Pagi-pagi setelah salat subuh berjamaah seperti biasa, Om Riyan mengajak ke dapur untuk membuat sarapan. Semenjak menikah dan menetap di rumah Om Riyan, aku memang banyak dilatih oleh laki-laki itu untuk menjadi wanita sejati. Katanya, suatu saat dia mau mengajakku berkunjung ke rumah orang tuanya. Om Riyan bahkan tidak bicara pada keluarganya soal pernikahan kami. Itulah ia memintaku belajar banyak hal supaya bisa menjadi wanita terbaik dalam hidupnya. Aku pikir jika cinta, pasangan harus bisa menerima kita apa adanya, tapi versi Om Riyan berbeda. Katanya, kalau cinta, setiap pasangan harus bisa membantu pasangannya untuk bisa menjadi jauh lebih baik lagi dari hari ke hari. Setelah kupikir-pikir apa yang dikatakan Om Riyan ada benarnya juga. Karena jika pasangan membiarkan pasangannya tanpa mengajaknya maju untuk menjadi lebih baik lagi, bukankah itu namanya tak perduli?
"Kemaren dah masak nasi goreng. Pisang goreng udah juga minggu ini. Kita masak apa lagi Dora?"
Aku yang sedang duduk di kursi meja makan kaget mendengar ia memanggilku demikian. Kok Dora? Aku bahkan lebih menggemaskan dari mahluk berwujud anak kecil dengan poni yang pendek itu. Aku melengos saat ia menatapku.
“Kenapa gitu mukanya?”
"Kok Dora si, Om! Udah potong kambing berapa panggil-panggil aku Dora?"
"Abisnya kamu itu ngegemesin kayak Dora. Tidur aja masih pake Pampers."
"Aku lebih menggemaskan dari dia. Dengar ya Om, aku pake Pampers buat jaga-jaga aja. Bukan berarti aku pipis beneran di sana. Boleh cek deh, pampers yang aku pake kemaren masih baru, bersih dan nggak bau!”
"Hu, ngelak. Ngaku ajalah, Kay. Lagian Om juga biasa aja kok. Nggak gimana-gimana sama kamu, jadi kamu jangan merasa malu.”
"Ih apaan sih!"
Aku membuang muka. Cemberut makin kesal. Om Riyan tersenyum. Aku heran, aku pikir ayahku pria paling sabar sedunia, ternyata aku salah. Masih ada Om Riyan yang super duper sabar. Kalau dipikir-pikir dari awal pindah ke sini, belum pernah satu kalipun aku menyenangkannya, hanya saja senyum dibawahnya tak pernah berpindah atau berubah jadi sangar dan marah. Padahal, menurutku sikapku ini sudah sangat menyebalkan. Apa mungkin Om Riyan itu tidak punya hati, sehingga tidak pernah merasakan sakit hati?
"Udah, pagi-pagi nggak boleh ngambek'an jadi mau sarapan apa kita sekarang?"
"Roti oles coklat ajalah Om. Nggak ada, ya?"
"Belum beli rotinya Kay. Om biasa sarapan nasi goreng, nasi uduk atau apa aja selain roti, kalaupun sesekali roti, tapi menurut Om roti itu di perut kurang mantep. Biasanya om beli semua itu, berhubung sekarang ada kamu, jadi lebih enak masak sendiri. Itung-itung sekalian ngajarin kamu masak."
"Kalau masak mie instan aja gimana? Aku bisa kok masak mie instan, Om. Suer!"
Aku menegakkan dua jari di samping kepala tanda keseriusan.
"Iya, kamu bohong aja om percaya, apa lagi kamu jujur."
"Om, aku serius!" Aku kembali kesal.
"Loh om kan bilang percaya, kok ngambek? Ya udah, kalau gitu coba kamu yang masak.” Om Riyan berjalan ke arah kitchen set. “Om siapin mie nya ya."
Laki-laki berkaus hitam itu membuka kitchen set satu persatu, lalu membawa dua bungkus mie instan untuk kumasak. Aku yakin aku bisa, karena dulu Ayah pernah mengajarkannya.
"Coba, masak!"
Ia meletakkan mie di dekatku. "Oke! Kalau aku bisa kasih hadiah apa?"
"Nanti om kasih sesuatu, Kay. Tenang aja."
"Janji ya!"
"Siap, Dora!"
"Om! Nggak mau dipanggil Dora!"
Aku menghentakkan kaki yang membuat pria berwajah matang itu tertawa. Aku mengambil panci berukuran sedang dan mengisinya dengan air keran, lalu meletakkannya di atas kompor. Setelahnya bingung, mau minta tolong hidupkan kompornya, takut nanti dibilang anak manja.
"Loh kenapa malah diam."
"Jadi, Sebenarnya aku tuh bukan nggak bisa hidupin kompor, Om. Dulu pernah di rumah pas hidupin kompor apinya gede banget, jadi kapok."
"Jadi intinya apa?"
"Ya aku tuh takut mau hidupin kompornya."
"Mau minta tolong hidupin kompor?"
"Aku bisa, tapi takut."
Aku masih terus mengelak. Padahal apa susahnya kan tinggal bilang minta tolong. Tapi aku gengsi.
"Ya jadi mau minta tolong?"
Aku mengangguk cepat seraya mengalihkan pandangan yang membuat Om Riyan tertawa. Ia berdiri mendekat ke arahku, lalu mengacak pucuk kepala.
"Gengsi banget sih, tinggal bilang tolong hidupin kompor aja."
Oke, aku cantik, aku diam, mengulum bibirku sendiri sambil ekor mata menuju atas. Tingkahku semakin membuat Om Riyan gemas. Ia malah mencubit hidungku sampe memerah.
"Om sakit!" Aku menepis tangannya.
"Abisnya kamu itu lucu banget, Kay. Oke om bantu hidupin kompornya."
Ia menghidupkan kompor, lalu kembali duduk di kursi meja makan. Setelah air menguap aku hendak membuka bungkus mienya, tapi susah. Pengen nangis rasanya, apa aku harus minta tolong lagi bukain bungkus mienya? Oh Tuhan ....
"Om .... "
Aku mendekatinya, menenteng 2 mie instan.
"Kenapa lagi, Kay?"
"Airnya udah mateng."
"Terus?"
"Aku biasanya bisa buka bungkusnya, cuma kok kali ini agak susah ya?"
"Mau minta tolong buka bungkusnya?" Aku mengangguk cepat. "Ya Allah istriku, Oke, jadi siapa ini yang masak sebenernya."
"Aku dong .... "
Om Riyan tersenyum. Ia membuka bungkus mienya dan menyerahkan padaku. Aku kembali berjalan ke arah panci yang ada di atas kompor. Ya ampun airnya memerecik keluar beberapa kali. Kalau kena tangan kan panas. Akhirnya aku balik lagi ke arah Om Riyan. Tanpa aku mengatakan apa-apa dia sudah paham kalau aku pasti akan minta bantuannya.
"Kali ini kenapa lagi, Dora?"
"Airnya kok memerecik keluar itu Om. Kan serem ya kalau kena tangan."
"Terus?"
"Rasa rasanya aku agak takut, Om."
"Ya ampun, Kay .... Sini, om aja yang masak!"
Aku mengulum senyum, lalu duduk di kursi meja makan. Selanjutnya menunggu mienya masak. Bener kata Ayah, 1 Minggu hidup bersama Om Riyan ternyata seenak ini. Kenapa laki-laki itu tidak pernah marah?
"Selesai!"
Om Riyan mengambil 2 mangkuk, lalu meletakkannya di meja. Kami duduk bersebelahan.
"Hadeh, punya istri kok gini banget sih!" rutuknya kesal.
"Wah pasti enak!" Aku bersemangat.
Om Riyan mengambilkan sendok dan kecap untukku.
"Abisin ya! Kecapnya jangan terlalu banyak."
"Ih, Om Riyan, tapi aku suka.”
“Kay, kamu itu udah manis. Kalau makan pake banyak kecap manis, nanti aku diabetes nih. Soalnya setiap saat selalu liatin muka kamu yang manis.”
“Mulai deh, apaan sih!” Agak GR juga dibilang seperti itu, tapi aku mencoba bersikap biasa saja.
“Ya udah, ayo makan!”
Aku tersenyum. “Siap, Om! Jadi gimana, aku pinter nggak masaknya? Katanya mau kasih hadiah kalau udah masak. Mana, Om?"
Aku tertawa kecil, padahal kan dia yang masak. Hening. Aku yang sedang meniup-niup mie menoleh ke arahnya. Sial ternyata dia begitu dekat sampai membuat aku mati kutu dan diam.
"Harusnya kamu yang kasih hadiah ke Om. Jadi boleh om ambil hadiah om sekarang?" katanya lirih, sementara mata kami saling beradu pandang.
Jantungku berdegup-degup rasanya saat ujung hidung kami nyaris bersentuhan.
"Hadiah, apa Om?"
Tanpa ba bi bu, om Riyan langsung memangkas jarak yang membuat mataku terpejam.
'Ya ampun, dia melepas segel di bibirku sekarang! Bagaimana ini? Berontak, jangan?'