Perjuangan....

2414 Words
Rina menjalani aktifitas sebagai pengajar Desaign Interior professional di Bandung. Seiring berjalannya waktu Rina harus tetap kuat, demi Mami tanpa kehadiran Papi disisi mereka. Sisi dan Irham kembali stay di Bandung, karena study Irham sudah selasai. Lagipula Sisi ingin sekali menghabiskan waktunya bersama Rina dan ikut andil dalam mengajar anak-anak yang tidak beruntung seperti mereka. "Ternyata asyik yah... mendidik mereka." Sambil membereskan buku-buku dari donatur Aldo. "Yaaaah, beginilah. Sesuai hoby saja." Senyum Rina. "Loe nggak ambil projek lagi.?" "Tu... projek kami." Rina menunjuk sebuah gedung lantai tiga, yang hampir rampung, untuk menjadi tempat mengajar anak-anak yang tidak beruntung. "Izin.?" Sisi takjub. "Semua lagi diurus oleh pengacara gue." Jelas Rina. Sisi memeluk Rina, "you great honey. Are you happy.?" "Yees... always happy." Begitu dalam luka Rina, membuatnya hanya focus menjalani hari menjadi lebih barharga. Banyak yang belum dia capai. "Si, gue mau ke Ausi menemui Seno. Menyelesaikan hubungan gue." Jelas Rina dengan wajah yang sendu. "Bukannya sudah selesai,? Prayoga sudah mengembalikan semua kan Rin.?" Tanya Sisi. "Itu Prayoga, Seno belum." "Woooooooow..... very long time hon." Sisi meyakinkan dirinya. "Yaaaah, Seno sebentar lagi akan menyelesaikan masa tahanannya. Gue harus menemuinya." Tegas Rina. "Hmmmmmm.... Ini gue nggak paham, loe konsultasi ama pengacara loe aja Rin." Sisi hanya memberi saran kepada Rina. "Sudah gue konsultasikan, tapi belum ada jawaban." Tegas Rina. Sisi mengantar Rina pulang ke rumah, dengan banyak bercerita. Sisi dan Irham mengalami kesedihan yang dalam, kerena belum di karuniai keturunan. Pernah beberapa kali hamil, tapi keguguran. Bayi tabung yang di rencanakan tidak berhasil. "Haiiii Mi..." Rina mencium pipi Mami. "Haaaii sayang. Baru pulang.?" Mami masih sibuk mengurus laporan karyawan pabrik. "Mi, neng ke Ausi yah.?" Rina perlahan memohon di hadapan mami. Mami meletakkan hpnya, "kunaon geulis,? Apa itu masih penting.?" Tanya mami. "Nggak penting, tapi sampai saat ini neng masih berharap sama Abang." Neng mencoba mencurahkan isi hatinya kepada Mami. "Neng, semua tergantung neng. Mami nggak pernah melarang dan mengatakan 'Ya'. Bagi Mami, neng putri mami yang harus bahagia. "Tanpa syarat". Cobalah bicarakan semua dengan Om Frans, semoga ada jalan keluar." Mami terdiam sejenak. "Jika ada pria yang lebih baik, kenapa tidak neng." Rina terdiam dengan permintaan Mami, yang begitu jelas. Mami sudah cukup selama ini tersakiti oleh Prayoga dan Papi. Mami tidak ingin merasakan semakin banyak luka jika kejadian itu terulang lagi. Malam harinya, Rina meminta Om Frans untuk datang ke rumah, membicarakan tentang rencana ke Ausi. Om Frans hanya terdiam. Mendengar semua isi hati Rina. "Om... neng mohon bantuan om." Rina menangis. "Neng, apa ini jalan terbaik ? Menurut om ini tidak baik buat neng." Jelas Frans. "Tapi, ini masalah hati neng Om. Neng masih berharap, sampai saat ini neng tidak pernah menuntut Abang untuk berpisah om." Tangis Rina. "Om akan konsultasi dengan kedutaan Australi. Kapan rencana neng akan pergi.? Sama siapa.?" Om meyakinkan dirinya. "Sama Sisi mungkin, atau Jessy.?" Rina asal menjawab. "Jessy masih di Italy beberapa hari ini." Jelas Om Frans. "Sisi. Neng baru jumpa tadi." "Neng, Sisi apa bisa meninggalkan Irham.? Coba pastiin dulu. Nanti kelamaan dia pergi nggak baik buat mereka." Jelas Om frans. Rina terdiam, hanya memandang kolam renang. "Kalau menurut Mami, neng sendiri aja. Mami ikhlas, tapi jangan terlalu lama disana. Seminggu lagsung pulang, kasihan anak didik kamu kalau lama di tinggal." Mami memberi saran. Rina memeluk Mami. "Makasih yah Mi. Neng sayang Mami." Rina mencium pipi mami berlalu pergi meninggalkan Om Frans. "Neng.... Neng..." Rina tak menghiraukan teriakan mami. "Saya akan menginformasikan besok mba, semoga Rina dapat menyelesaikan masalahnya disana." Jelas om Frans kepada Mami. "Oke, mba tunggu frans." Om frans memohon izin, berlalu pergi. Rina menatap fhoto pernikahan mereka, yang dari dulu masih terpajang didinding kamar Rina. 'Begitu gagah kamu Seno Prayoga.' Rina meangis, hingga tertidur. Pagiiii.... "Neng berangkat yah mi." Rina berlalu menciumi pipi mami. "Ya, hati-hati." Balas mami. Rina berangkat menuju sekolahannya. Rina melihat mobil Aldo dan Sisi sudah ada disana. "Morning....?" Rina menyapa Aldo dan Sisi. "Morning cantik." Aldo memeluk Rina. Sisi hanya tersenyum. Sambil membalas pelukan Rina. "Loe jadi ke Ausi.?" Tanya Sisi. "Om Frans akan mengabari." Jelas Rina. "Hmmmm... selesaikan masalah loe cepat. Kita akan pindah ke gedung sebelah. Bawa Seno pulang jika masih mau bersama." Tegas Aldo. "Yaaa... secepatnya, gue juga nggak bisa lama disana. Nggak dibolehin mami." Rina cemberut. "Lagian, udah sah kalian berpisah, masih mencari juga. Come on Rin. Move on." Sahut Aldo. "Sssssst... Loe nggak akan ngerti." Bantah Sisi, sambil melihat wajah Rina. "Do, semua memang udah beres, tapi tidak untuk gue dan Seno." Jelas Rina. "Rina yang cantik, semua sudah jelas kamu menuntut dia habis-habisan, terus loe pikir dia mau nerima loe lagi.? Ini kehidupan Real Rina, bukan cerita dongeng, open your eyes" Aldo menentang. Rina dan Sisi saling bertatapan, menarik nafas dalam, mendengar ucapan Aldo. "Gue, nggak pernah setuju loe nemuin dia. Apalagi yang mau loe harapin.? Dia di pecat, karier nggak ada, orang tua udah menghilang. Kita mau apa.? Mau cinta Rin.? Oooooh God... not funny." Aldo menunjukkan ketidak sukaannya. "Do... biarlah Rina ketemu dulu, mungkin dengan bertemu semua akan lebih jelas. Rina tidak akan penasaran lagi." Jelas Sisi. "Okee... Silahkan. Tapi jangang berharap lebih." Tegas Aldo. Rina tahu aldo sahabat yang paling vocal, jika dia melakukan yang tidak sesuai dengan pikiran Aldo. "Makasih yah do. Setidaknya loe sahabat terbaik gue." "Gue begini, karena sayang, nggak mau loe sakit lagi. Just it." Aldo memeluk Rina, sambil berlalu pergi memasuki class jam pertamanya. Sekolah mereka adalah sekolah social, bnyak kerabat mereka yang mendonasikan dana untuk kemajuan sekolah desaign mereka khususnya arsitek dan interior. Aldo sebagai pionir yang juga ikut menjadi pengajar. Perlahan, tapi pasti. Drrrrrrt.... Drrrrt. 'Om Frans' "Neng, kamu berangkat besok, orang Om menunggu kamu di Melbourne." Jelas Om Frans. Rina tertegun sejenak. "Oooooh... ya om, makasih udah bantuin neng." Rina memandang wajah Sisi, dengan wajah bahagia campur sedih. Om Frans menutup telfon. Rina lngsung memeluk Sisi yang ada di hadapannya. "Gue nggak tau ini bahagia atau sedih, tapi gue lega si." Peluk Rina sambil menangis. "Iya... gue ngerti. Loe harus kuat ikutin kata hati, jangan maksa. Aldo ada benernya juga. Pokoknya cepat kembali. Ngertiii." Tegas Sisi. Rina mengusap air matanya. "Ngerti sayang." Rina memeluk Sisi lagi. "Loe bantuin gue dulu disini yah, nggak lama. Hanya seminggu." Senyum Rina. Sisi hanya menggelengkan kepalanya. "Cinta ini buat gila." Gerutu Sisi. "Apa...? Gue gila maksud loe.?" "Ntahlah." Sisi berlalu ke mejanya. Rina menuju bandara di temani pengawal keluarganya. Sepanjang jalan Rina bercerita dengan Jessy melalui telfon. Jessy tak menyangka Rina akan melakukan hal segila ini. "Cinta sih cinta, tapi jangan begini Rin." Jelas Jessy. Rina meyakinkan Jessy, alasannya adalah mereka belum resmi berpisah. "Hmmmm... mencoba tidak masalahkan Jes.?" "Ya, tapi saya tidak yakin cantik." Jessy menyangkal. Sepanjang jalan Rina hanya berfikir bagaimana caranya membawa Seno pulang. "Itu gila rin." Jessy melarang. "Akan sulit bagi kalian. Percayalah. Saya bukan menentang, tapi ini kerja sia-sia, dan tidak akan mudah bagi kalian." "Trust me. Semua akan berjalan dengan baik." Rina tetap dengan pendiriannya. "Oke, saya akan pulang 3 hari lagi, semoga semua berjalan sesuai keinginanmu Rin. Take care." Jessy hanya bisa pasrah dengan tekad Rina. "Thanks Jes, becareful." Rina menutup telfonnya. Sahabat terbaik Rina tidak bisa menolak keinginannya. Menurut mereka Rina sudah sangat dewasa agar bisa bangkit dari bayang-bayang Seno. Not good, but not bad. Rina melakukan perjalanan yang sangat melelahkan juga mendebarkan. Sepanjang perjalanan dia hanya berfikir akan membawa Seno pulang dengan bantuan Om Frans. Hidup bersamanya kembali. Di Melbourne, dengan penuh harapan, penuh tekad, penuh cinta. Dia akan bertemu dengan Seno Prayoga/ Luca Prayoga. Rina di jemput oleh bodyguard Om Frans, agar selalu menjaga Rina selama di perjalanan. "Mrs, do we go straight to the military detention.?" Tanya driver Rina. "Ya. I don't have much time." Tegas Rina. "Oke Mrs." Mobil melaju menuju tahanan militer yang sangat jauh dari kota Melbourne. Sesampai disana, Rina melakukan pemeriksaan surat-surat, passport, agar bisa menemui Seno. Rina sangat gugup saat petugas menyediakan ruangan khusus untuk Rina. Sesuai permintaan Om Frans. Karena Rina masih resmi menjadi istri sah Seno Prayoga. "Soon we will call you sir, please wait here." Seorang petugas bule dengan gagahnya mempersilahkan Rina menunggu di ruangan khusus itu. "Okay thanks." Sahut Rina. Rina menggenggam kedua tangannya, terasa dingin, jantungnya berdegup dengan cepat. Berharap segera bertemu Seno. Tiba-tiba terdengar Seno masuk keruangan dengan dua orang pengawal. Mata Rina tak berkedip menatap Seno, yang sangat tegap ada di hadapannya. Rina berlari mengejar Seno. Sebagai istri yang merindukan suami. Setelah sekian tahun tidak pernah merasakan pelukan Seno, hari ini Rina menurunkan ego demi perasaannya. Rina memeluk Seno dengan erat, Seno melakukan hal yang sama. Tidak terfikirkan oleh Seno, Rina akan datang menjenguknya. Tangis Rina dan Seno pecah saat mereka merasakan rindu yang teramat sangat. "Abang is fine.?" Rina melihat semua tubuh Seno dengan seksama. "Good." Seno tersenyum melihat istrinya. "who takes care of everything.?" Tanya Seno. "Om Frans yang membantu neng." Rina mengusap air matanya. "You are great, can get here." Seno membawa Rina duduk. "Neng mau abang pulang untuk neng." Tangis Rina. "Tidak mudah neng." Seno tertunduk. "Kita masih bersama kan bang.?" Rina meyakinkan Seno. "Did we ever part.?" Seno bertanya menatap mata Rina. Rina terdiam. "Semua sudah terjadi, takkan mudah untuk membalikkan lagi ke awal." Jelas Seno. "Neng, masih berharap bang." Tangis Rina. "Tapi nggak akan mudah neng." Tegas Seno. "Apa yang mesti neng lakukan.? Agar abang bebas seperti yang neng mau." Rina memohon. "Bicaralah pada pengacara abang disini, dia akan membantu kita." Rina terus memeluk Seno. Berharap akan selamanya ada di pelukan itu. "Neng harus mengurus kemana.? Biar neng bicara pada Om Frans." "Abang tidak ingin balik ke Indo, abang akan tetap stay disini." Jelas Seno. "Neng nggak mau, abang harus balik ke indo, ikut neng." Pinta Rina. "Sulit Neng, abang akan di tentang oleh Papa." Seno menjelasakan. Papa yang membuat Seno harus meninggalkan Rina. Ini adalah Bisnis mereka yang sudah di selesaikan secara hukum, bahwa Seno akan meninggalkan Rina, dan Prayoga akan mengembalikan semua sesuai tuntutan keluarga Brata. Sasarannya adalah menghancurkan keluarga Brata. Rina mendengar cerita Seno sangat kecewa. Seno memutuskan secara sepihak tanpa memikirkan hati Rina. "Ini nggak adil bang." Tangis Rina. "Semua udah hancur neng, abang mesti mulai darimana.? Ini tidak akan mudah untuk kita." Jelas Seno. "Neng akan urus semua dengan bantuan Om Frans." Tegas Rina. "Asal abang mau balik ke Bandung sama neng, kita rintis lagi semua dari awal." Seru Rina memohon. Seno hanya terdiam, melihat keyakinan istrinya, yang dari dulu selalu melakukan apapun walau sulit. Rina akan berjuang. "Hp neng, di pegang oleh pengawal, neng nggak bisa menelfon om frans, tapi secepatnya neng akan balik lagi kesini." Janji Rina, sambil memberikan kelingkingnya seperti dulu. Seno mencium bibir Rina dengan penuh kerinduan. Begitu dalam rindu kedua insan yang terpisah karena keegoan keluarga. Rina membalas ciuman Seno dengan penuh perasaan. Seno mengelus perlahan punggung Rina. "Neng, lebih kurusan." Seno menghentikan ciumannya. "Karena rindu." Rina kembali mencium bibir Seno. "Pulanglah, istrahat. Abang akan menunggu neng." Pinta Seno. "Serius.? Abang nunggu neng.?" Rina menatap mata Seno. "Ya, temuin pengacara abang di Melbourne, biar dia menyelesaikan semua." Pinta Seno. Time berkunjung selesai. Rina dan Seno harus berpisah, hingga pengadilan memutuskan untuk membebaskan Seno. Rina menemui Pengacara Seno, Mr.Alex. Rina meminta Om Frans segera menyusulnya ke Melborne. Agar secepatnya mengurus semua legalitas kebebasan Seno. "Neng, ini sudah lebih seminggu. Neng pulang yah.?" Pinta Om Frans. "Baik Om, Neng percayakan sama Om. Untuk pembebasan Seno." Pinta Rina. Om Frans tersenyum, "Ini takkan mudah dan butuh biaya sangat besar. Membebaskan Seno tanpa syarat. Masa tahanan masih ada dua tahun lagi." Jelas Om Frans. Rina membaca semua syarat-syarat yang sangat butuh waktu lama. Hukum tak dapat di beli, tapi jika semua di lakukan maksimal, pasti ada jalan. Itulah keyakinan Rina. "Berapapun, Om harus pulang membawa Seno kembali." Rina memohon pada kedua pengacara itu. Om Frans adalah adiknya Mami yang sangat peduli sama keluarga Brata sejak dulu, semua bisa di selesaikan oleh Frans, secara baik dan propesional. Om Frans dan Mr. Alex akan mengajukan semua permohonan kepada pengadilan Australi. Sangat lama Rina menunggu kabar Om Frans. Mami hanya meminta Rina untuk tetap focus pada anak didiknya. "Kasihan atuh ama anak didik neng." Mami tersenyum melihat putrinya yang sangat bawel menunggu kabar dari Frans. "Om udah ngabarin Mami belum.?" Tanya Rina. "Yaaah baru itu aja yang di infokan. Sabar. Jika memang harus balik yah balik." Mami menghibur Rina. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, Rina menunggu kabar Om Frans belum maksimal yang di dapat oleh Rina. Di sekolah pagi itu Rina di kejutkan oleh Sisi. "Gue hamil Rin...." Sisi berteriak kepada Rina, sambil memeluk Rina. "Oooooh yah, serius loe,?" Rina membalas pelukan Sisi. Sambil menangis. "Gue seneng, loe jaga." Rina mengelus perut Sisi. "Udah dua bulan." Sisi membalas elusan Rina diperutnya. "Sweet, namanya Sweety." Teriak Rina. "Enak aja... loe pikir anak gue pempers apa." Sisi beranjak ke kursi kerjanya. Rina hanya tertawa. Sambil memberi kabar kepada Aldo yang berada di Jakarta sedang bersama Jessy. "Do... Sisi hamil." Seru Rina. "Siapa yang ngamilin.? Gue nggak merasa." Teriak Aldo saat vicall. "Aldooooo.... Gue hamil sama Irham, bukan ama loe." Teriak Sisi. "Kirain." Aldo tiba-tiba menutup telfonnya. Rina dan Sisi saling menatap. "Kenapa putus.?" Rina dan Sisi tertawa. Menikmati hari mereka yang sangat indah. Rina sangat memanjakan Sisi, membawakan makanan, buah, apapun kebutuhan asupan untuk ibu hamil. Rina senang, bakal ada ponakan baru, pikirnya. Karena Sisi dan Rina sama-sama putri tunggal. Irham lebih sering menemani Sisi, kalau tidak sibuk dengan pabrik keluarga mereka. "Romantis yah, buat gue syirik." Celetuk Rina. "Hmmmmm, ya iya donk." Ledek Irham. "Rin, Mami barusan telfon gue, loe di suruh balik." Tegas Sisi. Rina memandang Irham, "Kok nggak nelfon ke gue.?" "Mana gue tau." Kata Sisi sambil mengajak Irham untuk mengatar Rina pulang. Di perjalanan Rina tidak enak hati, kok tumben Mami nggak nelfon langsung ke Rina. Diparkiran ada mobil Aldo dan Om Frans. 'Ada apa ini.?' Hati Rina mulai tak tenang. "Bi, ada siapa.?" Tanya Rina saat berpapasan dengan bi surty. "Rame neng." Bi surty berlalu pergi. "Haiii Rin, teriak Aldo." Rina memberi pelukan ke Aldo dan Jessy. Om Frans, yang agak sedikit gemuk, memeluk Rina."Haaaiii sayang." Sambil mencium kedua pipi Rina. Rina cemberut, "Neng kesel, om nggak ada kabar sama sekali." Rungut Rina. "Om buzy honey, sana ada yang menunggu mu di taman." Om Frans menunjuk kearah taman. Rina melihat keluar, ada pria gagah menunggunya, Seno,... yaaaah Seno Prayoga telah di bawa oleh Om frans setelah menjalani penahanan sangat panjang. Rina berlari memeluk Seno, "Abaaaang." Tangis Rina pecah seketika. Bahagia, dan sedih semua bercampur kala itu. Seno menyambut pelukan Rina, penuh kerinduan, sekian lama mereka telah berpisah. Baru sekarang bisa bersama kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD