Save Me 1

3119 Words
Di suatu tempat di pinggiran Seoul, seorang pria berusia pertengahan 20 yang bernama Jeon Jong Gu, terlihat sedang asyik memakan cup ramennya. Jong Gu Sudah 6 tahun berada di Seoul, tetapi dirinya belum mendapatkan pekerjaan yang layak. Selama 6 tahun, Jong Gu hanya bekerja paruh waktu, dan juga dia menjadi salah satu tukang bangunan setiap ada proyek yang membutuhkan tenaganya. Fisik Jong Gu sebenarnya tidak begitu buruk, Dia mempunyai badan yang atletis, wajah yang simetris dan tatapan mata yang sangat tajam. Dia begitu pas untuk dijadikan model majalah. Tapi sayang sekali sifat Jong Gu yang kaku dan asal berbicara itu membuatnya sulit untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan hanya untuk mencari teman itupun sulit untuknya. Pagi ini seperti biasanya, Jong Gu berangkat untuk bekerja. Kali ini dia bekerja di daerah Hongdae. Sebelum berangkat seperti biasanya dia akan mampir untuk membeli sarapan di toserba. Setelah selesai dengan sarapannya, Jong Gu kembali berjalan untuk pergi ke tempatnya bekerja. Saat di perjalanan menuju tempatnya bekerja Jong Gu tidak sengaja melihat seekor rubah berwarna merah muda. Jong Gu berhenti dan memperhatikan rubah itu, dan mencoba untuk mendekatinya. “Wah kau terlihat sangat lucu, kenapa bisa warnamu merah muda seperti ini?” ucap Jong Gu, sambil terkesima dengan rubah yang ada di depannya. Jong Gu berjongkok di depan rubah itu, dia mencoba mengeluarkan permen yang di bawanya dan memberikannya kepada rubah tersebut. Bukan menerima permen yang di ulurkan oleh Jong Gu, rubah itu malah mencakar tangan Jong Gu. “Ya! Kenapa kamu mencakarku!” ucap Jong Gu sambil mengebaskan tangannya yang sedikit kesakitan. Rubah itu terlihat berlari kebelakang pohon dengan sedikit ketakutan. "Kemari kau! Apa kau tidak lihat? Ini sangat menyakitkan." Jong Gu memperlihatkan tangannya yang luka ke arah rubah itu. “Aku tidak melakukan apapun, aku hanya memberikanmu sedikit kemampuanku.” Jong Gu tiba-tiba mendengarkan suara seseorang, tapi tidak ada orang lain saat ini disini. Rubah itu kembali mendekat ke arah Jong Gu. Jong Gu melirik ke arah sekelilingnya. Mencari sumber suara yang tadi berbicara dengannya. “Tidak ada siapapun, siapa yang berbicara?” Jong Gu masih berusaha mencari sumber suara itu. “Ah, kau manusia bodoh, itu suaraku.” Rubah itu berbicara lagi. Jong Gu menggosok telinganya untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar saat ini. Benar itu adalah suara rubah yang tadi dia berikan permen. “Apakah itu benar-benar suaramu?” tanya Jong Gu memastikannya sekali lagi. Dia masih belum bisa mempercayai apa yang dia dengar saat ini. “Sudahlah, kau tidak akan percaya jika aku berkatapun.” Kata rubah itu lagi setelahnya. “Baiklah, aku percaya, jadi kenapa kau mencakar tanganku.” Jong Gu mencoba percaya dan bertanya kenapa rubah itu mencakar tangannya. “Aku memberikanmu sedikit kekuatan ku. Kau tidak akan mudah untuk mati. Kehidupanmu akan berlangsung lama, saat itu terjadi, kau harus bisa menyelamatkan seseorang untukku.” Rubah berwarna pink itu berbicara dan duduk dengan anggun di depan Jong Gu. “Apa kau bilang? Hahaha itu jelas tidak mungkin, Kenapa aku harus menyelamatkannya?” Jong Gu tidak percaya apa yang baru saja didengarnya tadi. Itu tidak masuk akal bagi Jong Gu. Hidupnya saja sudah susah, kenapa pula dia harus repot-repot menyelamatkan hidup seseorang lagi. “Kau akan tahu nantinya, dan saat itu datang kau harus ingat apa yang aku katakan sekarang.” Ucap rubah itu lagi, dan kemudian pergi dari tempat itu. Jong Gu hanya tertawa terbahak-bahak merasa tidak masuk akal dengan apa yang didengarnya dan akhirnya melanjutkan perjalanan menuju tempat dimana dia bekerja. Jong Gu mengabaikan apa yang tadi di dengarnya. Setelah beberapa menit berjalan, Jong Gu pun sampai di tempatnya bekerja. Tidak ada satupun yang menyapanya atau menyambutnya. Begitulah Jong Gu di tempat kerjanya. Saat Jong Gu mulai bekerja dia tidak merasakan hal aneh apapun. Dan dia bisa bekerja seperti biasanya. Waktu berjalan dengan singkat, jam makan siang pun akhirnya tiba, Jong Gu pergi ke toserba yang dekat dengan tempat kerjanya untuk membeli beberapa gimbab dan kimchi. Tidak lupa juga dengan kopinya. Jong Gu duduk di kursi yang sudah di sediakan dan makan dengan tenang. Gimbab dan pemandangan orang yang berlalu lalang adalah hal yang paling Jong Gu sukai. Jong Gu mempercepat makannya dan segera keluar dari sana setelah selesai. Jong Gu melihat beberapa orang yang sedang minum soju meskipun ini masih siang hari. Melihat orang-orang itu terkadang membuat Jong Gu merasa iri. Dia pun ingin berkumpul atau mengobrol bersama dengan teman-temannya. Tapi Jong Gu teringat dia hanya punya satu teman selama bersekolah. Itupun saat ini tidak berada disini. Jong Gu akhirnya kembali ke tempat nya bekerja.  Ketika baru saja dia sampai di tempat kerjanya, salah seorang rekan Jong Gu di tempat dia bekerja meneriakinya dari atas. “Hei, anak muda! Bisakah datang kau datang kemari dan bekerja dengan cepat! Kita harus segera menyelesaikannya sekarang juga.” Katanya dengan nada marahnya. Jong Gu sudah bekerja dengan cepat, secepat apa lagi yang harus dilakukannya? Pikir Jong Gu. “Ya, aku mengerti pak tua! Sabarkan dirimu sebentar aku akan segera menyelesaikannya.” Ucap Jong Gu mencoba membalasnya dengan sesopan mungkin yang dia bisa. Jong Gu akhirnya segera memakai pakaian pengamannya lagi dan menuju orang tua yang berada di atas sana itu. Keringat membahasi seluruh badan Jong Gu. Dia bekerja dengan sangat keras. Dan tanpa di sadari waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Matahari sudah hampir menenggelamkan dirinya ke barat. Jong Gu menyelesaikan pekerjaannya dan melepaskan semua pakaian pengaman yang di pakainya saat ini. "Terimakasih atas kerja kerasnya hari ini. Terimakasih, Terimakasih." Badan Jong Gu terus menunduk saat dia hendak pulang ke rumahnya. Hari ini sungguh melelahkan untuk Jong Gu. Akhirnya, Jong Gu pun pulang menuju rumahnya. Jong Gu tinggal di rumah satu petak yang ada di daerah pinggiran Hongdae. Dia sudah lama hidup sendirian. Ibunya tinggal di Gwangju bersama dengan adiknya. Mereka bukan berasal dari keluarga yang kaya. Jadi sebisa mungkin Jong Gu akan mengirimkan uang yang dia dapat dari bekerja ke ibunya di Gwangju. Hari mulai menggelap saat Jong Gu sampai dirumahnya. Jong Gu langsung menuju kasur tempat tidurnya dan merebahkan badannya di sana tanpa membersihkan badannya terlebih dahulu. Bekerja sebagai buruh bangunan membuatnya merasa sangat lelah. Andai saja dia bisa merubah nasibnya dengan sekejap. Saat Jong Gu menutup matanya, tiba-tiba dia mendengar lagi ucapan rubah merah muda itu.  “Aku memberikanmu sedikit kekuatan ku. Kau tidak akan mudah untuk mati. Kehidupanmu akan berlangsung lama, saat itu terjadi, kau harus bisa menyelamatkan seseorang untukku.” Ucapan itu terus berulang di benak Jong Gu. Jong Gu membuka lagi matanya. Apakah yang di katakan rubah merah muda itu sungguhan? pikir Jong Gu. Dia tidak ingin percaya pada hal seperti itu. Ditambah lagi yang mengatakannya adalah seekor rubah. Jong Gu akhirnya kembali menutup matanya dan tertidur lelap. Jong Gu terbangun dari tidurnya, dia mendengar suara seseorang membangunkannya. Tapi saat dia terbangun, dia tidak melihat siapapun. Jong Gu mengambil handphone yang ada di sampingnya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Badannya terasa sangat lengket dan membuatnya tidak nyaman. Jong Gu masih harus bekerja hari ini.  Seperti hari-hari biasanya setelah selesai mandi berganti baju dan pergi ke tempatnya bekerja. Tidak lupa Jong Gu juga mampir ke toserba untuk membeli gimbab dan beberapa makanan lainnya, tak ketinggalan dengan satu cup kopi untuk sarapannya. Saat sedang menikmati makanannya handphonenya berdering, dan nama ibunya tertera di layar handphonenya. “Halo, Jong Gu? Ini benar Jong Gu kan?” suara Ibunya yang lemah lembut terdengar oleh Jong Gu. Mendengar suara ibunya Jong Gu langsung menelan makanan yang dia makan sebelumnya. “Halo, Ibu, ada apa menelponku? Apa kau merasakan sakit lagi?” kata Jong Gu yang khawatir dengan keadaan ibunya. Beberapa hari yang lalu adiknya sempat mengabarinya, dan mengatakan bahwa Ibu mereka merasa sakit di daerah kakinya sampai membuatnya tidak bisa berjalan.  “Ibu hanya ingin mendengar suaramu, apa kau sudah makan?” tanya ibunya. Jong Gu mengangguk meski ibunya tidak bisa melihatnya.  “Aku sedang makan bu, ibu sendiri? Apa ibu sudah makan?” tanya Jong Gu, dia makan sambil berbincang dengan ibunya. “Kamu kapan pulang ke rumah nak? Ibu sudah sangat rindu sama kamu.” Kata ibu Jong Gu. Sejujurnya Jong Gu pun merindukan ibunya, dia ingin cepat pulang, tapi dia belum mempunyai cukup uang untuk pulang ke rumah. “Aku akan pulang secepatnya bu, tunggulah saja nanti.” Kata Jong Gu akhirnya mencoba menenangkan ibunya. “Baiklah, kabari ibu jika kau pulang nanti. Ibu akan masakkan banyak makanan kesukaanmu.” Ibu Jong Gu terdengar sangat ceria saat mengatakan ingin membuatkan makanan kesukaan Jong Gu. Jong Gu melihat jam yang di handphonenya, dan waktu sudah hampir menunjukkan pukul 8. Sudah waktu nya, dia bekerja.  “Bu, aku matikan dulu sambungan teleponnya ya. Aku sudah harus pergi bekerja sekarang.” Ucap Jong Gu kepada ibunya. Setelah mendapatkan jawaban dari ibunya, Jong Gu pun langsung menuju tempat kerjanya. “Jong Gu-ya, kenapa kamu suka sekali terlambat sih!” Kali ini pengawasnya yang menegurnya. Jong Gu menggaruk belakang kepalanya. Padahal hari ini dia berusaha untuk datang lebih pagi dari biasanya. “Maafkan saya pak.” Ucap Jong Gu akhirnya. Jong Gu masuk dan langsung memakai baju dan peralatan keamanannya. Setelah menggunakan semua peralatannya, Jong Gu langsung memasang sabuk dan tali kemudian langsung pergi ke bagian yang akan dia kerjakan. Hari itu cuaca tidak cukup cerah, kilat dan petir datang bersautan. Saat ingin turun dari sana tiba-tiba hujan turun dengan sangat lebat. Itu membuat tempat dan tali yang sedang digunakan oleh Jong Gu menjadi licin. Tanpa dia sadari dari atas ada besi yang talinya sudah menipis dan hampir putus. Dan tiba-tiba tali penyangga besi itu tersambar petir. “Jong Gu, awas!” Suara itu mengagetnya Jong Gu, dia melihat arah yang ditunjukkan oleh teman kerjanya. Matanya membulat dan Jong Gu terkejut saat besi besar itu malah menghantam tubuhnya. Jong Gu tidak sadarkan diri dan semua orang panik ketika Jong Gu terjatuh dari atas sana. Jong Gu merasakan sakit yang teramat sangat di badannya, seakan badannya sudah remuk. Dia melihat sekelilingnya, tapi tidak ada apapun dan siapapun disana. Apakah teman-temannya setega itu, mereka bahkan tidak menemani Jong Gu.  “Bukan teman-temanmu yang tega. Tidak ada yang bisa melihat mu disini.” Jong Gu mendengar suara seseorang, tapi dia tidak melihat siapapun disini selain dirinya sendiri.  “Kau mencariku?” tiba-tiba se ekor rubah muncul dihadapannya. Jong Gu kaget dan terjungkal kebelakang. Darimana datangnya rubah itu pikir Jong Gu.  “Kau lucu sekali, bukankah kau pernah melihatku sebelumnya? Kenapa harus kaget seperti itu?” Rubah itu berbicara kepada Jong Gu sambil berjalan bolak balik di depan Jong Gu.  “Apa yang kau lakukan kepadaku? Kenapa aku berada disini?” Jong Gu berteriak kearah rubah itu. Rubah itu hanya tertawa. Tawa yang sangat begitu menyeramkan bagi Jong Gu.  “Keluarkan aku sekarang, rubah sialan!” Ucap Jong Gu ke arah rubah itu. Tapi rubah itu tidak memperdulikannya malah mulai tertidur di sudut ruangan. Jong Gu mulai merasa kesal. Dia merasa sedang di permainkan oleh rubah merah muda itu. Jong Gu berlari kesana kemari mencari pintu untuk bisa keluar dari ruangan. Saat dia melihat pintu, dia langsung berlari mengejarnya. Saat hampir mencapainya pintu itu malah menghilang. “RUBAH SIALAN!” umpatnya sambil meninju udara kosong. “Apa kau sudah lelah?” Rubah merah muda itu kembali berbicara setelah melihat Jong Gu tidak melakukan apapun lagi. Jong Gu tidak menjawab. Dia sedang memikirkan cara lain agar bisa keluar dari sini, tanpa meminta bantuan rubah itu. Rubah merah muda itu berjalan mendekat ke arah Jong Gu. Tanpa disangka Jong Gu tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk menangkap rubah itu. Saat tangan Jong Gu ingin menyentuh nya, tiba-tiba rubah itu langsung menghilang dan muncul disisi yang lainnya. Jong Gu terheran heran. Matanya membulat dan menatap arah rubah itu berada saat ini.  “Sudah ku katakan sebelumnya bukan. Aku akan memberikanmu kekuatan.” Amethyst berbicara sambil memperhatikan gerak gerik Jong Gu. Dia terdiam mendengarkan ucapan Amethyst. Ya, rubah itu memiliki nama Amethyst. “Lalu aku harus bagaimana sekarang?” tanya Jong Gu kepada Amethyst dengan suaranya yang terdengar sangat putus asa. Amethyst merubah wujudnya, dia membesar dan mengeluarkan cahaya biru dari tubuhnya. Kemudian dia mengeluarkan satu bola cahaya dari dalam mulutnya dan memberikannya kepada Jong Gu. Bola itu melayang ke arah Jong Gu dan langsung masuk kedalam tubuh Jong Gu. Jong Gu tidak merasakan apapun, tapi dia merasa badannya tidak begitu terasa sakit dan lebih ringan dari sebelumnya. Amethyst kemudian kembali ke bentuk nya semula.  “Di dalam tubuhmu sudah ada bagian dari diriku, kamu tidak akan mudah untuk mati, dan kamu akan kembali ke waktu dimana kamu terbangun. Selamatkanlah gadis itu, jangan biarkan dia mati atau pun terbunuh. Bola itu akan menghilang dari tubuhmu jika kau sudah berhasil menyelamatkan nyawanya." Amethyst menjelaskan dengan sesederhana mungkin agar bisa dimengerti oleh Jong Gu. Jong Gu masih terdiam tanpa mengeluarkan suara.  “Kamu mengerti Jong Gu?” tanya Amethyst lagi. Jong Gu akhirnya tersadar dari lamunannya.  “Apa aku bisa kembali lagi nantinya?” Tanya Jong Gu lagi. “Bisa, kau akan kembali saat kau berhasil menyelamatkan gadis itu. Kau tidak mendengarkan ku rupanya.” Jawab Amethyst sedikit terlihat marah. Jong Gu mendengus kesal dan membuang muka dari Amethyst. Amethyst kemudian mengeluarkan suara merdu yang membuat Jong Gu mulai mengantuk. Dan akhirnya Jong Gu pun tertidur pulas. Jong Gu terbangun, dia terbangun karena mendengar suara ibunya yang membangunkannya untuk segera pergi ke sekolah. Tunggu, apakah Jong Gu tidak salah dengar? “Jong Gu, cepat bangun atau akan ku pukul pantatmu dengan kayu.” Jong Gu merasa itu benar suara ibunya. Bagaimana ibunya bisa ada disini? Jong Gu akhirnya bangun dan menuju sumber suara itu. Jong Gu melihat sekelilingnya. Dia merasa bingung, kenapa dia bisa ada di rumahnya sekarang? Jong Gu keluar dari kamar dan pergi menuju dapur. Bahkan dapurnya ini terlihat seperti dapurnya saat dia masih bersekolah dulu.  “O-oh, ibu bisa jalan sekarang? Bukankah ibu bilang kaki ibu sakit?” Jong Gu melihat ibunya dan adiknya yang sedang duduk diruang makan. Ibunya terlihat sibuk menyiapkan makanan dan adiknya hanya duduk sambil menikmati makanan yang sudah matang. Jong Gu juaga melihat ke arah adiknya. Kenapa dia terlihat seperti anak kecil lagi? Bukankah saat ini Jong Soo sudah kuliah? “Kau kenapa memakai baju sekolah SMP mu lagi Jong Soo? Bukannya harusnya kau kuliah saat ini?” Jong Gu berbicara sambil menunjuk kearah Jong Soo.  “Berhentilah berbicara yang tidak masuk akal dan mulai makan makananmu sekarang. Kau ingin terlambat sekolah?” Ibu menyuruh Jong Gu duduk dan menyerahkan nasi dan telur goreng mata sapi di atas nasi itu. Jong Soo makan sambil menatap kakaknya kebingungan.  “Kak, apa kau mabuk kemarin? Kau sangat aneh sekali.” Jong Soo mengatakan itu sambil menggelengkan kepalanya. Ibu menjitak kepala Jong Soo.  “Hati-hati dengan ucapanmu. Kakak mu bukan orang seperti itu, benar kan Jong Gu?” Ibu mereka menatap Jong Gu dengan penuh binar. Jong Gu langsung tersedak. Bahkan saat ini dia bisa minum dengan banyak, kadar toleransinya dengan alkohol sudah meningkat dengan baik.  “Aku bukan anak seperti itu bu.” Jong Gu menjawab dengan pasti. Jong Soo langsung mencibir Jong Gu yang membual, sudah jelas meskipun masih bersekolah Jong Soo sering melihat kakaknya itu minum alkohol dengan teman-temannya. Jong Gu selesai dengan makanannya, saat dia ingin menuju kamarnya untuk tidur lagi, ibunya malah memukul p****t Jong Gu dengan sapu yang dibawanya.  “Kau harus sekolah kenapa kau malah tidur lagi!” Ibu Jong Gu memukulnya dengan keras, sampai suaranya saja terdengar sangat menyakitkan. Jong Gu akhirnya langsung bangun dan siap-siap untuk berangkat sekolah. Jong Gu berangkat dengan berjalan kaki, dia sudah terbiasa kemana-mana dengan berajalan kaki. Dia melihat ke arah sekitarnya. Meskipun Jong Gu merasa kebingungan dengan apa yang saat ini terjadi padanya. Jong Gu tetap pergi ke sekolahnya. Dia teringat saat dia sekolah dulu. Dia biasa berangkat dari rumah ke sekolah sendirian dan kemudian Ji Sin, temannya akan datang dan mereka berangkat bersama.  “Ya! Jong Gu!” Jong Gu berhenti berjalan setelah dia mendengar ada yang memanggil namanya. Jong Gu melihat ke arah belakangnya dan dia melihat Ji Sin yang berlari ke arahnya.  “Jong Gu, kenapa kau baru berhenti sekarang.” Ji Sin terlihat terengah-engah ketika sampai di hadapan Jong Gu. “Kenapa kau berlari seperti itu?” Jong Gu hanya menepuk bahu Ji Sin dan berjalan lagi ke arah sekolah. Ji Sin mengikuti Jong Gu berjalan di belakangnya.  “Kenapa lagi? Aku berlari untuk mengejarmu.” Ji Sin berusaha menyamai langkah kaki Jong Gu. Saat mereka berdua sedang berjalan, Jong Gu melihat ke arah tangga dekat dengan sekolah mereka. Disana ada segerombolan anak perempuan yang sedang mengerubungi seseorang. Jong Gu menghentikan langkah kakinya. Ji Sin yang berjalan di belakangnya pun menabrak bahu Jong Gu.  “Jangan berhenti mendadak begini Jong Gu.” Ji Sin memukul keras bahu Jong Gu. Jong Gu mengabaikan omelan Ji Sin. Dia melihat lagi ke arah tangga disana. Salah satu dari gerombolan itu mengangkat tangannya seperti ingin melakukan sesuatu. Jong Gu langsung menghentikan mereka dengan berbicara keras ke arah mereka.  “Bukankah tidak adil jika 1 orang melawan 6 orang?” Gerombolan siswi itu berhenti bergerak dan melihat ke arah Jong Gu.  “Pergi saja. Urusi saja urusan kalian sendiri!” Salah satu dari siswi itu akhirnya menjawab sautan dari Jong Gu.  “Oh, kalian memakai seragam yang sama denganku, berarti kita satu sekolah dong.” Jong Gu menyahutinya lagi.  Ji Sin yang berdiri di samping Jong Gu hanya diam sambil melihat Jong Gu yang saat ini sedang mencoba menghentikan siswi itu menganggu orang yang berada di tengah mereka. Gadis itu hanya diam tidak melakukan perlawanan apapun. Diam-diam gadis itu melihat ke arah Jong Gu dengan ketakutan.  “Nona bukankah kau harus melawan saat ada yang mengganggumu?” Jong Gu kali ini bertanya pada gadis yang ada di tengah siswi itu. Gadis itu tidak berbicara apa-apa.  “Pergilah, kau menganggu kami saja.” Siswi itu kembali berbicara kepada Jong Gu.  “Baiklah, aku akan pergi, selamat bersenang-senang.” Akhirnya Jong Gu pun pergi meninggalkan tempat itu. Gadis itu melihat kepergian Jon Gu. Dia berharap Jong Gu akan kembali dan membantunya. Tapi Jong Gu tidak berbalik sama sekali, dia berjalan ke sekolah di ikuti dengan Ji Sin yang berjalan di belakangnya. Sesampainya Jong Gu di sekolah dia merasa ada seseorang yang membisikkan sesuatu kepadanya.  “Kau harus mengingat apa yang harus kau lakukan disini Jong Gu.” Suara itu tiba-tiba terdengar oleh Jong Gu. Jong Gu masih memperlajari situasi yang sedang terjadi padanya saat ini.  “Ya! Jong Gu, apa yang sedang kau pikirkan sekarang?” Ji Sin bertanya kepada Jong Gu yang sedari tadi hanya diam melamun semenjak duduk di kursinya. Jong Gu merasa ada yang mengganjal di hatinya. Pikirannya sedari tadi berputar-putar pada kejadian tadi pagi. Saat melihat mata gadis itu dia teringat dengan mata seseorang. Jong Gu merasa mengantuk, dan tiba-tiba Jong Gu pun tertidur sebelum pelajaran dimulai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD