D&W 09

1676 Words
Sean sudah tidak sabar menunggu kedatangan matenya. Dia terus berjalan mondar-mandir hingga membuat Betanya pusing sendiri. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh matenya disana hingga tidak menunjukkan diri. “Alpha bersabar lah sebentar. Ini baru tiga puluh menit sejak pelatih Chiron masuk dan memanggil mate anda” Kai yang sudah meihat kelakuan Sean mulai angkat bicara “Baru? Tiga puluh menit itu lama Kai” Kai hanya merotasikan matanya Sekitar satu jam mereka menunggu terlihat matenya datang Bersama Chiron dan satu wanita yang matenya peluk dengan erat bahkan matenya menyembunyikan wajahnya di d**a wanita itu. Sean menyerngit ada apa dengan matenya. Saat mereka bertiga datang tepat dihadapannya wanita yang dipeluk matenya mencoba melepaskan matenya dari pelukannya. Saat matenya berdiri tegak dihadapannya terlihat wajah matenya yang sembab seperti habis menangis. Sean menggeram marah. Bulu kuduk Kai seketika berdiri mendengar geraman di sebelahnya. Chiron yang mendengar geraman Sean pun menoleh. “Dia menangis karena tidak ingin pergi dari sini. Bukan karena ada yang menyakitinya. Hentikan geraman mu itu Alpha” jelas Chiron malas Sean yang mendengar penjelasan Chiron pun mulai tenang. Sean segera menarik matenya masuk kedalam pelukannya seketika emosi nya maupun emosi Allard yang melihat mata sembab matenya meredah seketika. Kai yang melihat emosi Alphanya redah pun bernafas lega. Alphanya memiliki emosi yang tinggi sangat susah meredakan emosinya apalagi sisi wolfnya. Sedangkan Fiona yang berada di dalam pelukan Sean merasa nyaman. Sean tidak peduli dengan sekitarnya. Sean semakin memeluk matenya dengan posesif. Chiron, Reese dan Kai yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya maklum. “Aku harap kau menjaga Fiona dengan baik Alpha. Seberapa kuat dirinya Fiona tetaplah seorang perempuan” Sean yang mendengar ucapan Chiron hanya mendengus. Tentu saja dia akan menjaga matenya dengan baik. Bagaimana dia bisa menyakiti mate yang sudah dia tunggu-tunggu setelah sekian lama. Sean mengeratkan pelukannya, “Kau tenang saja pelatih Chiron aku akan menjaganya dengan baik” Wanita yang tadi memeluk matenya maju kedepan. “Aku Reese Alpha. Aku akan ikut Fiona ke pack anda. Ada satu lagi yang akan menyusul nanti” Alis Sean terangkat, “Kenapa aku harus menerima kalian untuk ikut denganku ke pack?” “Kami adalah pelindung putri Poseidon. Kemanapun mereka pergi kami akan ikut. Seharusnya salah satu dari kami mengawal Felycia tapi karena gadis itu ingin kami berdua untuk melindungi Fiona jadi kami akan ikut kemana Fiona pergi” jelas Reese “Jika aku tidak mau apa yang akan kalian lakukan?” tanya Sean menantang “Dengan terpaksa anda tidak bisa membawa Fiona pergi Alpha. Karena ini perintah langsung dari Dewa Poseidon” ucap Reese dengan suara tegasnya “Baiklah kau dan satu temanmu boleh ikut. Dia akan tiba pukul berapa di pack? Agar warrior ku memperbolehkannya masuk dan siapa namanya?” tanya Sean “Olyvia, nanti malam” Setelah mengatakan hal itu Sean memerintahkan mereka untuk segera melakukan perjalanan ke pack. *** Fiona menjadi sorotan setibanya dia di Silvermoon pack. Kecantikan dan keunikan warna rambut serta matanya membuat warga pack terkagum-kagum. Banyak mata pria yang melihat kearah Fiona dengan mata memuja dan ingin memiliki hingga membuat Sean menggeram marah. Dia tidak rela matenya dilihat seperti itu. Tanpa Sean sadari, dia mengeluarkan aura Alphanya yang membuat mereka semua menduduk takut. “Alpha” tegur Kai Sean menoleh kearah Kai. “Ada apa Kai?” “Alpha anda tidak perlu mengeluarkan aura Alpha anda disini” Kai berbicara dengan berbisik “Apa maksudmu Kai? Aku tidak mengeluarkannya” elak Sean yang masih tidak sadar Kai memberi tanda pada Sean untuk melihat sekitarnya. Sean yang mengerti tanda dari Kai lalu menoleh melihat para anggota packnya yang menundukkan kepalanya takut. Setelah sadar Sean menghembuskan nafasnya perlahan mencoba untuk menetralkan emosinya. Setibanya mereka di depan mansion Fiona yang berada di belakang Sean semakin merapatkan dirinya di belakang tubuh Sean. Sean yang melihat apa yang dilakukan oleh matenya menyerngit bingung. Seingatnya matenya tidak kenal takut kenapa tiba-tiba matenya menjadi seperti ini. “Ada apa Fiona?” tanya Sean sambil membalikkan badannya kearah Fiona “Aku malu Sean” Fiona memang gadis kuat dan dingin, tapi itu semua tamengnya untuk menutupi malunya. Dia adalah gadis pemalu. Sean menyerngit bingung, “apa yang membuatmu malu, sayang?” Sean mulai memberanikan diri untuk memanggil sayang matenya. Agar matenya juga terbiasa akan kehadiran dirinya dan tidak ada rasa canggung diantara keduanya. “Tempat ini benar-benar asing untukku Sean” Fiona menundukkan kepalanya sambal memilin kemeja bagian depan Sean sebagai pelampiasan. Sean yang melihat tingkah menggemaskan matenya mencoba menahan agar tidak mencium matenya di depan orang banyak dan semakin membuat matenya bertambah malu. Sifat matenya yang tidak kenal takut, berani dan selalu menatap dengan tatapan dingin dan menusuk seakan hilang begitu saja digantikan dengan sifat pemalu dan menggemaskan. Sean kemudian menggandeng tangan matenya menaiki tangga karena sedari tadi mereka masih berada di depan pintu mansion. Saat sudah berada di anak tangga terakhir Sean membalikkan badannya begitu Fiona yang tangannya masih di genggam erat oleh Sean. Sean merasa kegugupan yang dirasakan matenya dari genggaman tangan mereka. Setelah menoleh kearah matenya Sean kemudian berkata, “Dengar kalian semua. Perlakukan gadis di sampingku ini dengan baik. Dia adalah calon luna kalian. Kalian mengerti?” Omega beserta warrior yang ada di mansion Sean menundukkan kepala mereka tanda mengerti dan mematuhi perintah alpha nya. Dari arah taman belakang terdengar langkah kaki yang menggema sehingga membuat semua orang yang berada di sana menolehkan kepalanya. Terlihat perempuan paruh baya yang masih cantik diusianya dengan menggunakan long dress sederhana berwarna pink soft dengan motif polkadot dan pita dibagian kiri dipadukan dengan heels 7cm berwarna kuning pucat. Sean yang melihat ibunya datang menarik Fiona untuk turun mengikuti langkahnya mendatangi ibunya. Saat mereka sudah beradapan, ibu Sean-Lily tersenyum dengan hangat kearah Sean. Setelah itu Lily melihat kearah gadis yang tangannya di genggam erat oleh putranya. Dengan senyum hangat dan menenangkannya Lily membawa Fiona kedalam pelukannya. “Selamat datang di Silvermoon pack, nak. Panggil aku mommy seperti Sean memanggilku. Beritahu aku siapa namamu sayang?” tanya Lily “Namaku Fiona mo-mom” saat akan menyebut mom Fiona sedikit tebata karena masih merasa canggung dengan ibu Sean. “Tidak perlu canggung seperti itu. Disini sekarang menjadi rumahmu. Ah... maafkan daddy Sean yang belum bisa menyambut kedatanganmu karena masih ada pekerjaan di luar pack” “Tidak apa mom, aku mengerti” Lily melihat kearah belakang Sean dan Fiona. Lily merasa tidak asing dengan perempuan berpakaian tomboy di belakangnya. Reese menoleh kearah Lily saat merasa Lily terus menatapnya. Lily berjalan kearah Reese. “Aku seperti pernah melihatmu, tapi dimana?” Lily mencoba menggali ingatannya yang samar “Empat tahun yang lalu. Kau berlari karena di kejar rogue dengan luka disekujur tubuhmu” jawab Reese “Ah aku ingat sekarang, tapi kenapa saat selesai menolongku kau dan teman mu langsung pergi begitu saja?” “Tugas saya adalah menjaga Fiona dan Felycia. Saat kejadian itu kami tidak sengaja melewati jalan yang sama denganmu. Itu saja” jawab Reese “Kau disini sekarang untuk menjaganya?” dijawab anggukan oleh Reese “Persiapkan kamar Reese dan pastikan kamarnya tidak terlalu jauh dari kamarku” perintah Sean “Baik Alpha” Setelah memberi perintah Sean kembali menarik tangan matenya untuk naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. Saat sampai di kamar Sean, Fiona meliihat sekeliling kamar Sean yang sangat maskulin bahkan Fiona bisa menghirup wangi aroma sandalwood dan musk tercium dikamar ini. “Jangan bilang jika kita akan satu kamar bahkan satu ranjang?” Fiona menoleh kearah Sean dengan curiga yang dibalas seringaian Sean “Aku tidak mau. Aku mau kamar sendiri” tolak Fiona “Tidak bisa sayang. Kita akan tetap satu kamar apapun yang terjadi” Sean berjalan kearah Fiona kemudian menarik Fiona untuk mendekat kearahnya. Sean kemudian merengkuh Fiona dari belakang dan menaruh kepalanya di sekitar ceruk leher Fiona. Tubuh Fiona yang terkejut menegang karena gerakan Sean yang mendadak. “Aku hanya memelukmu, sayang. Kenapa harus setegang ini” Sean mengusap lengan Fiona agar Fiona tidak tegang “Kau memelukku secara tiba-tiba dan aku ingatkan aku masih belum yakin denganmu” peringat Fiona Sean berdecak. Matenya masih saja tidak percaya dengannya. Ini sungguh tidak adil untuk sean maupun wolfnya karena hanya mereka yang merasakan ikatan mate ini. “Bagaimana aku harus membuktikannya, sayang? Bahkan Raja Gio saja percaya padaku bahkan pada Richard untuk menjaga kalian sebagai mate kami” ujar Sean frustasi “Apa maksudmu dengan Raja Gio percaya padamu? Bagaimana kau tentang Richard?” Fiona mengerutkan dahinya Rasa penasaran Fiona membuatnya lupa jika saat ini dia masih berada di pelukan Sean. “Raja Gio sudah tahu kalau kau adalah mateku begitu pula Richard yang ternyata mate dari kembaranmu. Bagaimana aku mengenal Richard? Tentu saja aku mengenal Richard, dia adalah temanku dari kecil sayang” jelas Sean. Kepala Sean semakin masuk kedalam ceruk leher Fiona dan mulai mengendus bau Fiona yang selalu membuatnya hilang akal. Kenapa Raja Gio tidak mengatakan padaku atau Cia saat itu? Apa alasan Raja Gio menyembunyikan fakta ini batin Fiona Fiona yang sadar jika dirinya dari tadi berada di pelukan Sean mulai mencoba melepaskan diri dari pelukan Sean. “Lepas Sean. Mau sampai kapan kau memelukku?” Sean yang sudah merasa nyaman memeluk Fiona pun menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Fiona mendengus, gadis itu segera menyikut perut Sean hingga membuat Sean melepaskan pelukannya. “Sudah aku bilang lepaskan pelukanmu tapi kau malah tidak mendengarku. Jadi, jangan salahkan aku” Sean yang mendengar ucapan Fiona mendengus kesal. Kenapa matenya susah sekali diajak romantis. “Jadi, dimana kamarku?” “Kamarmu disini, baby. Bersamaku” “Sudah aku bilang aku tidak mau. Dan berhenti memanggilku baby. Aku bukan bayi” Fiona menghentakkan kakinya kesal “Kau tidak bisa menolak. Clan Werewolf memiliki peraturan sayang. Dimana jika mereka menemukan pasangan, mereka akan tinggal di dalam satu kamar. Lagi pula aku tidak mau berjauhan denganmu jadi kau harus tetap tidur disini” “Aku tidak mau Sean. Kita belum menikah bagaimana kita bisa tidur di satu kamar apa lagi satu tempat tidur” “Kita tidak membutuhkan pernikahan sayang. Bagi kaum Immortal pernikahan hanya formalitas” “Aku tetap tidak mau” kekeh Fiona *** To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD