Ketepatan Waktu

1023 Words
Akhirnya seseorang menabrak tubuh An dari belakang, menyelamatkan gadis tersebut dari kecelakaan maut yang hampir terjadi. Dahi Anrietta sempat membentur aspal sehingga pandangannya tidak jelas dan kepalanya pusing. Warga di sekitar pun lega sekaligus kesal dengan gadis yang menyebrang sembarangan. Pengendara sepeda motor ikut berhenti, ingin memastikan keadaan An yang sudah ditepikan ke trotoar. "Trev—" "Lo gapapa?" potong Rio sebelum kata-kata Anrietta selesai diucapkan. Gadis itu pun terkesiap. Lelaki yang menolongnya bukanlah Trevor, tapi Rio Agrestar. Lantas, sosok siapakah yang sempat ia lihat barusan? Mungkinkah itu hanya ilusi? "I-iya. Terima kasih," balas gadis tersebut sembari memijit keningnya. Anrietta mencuri pandang ke arah halte. Mencari di manapun, netranya tidak menemukan keberadaan lelaki tersebut. Seolah menghilang ditelan bumi. Terdengar omelan beberapa warga, An hanya menanggapi dengan permintaan maaf. Bersitegang dengan masyarakat bukanlah pilihan yang tepat saat ini. Tiba-tiba, Anrietta teringat dengan makanan yang dibeli. Ia buru-buru mengecek belanjaannya. Betapa leganya Anrietta mendapati kondisinya masih bagus. "Lo lebih peduli tentang makanan daripada nyawa lo sendiri? Keterlaluan lo, An!" omel Rio. "Bukan gitu. Ah, susah buat dijelasin," balas perempuan tersebut sembari menggelengkan kepalanya. "Iyalah, makanannya penting soalnya buat Trevor. Iya apa iya?" goda mahasiswa tersebut sembari menaikkan sebelah alisnya. "Ish, lo tau aja. Gue bisa mati kalau makanannya enggak berbentuk," kelakarnya sembari tertawa. Rio ikut tergelak dan menawarkan tumpangan pada Anrietta. Demi menghemat pengeluaran, gadis itu pun menerimanya. Rio segera mengambil motor yang terparkir di depan toko bunga. Tanpa banyak komentar, keduanya menikmati pemandangan kota di pagi hari. Tidak terlalu sibuk memang, tapi cukup untuk memberi polusi udara bagi Kota Scenara. "Ikut masuk nggak?" tawar Anrietta begitu turun di depan gerbang kediaman Logdawn. Sebenarnya Rio tidak ingin menemui pria sombong itu, tapi pendiriannya berubah ketika melihat mobil yang terparkir di dekat pohon cemara. Keduanya pun melangkahkan kaki di bangunan minim penjaga. Gedungnya bagus dan terawat, hanya saja sepinya minta ampun. Tempat ini hanya digunakan saat anggota keluarga Logdawn atau pengawalnya harus menjalani perawatan. Tujuannya tak lain ialah menjauhkan diri dari wartawan yang kerap mengusik ketenangan mereka. Saat mencapai ruangan favorit Trevor, Anrietta diam mematung. Dari kaca jendela terpasang di tembok, ia bisa melihat pemandangan menyakitkan tersebut. Rio penasaran dan ikut melongok, dilihatnya Alice tengah menyuapkan hamburger pada Trevor. Hal ini tentu melukai hati Anrietta. Dia nyaris mengalami kecelakaan, dan sekarang Tuan Muda sudah makan. "Lo laper nggak?" tanya An getir. Lelaki itu tergagap, tak siap menjawab pertanyaan yang dilontarkan Anrietta. Akibatnya, dia hanya menoleh tanpa mengucap sepatah kata pun. "Laper ga laper, bantuin gue habisin makanan ini. Oke?" paksa gadis tersebut sembari menuruni tangga menuju taman di samping gedung. Mau tak mau, Rio mengekor. Ia merasa kasihan pada rekan satu fakultasnya tersebut. Setidaknya, An berhak mendapatkan kebahagiaan, layaknya manusia lain di bumi ini. "Gue berharap An dapetin kebahagiaan sementara gue nggak pernah bahagia sama sekali? Lucu, ha ha," batin Rio dalam perjalanannya menuju bangku taman. Di sana, dirinya dimanjakan oleh semerbak bunga yang harum mewangi. Air yang mengalir dari kran juga sangat menyegarkan. Alih-alih membersihkan tangan, Rio malah menyapukannya ke wajah. Anrietta cuma bisa menggeleng, membagi rata frittata dan steak sapi. "Kebanyakan, An," tolak Rio berbasa-basi. Padahal dia lapar. Lelaki itu biasa makan di luar. Malas menemui tiga celurut mengesalkan. (celurut = tikus kecil) "Biar adil, ih," balasnya. "Adil itu nggak selalu sama rata. Sesuai kebutuhan masing-masing," kilah lelaki tersebut. "Berisik, lo!" sahut An seraya menyuapkan secuil daging ke mulut Rio. Lelaki berbaju coklat itu pun diam membeku. Ia hanya bisa mengunyah makanan yang diberikan Anrietta padanya. Rio pun tidak berani berharap lebih kalau gadis tersebut akan mengusapkan ibu jarinya di atas bibir untuk mengelap noda steak. Walau canggung, akhirnya keduanya menuntaskan acara makan dadakan. Suasananya tidak seperti waktu istirahat di kampus yang ramai. Kalau begini situasinya, Rio merasa sedang makan bersama kekasih atau adik perempuan. "Makasih, An. Gue malah ngrepotin lo," sesal pria tersebut ketika membasuh kedua tangan. "Kalau ga ada lo, kayanya gue udah sampai di kuburan," balas gadis tersebut seraya membereskan meja taman. Rio tersenyum kecut. Dia ingat kalau tadi berniat membeli bunga tabur, tapi perhatiannya teralihkan ketika mendengar seruan warga. Apalagi saat mengenali bahwa Anrietta-lah yang ada di jalan. Lelaki tersebut tidak ingin menyesal untuk yang kedua kali. Dulu sekali, ia gagal menyelamatkan nyawa adik terkasihnya. Rasa pedih itu masih ia bawa hingga saat ini. Mungkin, Rio masih terpaku pada masa lalu. Namun tak ada salahnya bila keterpakuan tersebut dapat mendorongnya melakukan hal-hal baik. "Oi, ngelamunin apa?" tegur An saat melihat Rio bengong dan tangannya diam, tidak melakukan gerakan membasuh. "Eh, gapapa. Bukan apa-apa," jawab Rio yang terkejut seraya menutup aliran airnya. "Gue kira kenapa. Ati-ati kesambet," goda perempuan tersebut sembari menggelitik rekannya itu. "Ish, geli. Udah, woy!" seru Rio sembari berlari menjauh. Anrietta hanya tertawa lepas, membiarkan lelaki tersebut berteduh di bawah pohon myrtle. Angin nakal kebetulan lewat, mendaratkan beberapa kelopak myrtle di atas kepala Rio. Gadis itu tambah terpingkal, terlebih sahabatnya tidak tahu menahu mengenai kelopak bunga yang terselip di rambut coklatnya. "Pangeran, kalau lo dandan gitu, putrinya bisa kalah cantik sama lo," canda Anrietta. "Pangeran? Maksudnya gue?" tanya Rio tidak percaya. "Iyalah, siapa lagi kalau bukan lo?" jawab Anrietta sembari menepuk jidat. Memangnya ada orang lain selain mereka di sini? Tidak ada, 'kan? Rio hanya tersenyum mendengar penuturan sahabatnya. Dia ingin memeluk dan memutarnya seperti adegan film romantis, tapi ia sadar bahwa jarak mereka terlalu jauh. "Suatu hari, kuharap kau menemukan kasih sayangku padamu," doanya dalam hati. Bagi Rio, menjaga Anrietta tetap tersenyum adalah sesuatu yang membahagiakan. Muka gadis itu selalu dibuat masam oleh Trevor. Sampai-sampai Rio tidak tahan. "Kau perempuan yang kuat dan tegar. Aku bertanya-tanya, apakah nantinya keturunanku bisa menjadi sepertimu? Ah, perjalananku masih panjang untuk menjadi seorang ayah. Sabar dan sadarlah, Rio," batinnya lagi sambil menyandarkan tubuh atletisnya di batang pohon myrtle. Anrietta berhenti tertawa, ganti menatap Rio yang memejamkan mata. Bulu matanya lentik, membuatnya semakin terlihat cantik. Kelopak myrtle yang jatuh mendramatisir suasana. "Sudah kuduga kalau kau cocok menjadi aktor," batin Anrietta dengan wajah yang tersipu malu. Kelopak demi kelopak myrtle berguguran, menapaki tanah berumput dan berlumut. Menyiratkan pesan bahwa makhluk hidup sesempurna apa pun akan kembali kepada-Nya. Entah kapan waktunya, kita tidak bisa menebak. Seperti datangnya angin sepoi-sepoi yang menggoyangkan kelopak bunga myrtle.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD