Seno tak pernah merayu apalagi seperti saat ini. Seno berprinsip lakukan jika suka.
Bangun pagi Rina tak melihat sosok Seno. Diambilnya hp.Contac Seno Prayoga.Belum di jawab.rina menunggu. “Yah neng.”
“Abang dmana.? Kok nggak nunggu neng.?”
“Tadi ada panggilan mendadak neng. Nanti abang kesana lagi yah. Oya, lusa kita wawancara yah. Jam 11.00 siang untuk cek keseluruhan.”
Rina rasa mimpi sambil tersenyum ‘apakah Seno lah sosok iya butuhkan.’
“Ya… neng tunggu. Bye.”
Senyuman Rina mulai membayangkan kejadian tadi malam. Rina merasakan Seno laki laki sempurna untuknya, lembut, mapan, tegas, bersih, dan ganteng.
Lamunan Rina tersentak saat melihat berita, bahwa Papa Seno akan di periksa KPK. Seorang Jendral berbicara, yang mirip calon Papa mertua, pikirnya.
Rina menikmati hari minggunya dengan bermalas malasan depan tv sambil tidur - tidur bangun.
Rina meminta sopir apartmen untuk mengantarkannya ke salon hari ini.
“Pak.. ambil kunci ke atas yah, saya mau ke salon.”
“Baik neng. Jawab sopir harian yang ada di kantor.”
Rina menutup telfon, menekan nomor Seno kembali.
“Bang… neng ke salon yah.” Rina dengan manja meminta izin kepada calon suaminya.
“Oke neng. Hati hati yah, nanti Abang jemput.”
“Ya.” Jawab Rina dengan penuh kelembutan.
Sesampai di salon Rina bertemu denga Jessy lagi melakukan perawatan yang sama.
“Haaaaaiiii sis. How are you.?”
“Fine. You alone Rin.?”
Rina hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum. Mereka ngobrol hingga antrian mereka di panggil. Ternyata mereka sama - sama perawatan full body jadi satu ruangan.
Jessy banyak bercerita tentang pertemanan dia dengan Seno. Jujur ada yang mengganjal dari pembicaraan Jessy tentang Seno. Tapi Rina tak pernah memperdulikan apapun itu.
Di mata nya Seno tetap Abang yang baik bagi Rina.
“Jess... I'm going to the manicure room first, okay.?”
“oooh okay.” Jessy membalikkan badan yang sedang message seluruh tubuh.
Rina selalu menghabiskan waktu di salon kesayangan. Tanpa memperdulikan panggilan telfon, wa, atau apapun, kecuali sopir atau Bram yang menghubungi.
Bagi Rina memanjakan diri di hari libur itu adalah time yang sangat jarang iya dapatkan. Apalagi dengan padatnya jadwal setiap hari.
Di pintu masuk salon Rina mendapati Seno sudah menunggu di depan, sopir Rina sudah pulang dari tadi ke Apartmen.
“Bang… dari tadi yah?” Rina menghampiri Seno.
“Ke Bandung yah. Mami Papi minta kita pulang.” Seno membuka pintu dan langsung tancap gas menuju kota Bandung tercinta. Sepanjang jalan mereka sibuk bercerita masa –masa kuliah dulu. Cerita masa kecil, masa bersama Sisi. Seno berusaha menjadi teman yang baik mendengar semua ocehan Rina. Sesekali ciuman Seno mendarat di pipi gadis geulis itu.
Rina menceritakan sedikit hubungan dengan Arjuna. Seno merasa tak nyaman, selalu mengalihkan pembicaraan jika sudah mendengar nama Arjuna. Ada perasaan cemburu sedikit, walau Arjuna adik kandung Seno. Bagi Seno, Rina pantas bersamanya.
Rina terkagum melihat dekorasi rumah yang mewah. Kaget, nggak tau mau berkata apa.
“Bang… acara apa.?” Tanya Rina bingung.
“Turun aja, nanti malam kita jumpa yah.” Seno membuka pintu mengantar Rina sampai ke rumah untuk bertemu dengan Papi dan Mami.
“Eeeeeh…. Si kasep Mami udah nyampe.” Mami memeluk putrinya.
“Mi, ini acara apaan..?”
“Masuk geulis.” Mami mengedipkan mata sambil tersenyum berlalu menggandeng tangan calon mantunya.
Rina bingung, karena semua ini mendadak.’Apakah ini akan bertahan.?’ Rina takut, akan kegagalan. Karena baginya pernikahan sekali seumur hidup.
Seno Prayoga pria lembut, gagah perkasa, penuh kejutan, agak sedikit cuek.
“Bi… acara apa nanti malam.?” Rina tak yakin dengan semua kejutan ini.
“Acara neng di lamar Abang.” Jelas bi surti.
Rina melihat orang sibuk dengan kegiatan masing masing. Rina berpapasan dengan Papi yang sibuk menelfon rekannya.
“Geulis… bentar lagi semua akan hadir. Siap – siap yah. Sambut calon suami mu dengan sempurna.” Pesan Papi sangat sederhana.
Garden Party acara nanti malam. Penuh kemewahan, elegant. Pertunangan putri tunggal Pak Brata. Pemilik kebun teh terbesar di Lembang Bandung.
Begitu indah malam itu, dengan lampu gemerlap di sebuah taman rumah Rina. Kerabat dekat Papi dan Mami Rina datang berkumpul untuk menjadi saksi bahagia keluarga Rina akan segera di persunting anak Jendral ternama di Bandung.
Papa Mama Seno datang membawa buah tangan special malam itu. Lengkap dengan perhiasan. Seno Prayoga sangat tampan gagah perkasa di mata Rina.
Sisi dan Irham ikut menghadiri acara pertunangan Rina dan Seno.
Tampak bahagia di raut wajah Rina dan Seno malam itu, saat Mama Seno menyematkan cincin resmi melamar Rina Prameswary Brata.’Indah… sangat indah malam itu’. Begitu berkesan bagi tamu undangan yang hadir.
“Acara pernikahan akan diadakan 1 minggu ke depan.” Pembawa acara menyampaikan semua menurut intruksi Papa Seno.
Di pilihlah tanggal lahir Arjuna, sebagai mengenang Arjuna. Rina berusaha meyakinkan dirinya sendiri, ‘Apakah ini adil untuk Almarhum.?’
Rina berbisik, “Masak hari lahir Juna Mi.?” Bisik Rina ke telinga Mami.
“Ntenanaon atuh neng. Sweet pokoknya maah.” Bisik Mami.
Seno menatap Rina dari kejauhan dengan penuh ketenangan, ‘Apakah gadis ini yang akan menjadi pelabuhan terakhir Seno.?’ Seno menatap wajah Rina sangat cantik, di balut kebaya modern berwarna peach di desaign oleh desainer ternama kota Bandung. Sangat sempurna.
Awal Papa meminta Seno untuk memulai hubungan dengan Rina, Seno memang tak menolak. Ada suatu alasan membuat Seno nyaman dengan semua kejadian ini. Kecantikan dan kekayaan Rina. Rina pewaris tunggal perkebunan dan pabrik teh. Papi selalu meminta Papa untuk mengamankan produksi keluar negeri. Itu menjadi salah satunya.
‘tapi apakah aku korban ambisi Papa.’ Bisikan itu terus menghantui benak Seno.
Abang tertua Seno seorang Dokter di Singapura. Tidak bisa di atur oleh Papa. Satria Prayoga yang memilih menikah dengan wanita pilihannya, tanpa perjodohan keluarga mereka.
Satria lebih memilih menetap di Singapura, di banding pulang ke Bandung, malam pertunangan Rina dan Seno, Satria pulang untuk menyaksikan bahwa adik keduanya bahagia.
“Are you happy with Papa Sen's chosen girl.?” Pertanyaan itu Satria lontarkan saat Seno beridiri di depan hidangan.
Seno terdiam, mendengar pertanyaan kakak tertuanya.
“At least I'm enjoying, not running away from it all.” Seno pergi meninggalkan Satria yang selalu menjadi masalah bagi keluarga.
“Come on Sen….” Satria mencoba tetap tenang saat kehadiran Rina di hadapan Seno dan Satria.
“Ooooh… he’s Juna brother.?” Rina melihat raut wajah kakak beradik yang sangat tak asing di mata Rina. Tapi Rina jarang bertemu mereka, karena kesibukan mereka yang tidak menetap di Bandung.
“Ya… I’m Satria.” Satria mengulurkan tangan kepada Rina.
Rina tersenyum melihat anak tertua Jendral itu. Seno hanya diam sambil merangkul pinggang calon istrinya.
“Kok garing gitu bang.?” Rina berbisik.
“Nggak apa - apa. Yuuk..” Seno menarik tangan Rina untuk bertemu tamu undangan lain. Satria datang tak sendiri. Bersama seorang gadis berwajah ayu. Seno tak menghampiri kakak iparnya tersebut. Semua tak seperti yang ada di benak Rina. Keluarga ini sedang tidak baik - baik saja semenjak kepergian Arjuna.
Malam yang menarik perhatian Rina adalah keharmonisan Papi Mami yang tak pernah berubah. Begitu bahagia, akan mempunyai besan yang sangat terpandang dan terhormat.
“Seminggu lagi neng.” Bisik Mami kegirangan.
Rina hanya menggelengkan kepala, berlalu pergi menghampiri Abang tertua Seno, sebentar lagi menjadi Abang Iparnya.
“Bang…”
Satria menoleh. “Oooh ya.. Rina.” Sambut Satria ramah.
“Kapan datang.?”
“Hmmmm… Tadi sore.” Senyum Satria.
“Makasih.” Rina mencoba lebih wellcome dengan kehadiran Satria.
“For what.?” Satria mulai bingung.
“For coming.” Senyum Rina yang begitu menawan membuat suasana semakin hangat.
Seno memandang calon istri, kemudian menghampirinya.
“Kak Lingga di sana duduk sendiri.” Seno menunjuk Lingga yang duduk sendiri di meja tamu.
“Gabung yuuk…” pinta Rina kepada Seno.
Satria dan Seno saling bertatapan membuat Rina menjadi bingung melihat mereka yang dingin.
“Ayuuuk.” Satria menarik bahu Seno dengan lembut.
Rina yang bergandengan tangan dengan Seno ikut serta menemui Lingga, yang sedang menikmati alunan music di temani dengan beberapa makanan kecil dan teh angat mint. Teh unggulan keluarga Brata.
Rina tak banyak cerita malam itu, hanya melihat wajah mereka yang sangat sempurna. Dari kalangan orang berada dan terpandang. Setiap mata pasti tertuju pada ketampanan keluarga mereka. Papa Mama, yang mendekati sempurna.
Rina terkagum dengan keluarga ini, tau bnyak hal, peduli akan semua orang. Hanya bang Satria yang tidak menjadi seperti keinginan Papa, lebih memilih menjadi Dokter memiliki istri pengusaha.
Lingga keturunan cina jawa, sudah menetap di Singapura. Papa tak merestui pernikahan mereka, karena Satria akan pindah warga negara. Sangat sulit perasaan Satria.’Keluarga atau Istri.’
Walau begitu, di mata Rina, Seno tetap menjadi pilihan hati terakhir.
****
Rina bersiap menuju kantor pagi itu. Kabar dari Seno tak kunjung tiba, tidak seperti biasa. Rina mengunci pintu Apartmen, tak terasa ada yang mengembus bagian telinganya, membuat Rina kaget.
“Abaaaaang.” Rina memukul Seno.
“Geulis wangi.” Canda Seno.
“Mau masuk atau langsung jalan.?”
“Jalan yuuuk.” Seno menarik tangan Rina.
Hari ini adalah hari terpadat Rina menjelang pernikahan. Wawancara untuk menjadi ibu Persit, Nyonya Mayor Seno Prayoga. SH.MH, Usia Seno yang tak Muda, 30 tahun. Jenjang karier yang melejit, akan mempersunting Rina Prameswary Brata. ST. mendekati sempurna.. Usia 27 tahun yang sudah punya dunia karier sendiri.
Keduanya dari keluarga sempurna bahagia dan harmonis. Tanpa ada cacat, jika melihat semua dari luar.
Rina menggenggam tangan Seno saat semua beres di lakukan. Rina merasa takut, saat pemeriksaan kesehatan. Karena perlakuan Seno terhadapnya. Seno tau apa yang di pikiran gadis itu. “Tenang, semua akan baik baik saja.” Seno memeluk Rina, agar merasa nyaman, begitu cara Seno mendamaikan hati gadis yang di sayangi.
“Abaaaaang nakal…” Teriak Rina di dalam mobil sambil menghela nafas memukul bahu Seno.
“Apaan, sakit tau neng.” Seno nggak ngerti.
“Neng fikir neng udah nggak virgin.” Teriak Rina kepada Seno.
“Emang masih Virgin.?” Seno menggoda Rina yang sedang membuka blazer.
“Ni…” Rina menyodorkan surat dari cek kesehatan hari ini.
Seno membaca, semua berkas Rina yang di nyatakan sehat lahir bathin.
“Oooh… sweeeet.” Seno mencium bibir Rina. Rina mencoba membalas dengan rengekan.
“Udah deh… Lapeeer.”
Seno mengehentikan ciuman itu, melajukan mobil di sebuah café.
Rina bergegas turun. Tanpa menunggu komando Seno.
Seno menjauh dari Rina saat menerima telefon. Rina masuk mencari kursi sendiri, sambil menunggu Seno yang lumayan lama berdiri di luar.
Wajah Seno berusaha iya damaikan, sejak menerima telfon tadi membuat Rina bertanya pengen tau.
“You oke..?” Rina mendekatkan wajahnya di hadapan Seno.
“Oke. Kita makan, neng abang antar ke kantor atau balik.? Karena ada panggilan mendadak. Ada pemerikasaan.” Jelas Seno.
“Hmmmm… Pulang deh.” Pinta Rina.
Seno merasakan sesuatu akan ada yang tak beres nantinya. Tapi dia berusaha menenangkan diri sendiri. Rina merasakan sesuatu, tapi Rina takut untuk bertanya. Nggak penting juga untuk mencari tau.
“Nanti malam Abang datangkan.?” Wajah Rina yang polos berharap akan kehadiran Calon suaminya.
“hmmmm… semoga.” Seno mengelus pipi gadis itu. Sambil tersenyum tipis.
Seno tak kuasa melihat gadis ini jika harus kecewa. Tapi dia harus menjalani semuanya. Demi Arjuna. Bisik hati Seno.
Tiiiiiiing tooong….
Rina berlari membuka pintu, semangat menunggu kehadiran Seno.
“Abaaaaaang…” Rina memeluk Seno.
“Geulis.” Seno menggendong Rina masuk ke dalam hingga ke sofa depan Tv.
Tanpa di sadari Rina langsung mencium Bibir Seno penuh perasaan penasaran, hingga mencoba lebih agresif. Seno kebingungan hanya membalas dengan mata terbuka berusaha melihat reaksi Rina. Seno mengusap punggung Rina sambil melepaskan bra sembari meraba bokong Rina yang menggunakan g-string. ‘woooooow’ pikir Seno melayang. Seno menikmati serangan Rina yang sangat menggebu - gebu, membuat Seno kebingungan. Antara menikmati atau menjadikan.? Seno takut lepas kontrol dengan gadis baik yang ada di hadapannya, meminta di perlakukan lebih malam ini. Seno ingin memberikan kesenangan lebih jauh lagi.”Abaaaaaang….Neng udah siap.” Rina menggeliat pasrah dengan pakaian setengah terbuka. Seno mendaratkan lidahnya di organ paling intim Rina, dengan menggeser g-string Rina, wangi tubuh rina begitu mengundang gairah Seno, geliat Rina terlihat ingin meminta. Pikiran Seno hampir lepas kendali saat ingin. Seno terhenti. Tak tega melihat Rina akan menanggung beban nantinya. “Abaaaang… neng nggak kuat rintih Rina.”
“Neng… Abang sayang neng.” Seno menahan tubuhnya yang sudah berada di atas tubuh Rina.
Rina tak peduli memaksa seno untuk melakukan lebih.
Drrrrrt drrrrrt…. Getaran hp Seno berdering.
Seno keluar dari ruangan menuju balkon luar menutup pintu kaca tanpa menggunakan baju, hanya memakai celana jeans. Badan kekar Seno yang putih bersih membuat mata Rina ingin menghabiskan mala mini bersama, tanpa memikirkan yang lain..
Rina cemberutkan wajah stengah kesal. Kesal dalam mencari rasa. Rasa yang sangat di impikan wanita dewasa. Seperti kata Sisi, kalau suka, nikmati.hahahaha.
1,5 jam Seno menerima telfon, membuat Rina penasaran. Tapi nggak berani untuk mendengar kan, nggak sopan baginya.
“Pa.... this is not Arjuna's problem. but Seno started to love Rina. Seno accidentally, it was all an accident.” Itu kata kata yang keluar dari bibir Seno.
Ntah apa yang di perdebatkan dengan Papa sampai menyebut nama Arjuna lagi.
Seno menatap Rina dari balik kaca jendela dengan senyuman indah. Rina membalas senyuman itu dengan rasa cinta yang mulai tumbuh.
Telfon di tutup,“neng… Abang pulang yah.” Seno memeluk Rina.
“Nggak nginep.” Rina berharap.
“Nggak neng. ntar hilang virginnya.” Seno menggoda Rina.
Rina tersenyum gemes melihat perlakuan Seno. “Jumpanya pas mau balik aja yah.” Pinta Seno.
“Kenapa.?” Rina bingung.
“Biar surprise.” Seno melanjutkan candaannya sambil menggoda Rina.
“Neng baik - baik yah. Kita akan menikah. Besok pulang ke Bandung, mamang yang jemput.” Seno memeluk Rina dengan sepenuh hati. Mencium kening tak lupa mencium bibir kembali.
Drrrrt.. drrrrt….
Hp Rina bergetar Wa masuk dari Sisi.
‘Rin,’ Sisi tak melanjutkan pesannya.
‘Penembak Arjuna Prayoga di Rusia beberapa tahun lalu adalah Seno Prayoga.’
Pesan singkat dari Sisi untuk Rina pagi ini membuat Rina terkejut. Berita dari mana. Hati Rina penuh emosi dan kemarahan. Tubuhnya bergetar, tangannya dingin. Mencoba menenangkan hati yang tak percaya akan semua kejadian itu.
“Si.” Suara Rina bergetar. Menahan tangis.
“Serius na. itulah membuat Seno merasa berdosa. Kamu tenang yah. Semua akan terjawab. Gue lagi di perjalanan mau ke bandara” Sisi menutup telfonnya.
Rina melempar hpnya ke dinding kamar.
Tiiiiiiing tooooong….
Rina yang masih shok membuka pintu, ternyata “Abaaang” Rina berusaha menutup pintu, tak membiarkan Seno masuk.
Seno yang kaget, langsung spontan menahan pintu agar membiarkan dirinya masuk. Rina menangis sejadi jadinya, menunjukkan wa Sisi. Seno menatap Rina yang hancur pagi ini.
‘Anjriiit… dapat info dari mana ni bocah.’ Geram wajah Seno manahan emosi.
Rina menejerit meminta Seno pergi. “Neng nggak akan menikah dengan seorang pembunuh.” Rina menjerit histeris, membuat Seno kelabakan menghadapi Rina yang membuang semua barang di ruang tamu.
“Dengerin neng… ini kecelakaan.” Seno menarik tubuh Rina, memeluk menenangkan Rina.
Seno mendekap kedua pipi Rina.”Dengerin Abang dulu neng.! Tenang, ini perintah.!” Tegas Seno.
Rina meronta, menolak tubuh kekar Seno. Rina tak peduli, “Kecelakaan kah atau apakah, loe tetap pembunuh.” Rina berusaha menjauh dari Seno.
“Rin… tenang Rin. Tenang.” Seno memeluk erat Rina pagi itu, tak membiarkan dia berontak. Seno mengusap rambut Rina dalam pelukannya agar lebih tenang.
Tak ada seorang pun pagi itu. Rina terkejut tak menyangka. Seminggu lagi akan menjadi acara pernikahan mewahnya bersama Seno, orang yang menghapus kepedihan, kehampaan, kepiluan. Ternyata dia pembunuh Arjuna Prayoga. Adik kandungnya, yang sangat iya cintai. Dunia terasa hancur bagi Rina pagi itu.
Seno menerima makian Rina, histeris Rina. Makin besar rasa bersalahnya terhadap gadis ini. “Semua sedang dalam penyelidikan.” Seno berusaha menjelaskan kepada Rina kejadian sebenarnya.
“Kecelakaan Rin. Tidak sengaja. Semua begitu cepat.” Rundung Seno sambil mengingat semua kejadian itu.
“Seno bertemu Arjuna di satu pelatihan gabungan. Arjuna menceritakan rencana pernikahannya, karena mereka memang jarang bertemu. Arjuna menunjukkan semua fhoto - fhoto Rina. Semua terjadi begitu saja. Saat Seno mencoba satu senjata yang di berikan Arjuna pada masa di Indonesia. Senjata kecil yang di katakan Arjuna sebagai hadiah ulang tahun buat Seno. Ternyata senjata itu yang merenggut nyawa Arjuna malam itu. Kecelakaan, benar - benar kecelakaan. Seno telah melakukan pemeriksaan secara intensif di Rusia dan Indonesia.” Seno meyakinkan Rina.
“Itu yang selalu mengahantui abang, neng.” Jelas Seno.
Rina diam tak bergeming, air mata mengalir mendengar Seno, dan meminta Seno pergi meninggalkan Rina sendiri. “Please…. Jangan ganggu neng lagi.” Kata – kata ini sangat menyakitkan di hati Seno.
“Baik, Abang akan kembali setelah semua tenang. Please… jangan begini sama Abang Rin.” Seno memohon dan berlalu pergi meninggalkan Rina. Sendirian. Karena Rina tak mau lagi bertemu dengan Seno.
Rina hancur, Kecewa, sakit teramat dalam.
“Mi… neng mau ikut Sisi ke Texas.” Mohon Rina.
“Neng… kerjaan neng kumaha.? Papi ama Mami kumaha.?” Mami yang sudah mengetahui semua mencoba tenang menerima kenyataan demi Rina putri semata wayang mereka.
“Neng berenti.”
Mami memeluk putrinya yang saat ini merasa tak kuat menghadapi semua sendiri.
“Papi, harap neng jangan pergi.” Papi terdengar memohon.
Rina hanya diam sambil merangkul tangan Papinya.
“Neng mau di sini aja sama Papi. Neng nggak mau balik ke Jakarta.” Tak terasa air mata Rina mengalir deras.
”Pak, den Seno ayak di depan.” Panggil mamang sembari berbisik.
Papi berdiri, duduk di taman mendengar semua penjelasan Seno. “Saya tidak pernah melarang kamu masuk ke kehidupan putri saya, tapi kenapa baru sekarang kamu omongkan semuanya.?”
“Saya bingung Pak, karena saya mau meyakinkan diri saya. Saya sangat mencintai putri bapak Rina.”
Papi termenung, berusaha mengerti keadaan Seno saat ini.
“Bisa saya bertemu Rina pak.?” Seno memohon.
“Pulanglah, saya akan menenangkan Rina.” Papi beranjak masuk, meninggalkan Seno di taman.
Seno berharap Rina keluar dari kamar. Tapi, itu hanya harapan.
Dua minggu kemudian keluarga Jendral Prayoga datang ke rumah Rina. Memohon maaf kepada keluarga Brata atas kegagalan pernikahan anak mereka. Berharap bisa menemui Rina.
“Seno mana.?” Tanya Papi.
“Seno di Jakarta Mas. Lagi dalam proses. Jadi nggak bisa meninggalkan Jakarta.”
Papi terdiam melihat wajah pilu Mama Papa Seno. Nggak nyangka semua terjadi begini. Undangan sudah tercetak. Gedung pernikahan sudah di persiapkan untuk pernikahan anak mereka.
“Rina akan ke Texas.” Mata Mami terbelalak memohon jangan lakukan itu pada putrinya.
“Pi..” Mohon Mami.
Calon besan pergi dengan sejuta kekecewaan. Jika di tanyakan hati Mama Papa Seno, ntahlah. Remuk rasanya. Anak bungsunya mati di tangan abang kandung sendiri.
“Selesai ini semua kamu susul Rina ke Texas.” Papa Rina mematikan telfon.
Mama Seno hanya bisa menangis membayangkan karier putra keduanya akan berakhir. Karena kelalaian senjata api. Papa Seno sedang berusaha agar Seno tetap di scors saja. Tanpa pemecatan.
“Hati Mama lebih hancur pa.” tangis Mama.
“Semua akan baik baik saja. Percayalah. Rina sangat mencintai Seno.” Jelas Papa.
“Awasi semua gerak - gerik keluarga Brata. Ini perintah.” Papa Seno meminta pada ajudannya untuk melaporkan semua kegiatan Rina Brata.
“Siap Komando.” Telfon tertutup.