Lampu-lampu terlihat dari atas pesawat, taburan bintang bersinar indah di tengah gelapnya langit tanpa bulan. Pesawat pribadi yang take off sejak setengah jam lalu sudah mengangkasa. Membelah langit pulau Jawa.
Pernikahan yang kupikir biasa saja. Mengikuti perjodohan demi mendapatkan ridho orang tua. Tidak disangka akan semenarik ini. Menikah dengan Lazio, pria yang membuatku berpikir bahwa Tuhan memberikan takdir yang istimewa.
Aku memang keberatan tentang dia yang baru mengenal Tuhan, tapi dia disukai keluargaku. Dan yang pasti, dia jauh lebih baik dari Mas Umar si tukang fitnah. Tidak bisa dibayangkan seandainya aku menikah dengan Mas Umar, sekacau apa hidupku nanti.
Aku melihat ke depan, bertatapan dengan Lazio yang sedari tadi melihat ke arahku.
"Ada apa sih kok ngeliatinnya gitu banget?" tanyaku.
Lazio menyanggah dagunya, masih menatapku. "Aku kagum."
Aku tersenyum di balik cadar, tidak menyangka keuwuan akan datang secepat ini. Lagi pula kami sudah menikah. Dia jatuh cinta padaku adalah hal yang wajar.
"Aku kagum pada diriku sendiri yang bisa membawamu pulang."
Eh, apa?
Aku hampir lupa bahwa dia orang narsis.
"Aku akan ikut kemanapun suami pergi, kecuali neraka." Sekarang aku jutek, memutar bola mata melihat keluar jendela lagi.
"Itu sulit." Lazio menyandarkan punggungnya.
"Mas baru masuk islam, memang kayaknya sulit tapi bukan berarti nggak mungkin."
"Aku muslim sejak kecil."
Aku terkejut mendengarnya. "Apa Mas murtad?"
"Apa itu murtad?"
"Keluar dari islam."
"Nggak."
"Lalu?"
"Mamaku katolik, ayah tiri ku muslim, ayah kandungku atheis."
Aku diam sejenak. Ini rumit. Aku memandangnya, wajah Lazio yang tersenyum. Dia mengangkat kedua bahunya.
"Lalu Mas pilih yang mana?"
"Dari kecil sampai usia 7 tahun muslim, setelah orang tuaku bercerai aku kadang muslim kadang katolik, di usia 15 tahun ikut ayah kandung atheis. Sekarang muslim ikut kamu. Bukankah kamu sangat spesial?"
Aku melongo, tak menyangka hidupnya serumit itu, tidak tahu arah, dan agama hanya ikut-ikutan. Dia tidak punya pendirian tentang Tuhannya.
"Aku sudah sunat kok, tenang aja," lanjutnya sembari mengedipkan sebelah mata, genit.
"Aku nggak pingin kamu masuk islam karena aku, tapi karena kamu yakin pada islam dan Allah."
"Aku yakin, karena tanpa takdirnya kamu nggak mungkin jadi milikku."
Tatapannya seperti kekaguman bisa mengikatku lewat janji suci, sekarang aku serba salah. Di satu sisi aku tidak ingin Lazio memeluk agama islam hanya karena pernikahan, aku ingin dia memang mengenal Tuhan.
Namun, untuknya yang tidak percaya agama. Menjelaskan sampai berbusa pun akan sulit. Aku tidak bisa menghadirkan keimanan di hati orang lain. Aku bukan rosul ataupun wali Allah.
"Aku cuma bisa berdoa, semoga kamu bisa menuntunku ke surga."
"Kalau itu yang kamu inginkan, aku akan memberimu surga. Uangku sangat banyak."
Lazio memiliki segalanya, dia merasa tidak memerlukan Tuhan. Bagaimana aku bisa menghadapi suami yang tidak kenal Tuhan?
"Boleh nggak aku ngajuin permintaan?"
"Tentu, sebagai istriku. Kamu boleh minta apapun, kau mau perhiasan? Vila? Hotel? Apapun aku bisa memberikanya untukmu."
Aku menatap lekat matanya yang bening, tenggelam di dalamnya yang kosong tanpa keimanan. Dia pemilik pesawat pribadi ini, uangnya tidak bisa aku perkirakan, satu sen pun aku tidak menginginkannya.
"Aku ingin kamu mengimamiku shalat."
Mendengar itu Lazio terdiam sejenak, permintaan yang tidak bisa dia kabulkan. Jauh dari harta yang dia banggakan itu.
"Apa kamu bisa mengabulkannya?" tanyaku.
Kalau ditanya apakah aku menyesal menikah dengan Lazio? Jawabannya untuk saat ini tidak. Meskipun dia tidak bisa shalat, tapi aku percaya pada Tuhanku.
Allah tidak akan menghadirkan Lazio sebagai suami tanpa sebab, ntah Allah ingin mengujiku atau memberi hidayah pada Lazio. Satu hal yang pasti. Pertemuan kami takdir, dan ikatan pernikahan ini sudah dalam tertulis di lauhul mahfudz.
"Permintaan pertamamu sangat istimewa."
Dia tertawa, ntah apa yang lucu. Aku tidak ingin mendesaknya menjawab, hanya ingin dia tahu apa yang ada di pikiranku. Bahwa aku berharap dia bisa menjadi imam di hidupku.
Mungkin karena memakai pesawat pribadi, kurang dari satu jam pesawat sudah sampai di bandara Soekarno Hatta.
Aku izin cuti latihan selama dua minggu, terhitung sejak tiga hari lalu. Niatnya digunakan untuk di Malang selama seminggu dan seminggu di rumah mertua. Sepertinya aku bisa kembali latihan lebih cepat.
Ah, skripsiku masih terbengkalai. Aku terlalu fokus pada latihan menembak sampai sulit sekali bertemu dosen pembimbing.
Aku melirik Lazio, apa dia tahu aku seorang atlet menembak? Tadi dia berbincang dengan Abah, pasti Abah sudah memberitahu. Dulu Mas Umar diberi perjanjian boleh menikahiku asal tetap mengizinkan aku menjadi atlet.
"Ayo turun," kata Lazio. Dia merapikan jasnya.
"Rumah Mas di Jakarta, 'kan?"
"Sekarang itu rumahmu juga," jawabnya.
"Ah, iya rumah kita." Aku sedikit canggung menyebutnya. "Ada di daerah mana?"
Aku takut jauh dari tempat latihan dan kampus.
"Jakarta Utara."
Kami keluar dari pesawat disambut mobil Toyota Alphard. Ada dua orang berjas hitam ikut turun dari pesawat. Pengawal maju duluan. Mereka tidak mau kenalan denganku. Berwajah tegas tanpa tersenyum sedikit pun.
Lazio berhenti tepat di depan pintu mobil, menatap supir yang baru keluar.
"Kenapa bawa mobil murahan ini?" tanya Lazio.
Aku hampir tersedak ludahku sendiri mendengarnya, dia menyebut mobil semahal ini dengan murahan.
"Maaf Tuan Besar, anda berkata membawa Nyonya besar memakai gaun berat. Jadi saya membawa mobil yang ini."
"Ah, begitu. Aku lupa." Lazio menoleh padaku. "Ayo masuk."
"Iya."
Dua pengawal masuk mobil lain sembari membawa koperku, kami meninggalkan bandara Soekarno Hatta. Mobil melaju kencang di jalan tol.
Gedung-gedung pencakar langit dengan lampu kelap-kelip menghiasi kota, sejak remaja tinggal di Jakarta membuatku merasa akrab. Tidak sabar bertemu teman-temanku.
Aku membuka kaca mobil, menikmati sensasi angin berembus. Cadar putih berkibar ditiup angin. Sekarang hampir tengah malam. Sepi kendaraan.
Aku merasakan ketenangan itu hingga setengah jam kemudian, tanganku memegang pistol dan mengarahkan pada Lazio. Hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya, aku ditipu.
Tubuhku bergetar, berusaha menahan tangis ketika masuk sarang kriminal. Semua tukang pukul mengarahkan pistol padaku.
Tidak hanya atheis, tapi Lazio juga memimpin bandit, orang yang selalu melakukan tindakan kriminal dan melukai orang lain. Sesuatu yang tidak bisa aku toleransi lagi.
"Turunkan pistol kalian," ucap Lazio pada tukang pukul yang mengelilingi kami.
Rumah mewah bercat hitam putih berdiri kokoh di belakang kami, semua orang terlihat tegang. Takut aku menarik pelatuk dan menembak tuan besar mereka, Lazio.
"Tapi Tuan..."
"Turunkan! Dia adalah nyonya rumah ini."
Mendengar perintah tegas Lazio, para tukang pukul menurunkan pistolnya. Lazio mendekat padaku. Ia berusaha menenangkan diriku yang hampir menangis.
"Zeya... turunkan pistolnya, kita bisa bicarakan ini baik-baik."
Aku bergeming. "Kau penipu! Keluarkan aku dari sini!"
Aku tidak lagi berharap Lazio kenal Tuhan atau menjadi imamku, saat ini aku hanya ingin pergi dari sini dalam keadaan hidup.
Lazio semakin mendekat, aku mundur, tapi para tukang di belakangku menghadang. Lazio semakin dekat, aku tidak berani menembaknya. Aku belum pernah mengarahkan pistol ke orang.
Secepat kilat Lazio mengambil dan melempar pistol di tanganku hingga jatuh ke tanah, tanganku terasa sakit. Lazio menarikku jatuh ke dekapannya.
"Mulai sekarang ini rumahmu, kau tidak akan bisa kabur." Lazio mengucapkan itu tepat di telinga.
"Lepaskan aku!"
Bukannya dilepaskan, Lazio malah menggendongku masuk ke dalam rumah.