Tante Jo

2335 Words
Ceritaku dengan Aldy telah usai, seperti sebuah buku yang telah selesai kutulis, harusnya tidak ada lagi alasan untuk aku membacanya kembali. Yang harusnya aku lakukan adalah menulis cerita lainnya di selembar kertas baru, dengan cerita yang lebih seru, dan cerita yang mampu membuatku terbebas dari rasa pilu. Memang, tidak semua cerita harus berakhir dengan Happy Ending. Tapi, beritahu aku, siapa manusia di dunia ini yang tidak menginginkan akhir yang bahagia? Semua orang ingin bahagia, kan? Pun semua orang berhak bahagia, kan? Bak mimpi buruk yang tiada satu orang pun ingin merasakannya, perpisahan yang tak pernah kau harapkan benar-benar membuatmu seperti terbunuh secara perlahan, ingin sekali rasanya kembali pada hati yang telah kau campaki, namun sepertinya, ia telah berhasil melupa pada sosok yang dulu pernah ia kasihi. Kau menangis serta memaki dirimu sendiri, saat melihat ia berhasil tertawa lebih dulu sementara kamu sebenarnya tetap mengharapkan tawa bersamanya. Kau hancur, saat tahu bahwa seseorang yang tidak bisa hidup tanpamu kini telah menemukan semangat baru dalam hidupnya yang membuatnya bertahan. Kau hancur, sementara ia telah berhasil terbentuk, oleh tangan yang dapat membuat senyumnya jauh lebih lebar, oleh seseorang yang dapat membuat harinya jauh lebih berwarna. Dan akhirnya kau tersadar akan satu hal; semua itu terjadi karena ulahmu sendiri. Aku terbangun dari tidurku, dengan wajah yang sembab karena menangis semalaman memikirkan Aldy dengan tiada henti. Aku ingin sekali kembali, tapi sepertinya, ia sudah tidak mengharapkannya, ‘Rumah’ barunya bahkan terlihat begitu menyenangkan sekarang. Ku ambil handuk dan bergegas mandi, karena waktu sudah mulai siang. Seusai mandi, aku duduk di kasur sambil mengeringkan rambutku yang masih setengah basah, dari sini aku mendengar samar-samar suara tawa seseorang yang tidak asing di telingaku. Aku mencoba menuruni anak tangga menuju ruang tamu, dimana sumber suara itu berada di sana. Saat aku telah sampai di sana, aku terkejut waktu melihat Andri di sana sedang bercanda dengan Cila, adikku yang paling kecil. Di depan juga aku melihat Papa sedang mencuci mobilnya, itu tandanya Papa juga sudah bertemu dengan Andri.   “Arnyn?” Andri menyapa ku yang sedang melihat papa mencuci mobil. “Udah bangun?” Lanjutnya.   “Eh, Udah. Kamu dari kapan ada disini, Ndri?” Tanyaku bingung.   “Belum lama kok, sekitar 15 menit yang lalu, maaf ya aku gak kabarin kamu dulu sebelumnya kalau mau kesini.”   “Gapapa, kok. Rumah aku selalu terbuka buat siapapun yang mau berkunjung.” Aku tersenyum sambil berjalan ke arah dapur untuk membuatkannya minum.   “Kamu mau kemana?”   “Buatin kamu minum, kamu mau minum apa?”   “Gak usah, Nyn. Aku mau ajak kamu sarapan di luar, mau gak?”   “Mauuu, yaudah kalau gitu aku ganti baju dulu, ya?” Aku berlari menuju kamar untuk mengganti pakaianku dengan pakaian yang lebih rapi di banding sebelumnya. Kali ini aku mengikat rambutku yang biasanya tergerai, memakai sneakers favoritku, serta memakai hoodie oversize dengan hotpants kesayangku yang akhir-akhir ini agak jarang ku kenakan.   “Yuk. Pamit sama Papa dulu ya.” Ajakku. Kami menghampiri Papa yang masih asyik mencuci mobilnya.   “Om, saya mau izin ajak Arnyn cari sarapan di luar.”   “Oh, iya silakan, Ndri. Hati-hati ya bawa mobilnya.”   “Iya, Om. Kalau gitu kami pamit dulu.” Aku dan Andri mencium tangan Papa sambil berpamitan.   “Loh, Mama kemana, Pa?”   “Lagi belanja ke Supermarket. Udah kalian berangkat aja, nanti Papa yang kasih tau Mama.” Kami pun masuk ke dalam mobil dan beranjak pergi untuk mencari sarapan. *** “Kita mau makan dimana, Ndri?”   “Hmm, sebenarnya aku juga masih belum tahu. Kamu lagi kepingin makan apa?”   “Apa ya? Aku ikut kamu aja, deh.”   “Eh, disini aja, yuk? Bubur, kamu mau gak? Kayaknya enak deh, soalnya ramai pengunjung.” Aku terdiam sesaat, ini adalah kedai bubur yang biasa aku dan Aldy datangi dulu.   “Kalau kamu gak suka bubur, yaudah kita cari yang lain aja, ya.”   “Enggak, gak usah. Aku suka kok. Yuk makan disini aja.” Aku melepaskan seatbelt dan beranjak keluar dari mobil. Disini memang selalu ramai, karena buburnya terkenal sangat enak dan porsinya banyak tapi dengan harga yang relatif murah. Andri memintaku untuk mencari tempat dan duduk terlebih dahulu karena dia yang akan mengantre untuk memesan. Makanan datang, kami pun langsung menyantapnya dalam keadaan hangat.   “Wah, enak ternyata. Gak heran ramai gini.” Andri makan dengan lahapnya.   “Haha, iya ini udah cukup terkenal disini. Ya ampun, sampai lahap gitu makannya.” Aku tertawa ke arahnya diikuti dengan balasan tawanya.   “Nyn, ada apa?”   “Ha? Apanya yang kenapa?” Tanyaku heran.   “Kamu habis nangis?”   “Eh? Eng... enggak kok, Ndri.” Padahal sebelum berangkat tadi, aku sudah berusaha menutupi wajah sembab ini dengan make up, tapi sepertinya tidak berhasil.   “Kita kenal udah lama, kamu masih sungkan buat cerita ke aku? Mata kamu tuh sembab, aku udah sadar dari tadi.”   “Hehe, gak kok, cuma capek mikirin kerjaan aja gara-gara di kejar deadline.”   “Tapi sekarang kamu udah gak kenapa-kenapa?”   “Udah gak kenapa-kenapa kok, itu juga cuma nangis sebentar.”   “Kalau ada apa-apa, jangan sungkan buat cerita ke aku, ya?” Ia mengusap kepalaku sambil tersenyum, aku pun membalas senyumannya sambil mengangguk ke arahnya.   “Nyn, aku boleh tanya?”   “Boleh.” Jawabku sambil asyik mengunyah.   “Aldy itu siapa?” Aku terkejut heran menatapnya lalu buru-buru menelan kunyahanku.   “Kamu tahu Aldy dari siapa?”   “Cila. Tadi pas aku datang, Bella ke kamar kamu buat ngasih tahu kalau ada aku, ternyata kamu lagi mandi. Akhirnya aku ajak main Cila dulu, Cila minta aku buat bikinin burung dari kertas origami, tapi aku bilang gak bisa.” Ia terhenti untuk menengguk secangkir es teh yang ada di sebelah mangkuknya.   “Terus?”   “Katanya, kok kak Aldy bisa, Kakak kenapa gak bisa? Pas aku tanya Aldy siapa, sebelum dia jawab, aku udah ngeliat kamu turun dan langsung sapa kamu.” Aku terdiam sesaat, sebelum akhirnya menghela napas panjang.   “Aldy itu mantan aku. Aku sama dia pacaran udah hampir empat tahun. Tapi putus karena Bella mau nikah.”   “Bella? Bella adik kamu?” Aku mengangguk sambil menyuap bubur yang hampir habis. Andri hanya diam, ia seperti merasa tidak enak karena sudah menanyakan hal itu.   “Gapapa, Ndri. Aku terima kok Bella nikah lebih dulu di banding aku. Ya, awalnya memang sulit, tapi, bahagianya Bella kan bahagianya aku juga. Aku putus karena Aldy gak bisa nurutin kemauan aku buat nikahin aku sebelum benar-benar Bella yang menikah lebih dulu.” Andri hanya tersenyum sambil meraih tanganku, ia menggenggam dan mengusapnya dengan lembut, aku rasa ia cukup mengerti tentang apa yang telah aku alami dan aku ceritakan. Di sela-sela kami menghabiskan bubur dan minuman, aku melihat Aldy dan pacar barunya turun dari mobil menuju antrean. Aku buru-buru menarik Andri dan mengajaknya pergi dari sini.   “Kenapa, Nyn?” Tanyanya bingung.   “Gapapa, balik yuk, aku sakit perut.” Aku melangkah masuk ke arah mobil dua kali lebih cepat dari langkahnya. Ia berusaha memandang sekitar, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai aku menariknya pergi dari tempat itu secara tiba-tiba, dan sepertinya Andri tahu kalau sebenarnya aku tidak sakit perut.   “Gimana? Perut kamu masih sakit? Atau mau cari toilet umum dulu?” Tanyanya saat kami sudah berada di dalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut.   “Gak, Ndri. Gak usah, udah gak begitu sakit kok, mungkin tadi perut aku kaget aja karena sambalnya terlalu banyak.”   “Syukurlah. Kamu sih, kebiasaan makan pedasnya gak pernah berubah dari dulu.”   “Hehe, soalnya tuh, makan apapun kalau gak pedas, jadi kurang enak gitu.” Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.   “Kerumah aku, yuk?” Ajak Andri.   “Ha? Sekarang?” Ia mengangguk. “Mama aku ramah kok, gak gigit, liat aja anaknya.” Lanjutnya sambil senyum meledek. Aku tertawa, “Bukan gitu, aku lagi cuma pakai baju kayak gini, takut gak sopan, kalau mau kita balik kerumah aku dulu buat salin, gimana?”   “Berangkaaaat.” Ia melaju dengan bersemangat. Aku tidak pernah menyangka jika Andri akan membawaku kerumahnya untuk bertemu orang tuanya secepat ini, bahkan kami pun belum punya hubungan apa-apa hingga detik ini. Dikenalkan ke orang tuanya Andri adalah impianku sewaktu dulu, sekarang, aku benar-benar akan merasakannya. Tapi dibalik itu, meskipun sangat senang, aku juga cukup takut untuk menemui keluarganya, takut jika keluarganya tidak bisa merimaku seperti keluarga Aldy yang menerimaku dengan baik. *** Sekiranya memakan waktu sekitar 25 menit dari rumahku, akhirnya kami sampai di rumah Andri. Pakaianku pun telah berganti menjadi blouse tangan panjang berwarna merah maroon dengan kulot berwarna putih, dan membiarkan rambut tergerai seperti biasanya. Andri membukakan pintu mobilnya untukku dan menggandeng tanganku hingga menuju masuk ke dalam rumahnya. Rumah dua tingkat yang cukup luas dengan design yang modern, kurasa rumahnya sedikit lebih luas dari rumahku. Bagian rumah depannya menggunakan cat berwarna putih dengan campuran warna emas yang menambah kesan mewah dari pertama kali menginjakkan kaki disini. Banyak juga di tanami beberapa macam jenis tanaman di sudut-sudut halaman depan, juga terdapat beberapa pohon besar yang membuat suasana menjadi begitu asri. Di sudut kirinya di suguhi kolam ikan yang cukup besar dengan tumpukan batu-batu hiasan kolam yang begitu rapi dan unik. Aku rasa keluarga Andri sangat menyukai tumbuhan dan juga hewan. Tiba-tiba seekor kucing kecil berwarna putih keluar dari pintu rumahnya yang sedikit terbuka, kucing itu berlari kecil menghampiri Andri.   “Mochiiiiii” teriak Andri yang menyambut kedatangannya, ia langsung menggendong dan mengusap-usap peliharaannya itu dengan lembut.   “Ya ampun, lucunyaaa! Ini peliharaan kamu?” Tanyaku sambil merebut Mochi dari gendongannya.   “Sebenarnya ini peliharaannya Mama, dikasih sama sahabatnya, tapi Mochinya malah lebih dekat sama aku.”   “Uh lucunya Mochi satu ini.” Aku selalu ingin sekali memelihara seekor kucing, tapi sayangnya, Papaku tidak suka binatang, apalagi Mama juga punya alergi terhadap bulu kucing, itu sebabnya aku selalu mengurungkan niat untuk memeliharanya.   “Mochi, hey, masuk.” Teriak seorang wanita dari dalam sambil berjalan ke arah luar tempat kami dan mochi berdiri.   “Eh? Ada tamu?” Ucapnya saat melihat Andri membawaku kerumahnya. Seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat awet muda, dengan wajah cantik dan ada t**i lalat di sekitar dagunya. Wanita itu mengenakan dress brukat tangan pendek berwarna putih yang panjang dressnya hingga semata kaki dengan heels yang panjangnya kurang lebih sekitar 10cm, membuatnya terlihat begitu fashionable.   “Iya, Ma. Kenalin ini Arnyn, temen aku waktu sekolah.” Aku tersenyum sambil mencium tangannya.   “Ya, ampun, cantiknya. Kenalin, Jovanka, Mamanya Andri.” Ia membalas senyumku sambil memperkenalkan dirinya, “Ayo-ayo sini sayang, masuk. Duduk dulu, kamu mau minum apa?” Lanjutnya.   “Eh, gak usah tante, gak usah repot-repot.”   “Ih enggak, gak ngerepotin kok. Biiii... buatin minum nih, ada tamu.” Teriaknya ke arah pembantunya yang sedang berada di dapur.   “Tante tuh tadi ngejar si Mochi, dia suka lari keluar, untung ada kalian. Kalau enggak mah, aduuuh, susah dikejarnya si Mochi tuh.” Aku hanya tersenyum ke arahnya sambil masih menggendong Mochi.   “Ndri, kenapa pacar kamu baru dibawa kerumah, sih.” Tanyanya meledek.   “Belum, Ma. Masih calon, doain ya.”   “Jangan mau, Nyn. Andri kalau tidur suka mendengkur, berisiiiik.”   “Kalau ngomongin anak ke orang tuh yang bagus-bagusnya kenapa sih, Ma.” Jawabnya cemberut.   “Haha, gapapa, Tante. Biar gak sunyi-sunyi amat kalau tidur.”   “Haha, bisa aja kamu nih. Eh iya, udah pada makan belum? Yuk makan dulu, makan. Kebetulan masakannya udah pada matang, tuh.”   “Makasih, Tante. Tapi tadi aku sama Andri udah sarapan bubur kok di luar.”   “Ya sudah. Kalau lapar lagi, langsung ke dapur aja, ya? Tante tinggal dulu, soalnya ada acara arisan di rumah tetangga sebelah.”   “Oh, iya Tante, hati-hati.” Tante Jo mengambil tasnya yang ada di sofa lalu beranjak pergi meninggalkan kami.   “Gimana? Mama aku baik kan?” Tanyanya.   “Baik bangeeet, kayak anaknya.” Aku mencubit kedua pipinya dengan gemas.    “Rumah kamu sepi banget, pada kemana?” Aku menatap ke sekeliling ruangan di rumahnya.   “Adik aku setiap weekend pagi gini dia ada jadwal kursus renang, pulang-pulang nanti jam 1 siang.”   “Oh kamu punya adik?”   “Iya, satu, perempuan.”   “Umur berapa?”   “Bulan lalu baru ulang tahun yang ke 5.”   “Ih, masih lucu banget, dong?”   “Haha iya, nanti kalau dia pulang aku kenalin ke kamu ya.” Aku pun mengangguk sambil tersenyum, “Oh iya, Papa kamu kemana?” Lanjutku.   “Papaku udah gak ada sejak beberapa tahun yang lalu, kecelakaan.”   “Ndri, maaf. Aku gak bermaksud.” Ku pegang pipinya dengan kedua tanganku, rasanya sangat bersalah sekali sudah melontarkan pertanyaan seperti itu, di dalam matanya, walaupun ia terlihat sedih, aku telah menemukan sebuah keikhlasan meskipun ditinggal pergi oleh orang yang ia sayangi.   “Hey, gapapa. Kamu kan gak tahu, lagian, aku sama Mama udah ikhlas. Aku juga yakin Papa udah bahagia disana. Meskipun kadang Mama masih suka sedih karena tiba-tiba keingat Papa, mangkannya semenjak Papa gak ada, Mama sering nyibukin diri dengan buat acara arisan sama teman-temannya, nge-gym, dan lain-lain. Aku juga selalu berusaha ngehibur Mama, supaya Mama gak gampang sedih lagi.”   “Mama kamu pasti beruntung banget punya anak kayak kamu.” Andri hanya tersenyum lalu mengusap kepalaku dengan lembut, senyum ikhlasnya tergambar jelas kala itu, meskipun aku yakin, jauh di dalam hatinya ada rindu yang sangat tidak tertahankan untuk Almarhum Papanya. Di umur yang masih cukup muda seperti kami ini rasanya memang masih sangat berat hidup tanpa sosok seorang Ayah, apa lagi Andri adalah anak pertama, ia hanya mempunyai satu adik perempuan yang belum lama baru menginjak umur 5 tahun, dan ia juga harus menjaga mereka seorang diri. Untungnya, Andri terlahir dari keluarga yang berkecukupan, Orang tuanya memiliki dua Perusahaan, yang pertama terletak di luar kota, sementara yang satunya berada di Jakarta. Itu sebabnya kenapa Andri kembali ke Jakarta, karena ia memilih untuk mengurus Perusahaan disini agar lebih dekat dan dapat menjaga Mama dan Adik perempuannya, sementara Perusahaan yang satunya diurus oleh Kakak dari Almarhum Papanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD