Tidak Terduga.

1665 Words
Siang ini, Clarissa, Melia, dan Aldo duduk di bangku panjang depan toko. Mereka menikmati makan siang sederhana, semangkuk bakso panas dan segelas es teh manis. Melia mengaduk baksonya pelan sambil menatap Clarissa. “Sa, bagaimana? Sudah dapat kerjaan tambahan belum?” Clarissa menggeleng sambil menghela napas. “Belum, Mel. Bagaimana, dengan teman kos kamu ada yang lagi cari kerjaan tidak?” Melia mengangkat bahu. “Belum ada, Sa. Yang ada cuma tawaran kemarin… itu lho, jadi sugar baby. Kalau kamu mau, aku bisa bilang ke teman aku.” Clarissa terdiam sejenak, menunduk. “Aku… pikir-pikir dulu, Mel.” Aldo baru saja datang sambil membawa nampan berisi bakso dan es teh. Ia duduk di samping mereka, menatap bingung. “Kalian lagi cari kerjaan tambahan? Buat siapa?” Clarissa tersenyum tipis. “Buat aku, Do. Lagi butuh banget buat biaya kuliah adikku. Kalau tidak dapat, dia mungkin harus nunda tahun depan.” Melia menimpali. “Kamu ada tidak, Do? Teman yang lagi cari karyawan?” Aldo menggeleng sambil menghela napas. “Tidak ada, Mel. Sekarang susah cari kerja.” Clarissa meremas sendoknya pelan. “Iya… susah banget. Padahal aku lagi butuh banget.” Melia menatap Clarissa penuh arti. “Bagaimana, Sa? Kamu terima saja tawaran kemarin. Setidaknya itu bisa bantu kamu.” Clarissa mengangkat kepalanya, menatap Melia serius. “Mel… tadi aku sudah bilang. Aku mau pikir-pikir dulu. Sudah, yuk balik ke toko. Biar gantian teman yang belum istirahat.” Mereka bertiga pun menghabiskan makan siang, lalu membayar makanan dan kembali ke toko. Sementara itu, di kantor Andre. Hari ini berbeda. Mama Andre datang bersama Felicia, membawa bekal makan siang. Felicia sejak pagi sudah merengek ingin makan bersama papanya di kantor. Andre membuka kotak makan dengan senyum tipis. “Masakan Mama memang enak dari dulu.” Mama Andre tertawa kecil. “Ya, iyalah. Kalau tidak enak, mana mau kamu sama Papa kamu makan.” Andre terkekeh. “Hehe… iya, Ma. Terima kasih ma.” Ia menyuapkan makanan ke mulutnya. Selesai makan, Mama Andre merapikan kotak makan. “Ndre, habis ini Mama mau pergi arisan sama teman-teman. Felicia mau ikut Oma, atau mau di kantor sama Papa?” Felicia menatap papanya dengan mata berbinar. “Felicia mau di kantor sama Papa saja.” Mama Andre mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu, Oma pergi dulu ya.” Ia berdiri, melangkah ke arah pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sebentar. “Ndre, jaga cucu Mama baik-baik, ya.” Andre menatap ibunya sambil tersenyum tipis. “Iya, Ma. Felicia anak aku, pasti aku jaga baik-baik.” Mama Andre hanya mengangguk lalu keluar, menutup pintu dengan pelan. Menjelang sore, Clarissa merasa tubuhnya mulai tidak enak. Ia memutuskan pulang lebih awal, setelah izin pada pemilik toko. Sebelum pulang, ia mampir ke toserba untuk membeli kebutuhan rumah. Sayuran, daging, dan beberapa bahan lain. Toserba itu cukup ramai. Clarissa sedang asyik memilih daging di bagian rak pendingin ketika tiba-tiba seseorang menabraknya. “Eh, sayang… tidak apa-apa?” Clarissa segera merunduk, melihat seorang anak perempuan yang jatuh terduduk. Anak itu cepat-cepat berdiri, menggeleng sambil tersenyum manis. “Tidak apa-apa, Tante. Ini salah aku tadi lari-lari.” Clarissa menatapnya khawatir. “Bener, tidak ada yang sakit? Lututnya tidak apa-apa?” Anak itu kembali menggeleng. “Tidak ada kok, Tante.” Clarissa tersenyum lega. “Syukurlah. Kamu di sini sama siapa?” Anak itu menatap sekitar, wajahnya sedikit bingung. “Sama Papa… tapi kayaknya aku terpisah. Aku tadi lari-lari, tidak lihat Papa ke mana.” Clarissa menatapnya iba. “Kalau begitu, bagaimana kalau tante bantu cari Papa kamu?” Wajah anak itu langsung berbinar. “Beneran, Tante? Tante mau bantu Felicia cari Papa?” Clarissa sedikit terkejut. “Oh, jadi nama kamu Felicia?” Felicia mengangguk antusias. “Iya! Ayo, Tante!” Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, terdengar suara seorang pria memanggil. “Felicia!” Mereka berdua menoleh. Seorang pria tampan berwajah tegas datang tergesa-gesa, napasnya sedikit memburu. Felicia langsung berlari ke arahnya. “Papa!” Andre meraih putrinya dan memeluknya erat. “Kamu ke mana saja, sayang? Papa khawatir banget cari kamu.” Felicia menunduk sedikit menyesal. “Maaf, Pa… tadi Felicia lari-lari jadi tidak lihat Papa jalan ke arah mana.” Andre mengusap kepala anaknya lembut. “Lain kali jangan ulangi lagi ya. Papa takut banget kehilangan kamu.” “Iya, Pa. Oh ya, Papa… ini Tante yang menolong Felicia tadi.” Felicia menarik tangan Clarissa pelan. Andre menatap Clarissa. Untuk sesaat, waktu seperti berhenti. Pria itu menatap wanita di depannya dengan sorot mata yang sulit ditebak, dingin, tapi juga ada rasa ingin tahu. “Terima kasih… sudah membantu anak saya,” ucap Andre akhirnya, suaranya dalam dan tenang. Clarissa tersenyum sopan. “Ah, iya, sama-sama. Sebagai manusia, kita harus saling tolong-menolong.” Andre sedikit mengangguk. “Benar…” Clarissa merasa canggung. Ia segera melirik jam di ponselnya. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Senang bertemu denganmu, Felicia.” Felicia melambaikan tangan. “Dadaah, Tante!” Clarissa pun pergi, meninggalkan Andre dan Felicia. Namun entah mengapa, tatapan Andre sempat mengikuti langkahnya hingga menghilang di kerumunan. Pertemuan singkat itu mungkin tak berarti bagi Clarissa… tapi bagi Andre, ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Takdir perlahan sedang merajut benang cerita mereka. Namun, tidak tahu kapan takdir itu akan menyatukan mereka. Malam sudah menunjukkan pukul tujuh. Clarissa akhirnya sampai di rumah, ia turun dari angkutan umum dengan langkah sedikit gontai, membawa beberapa kantong plastik berisi belanjaan kebutuhan rumah. Di dalam rumah, Alianna langsung menyambut kakaknya dengan wajah ceria. “Wah, kakak bawa belanjaan banyak banget!” serunya sambil mendekat. Clarissa tersenyum tipis. “Iya, sekalian belanja banyak, Na. Lagian bahan-bahan di kulkas sudah habis semua.” Alianna mengambil beberapa kantong belanjaan. “Kalau begitu, biar Alianna yang masukin ke kulkas, kak.” “Terima kasih, Na. Ngomong-ngomong, Mama di mana?” tanya Clarissa sambil melepas sepatu dan menata belanjaan di meja. “Mama sudah tidur, kak. Dari tadi sore beliau bilang capek.” Clarissa mengangguk pelan. “Oh, begitu. Kalian sudah makan malam?” Alianna tersenyum. “Sudah, kak. Kalau kakak belum, biar Alianna masakin.” Clarissa menggeleng sambil tersenyum lembut. “Tidak usah, Na. Kakak sudah makan di jalan. Kakak mau langsung ke kamar istirahat.” “Baik, Kak. Selamat malam.” “Selamat malam, Na.” Clarissa lalu berjalan ke kamar, tubuhnya terasa sangat lelah. Di rumah Andre. Felicia dan Andre baru saja tiba di rumah. Di ruang tamu, mama Andre sudah duduk menunggu dengan wajah khawatir. “Mama belum tidur?” tanya Andre sambil menurunkan Felicia dari gendongan. “Mama tunggu kalian. Kalian ke mana saja sampai malam begini baru pulang?” nada suara mama Andre terdengar tegas, tapi penuh kekhawatiran. Andre meletakkan kunci mobil di meja. “Maaf, Ma. Tadi kami mampir ke toserba dulu. Felicia minta beberapa makanan ringan, jadi sekalian beli kebutuhan rumah.” Mama Andre menghela napas. “Biasanya kan kamu tidak mau kalau Mama suruh belanja. Ada apa tiba-tiba mau?” Andre menatap Felicia sebentar, lalu kembali pada ibunya. “Tadi Felicia merengek, ma. Jadi ya sudah, sekalian.” Mama Andre akhirnya mengangguk. “Baiklah. Sekarang bawa Felicia ke kamarnya, pasti dia capek dan mengantuk. Kamu juga harus istirahat, Ndre.” “Iya, Ma.” Andre pun membawa Felicia ke kamarnya di lantai atas. Di kamarnya, Andre sudah selesai memandikan diri. Tubuhnya bersandar di kasur king size yang luas, namun pikirannya tidak bisa tenang. Tatapannya kosong ke arah langit-langit. Ingatannya kembali pada sosok wanita asing yang tadi menolong Felicia di toserba. Wanita itu sederhana, tapi cantik. Senyumnya tulus, caranya berbicara lembut. Ada sesuatu yang berbeda. Wanita itu, entah mengapa terasa seperti sosok yang selama ini ia cari. Andre menghela napas panjang. Lima tahun ia menahan hasrat dan kesepian setelah sang istri pergi meninggalkannya. Selama ini ia hanya fokus pada Felicia dan pekerjaannya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari seorang sugar baby, seseorang yang bisa menemaninya, mengisi kekosongan, bahkan menemaninya dalam urusan bisnis dan acara formal. Tapi, wanita itu? Ia terlihat terlalu baik untuk terlibat dalam dunia seperti itu. Mungkin aku hanya berkhayal, batin Andre. Andre mengacak rambutnya pelan, mencoba menghentikan pikirannya. “Sudahlah besok masih banyak pekerjaan.” Ia memejamkan mata, membiarkan rasa lelah membawanya tertidur. Keesokan paginya, matahari sudah naik, tapi Clarissa masih terbaring di ranjangnya. Saat ia mencoba bangun, kepalanya terasa berputar hebat. Tubuhnya limbung, hingga ia terjatuh ke lantai. Dengan susah payah, ia meraih tepian kasur untuk bangkit kembali. Nafasnya terengah, tubuhnya panas. Ketukan pelan terdengar di pintu. “Clarissa, sayang, ini sudah pagi. Kamu tidak bangun? Nanti telat kerja, loh.” suara Mama Clarissa terdengar lembut namun khawatir. Clarissa mencoba menjawab dengan suara lemah. “Iya, ma. Clarissa sudah bangun. Tapi kepala Clarissa pusing banget.” Ada keheningan sejenak sebelum Mama Clarissa menjawab dengan nada panik. “Kamu sakit, Sa? Kalau begitu Mama masuk ya?” “Iya, Ma. Masuk saja, pintunya tidak dikunci.” Pintu terbuka. Mama Clarissa masuk perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Begitu menyentuh kening putrinya, ia langsung terkejut. “Ya ampun, sayang badan kamu panas banget. Kamu demam. Ini pasti karena kecapean kerja.” Clarissa mencoba tersenyum meski wajahnya pucat. “Maaf, ma. Jadi bikin mama khawatir.” Mama Clarissa menggeleng. “Jangan minta maaf, sayang. Kamu sudah terlalu keras berjuang buat mama dan Alianna. Mama bangga sama kamu.” Clarissa menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca. “Clarissa cuma mau kita tetap bisa hidup baik, ma.” Mama Clarissa mengusap pipi putrinya pelan. “Sekarang yang penting kamu istirahat dulu. Hari ini tidak usah kerja. Mama ambil air buat kompres, habis itu Mama buatkan bubur kesukaan kamu, ya.” Clarissa mengangguk lemah. “Iya, ma. Terima kasih.” Mama Clarissa lalu berdiri dan keluar dari kamar. Clarissa kembali menutup matanya. Dalam keheningan, ia merasa begitu lelah, bukan hanya secara fisik, tapi juga batin. Sementara itu, di rumah Andre, pria itu juga sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Namun di kepalanya, wajah wanita asing yang menolong Felicia semalam masih terbayang jelas. Dia tidak tahu kapan waktu bisa mempertemukan mereka. Namun, didalam lubuk hatinya paling dalam ia berharap bisa bertemu dengan wanita itu lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD