Rina terlelap, setelah kelelahan mengelilingi Melbourne dari pagi hingga malam. Seno perlahan keluar kamar menemui Satria.
“Haai Sen… Gue fikir loe tidur.” Satria kaget, sambil mempersilahkan Seno masuk.
“Gue fikir Arlen nginep.” Seno tertawa.
“Nggaklah. Gue cuma nggak mau jadi obat nyamuk aja.” Hahahaha.
“Papa Mama gimana bro.?” wajah Seno berubah seketika.
“Oke… fine. What happen.? You anything problem.?”
“Ntah lah bro. Sulit gue bicara.”
“You happy kan.?”
“Everything is good, but I’m not very happy.”
“Why.? Loe udah nikah, istri cantik, baik, kaya. Apa lagi bro.?”
Mata Seno berkaca-kaca. “Doain aja gue kuat bro.” tunduk Seno.
“Wooooooow. Loe kalau ada masalah, cerita ama gue.”
“Loe nggak akan ngerti. Gue takut bro.” Seno tertunduk.
Satria merasakan apa yang Seno rasakan. Dihantui perasaan bersalah, karena menikahi Rina yang sesungguhnya bukan keinginan Seno.
“Tapi loe cinta ama Rina.?”
“Hmmmmm… gue justru lagi mencari, apa itu cinta, gue hanya berusaha membahagiakan permaisuri Pak Brata bro.” Seno melihat keluar jendela dengan tatapan kosong.
“Loe harus cari solusi Sen, nggak bisa begini lama.”
Satria mengerti maksud adiknya. Ini nggak akan baik untuk Seno dan Rina ke depannya.
“Udah aaaagh…. Gue balik ke kamar, pusing. Gue baru menikah, yaaah gue nikmati aja.” Senyum Seno.
“Oke..” Satria membiarkan Seno balik ke kamarnya.
Satria mengerti dengan kondisi Seno saat ini. Seno selalu menuruti apa kemauan Papa. Dari dulu hingga saat ini. Satria seorang penentang yang bisa membuktikan bahwa dia beda dari kedua adiknya.
Kuliah Seno tak sesuai keinginannya. Tapi Seno dapat menyelesaikan hingga S2. Beda dengan Satria. ‘Papa diktator’ bisik hati Satria.
Malam itu, terakhir Seno bertemu Satria. Seno dan Rina menuruskan aktifitas sehari-hari di Perth. Rina sangat sibuk, begitu focus akan pekerjaannya, hingga lupa bahwa Seno membutuhkan teman cerita. Karier Rina sangat cepat naik, membuat Seno makin merasakan jauh dari Rina. Tak seperti sebelumnya. Manja, bawel, selalu meminta Seno membantunya. Kali ini Rina melakukan semua sendiri, tanpa menghiraukan Seno. Seno hanya memendam ‘apakah wanita mandiri selalu melupakan pasangannya.?’
Seno sangat strees dengan pekerjaannya, mengatur strategi nasional hingga membuat Seno depresi, hilang kepercayaan diri. Seno jarang pulang, pekerjaan yang makin hari makin padat. Di sela-sela masa dinasnya, Seno mengajak Rina menghabiskan malam bersama untuk menonton theater.
“Neng, terlalu sibuk.” Gumam Seno.
“Neng beginikan karena abang, buat kita. Biar kita bisa holiday, traveling.” Senyum Rina tanpa tau hati Seno sesungguhnya.
Seno tidak bisa menikmati Rina yang dulu, Rina yang selalu manja bersamanya.
Bukanlah Seno jika, tak bisa membuat Rina nyaman. Seno membiarkan Rina tertidur di bahunya. Hingga theater selesai. Sepanjang jalan Seno hanya diam, begitu juga dengan Rina.
Makin hari berat badan Seno menurun, tapi belum di rasakan oleh Rina.
“Neng… Besok abang dinas. Mungkin pulang agak lama.” Seno mencium kening Rina sembari memeluk.
“Yaaaah…” Rina menangis. “Jauh mulu nggak seperti dulu.” Rengek Rina.
“Gimana donk… namanya kerja.” Senyum Seno.
“Hmmmmm….” Rina memeluk erat Seno, mengatakan tak ingin berpisah.
Seminggu kepergian Seno dalam perjalanan dinas, Rina di datangi prajurit dari kantornya.
“Selamat Siang.” Hormat mereka.
“Ya. “ Rina melihat di dada mereka ada bendera Indonesia.
“Anda istri Mayor Seno Prayoga.?”
“Ya. Ada apa yah.?” Rina berdiri mempersilahkan tamu suaminya masuk. Dua orang menunggu di luar.
Rina terkejut, ‘Ada apa dengan Seno.’ Bathinnya.
“Pak Seno sudah meninggalkan Perth seminggu lalu. Beliau menghilang sampai saat ini.”
“What….????” Tubuh Rina seperti melayang, mendengar Seno menghilang. “Maksudnya, sory..” Rina meminta mereka mengulang kata-katanya.
“Bisa ikut kita ke kantor saja bu.? Biar Komandan kita menjelaskan.”
Rina terdiam, “Wait…” Rina masuk ke kamar, menelfon Papa.
Papa tidak menjawab telfon Rina. Rina menelfon sekali lagi tetap sama. Rina keluar, “Oke, saya menggunakan mobil saya saja.”
Mereka mengikuti apa kata Rina sambil mengikuti Rina dari belakang. Rina menarik nafas dalam, agar tetap tenang. Rina menelfon Seno nomornya tidak aktif sama seperti dua hari yang lalu.
Akhirnya Rina sampai di kantor Seno bertemu dengan Komandannya.
“Haiii… Siang.” Sapa Rina.
“Selamat siang. Dengan ibu Rina kan.? Istri Mayor Seno Prayoga.” Tegasnya.
“Ya.”
“Saya tidak bisa menemui Seno, atau menelfon beliau. Apa ibu tau keberadaan Seno, atau ada masalah pribadikah.?” Komandan Seno bertanya dengan tegas dan sopan.
“Hmmmm…. Saya sudah seminggu tidak dapat kabar dari suami saya.” Jelas Rina. “Saya rasa tidak ada masalah dengan rumah tangga saya. Everything is good,… yeeeah,… good.” Jelas Rina yang spontan bingung, sedih, kwatir.
“Tapi Seno sudah tidak ada contac dengan kita bu setelah beberapa minggu ini.”
“What….?” Rina tidak tau mau bicara apa. Hampir setengah nafas Rina hilang mendengar berita itu.
“Apa Seno ada menghubungi anda.?”
Rina memberikan hpnya untuk di lakukan pemeriksaan, tak terasa air mata Rina mengalir, dia berusaha tetap tenang.
Hp Rina di kembalikan, tak lama kemudian prajurit masuk ke ruangan komandan membisikkan ‘bahwa Seno meninggalkan Australia sehari yang lalu.’ Terdaftar bahwa ada yang meninggalkan Australi atas nama Seno Prayoga. Komandan Seno menyampaikan berita itu secara perlahan, membuat Rina jatuh pingsan tak sadarkan diri. Hingga di larikan ke Rumah Sakit segera.
Jessy mendampingi Rina, saat berada di rumah sakit dan dalam pengawasan Negara Australi. Menunggu kehadiran Papi Mami Rina.
“Jes… You know something.?” Tangis Rina.
“Saya sudah lama tak bertemu dia.” Jessy memeluk Rina. Sangat memahami bagaimana perasaan Rina saat ini, di tinggal tanpa kata-kata.
Rina menangis sejadi-jadinya. Menjerit. Sakit, dimana Seno Prayoga yang dia cintai saat ini.
Aldo dan Jessy hanya bisa menemani Rina. Rina marah, pada dirinya sendiri. Tak menyangka di perlakukan begini oleh Seno.Berkali-kali Rina mencoba menghubungi nomor Seno, tetap sama ‘tidak tersambung, Rina shock.
Selama sebulan lebih Rina menghabisi waktu di rumah sakit. Benar-benar berat bagi Rina dan keluarga Brata. Rina terjatuh sangat dalam. ‘Apa salah neng bang.?” Kata-kata itu selalu ada di hati Rina.
Papi memohon pada Rina untuk tetap tenang. “Titik Merah”. Mami selalu menangis dalam kesendirian melihat nasib putrinya.
“Jujur neng nggak kuat Pi.?” Rina menjerit di pelukan Papi.
Papi sangat terpukul, betul-betul tidak menyangka semua akan begini. Aldo dan Jessy berusaha mengobati hati keluarga Brata terutama Rina Brata.
Papi menghubungi Papa Seno, saat sedang di luar kamar rumah sakit. Menanyakan kabar Seno.
“Dimana Seno.?”
“Sa… saya juga sedang mencari mas.” Jawab Papa terbata.
“Terjadi sesuatu pada putri saya, akan saya tuntut kamu Prayoga.” Papi menutup telfon,terkejut dengan kehadiran Rina di hadapannya.
“Pi… jujur ama neng… ada apa Pi.? Kenapa neng di giniin keluarga mereka.” Tangis Rina Pecah di pelukan Papi.
Papi tidak bisa berkata apa-apa saat ini, Papi hanya ingin mendapatkan Seno. Bathinnya.
Seiring waktu berjalan, setelah menjalani pemeriksaan yang panjang, Rina di perbolehkan meninggalkan Australi, dengan perjanjian siap di lanjutkan proses jika Seno di temukan. Hampir semua orang tak percaya dengan perlakuan Seno terhadap Rina. Sisi memutuskan meninggalkan Irham untuk sementara waktu menyambut kepulangan Rina di Jakarta yang dalam pengawalan semasa dalam perjalanan. Jessy ikut serta mendampingi Rina sebagai team kesehatan pribadi Rina. Mami Papi harus kembali lebih awal, karena pekerjaan.
Papi Rina menyediakan semua pengacara terbaik keluarga mereka untuk menuntut keluarga Prayoga. Banyak hal yang Rina tak ketahui perjanjian apa saja yang di langgar oleh Prayoga terhadap Brata.
Setiba di Jakarta Sisi memeluk Rina. Sambil menangis. Sebagai sahabat Sisi orang yang paling memahami hati Rina, selain Mami. Sisi yakin Rina akan melakukan sesuatu.
“I love you.” Bisik Sisi.
“Seno Si. Seno ninggalin gue.” Tangis Rina.
“Inget, semua akan di temukan ‘titik merahnya’. Trust me.” Sisi mengusap punggung Rina.
Jessy tertegun melihat Sisi. Spertinya Jessy pernah mendengar nama itu. Jessy melupakannya, karena harus cepat membawa Rina kembali ke Bandung. “Rina dalam bahaya.” Bisik Jessy kepada Sisi.
Sisi melepaskan Rina, karena mreka di mobil terpisah. Jessy terus mengajak Rina bercerita, agar kesehatan Rina cepat pulih. Jessy di bayar khusus oleh Pak Brata untuk menjaga Rina.
‘Begitu teganya Seno terhadap Rina’, bisik Jessy. ‘Ada apa sebenarnya.?’
Jessy coba mencari tau dari Aldo, tapi Aldo tak mengetahui persis, setau Aldo, Seno takkan setega ini. Ini hanya bisa di lakukan oleh orang sakit, lebih tepatnya depresi atau gila.
“Apakah Seno sakit.?” Jessy tak dapat menjawab pertanyaan Aldo.
Dengan berjalannya waku kasih sayang Sisi, Aldo dan Jessy sangat di rasakan oleh Rina di masa tersulit. Masa terpuruknya.
Sisi tak bisa berlama-lama menemani Rina, dia harus kembali ke Texas untuk Irham. “Gue pamit yah… udah 3 bulan gue di sini.” Peluk Sisi.
“Iya, makasih untuk semua.” Rina lebih tenang memeluk Sisi.
Sisi memeluk Jessy, “Jaga Rina yah Jes… makasih, udah care banget ama kami.”
“Oke…. Becareful, salam buat Irham suami tercintanya.” Jessy tertawa.
Aldo hanya bisa mengulurkan tangan. Tidak memeluk apalagi mencium. “Masih belum move on gue.” Canda Aldo, membuat Jessy tertawa.
Rina berusaha bangkit, menata hati dan jiwanya. Lebih dekat dengan Tuhan, masih ada keluarga dan sahabatnya.
Tanpa sengaja Rina pernah berpapasan dengan Kak Lingga, “Riiin…” Sapa kak Lingga.
Rina berlalu pergi, tanpa menghiraukan Lingga. Rina takkan mau berurusan dengan keluarga Prayoga. Siapapun itu.
Pak Brata menemukan keberadaan Seno di Lucca Italy. Info detektif Pak Brata, nama diganti menjadi Luca sesuai daerah persembunyuainnya selama beberapa tahun. Seno sengaja melarikan diri dari kesatuan, masih dalam pencarian. 4 tahun lebih melacak keberadaan Seno. Seno di bantu oleh seorang Dokter dari Singapura. Satria. Satria Prayoga abang kandungnya. Seno mengalami depresi berat, hingga harus mengasingkan diri. Menurut laporan dari detektif Brata.
Kabar ini membuat Pak Brata meninggal dunia, serangan jantung. Rina makin terpuruk, hancur kehilangan Seno lebih hancur kehilangan Papi baginya. Rina dan Mami sangat terpukul. Papi yang selalu ada, pergi meninggalkannya untuk selamanya. Sangat berat Rina menanggung semua, Rina berusaha bangkit untuk Mami atas dukungan Aldo dan Jessy.
Tak mudah bagi Rina untuk bangkit meneruskan tuntutan Papinya, kepada keluarga Prayoga. Rina mengetahui perjanjian Papa dan Papi dari pengacara. Semua ada secara tertulis. Rina harus bergerak cepat untuk dapat menemukan Seno. Begitu kejam dunia bisnis keluarga hingga mengorbankan hati anak-anak mereka.
Semenjak kepergian Papi, Mami lebih memilih mengurus perkebunan, mengamankan asset peninggalan Papi . Apalagi mengetahui semua kekejaman perjanjian keluarga itu. Sangat menusuk bagi Mami.
Pengacara masih melakukan tuntutan penuh kepada Pak Prayoga. Semua mata tertuju pada keluarga itu. Beberapa media meliput kejadian keluarga Prayoga dan keluarga Brata. Rina lebih memilih diam. Kuat karena Jessy dan Aldo ada bersamanya.
Rina mengajak Jessy untuk terbang ke Italy. Mencari Luca/ Seno. Pengacara Rina megurus semua. Menghubungi Interpol untuk memproses Seno jika dapat di temui.
Rina mencari keberadaan Luca/Seno. Di daerah Lucca Pisa. Rina dan Jessy banyak bercerita kisah mereka. Seperti kakak ade. Rina memang tak secantik dulu. Lebih kurus. Jessy selalu berusaha menjadi sahabat terbaik Rina selain Sisi. Menghibur, menguatkan Rina.
Rina melihat Satria tanpa disengaja. Saat Rina menghabiskan waktu bersama Jessy didalam Gereja.
Rina memberanikan diri mendekati Satria. Rina takkan gegabah. Bathinnya.
“Bang.” Bisik Rina membuat Satria terkejut.
Satria berusaha kabur, tapi Rina berusaha menarik tangannya dengan sekuat tenaga. Satria berbisik,”Kita ngomong baik-baik. Seno sedang berdo’a.”
Badan Rina rasa mau tumbang melihat Seno dari kejauhan. Jessy hanya mengusap punggung menenangkan Rina.
Satria menghampiri Seno, menarik Seno mendekati Rina.
Ntah apa perasaan sesungguhnya, setelah lima tahun perpisahan mereka. Rina hanya menatap Seno meyakinkan diri Seno benar-benar ada di hadapannya. Jessy terus membisikkan sesuatu agar tenang dan kuat.
“Tinggalkan gue.” Bisik Rina.
Jessy dan Satria menunggu nggak jauh dari mereka duduk.
Spontan Rina menampar Seno. “Apa salah aku.” Sambil menangis.
Seno hanya diam, menatap Rina. Air matanya mengalir deras. Menerima tamparan Rina berkali-kali.
“Sakit Seno Prayoga…. Sakiiiit…. Haaaaah…. Lebih sakit gue… Loe tinggalin tanpa kata.” Tangis Rina pecah, Rina menjerit. “Sakit Sen, tau loe.!!! Gue nunggu loe… loe pengecut.” Rina bersimpuh di tanah berteriak melepaskan sakitnya selama ini.
Seno hanya diam tak berani menyentuh Rina. Satria coba mendekati Rina. Perlahan membawa Rina duduk. “Rin, abang nggak mau lihat ini semua. Kita semua hancur.”
“KITA…. KITA… Kita siapa.?” Bentak Rina.
“Seno depresi Rin.” Perlahan Satria berbisik.
Rina menatap Satria, dengan sinis… “Oooooh dia depresi, aku kalian korbankan.?” Tangis Rina.
“Bukan begitu Rin.” Satria coba menjelaskan dengan tenang.
Bagaimana hidup Seno serba di atur Prayoga Papanya. Dari kuliah hingga menikahkan Seno dengan Putri Brata hanya untuk harta, Jabatan Seno di Australi, semua di atur oleh Papanya. Seno tidak bisa menolak karena telah melakukan kesalahan menembak Arjuna walau itu murni kecelakaan. Seno tidak pernah bisa berkata TIDAK kepada Papa. Seno menyayangi Rina, tapi Seno tak sepenuh hati mencintai Rina. Seno merasa bahwa Rina mampu melakukan semua. Tanpa Seno. Seno merasa tak pantas menjadi pendamping Rina, semenjak stay di Ausi. Seno depresi berat, seolah-olah, Rina tak membutuhkan dia. Hingga merusak hati, pikiran dan kejiwaannya sebagai prajurit Negara. Seno nekat melakukan semua, karena kepercayaan dirinya sudah hilang. Bingung, mesti bagaimana memperbaiki semua. Seno hanya bisa bercerita kepada Satria, Satria mencoba membantu dengan mengirim Seno ke Pisa Italy untuk bertemu Dokter Marco ahli kejiwaan. Seno tidak gila, dia sadar, tapi dia tidak tenang. Rasa sedih kecewa. Jika di biarkan Seno akan lebih berbahaya, bisa menyakiti Rina istrinya sendiri. Disini Seno lebih bisa menikmati hidupnya. Bukan seperti apa yang Papa mau, melainkan seperti yang Seno mau.
Seno tak mampu lagi menanggung beban pribadinya, hingga meninggalkan Rina seperti ini.”Maafkan kami, karena ini tak adil untukmu Rin.” Satria memohon.
Rina menatap Seno yang hanya terdiam. Menangis melihat Rina, tapi tak berani berkata apa-apa.
“Baik, kita akan ikut sesuai peraturan hukum yang berlaku.” Tegas Rina.
“Rin… Pikirkan lagi.” Pinta Jessy sambil mengusap punggung Rina.
Jessy tau, jika semua di proses akan memberatkan Seno. Seno akan di tahan sesuai peraturan Australi.
“Aku mencari dia, bukan karena aku masih mencintainya, melainkan aku ingin bangkit dari ketakutan ku, ketakutan untuk berpisah dari dia ( Rina menunjuk Seno ), hingga aku kehilangan Papi.” Tangis Rina.
Jessy mengerti maksud Rina, tapi ini akan berdampak pada Seno.
Seno menjalani pemeriksaan di Italy, untuk segera di serahkan secara internasional ke Australia. Seno mengikuti proses yang panjang atas tuntutan Rina. Seno menjalani hukuman penjara selama 10 tahun di Melbourne Ausi, membayar denda 8 milyar kepada Australia.
Keluarga Prayoga tak dapat melakukan apa-apa lagi. Prayoga kehilangan semua harta dan anak-anaknya. Di tuntut oleh pihak keluarga Brata. Keluarga Prayoga harus mengganti kerugian 180 Milyar. Bukan nilai yang sedikit. Itu bentuk sakit hati dan Rina tidak bisa memaafkan keluarga Prayoga.
Satria dan Lingga berpisah, Satria memilih tinggal di Singapura bersama putrinya. Lingga meninggalkan Satria karena terlalu menyia – nyiakan Lingga demi Seno. Satria di cekal, tidak bisa mengunjungi Negara lain, selain stay di Singapura.
Rina menjual Apartmennya di Jakarta, memindahkan semua asset pribadinya ke pabrik Teh keluarga Brata yang sudah di rintis oleh Papinya selama ini. Rina menjalani hidupnya bersama Mami. Sesekali Aldo dan Jessy datang mengunjungi Rina di Bandung. Menikmati hari-hari bersama keluarga dan sahabatnya.
Dalam kesendiriannya, Rina selalu berfikir, bahwa akan ada masanya di pertemukan kembali dengan Pria yang tepat. Mencintai dan menyayanginya tanpa syarat ataupun tanpa perintah.
Rina menghabiskan waktu sebagai pengajar Desaign Interior bagi anak – anak yang kurang beruntung. Memberikan kesempatan pada mereka menunjukkan bakat mereka. ‘Kita bahagia bukan karena harta atau kekuasaan, melainkan melakukan sesuai hati dan jiwa yang bahagia.’
“Selamat tinggal Seno Prayoga / Luca Prayoga.”