The first time...

4456 Words
Aldo memberikan kado terbaiknya, menginap di Hotel mewah Jakarta. Kamar pengantin bulan madu special. Sebagai tanda persahabatan Aldo dan Rina. Seno meminta menunda keberangkatannya dua hari kedepan untuk hadir di Perth Australi sebagai pasukan elite. “Terimakasih komando.” Seno menutup telfonnya. Rina yang tak berhenti memandang suaminya, membuat Seno menjadi salah tingkah. Ini malam pertama mereka yang tertunda. “Bang… kenapa Bang Satria nggak hadir.?” Seno hanya tersenyum sambil merangkul Rina. “Karena kamu wangi.” Seno berbisik ketelinga Rina. Rina menatap mata Seno, “Serius atuh.” Teriak Rina manja. Seno meletakkan tubuh istrinya ke sofa sambil menindih tubuh itu, “Satria sudah mengirim kadonya, karena nggak bisa hadir.” Sambil tertawa. Rina mendorong tubuh Seno. “Becanda mulu..” melangkah pergi. Seno manarik tangan Rina. “Mau kemana.?” Goda Seno. Rina berada di pangkuan Seno. Seno menyentuh leher Rina, menyentuh kalung pemberian Arjuna.” “Bisakah mengganti dengan ini.?” Seno memberikan kalung special untuk Rina. “Hmmmmm…” Rina menggigit bibirnya ragu. Seno melepaskan secara perlahan kalung Arjuna, dan menyematkan kalung baru sebagai hadiah pernikahan untuk Rina. Seno mencium leher Rina dari belakang dan bebisik, “Makasih… udah mau menjadi istri Abang.” Rina hanya pasrah dengan perlakuan Seno malam itu. Arjuna adalah masa lalunya. Takdir memisahkan. Seno masa depannya. Seno mencumbui Rina yang sudah resmi di nikahinya. Rina hanya tersenyum malu, saat Seno membuka pakaiannya secara perlahan. Rina masih agak canggung, berhadapan dengan pria sesempurna Seno Prayoga. “Makasih udah memberikan semua.” Bisik Seno. “Makasih buat apa.? Neng kan istri abang.” membuat Seno lebih tenang. Seno tersenyum, mendengar celotehan Rina pagi ini. “Neng, ketemu Aldo yah hari ini.?” Rina meminta izin. Seno menaikkan alisnya. “Sama Jessy juga.?” “Nggak.?” “Aldo aja. Aldo juga akan ke Australi besok.” Seno tersedak. “Serius.?” “Iya. Why.? Ada masalah kah.?” “Hmmmm… nggak, abang mandi dulu.” “Oke.” Rina mengedipkan matanya untuk Seno. ‘Rin… gue udah di kantor. Gue tunggu.’ Pesan singkat Aldo masuk. Rina menelfon Aldo. Melihat Seno berpakaian. “Neng, Abang yang antarkan.?” Rina memastikan pada Seno. “Perlu di tanyakah sayang.?”Seno menggeleng sambil tersenyum. “Kirain pake sopir.” Jelas Rina. “Hmmmm… Ratu nggak boleh di biarkan sendiri.” Seno mencium kening istrinya. Seno menggandeng tangan Rina, masuk ke loby, Begitu anggun dan ramah, hingga sampai ke ruangan Aldo. “Bang… neng mau ngobrol berdua aja boleh.?” Seno mempersilahkan, sambil menuju sofa ruang tamu kantor Aldo. Rina tak perlu meminta agar Seno mengerti akan privasi dunia pekerjaannya. Aldo menarik tangan Rina. “Gue senang, loe udah tenang dengan menikah, gimana.? Asyiiik doonk malam pertamanya.?” Aldo meledek sembari tersenyum mengusap kepala sahabatnya. “Hmmmm… Indah do…” Jawab Rina manja.“Thanks yah, kadonya.” Sambil melirik Aldo. “Gue berangkat besok sore ke Ausi, loe kapan.?” “Hmmmmm…. Gue senang kalau loe senang. Hmmmm… secepatnya. karena Jessy mendadak harus ke sana.” Aldo menatap wajah Rina lebih anggun setelah menikah. “ternyata loe cantik.” Aldo menggoda Rina. “Apaan seeh…” “Serius… gue lihat loe lebih perfect.” Rina tersenyum bersandar melihat gedung sebelah yang pernah menjadi projeknya. “Do… Seno dan Jessy pernah punya story.?” “Kalau loe tanya gue, loe salah. Loe tanya Seno donk.” Tegas Aldo menghindar. Rina hanya tersenyum memahami maksud Aldo. “Kita lunch.? Gue traktir. Jessy udah jalan jemput gue.” Aldo berdiri membuka pintu untuk Rina. Seno yang sibuk menerima telfon, menutup telfon trakhirnya, kembali menggandeng tangan Rina. “Oke..” Rina mendekati Seno. “Flight jam berapa besok do.?” “Hmmmm… Jessy sendiri mungkin bro, karena saya harus mengkondisikan di sini dulu.” Seno terdiam, sambil menatap Rina yang lebih pendiam dan anggun. Lebih elegant. “Kamu cantik.” Seno berbisik menggoda. Rina tersenyum, “Sweeet.” Rina memandang Seno manja. Aldo terkesima dengan penampilan Rina hari ini. Menggunakan drees tipis, melihatkan lekuk tubuhnya. ‘Indah’, mata Aldo tertuju pada dada Rina yang bersih menggoda. Mata Seno sangat memperhatikan Aldo dari awal bertemu. “Kita makan dimana.?” Seno mengalihkan perhatian Aldo. “Gimana kalau di senayan, saya sama Jessy, dia sudah sampai.” Lift berhenti dari lantai 21 Aldo berlalu dengan cepat meninggalkan Seno dan Rina. Mobil Seno sudah berada di depan loby, “Silahkan geulis.” Rina hanya tersipu malu. Melihat tingkah Seno. “Kita nggak usah belanja banyak yah neng, semua sudah ada disana.” Jelas Seno kepada Rina. “oke… “ Rina tersenyum. Mata Seno tertuju pada dada istrinya yang begitu menarik perhatian Aldo. “Neng, lain kali bajunya jangan begini yah.?” Pinta Seno. “Emang kenapa.?” Rina melihat tubuhnya. “Salah bagian mana.?” “Dada.” Seno menutup bibirnya.“Aldo menatap kesana aja, abang jeules.” Rina membelalakkan matanya. “ hanya perasaan Abang.” “Nggak percaya iiigh.” Kesal Seno. “Silent please…” Pinta Rina. Di parkiran Seno benar – benar melihat dada Rina begitu menggoda. Membuat birahi. Seno mengambil blazer Rina di belakang. Meminta Rina memakainya. “Baaaaang… nggak cakep atuh.” Rengek Rina. “Pake, atau kita nggak jadi lunch.” Seno hanya memandang wajah Rina sedikit kesal. Rina menggunakan blazer, membuat agak sedikit tertutup. Seno mencium bibir Rina sebelum turun. “Pulang aja yuuk…” Tolak Rina. “Nggak jadi laper.? Aldo gimana.?” Canda Seno. “Lapeeer, makanya jangan cium-cium. Neng kan jadi pengen.” Rina memeluk Seno. Membuat Seno ingin segera pulang. Di atas Rina melihat drees sambil memeluk lengan Seno. “Neng beli baju boleh.?” Seno melirik istrinya. Sambil mempersilahkan Rina masuk ke salah satu butik. Drrrrrrt drrrrrt…. Hp Rina Berbunyi. ‘Aldo’ “Gue di restorant vege.” “Oke.” Rina menutup telfon Aldo, menarik tangan Seno. Aldo vege semenjak menikah dengan Jessy. Aldo sangat mencintai Jessy, mereka dulu long distance selama bertunangan. Jessy Dokter untuk daerah konflik, banjir, panggilan urgent internasional. Jessy sangat supel, nggak banyak bicara. Usia Jessy lebih tua dari Aldo. Perjuangan mereka juga luar biasa menjelang menikah. Cerita Aldo. “Haaaai…” Rina mencium pipi Jessy. “Haaaiii… pengantin baru.” Jessy membuka kursi untuk Rina. Jessy menatap mata Seno, yang sesekali berpapasan dengan mata Rina. Rina hanya tersenyum. “Penempatan dimana Sen.?” Jessy bertanya sambil melahap hidangan. “Perth.” “Ooooh… rumah disana very small.” Rina melihat suaminya. Meyakinkan diri. “Ya… I know.” Seno tersenyum. Mata Aldo sesekali terlihat mencuri pandangan kepada Rina. Seno berharap, semua cepat berlalu, hatinya mulai tidak jelas. Seno menikmati makan siang terakhir, bersama Jessy. Tak ingin bertemu lagi. “Rina terlihat lebih cantik, setelah di nikahi Seno.” Jessy mengakuinya.”Lebih tenang dan sejuk mata memandang wajahnya.” Senyum Jessy. Aldo memeluk Rina dan Seno sebagai salam terakhir mereka. “Bye cantik.” Bisik Aldo. Rina hanya tersenyum. Seno menggandeng tangan istrinya. Berlalu pergi dari Aldo dan Jessy. Jessy memahami Aldo. Pengakuan Aldo mengagumi Rina. Hanya kagum. Rina di mata Aldo adalah wanita yang pintar dan kaya. Rina turun di apartmennya, sementara Seno mempersiapkan semua yang akan di bawa ke Ausi. Rina menghabiskan waktu di dapur memasak makan malam untuk suaminya. Tiiiiing tooong… Tepat jam 7 malam Seno sampai di apartmen mereka. “Haaaaiii…. Wangi banget.” Seno mencium aroma wangi antara wangi Rina atau masakannya. “Mau makan langsung atau mandi dulu.” Sambil memeluk suaminya. “Hmmmmm… boleh makan istri dulu nggak.?” Canda Seno. “Terserah mau abang apa.” Balas Rina lembut. Selesai mandi dan makan, mata Seno tertuju dengan bokong Rina terlihat menggoda. Nggak montok tapi indah. Seno mengelus paha Rina. Rina kaget. Berteriak manja.”Abaaaang….” Seno mencium leher Rina, Rina sangat menikmati hingga terdengar bisikan Seno. “I love you.” Seno membalikkan tubuh Rina, melumat bibir Rina, yang sedikit basah. Rina membalas dengan penuh perasaan. Perlahan tangan Seno meremas payudaranya, yang dari tadi membuat mata Aldo lebih sering menatap kesana. Seno menggendong dan meletakkan Rina ke atas meja makan, Rina menikmati, dan merasakan keindahan yang luar biasa malam itu.Seno sangat liar. Membuat Rina terus meminta. Seno mengatur gerakannya. Seno tau bagaimana cara membahagiakan Rina. “I love you.” Bisik Seno. Seno tak menyadari kapan dia mulai mencintai Rina. Hatinya kadang nggak jelas dengan perasaannya. Rina membalikkan wajahnya, memberikan ciuman mesra kepada suaminya. “Love you to.” Seno menggendong tubuh Rina, yang makin hari makin sexi. Rina sangat bahagia di perlakukan seperti ratu oleh Seno. Mata Rina terlelap di temanin Seno seperti biasanya. Seno memeluk, menghangatkan tubuh Rina yang di tutupi selimut. Seno berkali - kali mencium payudara Rina, hingga Rina terlelap. Malam itu mata Seno tak bisa tidur. Sibuk dengan Papa, dan Papi Rina. Pikiran Seno agak terganggu, takut jika di Ausi Rina akan kecewa, karena tidak semewah di Jakarta ataupun di Texas. “Seno… saya mendidik putri saya dengan baik. Rina takkan mengeluh. Percayalah.” Papi meyakinkan Seno. “Ausi tak seperti di sini Pi.” “Saya percaya kamu. Jangan takut.” Papi menutup telfonnya. Seno berfikir keras. Melihat istrinya yang manja, tak pernah susah, semua maid. Apakah Rina akan ngamuk jika Rina melakukan semua sendiri, tak seperti di indo.? Ausi berbeda dengan Texas. Texas ada Sisi, Ausi.?? Jadwal Seno takkan banyak seperti di Indo, ataupun di Texas. “Morning honey.” Seno mengecup kening Rina. Rina yang baru bangun memeluk Seno.”I love you.” “Love you to” Seno memberi kecupan di payudara Rina. “Abaaaang…” teriak Rina. “Siap – siap yah, kita ke Bandara.” “Syiap bos.” Ledek Rina. Seno mengejar Rina yang berlari kedalam kamar mandi. “Mandi berdua neng.?” Pinta Seno. “Ogah.” Rina mengintip mencari Seno. Ternyata Seno mengejutkan Rina, nyerobot masuk untuk bercumbu lagi dengan istrinya. Setiap ada kesempatan Seno selalu berusaha membahagiakan Rina. Seno yang paham kelemahan Rina, justru menjadi peluang. “Kalau di Ausi nanti abang sibuk neng.” Jelas Seno. “Trus neng ngapain.? Neng di sini aja deh.” Rina agak sedikit kesel. “Jangan… Abang nggak mau jauh.” Pinta Seno. Rina tersenyum, melihat raut wajah suaminya. Selalu bisa meyakinkan Rina. “Gue ke Ausi Si.” Vicall Sisi sembari makan siang. “Ya… Mami kasih tau. Loe hati- hati, jangan manja.” Teriak Sisi. “iya, tau gue.” “Jangan nyusahin Seno. Ini perintah.” Tertawa Sisi lepas. Rina kesel.”Iiiiiiigh… loe susul gue yah.?” “Iya… kalau ada waktu.” Sisi mencium dari jauh sahabatnya itu. Seno yang menjadi pendengar hanya tersenyum. Seno tak melepaskan tangan Rina begitu sampai di Bandara. Mata Seno tertuju pada rombongan kesehatan ‘Jessy’. “Aaaaaaaagh…. Shiiiiit.” Rina mendengar bisikan Seno, “Bang… you oke.?” “oke…” Seno merangkul Rina. Papa ikut mengantarkan Seno. “Hati – hati, jaga Rina.” Rina mencium tangan Papa mertuanya. “Ini perintah.” Rina meledek Seno di depan Papa. Papa hanya tersenyum melihat kelakuan manja menantunya. “Salam buat Mama, Pa. Maaf Rina nggak bisa nemanin Mama.” “Lingga di Bandung saat ini.” Rina dan Seno bertatapan. “Udah dua hari ini Lingga di Bandung, lagi hamil.” Seno memeluk bahagia Papa. “Ntar lagi Papa jadi Opa.” “Seno akan memberikan Papa cucu juga.” Sambil melirik Rina. Rina hanya tersipu malu. Pamit untuk pergi. Rina memeluk tangan Seno, sambil bercanda kecil, saling menggoda. Ternyata mereka satu penerbangan dengan Jessy. Seno sesekali melirik Jessy, Rina pura – pura tidak tau. Menunjukkan ketidak peduliannya. Bagi Rina Seno suaminya. Rina percaya, nothing special. Rina yang baru kali ini menginjakkan kaki di Ausi, merasa senang. Seno menggandeng tangan Rina mengurus barang bawaan menuju rumah mereka di Perth. “Kalian langsung ke Perth Sen.?” Jessy mengahampiri Seno. “Ya.” “Oke.. see you letter.” Jessy berlalu pergi meninggalkan Seno yang menunggu Rina. Rina melihat mereka dari kejauhan, merasa ada sesuatu, semoga semua baik - baik saja. “Sudah putri.?” Seno menggoda lagi. “Udaaaah pangeran.” “Kita udah di tunggu di luar.” Seno mempercepat langkah, sambil menggandeng Rina. Seno mengenakan kaca mata hitam, terlihat tampan, seperti pembunuh berdarah dingin. “Can walk now Mr.?” Tanya driver. “Yes, because I have a meeting in the class building.” “Oke.” Driver mempercepat langkah. Rina hanya diam, mengikuti intruksi Seno yang bergerak cepat. Di perjalanan Seno sibuk menerima telfon, tak lupa memberi kabar kepada Papi dan Mami Rina. Seno sangat sibuk, hingga tak menyadari istrinya tertidur selama di perjalanan. Tiba di rumah mungil mereka. “Neng… neng… bangun” Seno mengusap punggung Rina. Rina mengusap matanya melihat rumah mungil kawasan para prajurit dari beberapa Negara. “Ini rumah kita Bang.?” Rina tersenyum girang. “Iya… You oke han.?” Seno tak yakin. “Yeea… oke. I’m fine.” Rina berlari masuk kedalam melihat - lihat suasana tiap ruangan. ‘Gw fikir bakal minta balik ke Jakarta.’ Bisik Seno. “Abaaaaang… neng suka.” Rina berdiri di depan pintu. ‘No bethab, no springbed king koil, no kichen set.’ Suka. Seno aneh melihat Rina kali ini. “Good, kalau suka. Happy.” Seno rasa tak percaya dengan istrinya. Rina menelfon mami, vicall semua ruangan. “sweet kan mi…?” Rina merasa bahagia. “Sweet atuh neng, namanya ama suami. Yah harus sweet.” Rina memvideokan Seno yang sibuk mengangkat barang- barang mereka. “Mi… neng bantu abang dulu yah, bye mami. I love you.” Rina menutup telfon. Memeluk Seno yang sibuk berbenah. “Thanks yah bang.” Seno melihat wajah Rina yang berusaha membahagiakan hatinya. “Kamu nyaman.?” “Nyaman sayang, neng desaign interior. Besok neng make over semua menjadi lebih baik buat kita.” Seno mengangkat alisnya, kurang yakin. “So far so good.” Rumahnya hanya ada ruang tamu, ruang makan, dua kamar dua kamar mandi. “Berapa lama kita akan stay bang.?” “Setahun lebih.” Seno bersiap – siap menghadiri rapat gabungan. Rina mengeluarkan Bendera Indonesia dari tas Seno, mengibarkan di tiang halaman rumah, menandakan bahwa sudah ada penghuninya. Rumah Dinas tersebut memang dihuni dari kesatuan di beberapa Negara, dan Rina sibuk membenahi semuanya sepeninggal Seno, hingga jam 10.00 malam. Rina akan membuat istana di rumah kecil itu, walau kecil… akan terlihat mewah. Tiiiiing tooong…. Rina membuka melihat kehadiran Seno. “Kngeeeeen.” Rina memeluk Seno. Seno membalas pelukan istrinya yang makin hari makin menggairahkan. “Neng udah makan.?” Seno membawakan salad dan pitzza kesukaan Rina. “Abang udah makan.?” “Sudah.” Seno melihat draft di laptop Rina, untuk desaign rumah mereka. Seno terkesima melihat gambar 4 dimensi rancangan Rina. “Bang… neng besok jalan-jalan yah, mencari yang neng butuhin.” Seno tertegun, spechles kaget. “Sama siapa.? Alone.?” “Nggak apa-apa kan.?” Ucap Rina. “emang kamu bisa.?” Rina menunjukkan kecanggihan Iphone nya. “Percuma ada inikan abang.?” Seno tersenyum melihat semangat istrinya. “oke. Jangan sampai tersesat, apalagi nggak pulang.” Canda Seno. “Thank you honey.” Rina mencium suaminya. Rina sibuk menyelesaikan desaignnya hingga subuh. Membuat Rina sulit bangun pagi. Seno pagi sudah berangkat, menitipkan memo terselip di kulkas. ‘Abang kerja, jangan terlalu lelah. Love you.’ MIliter yang tidak romantic dalam membuat memo.haahaha. Hari-hari Rina sangat berharga. Dia meminta tukang mengerjakan rumah mungilnya. Saat Seno berangkat ke Melbourne selama1 minggu. Rina ingin membuat surprice untuk suaminya. Rina mencari semua info melalui aplikasi. “Pi… neng bingung.” Rengek Rina. “Rina beli mobil yah di sini.” “Seno kan ada, masak mobil Papi yang mutusin. Seno mana neng.?” “Abang belum telfon Pi.” Rina diam. “Tunggu aja, mungkin Seno sibuk. Oke. Becareful neng.” Rina menutup telfon. Rina menyelesaikan renofasi dalam waktu seminggu. Terlihat indah, cantik seperti dirinya. Rina tak membeli barang – barang mewah, melainkan recovery yang ada. Tak terlalu boros. Seno hanya menelfon sekali, dan mengirim beberapa pesan. Rina mencari kesibukan dengan mengirim fhoto-fhoto ke media social, sambil melayani pertanyaan kerabat yang stay di Ausi melalui link Aldo. Tiiiiiiing tooooong…. Rina mengintip dari kaca pintu. “Abang….” Rina membuka pintu, menyambut abang. Seno memeluk Rina karena rindu. “Neng kangen.” “Tau.” Seno menciumi wajah istrinya. “Close your eyes.” Rina menutup mata Seno. Membawa Seno masuk kedalam rumah. Perlahan Rina membuka tangannya, Seno kaget tak menyangka sesempurna ini hasil karya istrinya. Seorang design interior yang sangat propesional. “Taaaaaraaaaaa…” Rina membawa Seno mengelilingi rumah mereka. “Amaaaazing…. Woooooow…” Seno takjub, ‘great.’ “You have money.?” Seno rasa tak memberi uang untuk semua ini. Rina tersenyum.”Minta ama Papi.” Ledek Rina “Seriiius. Oh God.” Seno merasa tak pantas menjadi seorang menantu Brata. “Yaaa,, nggak lah bang… neng hanya recovery beberapa barang semua jadi lebih baik.” “Ooooh…. Seno benar-benar tak menyangka dengan kehebatan istrinya. Seno memeluk Rina mengucapkan terimakasih. Atas kesabaran, dan selalu menunggu dia pulang. “Kangen kan.?” Bisik Seno. Kali ini Seno ingin memadu kasih di suasana yang baru. Seno menciumi Rina, yang tak pernah hilang wanginya. “Gila Aku karna mu sayang” Seno berbisik. Benar - benar wooooooow, tak pernah Seno merasakan keindahan ini. Rina selalu merasa puas dengan permainan Seno yang lembut. “Neng… neng senang nggak.?” Seno menciumi leher Rina. “Seneng. Kenapa.?” “Abang bahagia punya neng.” “Realy…” Rina duduk memperbaiki rambut, yang berantakan. Seno menciumi punggung istrinya. “Iya.” “Ooooh… Neng bahagia banget, bisa nginjek Australi. Biasa hanya Bandung dan Jakarta.” Rina tertawa. “Impian neng apa.?” Seno mencoba memasuki dunia Rina. ”Hmmmm…. Punya suami udah, hidup di luar negeri udah, merubah rumah kita udah, neng mau beli mobil.” Spontan tapi pasti. “Haaaaaah…. Buat apa neng.?” Seno bingung. “Abang ada uang.?” Rina bertanya tapi meminta. “Ada tapi, yaaaah nggak seberapa.” Seno makin bingung. “Hmmmm, how much.?” “Neng serius.?” “Serius…” Rina meyakinkan Seno. “Nanti siapa yang nyupir.?” “Neng lah.” Jawabnya tegas. “Neng ada beberapa project, maka dari itu neng butuh kendaraan.” Seno masih ragu akan permintaan Rina. Karena Seno tak pernah melihat Rina nyetir. Selama bersama. Selalu pakai sopir, kebanyakan Seno yang nyetir. “Hmmmmm, kasih abang waktu yah. Nggak lama. 2 hari. Oke.” Rina memberi kelingkingnya, berharap deal untuk perjanjian mereka. Seno mencium punggung Rina, saat Rina terlelap. Seno beranjak keluar untuk menelfon Papi. Bercerita panjang tentang Rina. “Seno bangga dengan project desaignnya.” “Rina memang sangat kreatif.” Sahut Papi memberi semangat pada Seno. “Rina minta beli mobil Pi.” “Hmmmmm…. Kamu ada uang.?” “Ada Pi, tapi saya nggak yakin dia bisa.” Papi tertawa. “Seno… Rina bisa nyetir. Kamu jangan takut. Dia hanya takut melihat kegelapan, jaga dia. Percayalah. Papi sangat memanjakan dia, tapi tidak jika dia berkata tidak.” Seno mendengar saran Papi. “Rina menyukai Mercy, kamu carikan saja keluaran terbaru. Kalau uang kalian kurang, kasih tau Papi.” Seno spechles mendengar bocoran dari Papi. “Itu mahal Pi. Ooh God.” “Kamu sanggupnya apa.?” Papi memberikan Seno tantangan. “hmmmm… Honda, Ford.” Papi hanya tertawa. “Belikan apa yang kamu sanggup, dia akan bahagia.” Seno terdiam. “Baik Pi.” “Jangan menyerah, Rina akan melakukan semua dengan baik.” Telfon di tutup. Seno berfikir, sebenarnya dia menikahi siapa seeeh.? Ampe songong bener. Maunya semua serba instan, tapi herannya Rina mampu. Seno akan membicarakan ini, besok pagi. Nice dreams Rina Prameswary Brata. Pagi di Perth…. Kesibukan Rina mengurus pekerja untuk pengerjaan project renofasi Mess prajurit Inggris. Semua di biayai oleh Pemerintah Inggris. Meeting dengan beberapa pekerja, 6 orang yang di awasi oleh Rina. Semua pekerja propesional. “All should be finished within two weeks.” Rina memberikan gambar kepada mereka. “Oke Mis. Everything is good.” Seno menikmati hari liburnya, sambil melihat kegigihan istrinya. Ini bukan ambisi, tapi hoby pikirnya. Seno membersihkan halaman menyiram tanaman yang disukai istrinya. ‘Repot amat nanam bunga, segala.’ Gerutu Seno. Rina melihat pemandangan yang nggak biasa pagi ini. Sambil menutup pembicaraan, Rina menghampiri Seno. “Abaaang. Kirain belum bangun.” Rina mencium bibir Seno. “Udah donk,,, istrinya udah kerja, tentu suami kerja juga.” “Mulai deh…” Rina melotot. Seno tertawa terbahak bahak. “You happy han.?” Seno sedikit berteriak. “Yeah… very happy.” “Oke… Good.” Seno masuk ke dalam rumah untuk membicarakan mobil permintaan Rina tadi malam. “Neng… maunya mobil apa.?” Rina yang tengah membuat sandwich berlari kegirangan memeluk Seno. “You serius.?” Rina mencium semua wajah Seno. “Mercy ada nggak bang.?” Rina melentikkan matanya. “Mercy mahal sayang.” Seno diam. “Ooooh… neng ada tambahan.” “Papi mau kasih nggak yah.?” Goda Seno. “Hmmmm…. Emang.?” Rina mengangkat alisnya. Seno mencium kening istrinya, “Abang usahakan dulu yah, jika nggak dapat abang minta tambah. Deal.” Seno memberikan kelingkingnya seperti Rina tadi malam. Rina tersenyum bahagia, yang pasti Seno selalu berusaha memberikan yang terbaik.’Terimakasih Tuhan’. Rina bersyukur. Drrrrrrt…. Drrrrrt… Hp Seno berdering. Papa. “Apa kabar Sen.?” Terdengar suara Papa sangat bahagia. Seno menjauh dari Rina. “Baik Pa.” “Good.” Seno bercerita panjang dengan Mama Papa, sudah lama tak bercerita, sambil melihat Rina dari kejauhan “Satria di sini Sen, oya, Rina udah hamil.?” Tanya Papa. “Hmmmm…. Ehem.. belum Pa, Seno sibuk beberapa minggu ini. Nggak ada time bersama.” “Pesen Papa, kamu jangan lupa kewajibanmu, suami harus perkasa.” Tawa Papa. “Iya Pa. oya, Seno mau bicara dengan Satria Pa.” Papa memberi telfon ke Satria. “Haaaiii bro… how are you.?” “Fine. Nggak ada jadwal kesini loe.?” “Belum, tapi nanti ada pertemuan disana. Cuma belum tau kapan.” Jelas Satria. “Bro.. you have money.?” Satria menjauh dari Papa, “Berapa.?” Seno menceritakan semuanya. “Oke. How much.?” “Nggak banyak, cukup buat Mercy.”hahahaha. Satria menyanggupi yang di butuhkan Seno. Seno ingin memberikan kejutan buat Rina. Tiba – tiba Papi menelfon Seno. “Udah Papi transfer, Papi percaya sama kamu.” Seno terdiam. “Pi… Seno ada Pi.” “Kamu simpan saja, yang penting bahagiakan Rina.” Seno diam beribu bahasa. ‘Woooooooow….’ Real bisnis. Seno memperhatikan Rina dari kejauhan sedang sibuk menelfon seseorang. Rina berlari mendekatinya. “Abang, Aldo dan Jessy akan kesini.” “Oooh ya…?” Seno menarik tangan Rina. “Kenapa bang.? Neng perhatikan, abang nggak nyaman kalau sebut Jessy. What happen.” “Nggak apa – apa geulis. Mobil kapan maunya.?” Seno mengalihkan perhatian Rina. “Hmmmm… emang duitnya ada.?” Cemberut Rina. “Buat neng ada.” Rina memeluk Seno kegirangan, melompat, mencium, berkali – kali.”Makasih yah.” Sambil berlalu. ‘aneh’ bisik Seno. Mata Seno tertuju pada mobil yang parkir didepan rumah mereka. ‘Jessy dan Aldo’. Aldo turun mengahmpiri Rina. Rina sangat ramah melayani Aldo, sangat propesional. Tapi mata Aldo lebih sering melihat dada Rina. Seno merasa cemburu. “Haii Sen.” Jessy mendekati Seno. “Haaiii… Apa kabar.?” “Good. Rina ambil projek di sini.? Great.” Angguk Jessy. “Smart.” Seno merasa bangga dengan Rina, ternyata Jessy memuji Rina. “Kita nggak di bolehin masuk ke dalam.?” Jessy melihat desaign yang agak berbeda. “Ooooh…. Ya, silahkan.” Seno menemani Jessy untuk melihat – lihat. “Wooooow… Rina sangat cerdas yah Sen.?” “Iya, Saya juga kaget.” Jelas Seno. “Hati – hati, nanti Rina di gebet bule.” Bisik Jessy. Seno tersenyum garing,”Gue lebih dari bule.” Membuat Jessy tertawa. “Ya… I know.” Jessy tersenyum. “Kamu ketemu Rina dimana.? Sory… gue nggak pernah lihat loe sama cewek.” “Hmmmm… kebetulan.” Senyum Seno. “Kebetulan gimana.?” Jessy tersenyum.“Kamu makin gagah semenjak menikah.” Jessy mulai merayu. Seno tak begitu nyaman dengan keberadaan Jessy didalam rumah, sambil melihat Rina dan Aldo dari kejauhan, tapi Aldo sibuk dengan telfonnya. ‘Rina dmana’ pikir Seno. “Bang…” Rina mendekati dengan wajah sedikit kecewa. “Neng dari mana.?” Tanya Seno. Rina terdiam. Masuk menyusul Jessy, “Haii Rin…” “Haiii…” Rina hanya mendengarkan celotehan Jessy tanpa menjawab sedikit pun. “Kami akan tinggal di beberapa block deket sini lho.” Jessy menunjuk salah satu block. Rina hanya diam. Seno bertanya. “You oke honey.?” Sambil menyentuh tangan istrinya. “Don’t toch me.” Bisik Rina. ‘Aaaaaaaaagh… God.’ “Shiiiit..” Seno tau ada yang tak beres. Jessy yang sibuk melihat-lihat rumah, tiba-tiba makin jauh. Seno menarik tangan Rina, menutup pintu pelan. “Neng….” “I hate you Seno Prayoga.” “Neng… neng salah paham, apa yang neng denger.?” “Salah paham apa bang.? Neng nggak suka abang ajak masuk perempuan lain ke rumah neng, tanpa ada neng. Ngerti.” Seno menepuk jidatnya. “sayaaaaang… Jessy mau melihat-lihat ke dalam. Bukan mau apa-apa.” Seno lega, kirain mendengar obrolan mereka. “Tetep weeeeh neng nggak suka.! Kalau permisi nggak apa. Ini main nyelonong weee.” Seno antara mau ketawa, marah, senang di cemburuin Rina. Tertawa kecil dalam hati. “Neng jeules.?” Bisik Seno. “Nggak.” “Truus apa.?” Rina memeluk Seno, “Neng takut kehilangan abang.” “Emang abang mau di bawa Jessy kemana geulis.?” Seno seneng banget. “Ke rumahnya atuh.” “Yaaa.. nggak lah, rumah abang mewah gini, masak ikut kesana.” Tegas Seno. Rina menatap mata Seno. “Serius.?” “Serius atuh sayang… Abang nggak suka ama Jessy.” Meyakinkan Rina. Rina kembali memeluk Seno. Seno benar-benar takut Rina marah, nangis, apalagi kabur. Seno berfikir, ‘apakah dulu adiknya Arjuna diginiin nggak yah ama Rina.?’ Otak Seno kadang puyeng sendiri. “Makasih yah.” Senyum Rina. Seno memeluk sambil menggendong Rina ke kamarnya. Seno mencumbui Rina lagi dan lagi. Seno sangat memanjakan Rina. Sangat. “Abaaaang…Abang belajar s*x dari mana.?” “Hmmmm… mengalir aja, kan banyak juga edukasi untuk pengantin baru seperti kita di internet neng.” “Kalau neng dari cerita Sisi. Tapi nggak pernah praktekin. Takut.” Tawa Rina. “Takut kenapa.?” “Takut, bukan lelaki yang tepat.” “Kenapa nggak takut ama abang.?” “Abang mau kabur kemana coba.? Ke lobang jepang aja ketemu ama Papi.” Tertawa Rina pecah. “Iya juga yah.” Pikir Seno. Seno mengakui istrinya emang pintar, nggak manja. Seperti Jessy bilang. Rina smart. Ternyata terbukti. “Tau gitu dari awal abang bongkar, nggak mesti nunggu sampai nikah dulu.” Hahahahaha… Seno di pukulin pakai bantal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD