Perth...

3644 Words
Seno berangkat dinas meninggalkan Rina beberapa minggu. Rina juga mencari kesibukan mengurus pekerjaan baru di Perth. Mengendarai Mercy seri terbaru hadiah dari Seno, yang uang dikirim Papi tanpa sengetahuan Rina. Berhubung Aldo sudah balik ke Jakarta. Rina mulai terbiasa melakukan sendiri. Seno kadang menghubungi, kadang sulit karena berada di daerah terpencil. Rina menunggu dan menunggu kehadiran Seno atau sedikit kabar dari Seno. Tiiiiing tooong… Rina mengintip dari balik pintu. “Jessy” Rina membuka pintu. “Halo.” “Haiii Rin… boleh masuk.?” Rina membiarkan Jessy masuk. “Seno belum pulang.?” “Belum.” “Oooh… when.?” “I don’t know.” “Ada titipan dari Aldo buat kamu. Katanya bakal ada project.” Jessy memberikan amplop berwarna coklat. “Oke, thanks Jessy.” Rina tersenyum. Jessy berlalu, sambil bicara di telfon. Membaca beberapa project yang di berikan Aldo untuk di Melbourne.’Gmana perginya yah.? Abang nggak ada dan sulit di hubungi.’ Rina mengirim semua berkas ke email Seno, berharap Seno akan membaca emailnya. Rina biasa mengisi kekosongan harinya, dengan berolah raga, merawat tubuh ke salon. Makan makanan sehat demi program hamil saat Seno kembali nanti. Beberapa bulan menikah, Rina belum hamil juga. ‘Besok ke rumah sakit aaaah, buat cek kesehatan.’ Bisik Rina. Rina memilih dokter spesialis kandungan terbaik di Perth. Cek kesehatan, agar tau apa masalahnya. Rina melakukan cek labor dan cek darah begitu juga cek kandungannya. Hasil keluar 1 jam lagi. Rina menunggu sambil jalan – jalan di mengelilingi kota Perth yang sangat indah. Satu jam berlalu Rina balik ke rumah sakit. Nama Rina di panggil. “Mrs. Rina.” Seorang suster cantik memanggil. “Ya.” Rina berlari kecil. “Halo.. you can’t speak English.?” “Yeah.” Dokter Cris membaca semua profile Rina, dan hasil lab. “Hmmmm… you married.?” “Yeah.” “From Indonesia.?” “Yeah.” “Seno Prayoga's husband's name.?” “Yeah.” “I know him well. a military man.” “Right.” “I met several times with Jessy.” Dokter Cris mencoba mengingat. “Ooooh, realy.? You sure.?” Rina coba tenang. Menarik nafas dalam. “I'm sure, because jessy was pregnant, but miscarried.” Rina tarik nafas dalam. Hatinya masih ragu, mungkin Seno menemani Jessy. Pikirannya. “Oke.” Rina tersenyum. Dokter Cris coba menjelaskan hasil lab Rina. “You are fine, no problem. Only frequent intercourse when not fertile.” Rina senang mendengar penjelasan Dokter Cris. “Thanks Docter.” Rina hanya ternyum, bersalaman meninggalkan Dokter Cris. Rina duduk di kursi berharap Seno pulang dan memberi penjelasan. ’Apakah Seno pernah punya hubungan bersama Jessy.?’ Pikirnya. Rina hanya diberi vitamin. Rina mencoba menghubungi Seno, tapi tetap tidak bisa. Rina pulang ke rumah sambil melihat fhoto-fhoto bersama Seno. Tiiiiiing toooong…. Rina melihat, dari kaca pintu. ‘Abang.’ Rina membuka pintu langsung memeluk Seno. “Geulis…” Seno membalas pelukan Rina. Begitu gagah, seperti militer bule, mata yang indah. Rina tersenyum. Membiarkan Seno bersih-bersih, sekaligus makan malam. “Kenapa neng.? Nggak seperti biasanya.” Rina memberikan surat dari dokter. Rina duduk di depan tv, mengganti semua chanel tv, tapi tidak tau mau nonton apa. Seno melihat nama Docter Cris. “Hmmmmm..” “Abang kenal sama dokter cris.?” Seno hanya mengangguk. “Yah.” “Abang pernah sama Jessy.?” Seno mencoba tenang, duduk di samping Rina. “Oke.” “Jujur aja, neng nggak apa-apa kok.” Rina menahan. “Oke. Hmmmmm… apa ini penting.?” “Nggak, nggak penting. Tapi neng nggak mau dengar dari Aldo, dokter cris atau siapapun, neng mau denger dari Abang. Bukan orang lain. Just it.” Nada tegas Rina membuat Seno terdiam.“Jawab bang.” “Neng… bisa bahasnya besok.? Abang benar-benar lelah.” “Neng udah tau. Istiratlah.” Rina pergi ke kamar, mengunci pintu. Rina tak tau apa perasaan hatinya, hanya kecewa yang tersisa. Seno terdiam di sofa. Tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Semua berubah. Rina sudah tau semua bukan dari bibir Seno, melainkan orang lain. Seno melempar kertas yang ada di genggaman. Seno mencoba mendekati pintu kamar mereka. “Neng, semua sudah berlalu, itu kesalahan, takkan merubah apapun.” Rina tak menjawab. Seno melangkah ke kamar sebelah yang telah di perbaiki Rina, jika ada tamu atau keluarga yang datang mengunjungi mereka bisa istirahat di kamar itu. Seno mengirim pesan.’Abang hanya pria biasa. Maaf, telah mengecewakan mu.’ Rina hanya membaca pesan Seno melanjutkan lamunannya malam itu tanpa memperdulikan Seno. Keduanya mencoba mendamaikan hati, semoga esok lebih baik. Rina keluar dari kamar, untuk melakukan tugasnya seperti biasa. Seno mencoba menyapa di sela-sela kesibukannya pagi itu. Rina hanya diam menjalani hari seperti tak biasa. “Neng, abang pergi dulu yah. Sore baru pulang.” Jelasnya. Rina memberikan bekal Seno, untuk sarapan. “Niiiih.” Berlalu dari hadapan Seno. “Makasih yah geulis.” Senyum Seno tak di acuhkan oleh Rina. Dia hanya melakukan tugas, sebagai istri yang manis. Bukan memaafkan. Seno menghampiri Rina mencium kepala Rina berlalu pergi. Rina duduk di sofa, sambil mencari no telfon Papa Seno. “Halo… Pa.” Nada suara pelan. “Yaaah Rin…” Papa mencoba mendengarkan Rina. “Hmmmm… I neeed you.” Tangis Rina pecah di telfon. “You oke.?” “Hmmmmm… Oke Pa.” sambil terisak. “Oke… mau cerita.?” Papa mencoba menenangkan Rina. “Hmmmmm… hanya sedikit lelah.” Jelas Rina. “Seno masih dinas.?” “Ya Pa. oke. Satria akan ke ausi dalam beberapa hari lagi.” “Sama Kak Lingga.?” “Tidak… Lingga sedang bersama kami di Bandung. Oya…? Sudah hamilkah.?” Hibur Papa. “Belum Pa, abang terlalu sibuk.” “oya, kalau disana akan lebih sibuk. Kamu sabar yah.?” “Papa dan Mama mengenal Jassy.?” Rina memberanikan diri bertanya. “Jessy.? Hmmmmm… Docter Internasional itu.?” “Ya.” “oooooh…. I see, tapi kami tak begitu dekat. Hanya mengenal dia sebagai dokter yang di tunjuk untuk bergabung bersama team Indonesia. Kenapa.?” “Hmmmm…. Nggak apa-apa Pa. Apakah abang pernah dekat.?” “Papa nggak begitu jelas Rin. Karena itu sudah lama sebelum dia ke Rusia. Kalian baik-baik sajakan.?” “Baik Pa. oke.. Rina hanya bertanya, nggak bermaksud .” “Nggak apa -apa. Bye…” Papa menutup telfon. Menelfon team di Ausi mencari tau tentang Jessy dan Seno. Rina bersiap-siap ke Melbourne siang ini. Ada janji dengan seseorang di sana. Sebelum berangkat Rina menulis pesan untuk Seno, ‘Neng pergi menyelesaikan kerjaan neng. Neng akan menginap di Melbourne.’ Rina melakukan perjalanan seorang diri. Menikamati perjalanannya sebagai seorang propesional. Aldo sering memberi energy yang baik agar Rina harus tetap produktif, dengan kemampuannya dan jadikan sebagai hobby, menghilangkan kejenuhan jika Seno tidak di tempat. Rina pergi ketempat-tempat yang belum dia kunjungi tanpa Seno, yaaaaah tanpa Seno. Di perjalanan asyiiiik menelfon Sisi. Bercerita, menangis seseruan jarak jauh. “Indah Si.. nyesel loe.” Sambil tertawa. “Gimana…? Gue belum bisa kesana. Tapi gue akan ngobrol ama Irham. Boleh nggak gue traveling.”hahahaha. Sisi mencoba menghibur Rina. “Oke… kebetulan gue udah sampai Melbourne. Beberapa hari di sini. Holiday.” Tawanya. Rina menutup telfon. Awal memutuskan menikah, Rina tak ingin bercerita pada siapapun permasalahannya. Inget pesen Mami, harus menikmati hari. Jika kesel ama suami jalan-jalan, nggak usah pusing. Masalah akan selalu ada, namanya juga hidup rumah tangga harus bisa cermat menyelesaikan masalah. Hanya nesehat itu sering terngiang di telinga Rina. Drrrrrt drrrrt…. ‘Abang’, bisik Rina. “Neng ke Melbourne.?” “Iya, kan ada email neng kirim ke abang.” Jelas Rina. “oooooh…. Oke. Abang baru sampai. Baru lihat pesan neng.” Hibur Seno. “Ya. Cek email Abang. Neng nginep dihotel yang di referensikan Aldo. Oke.” Rina menutup telfonnya. Seno melihat semua email project kerja Rina. Perjalanan, penginapan semua di tanggung untuk pekerjaannya. Seno membaca semua berdecak kagum sama Aldo dan istrinya, ‘ternyata link Aldo memang luas, Rina yang menjalankan.’ Seno akan ke melbourne menyusul Rina. Drrrrrt… drrrrt…. ‘Papa’ “Yah Pa.” “Apa perlu kamu pindah ke Melbourne Sen.?” “Why.?” Seno kaget. “Kenapa kamu tidak cerita ke Papa tentang Jessy.?” Seno tersentak. ‘Shiiit.’ Rina terkadang tak control pada siapa dia mengadu.’ Pikir Seno. “Sen… Papa tidak mendengar dari Rina, Papa mencari tau sendiri, dan semua real.” Tegas Papa. “Apakah Jessy mengganggumu di sana.?” “Hmmmm… ng… nggak Pa, biarkan Seno menyelesaikan urusan Seno. Seno tetap stay di Perth.” “Oke… Papa percaya kamu akan baik-baik saja. Jangan mengecewakan Rina.” Papa menutup telfonnya. ‘Pindah mulu kapan tenangnya gue.’ Bisik Seno kesal. Seno tidak mau membuang waktu lagi untuk terbang ke Melbourne. Rina menghabiskan hari di Melbourn. Menyelesaikan pekerjaan, dan balik ke hotel. Sangat puas dengan hasil hari ini. Berpartner dengan seseorang yang baru di kenal melalui Aldo memberikan harapan baru. Pria bule yang sangat baik. Mereka menginap di hotel yang sama. ‘Hmmmm… duduk di restorant aja aaaagh…’ Rina turun ke restorant hotel. Tak sengaja bertemu Petter. “Haaaaaiii… Miss.” Rina terkejut, “Haaaaiii… Nice to meet you.” “Me to. Do you want dinner.?” “Yaa…I only eat at hotel restaurants” Rina menunjuk restorant di sebelah kiri. “Yes, let’s eat together.” Ajak Petter. “Oke.” Rina mengikuti Petter dari belakang. Petter membukakan kursi untuk Rina, memesan makan malam. Sambil berbincang. “You from Indonesia.” “Yaa.” Senyum Rina ramah. “You married.?” “Of course.” “Wooow. Beautiful woman, smart, to do business in other countries. Great.” Petter memuji. Rina hanya tersenyum sambil memandang wajah Petter yang lumayan ganteng seperti cerita Aldo. Di sela-sela perbincangan hangat mereka, Seno muncul di hadapan Rina. “Night, does my presence bother you.?” Petter berusaha mengingat… “Seno…” Petter berdiri sambil memeluk Seno. Rina terkesima tak menyangka suaminya begitu cepat mendapatkan keberadaannya. ‘Woooow.’ “Yeeees… You remember me bro.?” Sambut Seno hangat. “Mr. Petter Solberg” Mereka berpelukan sangat lama. “Very long time no see you.” “Ya.” Melirik Rina yang hanya duduk melihat kehadiran Seno. “Honey… this is my friends Petter.” Seno memeluk. “This is your wife.?” Petter kaget, sambil tertawa. “Please..” Seno duduk di sebelah Rina. Rina tersenyum biasa seperti masih kurang nyaman dengan kehadiran Seno. “You oke rin.? Seno come for you.” Petter memandang Seno. Memahami mereka. Seno hanya memberi kode, kepada Petter, Petter benar-benar paham dan memohon izin. “Ok… See you next time Seno, nice to meet you. Always happy.” Petter memeluk Seno dan Rina. “Ok… Thank you for accompanying my wife today.” Balas Seno. Seno melepas Petter. Sambil menggoda istrinya kembali. “Cakepkan temen abang, neng.?” “Neng balik ke kamar, lagi nneg. Pengen muntah.” Rina berlalu dari hadapan Seno. “Neeeng… come on…” Seno mengejar Rina. Rina berjalan dengan cepat karena Seno terus menggodanya, di lihat para tamu yang lain. “Abang ngapain nyusul neng.? Bukannya abang besok kerja.?” Tegas Rina. “Nggak seneng abang di sini nemanin neng.?” Seno masih menggoda.”Jutek amat seeeh geulis.” Seno mencubit pipi Rina. “Don’t touch me.” “Kamu maunya apa.? Gue mesti gimana.?” Seno membetak. “Gue nggak ada suruh loe datang Seno Prayoga.” Air mata Rina mengalir menatap Seno yang berdiri tegap di hadapannya. “Oke… I will go.” Seno melangkah pergi dari hadapan Rina. Rina terdiam. Tak mengejar, tak berbalik. Seno benar-benar pergi. Pergi ntah kemana. Rina kawatir. Rina melepaskan amarahnya dengan menhancurkan kamar hotel malam itu. Pagi di Melbourne… Rina turun sendiri untuk sarapan, wajah yang kusut menggunakan baju kaos tipis, celana pendek, sambil vicall sama Aldo. “Kesini donk.” Rina tersenyum. “Nanti yah,…. Gue masih sibuk. Loe ama siapa.?” Tiba tiba Seno memeluk Rina dari belakang. Membuat Rina kaget. “Haaaaiii bro… Rina ama gue.” Rina memutuskan telfon, Seno berlalu masuk ke restourant, meninggalkan Rina sendiri yang masih spechles. Seno hanya memantau Rina, tak menemaninya. Rina menghabiskan sarapan pagi dengan lahap. Sesekali matanya tertuju pada Seno, cuek abis. Nggak peduli. Rina menulis pesan. ‘abang nggak nemanin neng.’ Seno sengaja tidak menyentuh hp yang terletak di meja sejak tadi. Rina telfon di rijek oleh Seno. ‘Maafin neng.’ ‘neng kangen.’ ‘abaaaang.’ Seno tak membalas, menganggap tak melihat Rina. Rina geram, mendekati Seno. “Haaaiii…” Mata teman-teman Seno tertuju pada Rina. Seno berdiri. “Abang sayang neng.” Bisik Seno. Mengenalkan Rina pada teman-temannya. “this is my wife.” Seno membukakan kursi agar duduk di samping Seno. Seno mengambil tangan Rina, sambil menatap “Satria akan menyusul kesini. Kita masih stay di sini dulu yah.” Seno mencium kepala Rina. “I love you.” Bisik Seno. Teman-teman Seno menjuluki Seno sebagai ‘good husband.” Sambil tertawa lepas. Seno terlalu gaul di Melbuorn. Banyak teman, ramah. “Neng shoping yah.? Deket-deket sini ajah.” Bisik Rina. “You have money.?” Ledek Seno. Rina gemes mencubit lengan suaminya. “Ada.?” Seno memberikan Atm nya. “Nggak, neng ada.” “Ini… pegang aja.” “Abang.?” “Abang ada. Ini special for you.” Rina memeluk manja Seno. “Makasih yah.” Seno menatap tubuh Rina dari belakang. ‘Manja, keras kepala, tapi sexi.’ Senyum Seno nakal. Seno kaget saat Rina membawa tentengan.”Ngeborong.? buat apaan belanja sebanyak ini.?” “Nggak banyak, cuma beli baju aja.” Rina tertawa menyodorkan belanjaan. “Huuuuufh… Brata Brata… gini amat punya anak.” Bisik Seno. “Apaaa.? Ulang. Neng nggak denger.” “Udah yuuuuk, capek mau tidur.” Seno bergerak cepat sengaja meninggalkan Rina di belakang. Hari ini Seno tidak begitu sibuk, hanya main game, sesekali merhatiin istrinya yang lagi cobain baju, drees, kaos, lingery. Seno sengaja cuek. “Bang, bagus nggak.?” Rina menggunakan dress. “Hmmmm… biasa aja. Rina mengganti dengan kaos.”Ini.?” “Biasa.” Seno sibuk dengan hpnya. “Ini.” Rina menggunakan lingery membuat mata Seno liar. “Hmmmm… nggak keliatan. Sini donk.”Seno masih agak sedikit kesal dengan kejadian tadi malam. “Ini… awas atuh, jangan main hp mulu. Look at me.” Rina menggoda. Walau Seno kangen, Seno jual mahal. Menarik nafas dalam.“Sini donk…” Rina mendekat, “Kalau pakai ini, nggak pakai bra sayang.” Seno melepaskan bra Rina. Mencium wangi tubuh istrinya. “Tadi malam kenapa.?” Rina diam. Menarik nafas dalam. “Neng butuh abang.” “Kan abang dah datang.” Seno merangkul tubuh Rina. “Neng, percaya abang.? Abang nggak pernah niat buat nyakitin neng. Masa lalu, close. Abang capek, kalau mau ribut. Abang kesini buat nyenengin neng, buat kita, masa depan kita.” “ Jessy.?” “Jessy, itu teman, just friends. Antara abang sama Jessy hanya teman. Tak lebih.” “Teman tidur.?” Seno menarik nafas dalam, “Abang, Satria kuliah di Melbourne, tamat kuliah abang di kirim kesini lagi, pendidikan. Sbelum ke Rusia. Itu udah lama neng.” “Hamil.?” “Abang nggak tau Jessy hamil. Itu hanya karena kemanusiaan aja, Jessy tunangan Aldo. Waktu Aldo di Inggris. Abang hanya suka pada saat itu.” “Just for fun.?” “Hmmmm… gini yah, abang nggak cinta, tapi hanya buat happy, Abang hanya suka. Nggak lebih.” “Nggak cinta, tapi berhubungan iiiintim.?” Alis rina naik. “Neng tumbuh di Indonesia, punya adat, sopan santun, menjaga martabat, beda di sini neng.” Jelas Seno dengan lembut. “Truuus..?” “Abang ngaku salah, jika tentang Jessy. Tapi tidak untuk yang tadi malam.” Seno memeluk tubuh Rina dari belakang. “Kangen nggak.?” Karena terlalu lelah tiba-tiba Seno tertidur. Rina membalik kan wajahnya, melihatkan lingerynya. “Abaaang…. Katanya kangen.?” Rina menatap wajah tampan Seno. ‘kasihan.’ Rina memeluk suaminya. Mecium berkali-kali. Drrrrrt…drrrrrrt…. ‘Satria.’ “Halo bang.?” Rina berbisik. “Abang di resto.” “Oke.” Rina mengganti pakaiannya menggunakan drees, tanpa menggunakan bra. Rina begitu cantik, Seno mengintip istrinya lagi berdandan. Menggeliat. “Abang.. udah bangun.? Katanya mau tidur.” “Siapa bilang, abang hanya rehat sebentar.” Mata Seno memandang ke payudara Rina. “Beeeeeng. Sexii.” Seno memeluk Rina. “Abaaang, bang Satria di bawah.” “Ooooh… udah datang.” Seno bergegas mencuci wajah, dan bedandan seperti mau istrinya. “Syiiiiap. Hayuuuuk.” Seno menarik tangan Rina. Mata Satria terkesan dengan Rina, cantik elegant. ‘wooooow…’ “Haaaaaiii bro…” Seno memeluk Satria. “Long time no see.” Satria memeluk Rina. “Gimana… di sini.?” Tanya Satria. “Yaaaah… begini aja. Berapa lama di sini.?” Senyum Seno. “Selesai pertemuan aja.” Jelas Satria. “Makin cantik Rina.” Satria menggoda Seno. “Iya donk… gue, suaminya.” Mata Rina memandang Seno tersenyum. “Kak Lingga kenapa nggak ikut bang.?” “Hmmmm… hamilnya ribet. Puyeng, banyak maunya. Anak sunda kayaknya.” “Oooh ya..?” Rina tersenyum. “Itu jelas hamil, naaaah ini ngambek mulu. Puyeng gue.” Seno sedikit curhat. Rina hanya tersenyum. “Makanya, cepet hamilin.” Canda Satria. “Gmana mau hamil, di tinggal mulu.”hahahaha... Rina nggak begitu suka berlama – lama duduk di resto. “Neng, jalan yah.?” “Mau kemana neng.?” Seno kaget. “Shoping.” Tawa Rina meninggalkan Seno dan Satria. Satria melihat indahnya tubuh Rina. “Menggoda bro.” “Bini gue bro.” “Nemu dimana bro.?” tanya Satria. “Nemu, loe pikir barang.” Ledek Seno. Seno dan Satria seperti temen dari dulu, hanya saja Satria seorang penantang. Bukan pengikut. Satria dan Arjuna selalu di bebasin memilih, berbeda dengan Seno harus patuh apa kata Papa. “Itu ceweknya Arjuna kan.?” “Iya.” “Kok bisa loe deketin.?” “Daripada buat orang lain atau loe, bagus gue ambil alih.” “Loe cinta.?” Satria seorang dokter psikolog mencoba memahami Seno. “Nggak tau bro, beda. Sama cewek lain yang gue kenal.” “Gue salut ama loe, ngejar dia ampe Texas.” Hahahahaha. “Awalnya sayang doank, candain, jadi serius gue nya. Pinter, tapi ambekan. Puyeng gue ama cewek. Loe tau gue, nggak mau ribet.” “Hmmmm, tapi dia mandiri kok, nggak manja.” Jelas Satria. “Iya, sampai sini karena ada project. Gue biarin aja. Toh buat dia seneng kalau gue dinas.” “Sekalian bulan madu. Besok kita jalan yah.? Gue mau jumpa Arlen mantan gue dulu.” “Gila… lingga lagi hamil bro.” “Kangen, kangenan doank.” Satria berlalu pergi. Satria dari dulu emang paling banyak cewek. Merasa tampan, dokter, anak Jendral. Jadi pedenya melebihi standart. Seno melihat Satria berpelukan dengan Rina di depan pintu hotel salam perpisahan. “Yuuuuk…” Rina memeluk Seno manja. “Besok Satria ajak jalan.?” “Nggak sekarang aja.?” “Besok aja aaagh. Mau nyenengin istri dulu.” “Gendooong.” “Gendong depan atau belakang.” Seno membungkuk. Rina menaiki punggungnya. Badan Seno yang tegap, sangat kuat sampai ke kamar. “Neng… kalau abang pergi deluan nyusul Arjuna gmana.?” Canda Seno. “Apaan seeeh. Horor aaagh.” “Apa neng, bakal nikah lagi.?” “Abang, nggak usah ngebayangin yang nggak – nggak. Horor.” Rina mencubit. Seno tertawa, meyakinkan diri ternyata istrinya benar-benar penakut, hahahaha. **** Rina sangat bahagia bisa mengahabiskan waktu bersama Seno, Satria dan Arlen teman lama bang bro. Seno sangat memahami gaya Satria. “Bang bro emang rame yah bang.?” Tanya Rina. “Bang bro.?” kaget Seno. “Siapa bang bro neng.?” “Noooh… bang bro Satria.” Menunjuk Satria yang sibuk selfie bersama Arlen. Seno tertawa memeluk kepala Rina. “Dia emang begitu… Paling rame.” Seno tak melanjutkan, dalam hatinya, ‘Beda dengan Arjuna.’ Seno hanya tersenyum terus menggandeng tangan Rina, sesekali mengusilin Rina. Rina yang terlihat manja membuat Satria kagum, adiknya bisa menakhlukkan hati wanita sekeras Rina. Tapi Satria melihat wajah Seno tak seceria dulu, sebelum Arjuna meninggal. Satria bertanya dalam hati, ‘apakah Seno benar-benar bahagia, atau pura-pura bahagia.’ “Bro…. gue nggak bisa lama di sini. Mesti balik ke Perth.” “When.?” Bisik Satria. “Besok.” “Waduh… gue masih di sini. Kita makan yuuuk.” Ajak Seno. Satria menghindar dari Seno, karena menerima telfon dari Singapura. Arlen bule Ausi sangat fasih berbahasa Indonesia. Arlen ternyata seorang pengajar Bahasa Indonesia di Melbourne. Sangat ramah dan baik. Arlen belum menikah setelah berpisah dari Satria memutuskan menjadi single fighter. “Rina… you happy.?” Tanya Arlen. “Of curse.” Jelas Rina. “Satria, cerita kalau kamu sangat cantik. Ternyata bener, lebih cantik aslinya.” Senyum Arlen. Rina hanya tersenyum, sambil memberikan botol minuman kepada Arlen. “Kamu kenapa tidak menikah.?” “Kalau aku menikah tidak akan bisa seperti ini dengan kalian.” Jelas nya. Rina cukup mengerti. Ternyata dunia Barat sangat bebas memilih. ‘nggak seperti mami, tiap sebentar.. neng…. Kapan nikah.’ Bisik Rina dalam hati. “Heeeeiii…” Peluk Seno dari belakang. “Abang, kaget tau.” Rina memukul Seno. “Neng, makan yuuuk… laper.” Seno menarik Rina. “Bang… bentar, Arlen tinggal.” “Biarin… Abang laper.” Seno membawa Rina makan fitzroy di melbourne. Satria menyusul Rina dan Seno sambil memeluk Arlen. Mereka menghabiskan waktu hingga malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD