“Ah....” “Ngh? Nana, kau bangun?” tanya Tomoyoshi sambil terus menjilati pangkal paha Nanase yang masih terlelap. Sudah sepanjang malam mereka menghabiskan waktu di atas ranjang, bahkan aroma kamar yang mereka sewa pun sudah berubah menjadi aroma muskey yang pekat. Entah sudah berapa banyak pejuh yang dikeluarkan Nanase dan dibuang Tomoyoshi di dalam tubuh pria itu, hingga membuat kamar hotel ini menjadi berbeda seperti saat mereka masuk. “Pelan-pelan ...,” Tomoyoshi mengangkat wajahnya dan melirik Nanase yang masih tertidur. “Bisa-bisanya dia bicara begitu saat mengigau ....” gumamnya sambil tersenyum. Dia masih mengabaikan seperti apa mimpi Nanase, dan kembali menjilati area kesukaannya. Dan entah sejak kapan area itu menjadi tempat kesukaannya begini. Karena yang dia ingat, seja

