.
Di sisi lain, seseorang mengetuk pintu kamar Attar. Saat itu, Attar sedang mandi, akhirnya Zahra pun membuka pintu, dan ternyata itu adalah Liliana.
"Ibu," ucap Zahra.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Liliana.
"Tentu bisa, Bu," jawab Zahra.
Liliana mengajak Zahra masuk ke dalam ruangan tempat membaca buku, yang ternyata adalah perpustakaan keluarga. Zahra terpana melihat ruangan itu yang dipenuhi dengan banyak sekali buku.
"Tante, di rumah ini ada perpustakaan juga?" tanya Zahra.
Liliana mengangguk sambil menjelaskan, "Ini adalah tempat favoritnya Attar. Attar suka sekali membaca buku di sini. Ya sebelum dia bekerja seperti sekarang ini."
Zahra melihat-lihat perpustakaan sambil berjalan bersama Liliana. Dia berkomentar, "Wah, ada koleksi novel juga. Buku-bukunya sangat lengkap ya?"
Liliana mengangguk, lalu mengajak Zahra duduk di sebuah bangku yang ada di tengah ruangan itu.
Liliana bertanya, "Ara, tadi kamu dilarang masak sama Attar ya?" Zahra mengangguk.
Liliana menebak, "Kamu sedih?" Zahra menjawab dengan jujur, "Hanya sedikit, Bu. Tidak apa-apa."
Zahra terlihat sangat tenang. Ia sama sekali tak terlihat sedih. Namun Liliana tahu pasti Zahra tak nyaman menjadi istri Attar.
Liliana tersenyum dan berbicara dengan lembut, "Zahra, ibu sudah membayar rumah sakit terbaik agar ayahmu bisa berobat Terima kasih ya. Apa yang ibu berikan tak sebanding dengan pengorbanan perasaanmu."
Zahra pun menjawab dengan penuh rasa terima kasih, "Tak apa, Bu. Terima kasih banyak, Bu."
Zahra berkata kepada Liliana dengan wajah serius, "Bu, aku minta hal ini dirahasiakan dari siapapun, apalagi dari Attar. Aku takut dia semakin membenciku jika tahu ibu membayar pengobatan Ayahku sebagai ganti aku menikah dengan Attar."
Liliana merespons dengan lembut, "ya, Sayang. Tenang saja, Ibu bisa menjaga rahasia ini. Ibu juga kan yang ingin kamu menggantikan posisi Sandra saat pernikahan itu."
Zahra mengangguk dan mengucapkan terima kasih, "Ya, Bu. Terima kasih banyak."
Setelah itu, Liliana mengajak Zahra untuk keluar dari ruang perpustakaan keluarga.
"Yuk, kita keluar lagi. Waktu sarapan sepertinya akan tiba sebentar lagi. Kamu juga belum mandi, kan?"
Zahra menjawab sambil tersenyum, "Iya, Bu.
"Oh iya bu, aku boleh nggak baca buku sekali-kali di sini?"
"Ya, tentu saja boleh, dong, Sayang. Boleh banget."
Zahra pun tersenyum. Setelah itu mereka berdua kemudian keluar dari ruang perpustakaan keluarga.
Sementara itu di kamar, Attar sedang merapikan dasinya di depan cermin. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka, dan dia langsung melihat ke arah pintu. Ternyata, itu adalah Zahra.
Attar berkata pelan, "menyebalkan paling sulit merapikan dasi," dia menggerutu.
"Gimana sih, ini susah sekali."
Attar kemudian marah-marah, dan Zahra, yang saat itu berjalan ke arah kamar mandi, dipanggil oleh Attar.
"Kamu bisa pasang dasi, gak?" Tanyanya dengan nada ketus.
Zahra pun mengangguk, "Ya, aku bisa."
"Pasangkan dasiku!" Pinta Attar dengan nada tinggi.
Zahra langsung mendekat ke arah Attar dan membantu memasangkan dasi untuk suaminya.
Ini adalah kali pertama mereka bisa saling berdekatan dalam waktu yang lama. Attar memperhatikan wajah Zahra dengan begitu dekat, tetapi Attar langsung memalingkan wajahnya, seakan tidak ingin melihat wajah istrinya.
"Sudah," ucap Attar. Zahra langsung mundur.
Attar melihat dasi yang sudah terpasang di lehernya. Terlihat rapi.
Setelah itu, Zahra langsung pergi menjauh dari dari Attar dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Bahkan dia tidak mengucapkan terima kasih padaku," ucap Zahra sangat pelan.
Sementara itu Liliana dan Attar masuk ke ruang makan bersamaan. Setelah keduanya duduk, Liliana bertanya pada Attar, "Mana Ara?"
Attar menjawab dengan nada dingin, "Tidak tahu." Jawabnya.
Liliana tidak menyerah dan berkata, "Attar, kamu harus menerima Ara sebagai istrimu. Dia istri sahmu."
Attar, dengan sikap cuek, menjawab, "Sejak awal, aku ga pernah mau nikah sama dia."
Attar langsung mengambil makanan dan ia langsung makan.
"Attar tunggu Ara dulu," ujar Liliana.
"Tidak mau," jawab Attar.
"Ayolah bu, aku harus kerja dan aku ga boleh telat," ujar Attar. Setelah mendengar ucapan Attar, Liliana pun diam.
Beberapa menit kemudian Zahra masuk ke rumah makan dan sesuatu terjadi.