GREEN SLU*TH

1016 Words
Letnan Purba Andianda alias Brandy berdiri di depan pintu. Dia menghalangi cahaya terang yang masuk dari luar ruangan. Tubuhnya tinggi dan tegap. Matanya suram, rautnya kaku. "Sedang apa kau ?" suaranya rendah dan serak Aku sedang menangis, bodoh ! Apa dia tidak mendengar isakanku ? "Amer" "Bos" Amer rupanya ada di balik pintu, memberikan sebuah kotak perhiasan bludru berwarna biru. Dengan sangat hati-hati pada Brandy Brandy membuka kotak itu dan mengangguk. Dia mendekatiku. Itu memang kotak perhiasan. Tapi bagaimana kalau berisi racun, atau apa saja yang bisa membuatku mati ? Aku menggeser tubuhku menjauh. Takut dia akan menyakitiku, dia bukan Adam, dia pembunuh, dia menembak Hannah, dan dia bisa juga melakukan itu pada ku di sini. Aku mungkin akan mati. Tidak. Aku sudah pasti akan mati, aku hanya perlu menghitung waktu. Mendapati aku yang ketakutan, dia keliatan syock. Dia diam sebentar. Matanya tak berpindah dariku. Seolah Adam pada dirinya sedang bertanya dengan nada yang lembut "Ada apa ? Ada yang sakit ?" "Amer" Amer masuk ke dalam ruangan "Bisa kau bujuk dia menggunakan ini. Dan minta dia melepaskan baju busuk itu" Brandypun pergi tanpa banyak berkata-kata lagi. Tanpa menoleh sekali lagi untuk melihatku. "Aku tidak suka pakai gaun ketat dan minim seperti ini" isakku berusaha menutupi pahaku yang terekspose Amer duduk berjongkok di sebelahku. Dia menghela nafas dalam "Seandainya Martini di sini. Demi Tuhan aku tidak bisa menghadapi perempuan menangis" dia sedang bicara pada diri sendiri. "Hei dengar.." dia membuka kotak perhiasan di tangannya Wah, Terdapat susunan berlian berwana hijau melekuk membentuk ular. Di antara berlain hijau itu hanya mata ular itulah yang menyala berwarna merah. Aku tidak pernah melihat perhiasan seindah dan semegah ini. Aku yang tidak tahu apa-apa masalah perhiasan dibuat terbelalak sejenak. "Perhiasan ini bernama the green sluth. Harganya sama dengan lukisan Van Gogh. Kolektor perhiasan memperebutkan benda ini. Karena pernah digunkana mendiang putri kerajaan inggris" "Ular ?" Dia membuka kaitan benda itu dan barulah aku tahu bahwa benda itu adalah sebuah kalung, yang dibuat melilit seperti ular. "Kau mau aku pakaikan atau bisa menggunkannya sendiri ?" Jujur, aku ingin memakainya sendiri tapi dikarenakan aku takut sekali benada berharga ini akan hancur ditanganku. Maka ku tarik rambut merahku ke belakang "Lepas dulu jaketmu" Aku menggeleng "Baju ini terlalu terbuka" kataku terbata menahan isakan tangisku "Ikuti apapun keinginannya princess. Seperti itulah semua berjalan di geng ini" Dia memberikan aku dua giwang berwarna seperti mata ular. berbentuk melingkar, berkilau di penerangan yang seadanya itu. Dia menungguku Kenapa dia memanggilku princess ? sudahlah, mungkin itu cara mereka memanggil orang asing, yang tidak termasuk geng mereka. Ragu-ragu aku membuka hoody yang menutupi gaun itu. Mata peria bernama samaran Amer itu melebar ketika melihat tubuhku. Aku memperbaiki posisi dudukku, mengecilkan kemungkinan kulit pahaku terekspose, apalagi paha bagian dalamku. Miskin-miskin begini aku tidak punya cacat atau koreng sedikitpun di kulitku. Entah, mungkin karena air di rusun cukup bersih. Aku angkat rambutku yang telah di warnai Martini. Mempersilkan Amer memasang kalung itu di leherku. Dia menjongkok, mendekat, wajahnya berada di sisi pipiku. Aku memejamkan mata merasakan nafasnya yang hangat. Lalu setelah ku rasa dia selesai. Aku membuka mata. Dia tersenyum miring, antara meremehkanku atau ingin menarik perhatianku "Giwang bisa pakai sendiri kan ?" Aku mengangguk menerima dua giwang diamond berwarna merah. Semerah mata si ular, lebih menyala daripada rambutku. "Sekarang aku tahu kenapa bos memacarimu" bisiknya pelan, matanya mengarah ke payudaraku yang mencuat di antara leher baju yang berbentuk U. Gaun terkutuk ! "Aku bukan p*****r" Dia tersenyum "Brandy tidak pernah tidur dengan p*****r, princess" Nafasku tersengal "Dan kenapa kau panggil aku princess ?" entah dari mana kutemukan kembali keberanianku. Dia bangkit dan tersenyum "Karena kau milik nya" dia mengulurkan tangan bermaksud membantuku untuk berdiri Aku tidak menjama tangannya. Aku masih bisa bangkit berdiri dengan seimbang. "Oke, kita pergi sekarang" "Kemana ?" "Pekerjaan kami tidak pernah diam di satu tempat. Kami selalu berpindah" Jawaban yang sangat jelas ! *** Kami berjalan di bandara, melenggang seperti manusia pada umumnya. Aku di apit oleh dua orang bersenjata. Meski mereka terlihat seperti peria berjas pada umumnya. Tapi di balik jas mereka terdapat pistol Jalan mereka cepat tapi awas, mereka Brandy dan Amer. Aku bingung kenapa mereka harus berpisah pesawat ? Dan bolehkan ada senjata api di Bandara ? Lalu detik itu aku melihat seorang bos besar mendekati mereka. Miskin miskin begini aku tahu laki-laki itu. Dia sering muncul di tv. Dia pemilik salah satu bisnis penerbangan. Namanya Tuan Ryan. "Tuan" dia menunduk terlihat hormat pada Brandy. Disinilah kebingunganku selanjutnya, peria berduit itu terlihat tunduk pada Brandy. Dia memang bukan sembarangan penjahat. Dia mafia ! Laki-laki dingin itu hanya menyalaminya tak acuh "Kau sudah siapkan ?" "Iya semua tuan" "Jalanku bersih ?" tanyanya dengan nada datar yang sama "Sempurna tuan. Anda masuk lewat pintu darurat. Langsung menggunakan jet pribadi kami" Datang setelahnya seorang pilot "Nah ini dia Luis yang akan menjadi pilot anda" "Luis" Brandi menjabat tangannya, dia menyikap sedikit jasnya, Luis melihat benda yang tersabuk di balik jas itu. Hidungnya sedikit mengernyit, jelas si pilot menahan ngeri. "Kapan bisa berangkat ?" "Semestinya sekarang" Brandy mengangguk. Ketika sekali lagi menjabat tangan Tuan Ryan, dia mendekatkan bibir ke telinga peria di awal 40-an itu. Sementara Amer meneling melihat sang pilot sambil menyentuh senjata di balik jasnya. Bisikan Brandy membuat sang pengusaha penerbangan semakin pucat. Brandy tersenyum, culas. Dia menang, aku tahu. "Silahkan" kata Tuan Arsa mempersilahkan kami. Ujung matanya mengekor melihatku. Aku tersenyum tipis. Tanpa ku duga Brandy menarikku ke sisinya dan memeluk pinggangku. Aku sedikit harus menyusaikan jalannya karena jalanku jadi tidak bisa leluasa dengan hight hills dan dress haram yang ku kenakan. "Lepaskan" kataku Memang aku siapa ? dia tidak mendengarkan, malah tangannya berjalan ke bokongku dan meremasnya pelan. "Shut the f**k up !" Pilot Luis melihat kami dengan senyum manis yang dipaksakan, ujung matanya mengarah ke payudaraku. Pelan-pelan aku mulai mengerti peranku di sini. Aku di p*****r di geng ini. Ku hela nafas sesak. Getir. Mimpi apa aku tiba-tiba jadi pela*cur ? Kami diarahkan langsung ke pesawat. Mata Brandy awas ke sana kemari. Lalu sesekali terhenti padaku. Setiap tatapan kami bertemu. Aku memalingkan wajah. Aku merindukan Adam. Bukan laki-laki ini ! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD