Lantunan ayat suci yang dikumandangkan Zeya membuat Lazio betah duduk di balik pintu. Mendengar dengan seksama. Malam semakin larut. Dia tidak berani masuk dan membuat Zeya takut. Semua sangat kacau sampai Lazio tidak tahu cara memperbaikinya, selama ini dia tidak memiliki Tuhan untuk dimintai pertolongan. Dia merasa tidak membutuhkan Tuhan seperti Zeya. Melihat Zeya begitu bergantung pada Tuhannya, membuat ia sadar bahwa itulah kekuatan dari wanita rapuh itu. Lazio tidak punya siapa-siapa sejak dulu, bergantung pada diri sendiri. Dia ingin tahu rasanya bergantung seperti Zeya, perasaan yang memberi kekuatan saat terpuruk, Lazio ingin mencobanya. Bukan hanya demi Zeya, tapi juga dirinya sendiri. "Bang...." Panggil Elgar. Seketika Lazio menoleh. Adik angkatnya itu menatap iba, ber

