Melanggar Aturan

1036 Words
Ketika jam mata kuliah pertama sudah habis, semua orang membicarakan perihal gambar yang disebarkan Trevor Logdawn di media sosialnya. Ya, itu foto yang ia ambil tadi pagi. Dengan cepat, berita tersebut menyebar dan menimbulkan beragam tanggapan. Rio naik pitam dan nyaris adu mulut dengan Trevor. Namun, Anrietta mencegah. "Percuma kalau berdebat dengannya. Lebih baik, jauhi kami berdua," saran gadis tersebut. "Nggak bisa gitu, An. Gue ga tahan liat lo jadi bahan ejekan temen kampus," tolak lelaki tersebut. "Rio, pikirin masa depan lo kalau mau bantah keluarga Logdawn!" tepis An seraya menatap serius ke arah kawannya. Aturan bicara formalnya gugur. Gadis tersebut mulai menganggap Rio sebagai bagian dari hidupnya. Bukan lagi menjadi calon musuh keluarga Logdawn. "An, sampe kapan lo mau diem? Speak up dong!" balas Rio tidak kalah sengit. "Gue lebih suka kalau rahasia gue aman bersama satu orang," ujarnya pelan. Lelaki di hadapannya pun diam. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, seakan terbius oleh kata-kata gadis berbaju ungu. "Lo percaya sama gue, An?" tanyanya tanpa sengaja. Anrietta mengulum senyum, "Menurut lo?" Rio memalingkan muka supaya gadis tersebut tidak melihat semburat merah di pipinya. Netranya menatap ke arah jendela, menyaksikan mentari yang mengintip dari balik dedaunan. *** Semenjak kejadian tersebut, persahabatan Rio dan Anrietta semakin dekat. Jika dulu An terkesan dingin menanggapi topik pembicaraan yang dibahas Rio Agrestar, kini dia terlihat antusias. Suatu ketika saat istirahat, Trevor mengajaknya ke kantin. Demi menghindari murka Tuan Muda, gadis itu pun mengalah dan berjalan di samping Trevor. "Kita nggak jadi makan bareng, An?" tanya Rio seraya mencekal tangan Anrietta. Gadis berbaju putih tersebut menoleh, "Maaf." Mendengar jawaban yang terlontar dari bibir ranum Anrietta, Rio pun harus rela melihat kawannya pergi berdua dengan Trevor. Sebuah ide gila terlintas di otaknya, yaitu ikut pergi ke kantin. Namun lelaki tersebut memilih menahan diri. Siapa tahu Trevor memiliki hal penting untuk dibicarakan dengan Anrietta. "Mau dilihat berapa kali pun, aku yakin kalian bukan teman biasa," batin Rio seraya menyandarkan tangannya di meja Anrietta. Sementara itu, Trevor berjalan dengan gagah di lorong kampus. Sosok tampannya langsung menjadi pusat perhatian gadis-gadis yang tengah melintas. Mereka yang hendak mendekat pun terpaksa membatalkan niat ketika melihat Anrietta. "Lihat tuh lintah! Nempel terus," cibir seorang mahasiswi dengan bando hitam. Trevor melirik sekilas, membuat gadis tersebut salah tingkah. An sendiri memutar bola matanya saat melihat Tuan Muda tersenyum senang akan makian dari gadis berbando hitam. Ketika sampai di tikungan, An hendak berbelok ke kanan karena itulah jalan menuju kantin. Namun, Trevor buru-buru mencegah. Tangannya menahan lengan kiri Anrietta. "Ikut aku!" perintah Trevor tanpa bisa dibantah. Walaupun heran setengah mati, An tidak berani bertanya. Dia berjalan mengikuti irama langkah Trevor. Tuan Muda yang dikagumi banyak gadis itu berjalan lurus ke depan, membawa pengawalnya menuju taman. "Lo udah lupa aturan dari Papa sama Mama?!" seru lelaki tersebut sembari mendorong Anrietta ke bangku. Gadis berbaju putih menatapnya heran. Aturan manakah yang ia langgar? Kenapa pula Trevor sampai repot-repot menegurnya seperti ini? Jangan-jangan kesalahannya sudah tidak bisa dimaafkan. "Jadi, lo beneran lupa? Amnesia?" teriaknya lagi sembari mencubit pipi An keras-keras. "A-ampun, Tuan. Sa-saya tidak tahu aturan mana yang saya langgar," ujar Anrietta memelas. Saat punggungnya masih sakit karena menghantam kursi, Tuan Muda keluarga Logdawn malah menambah penderitaannya. Trevor melotot, lalu menarik kerah kemeja yang dikenakan pengawalnya. An tidak berani menatap ke atas, makanya lelaki tersebut mencekal rahang gadis bersurai hitam. Setelah tatapan mereka beradu, barulah Trevor angkat suara. "Jangan mempercayai siapa pun selain orang di kediaman Logdawn! Kau melupakan aturan sepenting itu, hah?!" marahnya. Anrietta pun paham ke mana arah pembicaraan Trevor. Tuan Muda pasti menentang persahabatannya dengan Rio. Padahal ia tahu pasti kalau Rio bukanlah mata-mata musuh yang sengaja dikirim untuk menyusup di keluarga Logdawn. "Saya tidak lupa, Tuan. Hanya saja, saya yakin Rio bukan musuh kita," jawab An penuh keyakinan. "Terserahlah!" murka lelaki berbaju hitam. Tangannya kembali ia gunakan untuk membenturkan punggung An di sandaran kursi taman. Pengawal cantik itu pun menghirup napas sebanyak-banyaknya. Beradu tatap dengan Tuan Muda ternyata membuat An lupa cara bernapas. Bisa-bisa ia mati konyol gara-gara terlalu lama menatap Trevor. "Rapikan pakaianmu! Kita ke kantin lima menit lagi!" perintah lelaki tersebut seraya meraih ponsel yang ada di saku celana. Anrietta hanya bisa melakukan apa yang diminta Trevor. Samar-samar, ia mendengar percakapan antara Tuan Muda dengan Hernandez. Dari gelagatnya, An menebak bahwa ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. "Bukannya siap-siap malah melamun!" semprot Trevor ketika mendapati An yang bengong. Meskipun kesal, tangan Tuan Muda menyembunyikan sisa kekacauan yang tadi dibuatnya. Darah Anrietta tersirap, rasanya seperti tersengat listrik. Dia tidak bisa mengontrol detak jantung yang kian meningkat. Tubuhnya bereaksi akibat jarak yang makin terkikis. Begitu selesai, Tuan Muda Trevor menariknya kasar. An tidak bisa berkelit. Sepatu selopnya nyaris tertinggal akibat langkah yang terlalu cepat. Bahkan, bisa dibilang setengah berlari. Sesampainya di kantin, seorang mahasiswi melambaikan tangan pada Trevor sembari tersenyum ceria. Anrietta merasa tidak asing pada gadis bersurai pirang yang duduk di kursi. Senyum ceria gadis tersebut pudar melihat Trevor yang menggandeng Anrietta. Bibirnya dimajukan dan raut wajahnya kesal. Tuan Muda terlihat tidak peduli, masih setia menggenggam tangan kiri pengawalnya. Sesaat kemudian, Anrietta mengingat tentang gadis tersebut. Namanya Alice, gadis yang mengejar Trevor semenjak SMA. Sayang cintanya bertepuk sebelah tangan. "Bentar. Aku dijadiin tameng gitu? Keterlaluan!" gerutu Anrietta dalam hati seraya menatap tajam ke arah lelaki berbaju hitam. "Aku tahu kalau aku tampan. Kau bisa menatapku puas-puas nanti malam," goda Trevor ketika keduanya mendekati Alice. Pipi Anrietta dan Alice pun memerah dengan sendirinya. Bedanya, pipi An blushing karena malu dan Alice menyimpan dendam. Dia iri dengan kedekatan Anrietta pada lelaki yang dia kagumi sejak SMA. Padahal Alice sudah berubah dari gadis super cuek berjuluk Ice Queen menjadi pengekor Trevor. Anrietta memukul pelan lengan Tuan Muda. Ia melakukannya sebagai bagian dari misi menjauhkan Alice dari Trevor Logdawn. Trevor tertawa renyah melihat reaksi gadis tersebut. Ternyata An bisa diandalkan dalam situasi semacam ini. Dia terkesan dan berniat mentraktir kue black forest sebagai hadiah. Alice sendiri menatap sengit ke arah mereka, lalu pergi dari kantin universitas. Tujuannya ialah menemui Genevieve, mahasiswi jurusan perhotelan yang punya koneksi dengan pembunuh bayaran. Skenario melenyapkan Anrietta sudah terancang rapi di otaknya. Ia berpikiran bila gadis itu lenyap, maka kesempatan untuk mendapatkan Trevor semakin terbuka lebar. "Selamat datang ke neraka, sayang," bisik Alice yang berjalan di bawah pepohonan rindang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD