Manis

1192 Words

Gemuruh suara debur ombak terdengar nyaring. Kami bertelanjang kaki menyusuri bibir pantai ini. Pandangan Om Riyan lurus ke depan, sementara aku sesekali menoleh ke arahnya. Dulu, aku risih menerima setiap perlakuan Om Riyan yang hangat. Caranya yang memperlakukanku membuatku merasa aku masih seperti anak-anak, tapi kini aku merindukannya. Sikap diam dan datarnya sungguh membuatku merasa ada yang kurang dalam dirinya. Aku menghentikan langkah, sementara laki-laki itu terus saja berjalan. Apa rasa bersalah dalam dirinya menghilangkan rasa perduli dan perhatiannya terhadapku? Menyadari aku tidak ada di sampingnya pria itu ikut berhenti, lalu menoleh ke belakang. Ia memandangku seperti aku memandangnya. Kami berdiri, saling berhadapan dengan jarak sekitar tiga meter. “Kay, ayo! Kenapa ka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD