Keesokan paginya Malika terbangun dan langsung melihat Andro yang sedang duduk di tepi ranjangnya dengan tangan yang menutupi wajahnya. Pakaian Andro masih sama seperti kemarin namun sudah sedikit berantakan. Merasa ada pergerakan Andro pun mengangkat wajahnya dan melihat Malika yang akan beranjak dari ranjang.
"Mika..... semalam Mas,...."
"Sudahlah,.... lupakan saja Mas...." Malika tersenyum singkat dan mulai beranjak ke kamar mandi.
"Semalam Karin menangis... Dia baru saja bertengkar hebat dengan tunangannya... karena itu Mas...."
"Sudahlah Mas.... Aku mengerti....." Malika berucap dengan senyum mirisnya kemudian segera ke kamar mandi dengan tatapan nanar Andro padanya.
"Kau sangat memikirkan bagaimana hancurnya hati Karin bertengkar dengan tunangannya... tapi Kau tidak memikirkan bagaimana hancurnya perasaanku saat tahu jika usaha ku menunjukkan rasa cintaku selama ini ternyata sia-sia.... Karin masih sepenuhnya mengisi hatimu Mas.....hikz...." Malika meratapi nasibnya dan mencoba mencuci mukanya berulang kali untuk menghilangkan jejak tangisannya.
Sementara itu Andro masih terdiam dengan perasaan sedih, menyesal dan perasaan bersalahnya pada Malika. Ia juga bisa melihat mata Malika yang membengkak karena habis menangis namun Malika tetap berusaha bersikap biasa saja di depannya walau tetap saja berbeda karena tidak adalagi senyum ceria di wajah Malika seperti 3 bulan belakangan ini.
"Apa hari ini Mas akan berkerja?...." pertanyaan Malika berhasil menginterupsi lamunan Andro.
"Iya... Ada rapat penting pagi ini...." jawab Andro kembali kaku.
"Jika begitu mandilah... Aku akan menyiapkan keperluan dan sarapan Mas....." ucap Malika kemudian menuju lemari Andro dengan tatapan Andro masih mengikutinya. Andro belum akan beranjak dari ranjangnya jika saja Malika tidak menghilang dari balik pintu untuk menuju dapur.
Merekapun kembali dengan suasana sarapan yang hening seperti awal mereka menikah. Andro sadar Malika marah dan kecewa padanya namun lagi-lagi Andro tidak tahu harus bagaimana.
"Pak Karin....Tolong antarkan Mas Ando ke kantor.... Mas Ando sepertinya lelah.... lagipula hari ini Aku tidak akan kemana-mana....." minta Malika pada supirnya saat Andro akan mengendarai mobilnya sendiri karena supir Andro belum datang.
"Baik Nyonya ...." Malika tersenyum tulus pada supirnya itu.
"Berangkatlah Mas... hati-hati...." Malika berucap saat Andro masih saja berdiri dengan tatapan kosongnya karena Ia sedang melamun.
"Iya.... Aku berangkat... " Andro akan memasuki mobilnya sebelum Malika menahan tangannya.
"Mas tidak ingin memeluk atau menciumku dulu?..." ucapan Malika berhasil membuat Andro terkejut. Andro menatap Malika sebelum menarik pinggang Malika lembut dan mencium bibirnya. Biasanya Andro hanya akan memberikan kecupan kilatnya namun kini Andro melumat bibir Malika lembut tanpa peduli supirnya yang buru-bur mengalihkan tatapannya saat melihat aksi tuannya. Malika terkejut namun dengan cepat Ia membalasnya.
"Mas pergi.....jaga diri dan Dia dengan baik...." Malika tersenyum tulus saat Andro mengusap perutnya. Setelahnya Andro pun naik ke mobil dan berangkat menuju kantornya.
~oO0Oo~
Dua bulan berlalu dan Malika tetap berusaha bersikap seperti biasa. Malika juga tetap meminta Andro mengusap perutnya kala malam, dan tetap memberikan pelukan dan ciuman sebelum Andro berangkat kerja. Namun yang berbeda kini Malika sudah tidak terlalu berharap akan cinta Andro. Ia merasa tidak akan bisa menggantikan posisi Karin di hati Andri setelah bertahun-tahun hati Andro hanya dihuni oleh Karin. Malika saat ini hanya berusaha agar anaknya tetap mendapat perhatian dari Andro sejak dikandungannya. Setelah melahirkan mungkin Ia akan bercerai dengan Andro sesuai perjanjian mereka.
"Malika... Mas harus pergi ke luar kota selama dua minggu untuk pekerjaan.....tidak apa kan?..." tanya Andro.
"Iya....Mas.....pergilah....." Malika berucap disertai senyumannya.
"Untuk sementara Kau bisa tinggal dengan orangtuaku atau orangtuamu.... semua terserah padamu...." Malika nampak berfikir sejenak.
"Apa Aku boleh tinggal dengan orangtua Mas?.... Aku merindukan mereka....." Andro tersenyum tipis dan mengangguk.
"Kalau begitu..., bisakah malam ini Mas tidur sambil memelukku?...." pinta Malika ragu.
"Tentu....." walau heran Andro tetap menyetujuinya.
"Mungkin ini saat-saat terakhir Aku bisa bersama Mas dan orang tua Mas....." batin Malika. Malika berfikir setelah Ia melahirkan mungkin Ia akan bercerai dengan Andro sesuai perjanjian mereka karena itu Ia ingin menghabiskan waktunya sebagai menantu dan juga isteri.
~oO0Oo~
Belum seminggu Andro pergi, namun kini Ia sudah kembali ke Jakarta karena Papanya menelpon dan memberitahukan jika Malika masuk rumah sakit karena perutnya sudah sering berkontraksi. Malika awalnya ingin melahirkan secara normal. Namun tubuhnya terlalu lemah dan tekanan darahnya pun rendah hingga Ia pingsan saat persalinan. Dokter dan keluarga mereka pun memutuskan untuk melakukan tindakan Operasi sesar.
"Hahh.... hahhh..... Papa.... Mama ..... Bagaimana Malika? ..." Andro nampak terengah setelah berlarian menuju ruang Operasi.
"Dokter sedang mengoperasinya.....Mungkin sebentar lagi selesai....." jelas Sang Papa.
"Tapi Malika baik-baik saja kan?..." Andro sangat khawatir mengingat jika Malika sempat pingsan saat persalinan.
"Berdoa saja yang terbaik...." hibur Ayah Malika.
"Iya Ayah..." lirih Andro dan mulai duduk dikursi untuk menenangkan diri dan berdoa.
Dua jam berlalu dan akhirnya operasi selesai. Dokter keluar untuk menyampaikan berita.
"Selamat Tuan Andro.... Bayinya sangat tampan....." ucap dokter tersebut saat Andro dan yang lainnya mendekatinya. Andro tersenyum haru.
"Bagaimana dengan menantuku?...." tanya Mama Andro dan Andro pun menanti jawaban dokter.
"Nyonya Malika sempat pendarahan namun syukurlah sudah bisa ditangani dan semua sudah stabil..... dalam 2x24 jam menantu Anda akan sadar...." jelas dokter tersebut. Tidak lama kemudian Malika pun sudah dipindahkan ke ruang perawatan sedangkan puteranya diperiksa untuk mengetahui apakah ada masalah atau tidak.
~oO0Oo~
"Eunghh....." perlahan mata almond yang semula tertutup kini terbuka. Malika mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan retina matanya dengan cahaya lampu yang cukup menyilaukan baginya.
"Kau sudah sadar sayang.....syukurlah...." Bunda Malika tersenyum senang setelah kekhawatirannya karena sudah lebih sehari dari perkiraan dokter, Malika akhirnya sadar.
"Bunda...." lirih Malika.
"Iya Sayang....." sahut langsung Bundanya setelah menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Bayiku?...." tanya Malika lemah setelah melihat perutnya sudah kembali mengecil.
"Tampan.... dan sehat.... sempurna Sayang... jangan khawatir.... Mertuamu sedang mengunjunginya... Bunda akan meminta mereka membawanya kemari...." Malika tersenyum dan mengangguk.
Dokter datang dan memeriksa Malika dan tidak lama mertua dan Ayahnya datang membawa bayi mungil digendongan Mama Andro. Malika menyambut bahagia puteranya dan menangis haru melihat wajah tampan sang putera yang mengingatkannya dengan Andro yang sekarang entah di mana.
~oO0Oo~
"Mama..... Mas Ando di mana?...." tanya Malika ragu.
"Dia sedang makan bersama Karin.... selama beberapa hari Dia..."
Ckleekk...
Belum selesai Mama Andro menjelaskan, orang yang dibicarakan sudah datang bersama Karin.
"Mika.....Kau sudah sadar?..." Tanya Andro tidak yakin. Malika tersenyum dan mengangguk.
"Kami sengaja tidak memberitahumu agar Kau terkejut...." jelas Mama Andro. Andro tidak menyahuti dan hanya menatap Malika yang sedang menggendong putera mereka.
"Mahendra .....Kau setuju jika anak kita bernama Mahendra Galaksi Bagaskara...." Andro berucap pelan sembari mengusap kepala Mahen.
"Iya......Termia kasih Mas... Mahen.... Bunda akan memanggilmu Mahen Sayang..." gumam Malika tersenyum tipis.
"Kenapa berterima kasih?.....Seharusnya Aku yang berterima kasih karena Kau sudah melahirkan seorang Putera yang tampan...." Malika kembali tersenyum kini dengan mata berkaca-kaca.
"Iya.....Kau pasti bangga sekali memiliki Putera yang tampan seperti Hèndra...." ucap Karin mendekati Andro dan merangkul pundak Andro (Andro duduk di tepi ranjang) agar bisa ikut membelai Mahen. Malika ingin sekali menangis melihat kedekatan Andro dan Karin. Mungkin tidak lama lagi Ia akan berstatus sebagai mantan isteri Andro.
"Tentu saja.... Aku Ayahnya maka Putera ku juga akan tampan sepertiku.....kkkk...." Malika tersenyum mendengar kepercayaan diri Andeo. Ini kali pertama Ia melihat Andro sangat ceria bahkan bisa bercanda dan itu bersama Karin bukan bersamanya.
"Ya....ya...ya.... (Karin mencibir Andro)..... Lika, boleh Aku menggendong Hendra?...." Malika menatap Andro dan Karin sejenak kemudian menatap puteranya merasa ragu untuk mengizinkannya. Ia takut setelah Andro diambil Karin, mungkin Mahen pun akan diambil Karin. Namun Ia menepis pemikirannya tidak ingin berprasangka buruk.
"Iya.....tentu saja....." Karin pun menggendong Mahen dan membawanya sedikit menjauh dari Andro dan Malika. Malika kembali tersenyum miris ketika melihat Andro tersenyum menatap Karin yang kini sedang menciumi Mahen dan berbincang bersama orang tua Andro dan orang tua Malika.
"Mika....Ada apa?...." Malika yang banyak pikiran dan melamun tidak sadar ketika Andro kini sudah kembali menghadapnya.
"Tidak ada apa-apa Mas.....Aku hanya ingin istirahat...." Malika mencoba kembali berbaring dan berusaha untuk tidak menghadap Andro.
"Kau ingin istirahat Lika? ....Kalau begitu kami akan pulang saja.....Mahen akan kami bawa ke ruang bayi...." ucap Bunda Malika. Malika tersenyum dan mencium kening Mahen sebelum Karin dan keluarganya membawa Mahen ke ruang bayi. Malika terus menatap kepergian Mahen sedang Ansro menatap Malika lekat.
Setelah keluarganya tidak terlihat dan menghilang dari pintu, Malika pun langsung berbaring dan memejamkan matanya. Andro membelai kepala Malika lembut membuat Malika semakin ingin menangis seolah diberi harapan palsu oleh sikap manis Andro.
Tes.....
"Mika....." Andro terkejut ketika melihat air mata keluar dari pelupuk mata Malika yang terpejam.
"Mika...... adakah yang sakit?.... Katakan pada Mas....." khawatir Andro sembari mengusap airmata Malika namun airmata justru semakin mengalir deras.
"Mika....." panggil Andro ingin Malika menyahut.
"Aku lelah Mas.... Bisakah kita membahasnya nanti..... setidaknya setelah Aku dan Mahen keluar dari rumah sakit....." ucap Malika dengan suara bergetar masih memejamkan mata. Andro tahu apa maksud Malika pun hanya bisa menghela nafas dan mematuhi Malika.
"Baiklah... tidurlah...." ucap Andro lalu mencium kening Malika dalam.
"Mas.... kenapa sekarang Kau bersikap manis padaku?.... tahukah Kau itu justru membuatku semakin sakit dan tidak bisa melepasmu.....hikz.... namun sesuai perjanjian, Aku akan melepas Mas setelah anak kita lahir jika Mas tidak juga mencintaiku.....hikz...." batin Malika dan berusaha menahan isak tangisnya.
~oO0Oo~
Setelah hari itu Malika selalu menghindar jika Andro mengajaknya bicara bahkan Malika pun berusaha menghindari perhatian Andro.
"Malika.... besok pagi Kau dan Mahen sudah boleh pulang...." ucap Bundanya Malika saat merapikan selimut Malika karena Malika akan tidur. Disebelahnya ada box bayi dengan Mahen tertidur nyenyak di dalamnya dan Andro yang berdiri menatap puteranya.
"Benarkah?..... Lalu Aku akan pulang ke mana?..." lirih Malika tanpa sadar dan berhasil membuat Andro menatapnya.
"Apa maksudmu?.... Tentu saja Kau pulang ke rumahmu dan suamimu...." ucap Bundanya tersenyum menenangkan. Ia tau ada masalah antara puterinya dan Andro melihat gelagat Malika beberapa hari ini. Namun Ia lebih memilih diam dan membiarkan pasangan itu menyelesaikan sendiri masalah mereka.
"Eoh..... Iya....." gugup Malika.
"Bunda pulang..... Andro yang akan menemanimu....Sejak Kau dirawat di sini sepertinya rumah sakit sudah menjadi rumah Andro....kkk....tapi setidaknya sekarang Ia sudah lebih hidup daripada saat ketika Kau belum sadarkan diri....Baiklah Bunda pulang...." Pamit Bunda Malika dan mengecup kening Malika sebelum pergi. Malika masih terdiam merasa tidak yakin Andro selama ini selalu menjaganya di rumah sakit apalagi sampai tidak bersemangat hidup.
"Mika....." panggil Andro ketika melihat Malika melamun.
"Eoh?!.... Iya Mas....Kenapa?..." ucap Malika berusaha tidak menatap Andro.
"Sampai kapan Kau akan menghindari Mas?..." tanya Andek menarik dagu Malika agar menghadapnya. Kini mereka sudah dalam posisi duduk.
"Ii...itu....Mas.....A...Aku...."
"Kau menyerah?.... lelah?..." Malika menatap Andro tidak mengerti.
"Menghadapi pria kaku dan dingin sepertiku....Bukankah melelahkan....Kau sudah menyerah berada disisiku?...." Malika hanya terdiam menatap Andro yang kini nampak menghela nafas. Andro tidak bisa lagi menunggu karena itu Ia ingin membicarakannya sekarang agar Malika tidak perlu menghindarinya lagi.
"Mika..... Mas minta maaf...."
"Tidak perlu Mas.... ini bukan salah Mas.... Sesuai kesepakatan kita, Aku akan melepaskan Mas setelah anak kita lahir.... Aku sudah siap dan sudah bisa merelakan Mas...." Andro menunduk dan tersenyum miris.
"Benarkah? ....."
"Hmm.....mengenai orang tua kita, Aku akan menjelaskannya....." Andro masih diam.
"Ku dengar pertunangan Karin batal....Jadi Mas bisa...." Ucapan Malika terhenti ketika Andro menatapnya.
"Bisakah Kau memberiku waktu kali ini? ...." Malika hanya diam menatap mata Andro yang menatapnya sedih.
"Saat ini mungkin Kau sudah lelah mencintai pria kaku, jarang tertawa dan tidak romantis sepertiku.... Benar-benar bukan pria idaman kan?.... Tapi bisakah Kau memberi waktu untukku.... Aku ingin berubah..... Aku ingin bisa tertawa bersamamu dan bersikap romantis padamu..... Seperti Kau yang mau berusaha agresif padahal Kau pemalu....Aku pun akan berusaha untuk berubah dan tidak lagi menjadi pria kaku dan dingin.... Bisakah Kau memberiku waktu?...." Andro nampak berusaha dengan keras mengucapkan perasaannya terlihat dari Ia yang sering kali menghela nafas.
"Kenapa?...."
"Anggap saja karena dulu Mas juga memberi waktu untukmu menunjukkan cintamu...."
"Bukan..... kenapa Mas ingin berubah?...." Andro ragu mengucapkan perasaannya namun Ia bertekad untuk mengungkapkan semuanya sebelum Malika benar-benar meminta cerai darinya.
"Karena Mas tidak ingin Kau pergi....Karena Mas ingin menunjukkan cinta Mas.....Karena Mas.... mencintaimu. ... Mas mencintaimu Mika. ..." saking terkejut dan tidak percaya Malika menutup mulutnya yang akan mengeluarkan isak tangisnya.
"Walau perasaan cintamu sudah terhapus karena lelah dan sakit akibat sikap Mas.... tapi bisakah Kau memberi Mas kesempatan untuk menunjukkan rasa cinta Mas?..."
"Sejak kapan?....Sejak Kapan Mas mencintaiku..."
"Entahlah.... Mas juga tidak tahu..... tapi sejak mendengar Kau menangis karena Mas, .... Saat itu Mas sakit bukan karena memikirkan Karin... Tetapi karena memikirkanmu... Mas merasa bersalah akan sikap Mas yang buruk padamu padahal semua ini bukanlah salahmu... Sejak Kau menghindari Mas setelah apa yang Mas lakukan, sejak itu Mas mulai sering memikirkanmu....Sejak mengetahui kehamilanmu Mas merasakan perasaan bahagia dan berfikir bagaimana kelak kehidupan kita saat ada anak di sisi kita..... Malika menatap tak percaya Andro yang kini tersenyum kecil menatap lurus kedepan sembari terus mengutarakan isi hatinya.
"Saat Kau meminta waktu untuk menunjukkan rasa cintamu.... Mas merasa pengecut..... Mas bahkan masih sangat kaku untuk membalas segala perlakuanmu... Saat Kau yang menatap Mas sakit ketika melihat Mas bersama Karin, Mas ingin sekali menemui menjelaskan bahwa perasaan Mas pada Karin sudah memudar terhapus oleh perasaan Mas padamu.... Dan yang membuat Mas sadar Mas mencintaimu adalah saat Mas takut Kau meninggalkan Mas karena Mas tidak datang saat anniversary kita.... walau Kau tetap bersikap biasa namun Mas dapat melihat di matamu Kau sudah lelah....lelah menghadapi Mas....lelah bersama Mas...." Andro menunduk tersenyum miris. Malika
hanya diam menahan isak tangisnya. Ini bagai mimpi untuknya.
"Ketika Kau tidak sadar setelah operasi.....Mas tahu jika Kau benar-benar sudah menghapus Karin dari hati Mas....Dan saat Kau tidak sadarkan diri Mas merasa hampa dan takut Kau tidak sadarkan diri selamanya....Dan saat itu Mas berjanji jika Kau sadar, Mas akan menunjukkan perasaan Mas padamu....perasaan cinta Mas padamu....itu pun jika Kau tidak lelah dan mau memberi Mas kesempatan....." Di kalimat terakhirnya Ansro pun menatap Malika dan kini mata basah mereka saling terpaku. Dalam isakannya Malika menggeleng dengan tangan menutup mulutnya membuat senyum miris kembali tercipta di bibir Andro. Ansro berdiri membelakangi Malika sembari mengusap kasar airmatanya yang mengalir. Menghela nafas berulang kali, Andro berusaha mengontrol emosinya.
"Mm....Mas...." lirih Malika memanggil Andro. Andri tersenyum tipis dan menoleh berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihannya. Malika mengangkat tangannya ingin menggapai Andro. Andro mengerti sehingga Ia mengulurkan tangannya menyambut tangan Malika, mungkin ini jabatan tangan terakhir sebelum perpisahan pikirnya. Setelah mendapat tangan Andro, Malika pun menarik Andro hingga Andro berdiri disebelahnya dan Ia pun langsung memeluk pinggang Andro dan membenamkan wajahnya di perut Andro.
"Mas tidak perlu meminta waktu..... hikz.... karena Aku akan memberikan apapun asal Mas tetap bersamaku....hikz.....Aku mencintai Mas.....Aku tidak akan lelah mencintai Mas....hikz...." ucap Malika terisak penuh haru. Ia berhasil menunjukkan rasa cintanya yang tulus pada Andro hingga kini Andro juga mencintainya dan Ia akan menunggu Andro untuk menunjukkan juga rasa cintanya.
Andro tidak dapat berkata apapun lagi. Ia hanya bisa tersenyum lebar dan memeluk kepala Malika dengan airmata bahagia yang mengalir dari matanya.
"Terima Kasih..... Mas akan berusaha untuk menunjukkan rasa cinta Mas padamu dan Mahen..... Mas harap Kau bisa menunggu hingga Mas bisa menjadi pria idamanmu...." ucap Andro menatap Malika yang mendongak karena Andro yang tinggi berdiri sedangkan Malika duduk.
"Aku akan menunggu.... tapi Mas tidak perlu memaksakan.... Aku tidak ingin Mas tertekan.... Mas hanya perlu melakukan sesuai hati Mas....Karena Aku mencintai Mas sejak sebelum Mas berubah.... Aku mencintai Mas karena Mas Ando adalah Mas Ando..,.." Malika tersenyum manis dan berhasil menularkan pada Andro. Mereka masih tersenyum hingga bibir mereka bertemu dan saling memagut mesra. Merasa Malika terlalu mendongak, Andro pun bergerak untuk kembali duduk di tepi ranjang agar bisa lebih nyaman melanjutkan ciuman manis mereka.
"Mas mencintaimu Malika..... Dan Mas akan menunjukkannya seperti Kau yang menunjukkan rasa cintamu pada Mas....." Batin Andro berjanji.
Cinta merupakan sesuatu yang abstrak. Bentuknya tidak jelas kadang berbentuk perhatian, kasih sayang, kecemburuan dan banyak lagi. Namun terkadang cinta juga bisa berbentuk sikap gugup dan diam untuk menahannya agar tidak terlihat. Namun jika Kau ingin mendapatkan balasan cintamu maka tunjukkanlah. Tunjukkanlah rasa cintamu baik cinta untuk teman, keluarga atau pun pasangan agar mereka bisa melihat rasa cintamu dengan berbagai bentuk.
The End