"Neng kangen." Tangis Rina. "Om Frans jahat." Sambil memukul bahu Seno.
"Om frans sengaja nggak mau kasih kabar ke neng. Buat surprise katanya." Ledek Seno.
"Kok bisa,?" Tanya Rina. "Bukannya banyak syarat.?"
"Hmmmmm.... Semua om Frans dan Mr. Alex yang urus."
Rina berteriak, "Om Frans..... Makasih." Sambil mengejar Om Frans.
Aldo dan Jessy juga sangat senang dengan kehadiran Seno kembali ke pelukan Rina. Sisi dan Irham juga tidak menyangka, akan seperti ini.
"Selamat bro." Kata Irham.
Sisi yang sedang hamil, agak lebih sensitive. Mengusap air matanya.
"Makasih buat kalian yang sudah menjaga Rina selama ini." Seno merangkul hangat Rina.
Mami hanya bisa menangis haru melihat kebahagiaan putrinya.
"Makasih yah Mi." Rina memeluk Mami.
"Bagi mami, kamu harus bahagia." Sambil memukul bahu Seno. Jujur dalam hati mami masih belum bisa menerima Seno kembali. Tapi demi Rina, Mami mengalah. "Mami ke kamar yah." Membiarkan semua berbahagia. Sambil menarik tangan Om frans ke ruang kerja Papi.
"Semoga betah di Bandung yang bro." Ledek Aldo. Aldo dan Jessy menunjukkan perubahan kepada Seno. Bagi mereka ini tidak akan mudah untuk Seno. Dimata Aldo, Seno adalah laki-laki pengecut.
Sekarang baru pulang. Nanti lebih tertekan. Menurut pikiran Aldo. Jessy yang biasa hangat kepada Seno, memang menunjukkan perubahannya. Lebih ramah kepada Irham dan Sisi.
Rina berusaha menghibur Seno yang dari tadi hanya diam, mencoba mengakrabkan diri pada sahabatnya.
"Rin, gue akan stay di setiabudi." Jessy memberi alamat rumah baru mereka.
"So sweet, nggak di Jakarta lagi.?" Pikir Rina.
"Nggak, Aldo mau di Bandung aja." Jelas Jessy.
"Lebih deket." Rina mengedipkan matanya kepada Jessy.
"Sen, kamu yang kuat yah. Semoga kalian damai selalu." Jessy memberi salam dan mengajak Aldo pulang ke rumah baru mereka.
"Gue balik cantik." Aldo menarik hidung Rina. "Manja." Celetuk Aldo.
"Gue juga pamit, selamat honeymoon." Sisi memeluk Rina.
Sepulang Aldo, Jessy, Irham, dan Sisi, Rina mengajak Seno duduk di taman. Di perjalanan menuju taman, melewati ruangan Papi. Rina mendengar pembicaraan Mami dan Om Frans.
'Saya hanya ingin Seno saja. Bukan keluarga Prayoga. Ini demi Rina. Saya akan memberi tanggung jawab penuh ke Seno untuk mengelola pabrik, dan dia harus belajar dari saya.' Mami menegaskan kepada Om frans.
"Tapi mba, biar Seno yang meminta. Jangan di suruh." Saran Om frans.
Rina berlari ke taman, membawa Seno masuk ke kamarnya. "Ikutin neng."
Rina menutup pintu kamarnya yang luas, sambil memeluk Seno. "Neng kangen." Tapi pikiran Rina masih memikirkan omongan Mami yang baru dia dengar.
"Abang belum mandi lhoo..." Seno masih canggung. Karena ini rumah mertua.
"Neng panggil bi Surty yah, siapkan baju abang."
"Bibi ? bibi neng...?" Seno mengangkat alisnya.
Rina hanya tersenyum "Lupa."hahahahaha..... Saat Seno mandi, Rina meminta bi surti membawakan makanan kekamarnya, dan Rina pergi mencari Mami ke ruangan kerja Mami, tapi mami tak di ruangan itu. Rina bergegas ke kamar Mami.
Perlahan tapi pasti, Rina menggedor dan masuk. "Mi..." Suara Rina lembut.
"Neng, mami pikir tadi di kamar.?" Mami mengusap air matanya.
"Neng dengar semua pembicaraan mami sama om. Neng mohon, jangan begitu keras kalau bicara mi." Rina memohon.
Mami terdiam sejenak, menarik nafas dalam. "Kamu maunya gimana.? Mami akan menjadikan Seno Direktur di pabrik kita menggantikan Asep. Asep sudah harus pensiun." Jelas mami.
"Perlahan mi, makasih mami mau nerima Abang, walau sebenarnya hati mami belum bisa nerima dia. Neng senang, tapi neng nggak mau abang mendengar kata-kata mami sama orang lain. Semua berubah pada abang. Neng kasihan mi." Rina menangis di pelukan Mami. "Aldo, Jessy, Sisi, Irham, semua berubah. Neng nggak mau kehilangan abang lagi. Dia suami neng. Dia cinta neng mi."
Mami hanya menenangkan Rina."Mami tidak membenci Seno, Seno hanya korban, tapi ini akan jadi senjata bagi keluarga Prayoga neng." Tegas Mami.
"Apa neng harus pindah ke Negara lain.?" Tanya Rina.
"Pindah...? Seno di cekal. Nggak bisa kemanapun, karena dia bebas bersyarat militer." Jelas Mami.
Rina terdiam mendengar berita itu. "Berarti, neng nggak bisa ke Ausi, Singapur, Mi.?"
"Ya, makanya kita harus masukkan Seno ke Pabrik untuk mengurus pabrik, ganti namanya menjadi Hans mungkin. Semua akan di urus oleh Om mu sayang."
"Berarti abang nggak bisa kemana-mana.?" Tanya Rina.
"Ya.... Seno harus stay at home, hingga semua bersih. Paham.?"
Rina memeluk Mami, tak menyangka akan menajadi seperti ini. Mami harus membayar mahal untuk kebahagian Rina, mendatangkan Seno ke Bandung itu adalah ancaman bagi keluarga mereka.
Rina keluar perlahan dari kamar Mami, menuju kamarnya. Seno yang sudah bersih sambil memakan masakan bi surty yang di antar ke kamar Rina.
"Sory..." Rina memeluk Seno.
"Dari mana.?" Tanya Seno.
"Dari kamar Mami. Ada yang mau Mami sampaikan ke Abang." Jelas Rina sembari menarik nafas.
"Sekarang,? Atau nanti.?" Seno berdiri.
"Nanti. Sekarang Mami suruh kita istirahat." Rina memeluk Seno yang ada di hadapannya.
Seno benar-benar merindukan istrinya yang telah lama dia tinggalkan. Seno mencium bibi Rina sangat lembut. Seno membuka perlahan drees Rina, sangat indah tubuh mulus yang sudah bertahun-tahun dia sia-siakan. Sangat indah saat Seno mencumbui tubuh mulus itu. Rina sangat merasakan sentuhan lembut Seno saat mulai menyentuh bagian sensitive Rina. Beberapa kali Seno mendengar desahan Rina. Seno sangat sempurna dimata Rina, ketika luapan rindu dan kasih sayang itu tercurahkan.
Rina memeluk erat Seno, hingga terlelap di pelukannya. Tak terasa air mata Seno menetes, membayangkan semua kejadian. 'Berat banget untuk melupakan semua.' Seno sangat menyayangi Rina karena kegigihan dan keyakinan untuk mendapatkannya kembali, tapi ini juga tak mudah bagi Seno. Seno beranjak keluar kamar mencari Mami.
"Mi..." Seno mengejutkan mami yang lagi sibuk mengurus hobynya, 'anggrek.'
"Haaaiii Sen." Mami tidak melihat keberadaan Rina.
"Bisa Seno bicara.?" Seno tak segagah dulu, tapi masih tampan.
"Duduklah Sen. Jangan sungkan." Mami tersenyum melihat Seno.
"Seno akan membawa Rina pergi mi."
"Kemana.? Apa kamu tau tujuan kamu kemana.? Mami sudah mengatur semua dengan om frans, mami minta kamu urus pabrik. Gantikan mang Asep di sana. Dengan begitu semua akan aman." Perintah Mami.
Seno terdiam. "Seno akan hidup di jogja mungkin, atau dimana gitu."
"Ngawur kamu, kalian mau ngapain di Jogja." Mami menyangkal.
Seno kembali terdiam, "Jika Papa tau Seno disini akan berat Mi. Papa akan menuntut kalian lagi."
"Sen... Saya akan melakukan apapun demi Rina. Demi Rina. Ingat, demi Rina. Saya tidak takut tuntutan apa yang akan di berikan Prayoga kepada keluarga saya." Jawab mami tegas.
"Baik, Seno akan mengikuti semua saran mami. Seno akan membahagiakan Rina."
"Memang sudah selayaknya kamu membahagiakan putri saya." Mami pergi meninggalkan Seno.
Air mata mami mengalir. Teringat akan Papi yang sudah tidak bersama mereka lagi. Tak tega rasanya berbuat seperti ini kepada Seno. Tapi mami tidak bisa berpura-pura baik untuk menerima laki-laki yang di cintai putrinya. Mami memohon kepada Tuhan, agar selalu kuat menghadapi dilemma ini. Mami mengirim pesan ke Frans, untuk segera datang besok pagi.
Seno kembali ke kamar Rina. Dia memeluk Rina erat. "Abang.... Abang dari mana.?" Rina kaget, melihat Seno mengusap air matanya.
"Abang baru selesai ngobrol sama Mami." Seno menatap Rina.
"Mami marah sama abang.?"
"Nggak neng, abang harus menjalani semua, agar neng bahagia."
"Abang, ingat janji kita. Kita akan selalu bersama dalam keadaan apapun." Rina berusaha menenangkan Seno.
"Tapi abang sudah menghianati janji itu neng." Jelas Seno.
"Dulu karena Papa dan Papi. Sekarang kita. Kita harus kuat dan yakin. Ingat semua akan berlalu, kadang ada yang suka ada yang nggak suka. Kita jalani dulu bang. Neng yakin kita bisa." Suara Rina yang lembut memberikan kesejukan pada Seno.
Seno memeluk tubuh Rina kembali, begitu cintanya Rina kepada Seno. Hingga dia yakin bahwa Seno bisa bangkit dari keterpurukan ini.
Pagi di Bandung....
"Morning darling." Rina mengecup kening Seno.
Seno mengusap matanya, "Morning sayang."
"Siap-siap yah, kita ke pabrik, mami nunggu kita sarapan." Seno mencium aroma tubuh Rina yang tak pernah hilang wanginya sejak dulu. Seno mencumbui tubuh Rina lagi dan lagi. Rina yang sudah lama tak mendapatkan semua perhatian, merasa bergairah kembali. Rina berharap akan segera hamil seperti Sisi.
"Abang sangat mencintai neng." Seno menangis di pelukan Rina.
Rina mengusap punggung Seno,"Neng tau. Oke... kita mandi, selesai dari pabrik kita ke rumah Jessy. Kita bisa ngobrol bersama disana." Rina tersenyum sambil memeluk tubuh Seno.
Seno menggendong tubuh Rina ke kamar mandi untuk mandi bersama, seperti pengantin baru. Seno mencoba memberikan kebahagiaan itu lagi kepada Rina.
Seno hanya merasa takut, ketakutan atas tuntutan Papanya sangat besar, dan dia takut akan kehilangan Rina untuk kedua kalinya.
"Neng.... Di tunggu Mami." Teriak Bi Surty.
"Iya bi." Rina membuka pintu kamar, "Bibi nggak ngerti deh, kan lagi bahagia." Rina mencium bi surty yang sudah dianggap ibu keduanya.
"Dari tadi mami nungguin neng, ntar ngomel lagi." Jawab bibi sambil tersenyum.
Rina menarik tangan Seno. Menuju meja makan, mencium kedua pipi Mami.
"Lama banget..." Ngomel Mami.
"Hmmmm... Mamiiii... neng kan lagi seneng." Sambil melirik Seno.
Mami mengeluarkan identitas Seno yang baru. Menjadi 'Hans'. Memberikan kepada Seno. Rina melihat ktp, SIM Seno.
"Om Frans yang buat nama Mi.? Trus neng, manggil abang apa.?"
"Yaaah.... Honey, sayang, whatever." Tegas mami.
Rina memandang Seno, mengerti akan perasaan Seno. "Are you oke han.?" Rina menggenggam tangan Seno.
Seno tersenyum. "Everything is good." Seno mencium Rina di depan Mami.
Mami tersenyum, "Panggil mamang, kita jalan."
Semua mata tertuju pada Pak Hans direktur yang baru akan menggantikan Pak Asep. Begitu sempurna bisik karyawan.
"Teh... ternyata suaminya ganteng." Ledek secretaris keluarga mereka.
"Yah ho oh atuh." Rina mencubit secretaris yang masih muda itu.
Mami begitu cekatan di pabrik, sangat propesional sama seperti Rina. Mami bisa menempatkan dimana dia berada. "Mulai besok, Pak Hans akan menggantikan mang asep." Jelas mami.
"Jika ada yang penting silahkan hubungi mang asep, atau lngsung ke Mami yah Hans."
Hans mengangguk, kantornya benar-benar besar. Untuk sementara Hans/ Seno diangkat mami sebagai wakil mang Asep, yang akan pensiun beberapa bulan lagi, jadi hans belajar dulu.
Selesai dari Pabrik, Rina mengajak Seno untuk mampir ke rumah Jessy, "Mi, neng ke rumah Jessy yah." Rina menarik tangan Seno. Memberikan kunci mobil kepada Seno.
"Hati-hati neng. Seno jaga Rina yah." Teriak mami.
Rina berlalu pergi meninggalkan Mami. Mami merasa lega saat ini. Rina sudah tenang. Tidak seperti kemaren menghabiskan waktu hanya di sekolahnya saja.
"Mba, tapi mba jangan terlalu keras pada Seno." Om Frans mencoba memahami kondisi Seno.
"Saya masih ada rasa kecewa sama keluarga mereka Frans. Kalau tidak karena Rina, saya tidak akan mau menerima dia kembali." Jelas Mami.
"Saya paham mba, tapi jangan seperti ini, mereka bukan anak-anak lho mba." Lanjut om frans.
Mami hanya sibuk dengan teman-teman sosialitanya. Saat ini menjadi tranding topik karena kepulangan menantunya yang dirahasiakan.
Aldo membiarkan Seno untuk bercerita bersama Jessy di taman. Agar Seno lebih tenang menjalani hari-harinya, walau sesungguhnya berat.
"Dari awal sudah gue bilang, ini nggak akan mudah. Loe tetap kekeh." Aldo menasehati Rina.
"Gue masih memberi kesempatan pada Seno do. Buka apa-apa." Rina tertunduk.
"Rin.... Loe punya segalanya, apa yang nggak loe korbankan buat dia, tapi loe juga harus mikirin Mami donk, jangan semua seperti mau loe. Gue seneng kalau loe seneng, tapi tidak begini. Ini resiko Rin. Loe siap dengan tuntutan Prayoga. Bagaimana pun Prayoga tidak akan menerima anaknya balik ke keluarga loe. Ini sudah sah di mata hukum. Are you understand.?" Aldo mencoba membuka pikiran Rina.
"Gue hanya memperjuangkan rumah tangga gue, just it.? Apa gue harus meninggalkan Seno di Ausi, tanpa gue tau dia masih mau apa nggak do."
"Just choise, this is your life. Tapi jangan mengorbankan Mami." Bisik Aldo.
Rina memeluk Aldo. Aldo yang selama ini menemaninya. "Semoga gue kuat yah do." Tangis Rina.
"Inget, cinta tidak harus memaksakan kondisi." Aldo menegaskan kepada Rina. "Jangan bodoh." Tegas Aldo. "Gue sayang sama loe, apapun akan gue lakukan." Aldo memberikan minuman kepada Rina agar sedikit tenang.
"Loe ingat Sisi. Gue ama dia masih mau temenan, tapi gue tidak begitu intens. Bagi gue, perlakuan Sisi ke gue dulu juga sangat sakit, karena gue baru nyaman sama dia. Tapi gue paham kondisi dia Rin. Gue berjuang ama Jessy juga tidak mudah, loe lihat gue. Apa pernah gue mengemis pada mereka.?" Aldo mengenang masa-masa sakitnya. "Gue sama Jessy menjalani tragedy. Jessy baik buat gue, tapi dia kurang setia. Gue tau, tapi gue diam, karena komitmen gue sama Mami dan Papi gue. Gue tau semua butuh proses, nggak mudah buat gue bangkit, gue hanya minta agar Jessy tetap terbuka apa saja sama gue." Aldo tertunduk.
"Do, gue ngerti banget, tapi beda donk cowok ama cewek."
"Makanya Rin, coba fikirkan lagi. Demi masa depan loe dan Mami. Seno close." Aldo menggenggam tangan Rina. "Sampai kapan loe akan menutupi semua dari media, sahabat- sahabat Mami loe, dari kita semua."
"Do... Seno baru pulang, nggak mungkin gue suruh dia pergi. Not fear." Rina menangis.
"Dari awal gue bilang, Seno nggak penting untuk loe urus. Ingat Prayoga. Bagaimana pun di darah Seno, mengalir darah Prayoga Rina. Camkan itu." Aldo menerima telfon dari rekan kerjanya. Meninggalkan Rina di meja makan.
Rina melihat Seno dan Jessy sangat serius. Membuat Rina enggan untuk mendekati mereka. Rina tertegun, pikirannya kacau. Beginikah perasaan memperjuangkan seseorang yang kita cintai. Sangat sakit, terasa sakit. Rina menangis di meja makan sendiri. Seno dari jauh melihat, mendekati Rina.
"Neng, kenapa.? Aldo mana.?" Seno menenangkan Rina.
"Neng nggak apa-apa. Hanya sedikit lelah." Rina mencoba menenangkan hatinya.
"Kita pulang,?" Tanya Seno.
"Neng mau disini dulu. Abang udah beres sama Jessy.?" Mata Rina masih berkaca-kaca.
"Kenapa cantik." Jessy mendekati Rina. "Aldo yah.?" Tanya Jessy.
Rina memeluk Jessy. Jessy sangat mengerti kondisi mereka saat ini. "Kalau mau nginap sini nginep aja." Senyum Jessy.
Seno hanya tersenyum sambil mengusap punggung Rina.
"Nggak Jes... gue balik aja. Kasihan Mami."
"Hmmmmm.... Oke. Inget, sedikit lagi perjuangannya. Be the best." Jessy mengedipkan matanya kepada Rina.
Aldo mendekati Rina, "Loe mau lebih tenang untuk hidup berdua, saran gue, beli rumah depan rumah gue. Biar tetanggaan kita." Aldo menujuk rumah dua lantai yang sangat indah pemandangannya.
"Emang di jual.?" Tanya Rina.
"Iya, ni baru telfon orangnya. 2,8 M. Belilah. Setidaknya membuat kalian lebih nyaman dengan tinggal berdua tanpa Mami atau pun pihak ketiga lainnya." Jelas Aldo.
Rina menatap mata Seno, meminta persetujuan."Ntar deh, kita ngobrol dulu."
"Kita pulang neng.?" Seno memeluk Rina.
"Yuuuuk... Do, Jes... gue balik yah. Besok gue ke sekolah."
"Oke... See you." Aldo memeluk Rina mencium kedua pipi Rina.
Aldo hanya ingin Rina mengerti, bahwa semua tidak seperti inginnya. Hidup ini terkadang tak adil. Tapi Aldo memang agak sedikit keras, karena takut akan mendapatkan problem yang lain dengan kehadiran Seno saat ini. Mengganti status nama itu gampang, tapi mengganti karakter seseorang itu tidaklah mudah.
Mami menyetujui untuk Rina dan Seno membeli rumah baru agar tidak menjadi sorotan media, atau yang lainnya. Mami sangat menjaga privasi keluarga mereka setelah Papi tidak ada. Rina dan Seno menguras semua tabungan mereka untuk memiliki rumah seperti impian mereka. Rina sangat memanjakan Seno, mengantarkan makan siang, menemani meeting ataupun makan malam bersama sahabat baru Seno. Hanya saja Seno kembali berubah. Seno menghadapi tekanan kembali. Rasanya, beban Seno semakin berat. Rina mencoba mengerti akan kondisi Seno, tapi apa yang di inginkan Rina tidak sesuai dengan harapannya. Seno berubah drastis, Seno jarang pulang. Lebih sering mendapatkan bill mabuk bersama temannya di bar. Rina benar-benar kesal.
Suatu malam Rina dan Seno ribut besar, karena Rina mendapati Seno pulang ke rumah mabuk berat.
"Abang dari mana.?" Tanya Rina sambil membopong badan Seno.
"Nggak usah urusin gue." Seno ngelantur, sambil membanting barang-barang di ruang tamu.
Rina menampar Seno hingga membuat Seno terjatuh. "Abang kenapa.?" Tangis Rina.
"Loe kenapa.?" Seno membentak Rina. Mata Rina memerah, tubuhnya menggigil, rasa tak percaya Seno setega ini membentaknya.
Rina mengambil air dari kran wastafel menyiram kepala Seno. Membuat banjir ruang tengah mereka. Rina tak peduli lagi dengan apapun. Rina mencoba mengerti Seno, tapi Seno malah membuat ulah seperti ini.
Seno menjerit malam itu, histeris seperti orang kesetanan. Mereka berdua mengalami malam yang buruk. Sangat buruk. Rina tidak keluar rumah selama seminggu. Seno juga mengurung diri di kamarnya, hingga Mami datang melihat mereka sangat terkejut, rumah berantakan. Mami benar-benar emosi.
Rina membuka pintu, membiarkan Mami masuk. Rina tidak seperti kemaren, lebih banyak diam.
"Mana Seno neng, sudah seminggu tidak masuk kantor. Ada apa dengan kalian.?" Mami melihat seisi rumah yang penuh dengan pecahan kaca, dan genangan air. Mami naik keatas mencari Seno.
"Sen.... Buka pintu. Sen...." Mami terkejut melihat Seno yang pucat, tak bergairah seperti pecandu narkoba. "Are you crazy...?" Mami menampar Seno. "Kamu menyakiti putri saya.?"
Seno berlutut dikaki mami, memohon ampun. "Seno nggak kuat mi." Jerit Seno.
"Tuuuhaaan.... Apa yang terjadi sama kalian ini.?" Mami menelfon Aldo, Dan om frans.
Aldo dan Jessy berlari kerumah Rina. Jessy sangat terkejut dengan keadaan Rina yang terlihat pucat, membuat Jessy segera membawa Rina keluar dari rumahnya.
Seno dibawa ke rumah sakit, oleh Aldo dan Mami, disusul Om Frans. "Jika positif menggunakan drags, masukkan dia kepenjara." Tegas mami.
"Mi... nggak baik begitu." Aldo mencoba menenangkan mami.
Mami hanya mencoba tenang. Dalam pemeriksaan Seno, ternyata Seno mengalami depresi berat kembali. Dia benar-benar sakit. Sakit karena tekanan pikiran membuat dia lose control akan prilakunya.
"Seno tidak akan berubah. Mami harus cepat ambil tindakan, agar Rina tidak jatuh lagi." Mami pulang dari rumah sakit menuju rumah Aldo.
Rina sudah agak sedikit tenang. Rina memeluk Mami. "Mi... maafin neng mi, neng nggak tau abang kenapa." tangis Rina.
"Om Frans akan mengurus perceraian kalian. Berpisahlah. Ini tidak akan baik untuk kalian." Tegas mami.
Jessy mencoba menenangka Rina.
"Mi, sekali lagi mi. neng coba." Rina histeris.
"Kamu mau gila seperti dia,?" suara Mami lantang, yang sudah tidak bisa mengerti kondisi Rina.
Rina shock, berkali-kali dia menjerit meratapi, kenapa dia disakiti oleh orang yang dia cintai.
"Ini nggak fear neng." Tangis mami.
"Mi, biar Jessy yang menenangkan Rina. Mami pulang dulu." Jessy mencoba memahami Mami yang berkali-kali tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Aku mau Seno Jes.... Please.... Antarkan aku bertemu Seno Jes." Rina meratap di pangkuan Jessy.
Sebagai wanita Jessy sangat memahami perasaan Rina. "Baik, kita ke rumah sakit." Jessy menelfon Aldo.
"Saya di rumah sakit Adven. Kesini saja." Pinta Aldo.
"Oke, saya akan membawa Rina."
"Oke." Aldo menutup telfon.
Jessy menenangkan Rina membawanya ke rumah sakit. Jessy terus memeluk Rina saat Seno di tangani dokter spesialis.
"Istri pak Seno dimana.?" Tanya dokter.
"Saya dok." Rina mengikuti Dokter ke ruangannya.
"Silahkan bu." Dokter mempersilahkan Rina duduk.
"Pak Seno mengalami gangguan kejiwaan, dan harus di bawa ke rumah sakit jiwa. Agar lebih intensive lagi penanganannya. Atau bisa bawa pak Seno bertemu keluarganya. Sepertinya beliau mengalami goncangan terhadap aturan. Biasanya ini di sebabkan oleh keluarga broken home, atau tekanan dalam pekerjaan yang terpaksa." Jelas dokter.
"Saya harus bagaimana dok.? Saya tidak tahu keberadaan keluarganya." Jelas Rina.
"Coba ibu konsultasikan kepada keluarga ibu, jika memang tidak bisa, antarkan saja ke rumah sakit jiwa, agar bisa dilakukan pengobatan lebih intensive."
Rina terdiam sambil menangis di hadapan dokter, "Bisa saya bertemu dengan suami saya dok.?"
"Silahkan bu."
Rina melangkah keluar, di sambut oleh Jessy dan bertanya ulang kepada dokter. Ini benar-benar dilemma. Bagi keluarga Brata.
Rina melihat Seno yang terbaring lemah di kasur rumah sakit, Rina memberanikan menelfon Satria tanpa sepengetahuan Aldo, Mami dan Om Frans.
"Bang, Rina." Sambil menahan tangisnya.
"Ya Rin. Gimana kamu disana."
"Bang, Seno bang. Sen..." Rina menangis.
"Kenapa Seno Rin,? Halo Rin, Halo... Rina..." Satria kaget. Telfon terputus.
Drrrrt.... Drrrrrrt.....
'Satria'
"Ya bang."
"Ada apa dengan Seno Rin.?" Satria kawatir.
"Abang kambuh lagi bang." Rina menangis.
"What.? Bukannya Seno di Ausi.?"
Perlahan Rina menceritakan kepada Satria. "Ini kesalahan yang sangat fatal membawa Seno kembali ke Indonesia. Satria menentang perbuatan Rina."
"Are you crazy Rin.? Ooooh my God, Rin." Satria geram.
"Tapi bang, Rina mau Seno balik." Rina benar-benar shock dengan penjelasan Satria.
"Rin, ini tidak akan baik untuk kalian. Kan sudah ada di perjanjian kita Rina. Seno takkan bisa kembali ke Indonesia. Kecuali tetap stay di Ausi. Kamu terlalu gila... Gila.... Kamu melanggar hukum Rin. Ini akan merusak kita semua. KITA Rin. KITA." Emosi Satria meluap.
"Tapi Rina masih mau sama Seno bang." Tangisnya.
"Rin, kalian tetap tidak akan bisa bersama lagi. Ini sudah final. Sudah finish. Kalau ketahuan ama Papa, kalian akan mengalami kerugian besar. Saran abang, kirim Seno ke Singapura segera. Abang akan menjaga Seno di sini. Demi semua Rin, demi kamu, Mami, dan perusahaan Brata." Saran Satria.
Rina menangis sejadi-jadinya. Tidak bisa menerima kenyataan. Semua blank. "Begini kejamnya bisnis ini. Tidak ada kata negosiasi." Rina menjerit. Hingga terdengar oleh Aldo. Aldo mencari Rina, langsung memeluknya. Aldo memeriksa hp Rina. "Shiiiit." Melihat nama Satria.
Rina shock sangat shock di pelukan Aldo. Jessy memanggil suster untuk membawa Rina ke ruangan gawat darurat. Aldo terus memeluk Rina, tiba-tiba drop. Badannya terasa dingin, wajah Rina pucat. Aldo panik, langsung menghubungi Mami. Rina kekurangan oxygen dan seluruh fungsi organ tubuhnya mengalami shock. Semua alat di pasang, karena Rina sudah tidak sadarkan diri.
Jessy menelfon Sisi. "Apa gue melewatkan sesuatu.?"
"Ya... Rina kritis." Tangis Jessy. "Jantungnya melemah, tubuhnya mengalami shock."
Sisi dengan cepat menarik tangan Irham. Tidak menyangka akan terjadi seperti ini.
Mami dari tadi, sibuk memeriksa hp Rina. Menelfon ulang ke Satria. "Kamu pulang ke Bandung, om frans mengurus semua. Mami tidak mau terjadi apa-apa dengan adikmu dan Rina. Ini gila."
Mami di temani Jessy dan Sisi. Mami sangat tertekan. "Dari awal mami udah bicara sama neng, untuk tetap diam di bandung. Ternyata begini. Mami bingung Si." Tangis Mami. Sisi memeluk Mami. Merasa kawatir dengan kondisi sahabatnya.
"Mi, Seno sudah sadar." Aldo membisikkan ketelinga Mami.
Mami segera menuju ruangan Seno. "Satria akan segera kesini. Kamu akan ikut sama Satria sebelum Rina siuman." Tegas Mami.
"Mi, izinkan Seno membawa Rina mi. Seno suaminya."
"Rina tetap disini. Pergilah, jangan kembali lagi. Rina anak saya."
"Mi, Seno sayang Rina, Seno cinta Rina, Seno akan pergi, jika Rina yang minta." Tangis Seno.
"Rina takkan bertemu dengan mu lagi. Pergilah setelah Satria datang." Mami meninggalkan kamar Seno.
"Mi.... Mami.... Mamiiiiiiiiii...." Teriak Seno.
Seno menangis, berteriak. Begitu sakit cintanya menjadi perjanjian bisnis.
Aldo masuk kekamar Seno. "Gue akan bantu. Tapi setelah kodisi Rina membaik." Aldo berusaha menenangkan Seno.
Aldo menelfon Satria, agar tetap stay di Singapura. "Saya yang bantu untuk membawa mereka kesana bang." Janji Aldo kepada Satria.
Jessy hanya menatap mata Aldo, "Are you sure.?"
"Rina sangat mencintai Seno hon. Saya nggak tega melihat mereka berjuang sia-sia. Ini tidak adil buat mereka. Saya yang akan menyelesaikan." Aldo menarik nafas dalam.
"Hmmmmmm..... tapi gimana Mami, do.?"
"Ini pernikahan, tidak bisa kita ambil alih. Suci, komitmen, sakral. Perlahan nanti saya akan bicara sama Mami." Aldo terduduk lemas sambil memeluk Jessy.
"Saya rasa perjuangan mereka sangat berat yah hon.?" Jessy menangis di pelukan Aldo.
"Keegoan masing-masing keluarga, tanpa memikirkan perasaan anak, awal saya berfikir Rina akan menyerah, ternyata saya salah." Aldo menangis.
"Are you craying hon,?" Jessy memberikan tespack kepada Aldo."Saya positif hon."
"What.... Are you serius.? Oooooooh... so sweet..." Aldo memeluk Jessy. "I love you honey."
"Jes... Rina drop lagi." Sisi tiba-tiba mengagetkan mereka.
Jessy dan Aldo berlari menuju ruangan Rina. "Mi... gimana Rina.?"
"Lagi tindakan Jes." Mami menangis.
Jessy meminta izin untuk menemani Rina. Aldo berlari menuju ruangan Seno, memaksa Seno untuk segera naik ke kursi roda. "Rina kritis bro." Aldo sekuat tenaga berlari sambil mendorong kursi roda.
"Si, mana Rina Si." Tangis Seno.
"Rina drop Sen, sedang dilakukan tindakan, Jessy didalam bersama Rina."
Seno melihat Rina dari kejauhan, sambil menangis.
Tak lama, Jessy beranjak keluar ruangan. "Rina sudah mulai stabil, Rina hamil Sen." Jelas Jessy. "Shock membuat tekanan darah dan jantung Rina menurun, karena kondisi Rina juga kurang stabil. Tapi semua sudah mulai membaik." Jessy tersenyum memandang Seno dan Mami.
"Serius Rina hamil Jes.?" Seno rasa tidak percaya.
"Serius... Selamat yah." Senyum Jessy. Jessy memeluk Mami.
Mami menangis haru bahagia bercampur kesal. Sambil memukul Seno. "Neng teh cinta sama kamu, kamunya aja kayak budak letik." Tangis mami sambil memeluk Seno.
Dokter keluar, menjelaskan kepada Mami dan Seno. "Bu Rina sudah seminggu tidak mengkonsumsi asupan makanan yang baik, mungkin karena kelelahan, jadi shock. Apa bu Rina tau dia hamil.?" Tanya dokter.
"Tidak dok, saya juga tidak tahu istri saya hamil."
"Ya, tolong dijaga yah pak, bu rinanya. Semoga beliau cepat pulih. Saat ini, kondisi sudah stabil, tapi belum sadar. Jadi kita menunggu bu rina siuman. Saya permisi." Dokter berlalu meninggalkan mereka.
"Dok, saya boleh masuk.?" Tanya Seno.
"Belum boleh yah pak, bapak tenang saja. Semua akan segera membaik."
Seno merasa lega, sambil merangkul Mami.
Aldo tersenyum sambil melihat Mami dan Seno, "Jessy juga hamil Mi." Tangis Aldo.
"Oooooh... so sweet, kalian semua akan jadi orang tua. Mami senang." Mami memeluk Jessy, "Makasih yah, udah jagain neng." Tangis Mami.
Jessy hanya tersenyum sambil memegang tangan Aldo.
Mami menelfon Frans untuk memberi kabar.
"Frans... Rina hamil, kumaha iye teh." Bisik Mami.
"Mba, bagus atuh Rina hamil, mereka masih sah suami istri. Baik buat ikatan kita. Semua akan baik-baik saja mba. Yang pasti tenangkan Seno. Jangan beri dia tekanan, kita harus mengadakan pertemuan keluarga mba, segera." Jelas Om Frans.
Mami berusaha menenangkan hati, dan fikirannya. 'Ntar lagi jadi oma. Terimakasih Tuhan. Engkau memberikan keturunan kepada putri ku.' Bisik Mami dalam hati. Mami menelfon Satria kembali, meminta Satria untuk ke Bandung secepatnya.
"Do, gue balik yah.?" Sisi kelihatan lelah.
"Iya, jaga kesehatan loe, ntar lagi gue juga mau balik. Kasihan Jessy juga kelelahan."
"Oke... see you." Sisi mencium pipi Jessy, tapi tidak dengan Aldo.
Irham hanya tersenyum melihat Aldo dan Sisi, yang dari dulu nggak bisa akur. Aldo memeluk Irham, "Semoga semua membaik." Aldo membisikkan kepada Irham.
"Semoga bro. kasihan gue ama Rina." Irham merangkul Sisi, berlalu pergi dari hadapan Aldo dan Jessy.
"Kita pulang yah hon." Aldo mengelus perut Jessy.
Tiga hari kemudian Rina baru siuman. Kondisinya sudah mulai membaik, Seno terus menemani Rina. Menggenggam tangan Rina.
"Neng, maafin abang yah." Seno memeluk tubuh Rina yang terbaring di kasur rumah sakit. "Ntar lagi, kita akan menjadi Mami Papi." Senyum Seno sambil mengucapkan I Love U.
"Emang neng kenapa.?" Tanya Rina.
"Neng hamil sayang." Seno mencium Rina.
"Haaaaaah, ooooh serius...? Neng hamil.?" Rina merasakan janin yang sudah ada di perutnya, berfikir perjuangannya tidak sia-sia. Sambil menatap Seno penuh bahagia.
"Serius, abang sayang neng." Seno berkali-kali mencium Rina.
Mami menjenguk Rina membawa Satria, dihadapan Seno. Seno sangat terkejut dengan kehadiran Satria. Memeluk Satria. Betapa besar Rindu Seno kepada keluarganya.
"Loe tenang, Papa dan Mama akan bertemu kita nanti malam di rumah Mami." Jelas Satria.
"Rina hamil bro." Tangis Seno.
"Bagus donk, akan menguatkan cinta kalian." Bisik Satria.
Satria hadir membawa Princesnya. Putri semata wayangnya, yang sudah berumur 8 tahun. Cantik, lebih mirip Lingga.
Seno memeluk Prince... "Haaaai... I'm Seno, you'r uncle." Sapa Seno.
"I'm Princes uncle. Nice to meet you."
Seno memeluk berkali-kali wanita Satria. Merasakan kekuatan jiwanya ada di keluarganya.
Rina masih lemah meminta pulang, agar bisa hadir di pertemuan nanti malam. "Neng pulang yah Mi.?" Rengek Rina.
"Ntong sekarang atuh neng, tunggu lebih baik lagi. Biar semua mami dan frans yang urus. Semua akan baik-baik saja.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka, mata tertuju pada Papa dan Mama Seno yang datang dari Lampung, untuk melihat anak-anaknya, dan calon cucunya.
"Papa....." Seno memeluk papa erat. Tangis Seno dan Papa pecah seketika.
Mami hanya bisa menggenggam tangan Rina. Saat Satria menangis melihat kedua orang tuanya, yang tidak seperti dulu gagahnya. Satria dan Seno sangat rindu akan keduanya. Yang sudah lama tidak bertemu.
"Apa kabar kamu bro." Papa menangis haru memeluk Satria. "is this grandson grandpa.?" Mata Papa tertuju pada Princes.
"Ya. I'm a doctor's son." Prince memeluk Papa.
"Mana Lingga.?"
"Dia sudah menikah dengan pria lain Pa." Jelas Satria. Papa memeluk Satria erat.
Papa mendekati Rina. "Kamu wanita hebat, bisa merubah dunia saya. Terimakasih kamu telah memperjuangkan anak saya dengan cintamu. Saya bangga punya menantu sepertimu." Tangis Papa.
Mami terus menggenggam tangan Rina.
"Apa kabar Mi.? Kita akan menjadi Kakek dan Nenek."
"Baik. Nanti malam kita bertemu. Saat ini Rina mau istirahat dulu."
"Mi, neng mau pulang." Rina menatap Seno. Memohon.
"Ya, neng udah bisa pulang Mi, Seno urus dulu."
"Ya udah, kamu urus. Mami disini."
Seno berlari mengurus semua untuk kepulangan Rina dari rumah sakit. Rasa bahagia hatinya mengobati jiwanya yang hampa.
Papa, Mama, dan Prince di antar supir menuju rumah Seno di Setiabudhi, sementara Seno dan Satria membawa Mami dan Rina pulang ke Lembang.
Aldo melihat kehadiran kedua keluarga itu dari kejauhan. 'Semoga akan lebih baik kedepannya.' Bisik Aldo kepada Jessy. "Ternyata cucu bisa mengembalikan keluarga yah hon.?" Tanya Jessy.
"Iya, nanti kita akan di restui juga kalau anak kita sudah lahir." Senyum Aldo sambil memeluk Jessy.
Seno sangat memanjakan Rina. Memperhatikan Rina membuat Satria merasa cemburu.
"Cepetan..." Bisik Satria.
"Loe deluan deh yah. Gue urus bini dulu. Karena ntar malam ada rapat besar. Gue disini aja."
"Nggak seru aaaagh... masak gue pulang sendiri. Gue nggak tau jalan."
"Bawel loe yah." Seno berlalu memohon izin kepada Rina.
"Abang antar Satria dulu yah, nanti malam abang kesini lagi."
"Iya, hati-hati." Rina mencium Seno sambil memeluk tubuh suaminya.
Seno berlalu bersama Satria. Melepas rindu bersama kedua Mama Papa mereka yang hampir 10 tahun tidak bertemu. Seno benar-benar terpukul jauh dari Mama Papanya. Baginya, sekeras apapun Papanya memaksa, itu adalah kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai anak. Walau terkadang Seno lupa dengan kebahagiaannya bukan di Militer, melainkan dunia Bisnis sesuai Profesi yang di beri Mami Rina.
Pertemuan kedua keluarga besar Brata dan Prayoga di lakukan di rumah Rina di Lembang. Disaksikan oleh pengacara mereka. Kedua keluarga akan mencabut tuntutan masing-masing. Memberi kebebasan kepada Seno dan Rina hidup tanpa beban dan tekanan demi Cucu mereka yang ada dalam kandungan Rina. Mami memberikan hak kepada keluarga Prayoga sebagai ucapan terimakasih untuk meminta maaf kepada Prayoga secara resmi di media. Membersihkan nama baik Keluarga Prayoga. Mami di damping Om Frans merasa lega. Satria dan Seno walau di cekal masih tetap bisa bertemu. Keluarga Prayoga dan Keluarga Brata berdamai, demi anak-anak dan cucu mereka. Semua perjanjian di tetapkan di Pengadilan demi keamanan kedua keluarga.
Rina memeluk Seno erat. "Tidak ada yang sia-sia, jika semua dilakukan dengan cinta."
Seno masih menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa. Agar tetap stabil, tapi menjadi lebih baik, karena ada Mama dan Papa selalu mendampinginya. Bagi Seno keluarga adalah jiwanya.
Seno masih bekerja di pabrik, untuk Mami dan Rina. Dimasa kehamilan Rina lebih memilih mengurus keluarga dan sesekali memantau sekolah bersama Aldo.
Aldo senang, menjuluki Rina dengan 'good girl'... "Cinta mengalahkan logika."
Sisi sibuk yang akan sebentar lagi melahirkan, antara normal dan Secsio Caesar. Karena anak mereka akan diberi nama Caesar belakangnya.hahahaha.
"Cinta tidaklah mudah untuk di perjuangkan. Pertanyaannya, pantas atau tidak untuk di perjuangkan. Jika tidak ikhlaskan."
The end....