Mengulang Kisah

1079 Words
"Kamu arahkan saja Pak Adi menuju rumah kamu ya. Pak Adi ngak bakal bikin sesat kok." tanya Agatha namun ia memandang jendela kaca mobil. "Pak depan belok kiri ya," ucap sahira yang malah berbicara dengan Pak Sopir. "Oh ya, Mbak," jawab Pak Adi supir setianya Agatha. Seketika setelah percakapan antara Sahira dan Pak Adi tadi suasana berubah menjadi hening.Baik Agatha ataupun Sahira sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Agatha yang menghadap ke jendela sebelah kanan dan Sahira yang menghadap ke jendela sebelah kiri. 'Mungkin Pak Sopir ini adalah orang yang paling tepat untuk aku berikan banyak pertanyaan soal Pak Direktur Nantinya. Mengapa Bang Iman sekarang duduk di kursi roda dan apakah ini permanen atau untuk sementara saja?' batin Sahira 'Sahira, kamu cantik. Bagaimana aku bisa melupakan kamu Ra kalau kita akan bertemu setiap harinya mulai dari sekarang. Tidak mungkin juga bagiku untuk pecat kamu hanya karena kamu adalah orang yang pernah ada di masa lalu, itu terlalu tidak adil buat kamu,' batin Agatha. "Depan belok kiri lagi Pak, Ada gerbang perumahan di sana." Ucapan Sahira membuat Agatha menoleh padanya. "Iya Mbak, siap," sahut Pak Adi. "Pak saya sudah sampai, terima kasih Pak," ucap Sahira yang sudah bersiap membuka pintu mobil. Agatha tersentak kaget. Mengapa begitu cepat, bahkan ia tidak menyadari jalanan apa saja yang di lewatinya tadi dan di daerah mana dia sekarang. "Oh,..." ucap Agatha linglung. Sahira menutup pintu mobil dan kembali mengagetkan Agatha karena Sahira terlalu keras menutupnya. Agatha dengan cepat membuka kaca jendela mobil untuk melihat pemandangan di luar dan seperti apa rumah Sahira. Ia melihat bahwa mereka sedang ada dalam kompleks perumahan. "Dimana kita sekarang Pak?" tanya Agatha pada Pak Adi. "Di Perumahan daerah Taman Kencana Pak," ucap Pak Adi mulai melepaskan Rem yang ia injak dan seketika mobil metiknya berjalan. "Oh," ucap Agatha yang mengambil ponselnya dari saku. Agatha ingin melihat lebih jelas di mana posisinya dalam google maps. "Mas kita langsung pulang atau ada mau mampir ke mana?" tanya Pak Adi yang melihat majikannya dari kaca dalam mobil. "Ngak ada, langsung ke apartemen aja," Agatha memasukkan ponselnya kembali. Agatha tinggal di apartemen miliknya sendiri. Walaupun punya keterbatasan tapi ia tidak ingin merepotkan orang lain, ia ingin hidup mandiri tanpa bayangan Ibunya yang selalu akan menghawatirkan kondisinya. Pak Adi akan pulang setelah mengantar Agatha pulang, dan Bi Inah istri Pak Adilah yang berberes dan masak di apartemen Agatha. Namun Bi Inah biasanya pulang setelah beres-beres dan masak jikalau Agatha meminta karena Agatha jarang sekali makan di rumah. ** "Assalamu'alaikum," ucap Sahira mengetuk pintu rumahnya. "Wa'alaikum salam." Ibu Sisi membukakan pintu rumah. Bu Sisi adalah Ibu yang lembut dan penuh kasih sayang yang selalu mengerti tentang anak-anaknya. Sahira anak bungsu dari tiga bersaudara, ia mempunyai dua kakak laki-laki yang telah menikah dan punya rumah sendiri. Sahira beserta Ibu dan Ayahnya baru menempati rumah yang mereka tinggali beberapa bulan saja, setelah pindah dari rumah neneknya yang kini sudah resmi menjadi milik pamannya Sahira. Pada awalnya rumah nenek Sahira di wariskan pada Ayah Sahira karena Ayahnyalah yang mengurus Neneknya hingga meninggal. Namun setelah Nenek Sahira meninggal Pamannya Pak Imran, yang adik bungsu dari Ayah Sahira menuntut atas kepemilikan hak rumah. Dan tanpa basa-basi Ayah Sahira Pak Lukman menyerahkan rumah itu lalu membeli rumah yang sekarang. Rumah Sahira yang sekarang sangatlah sederhana, hanya ada dua kamar, satu kamar mandi dan satu garasi yang di isi dengan mobil tua milik ayahnya. "Baru hari pertama udah lembur aja sih Sayang. Gimana kerjanya lancar?" ucap Bu Sisi yang tak lupa selalu ia tambahkan dengan senyuman. "Alhamdulillah Ma, tadi bukan lembur sih Ma, cuma aku belum berani pulang sampai Bos Sahira pulang. Tapi katanya besok Sahira bisa pulang sore kok," ucap Sahira yang langsung menuju kamarnya. "Kamu udah makan Sayang?" tanya Bu Sisi. "Belum sih Ma, sekalian solat Isya dulu abis itu baru makan ya Ma," Sahira membuka pintu kamar dan masuk ke kamarnya. Kamar Sahira di chat biru seperti langit dan di atasnya ia hias dengan bintang-bintang yang jika lampu di matikan maka bintangnya akan menyala lebih terang. Sahira akan tersenyum bila ingin tidur hanya dengan menatap bintang di atasnya hingga ia terlelap. Dekorasi bintang di langit-langit kamar adalah impian Sahira di waktu kecil yang baru ia wujudkan sekarang. Sahira Sholat dan keluar untuk makan malam. Selesai makan Sahira langsung mencuci piringnya dan masuk ke dalam kamar untuk melihat bintangnya dan mengingat kembali kejadian hari ini. Flash Back "Bang, kalo nanti kita udah nikah, aku mau kamar kita di hiasi dengan bintang yang menyala ketika gelap," ucap gadis berambut panjang lurus dengan pipi cabinya yang membuatnya semakin manis. "Iya Sayang, terserah kamu saja. Yang mana bikin kamu senang, sok lakukan. Abang selalu dukung seratus persen," ucap laki-laki bermata sipit dengan wajah lebih keJepang. "Yey asek," Gadis itu tersenyum semakin manis dengan gigi gingsulnya. "Berdo'a saja kita jodoh Sayang." Sahira dan Iman berada di taman, duduk di bawah pohon di tengah hamparan rumput hijau. "Mmm, selalu Abang," dengan cepat Sahira mengangguk. "Bang, kalau aku selalu berdoa agar kelak kota berjodoh. Tapi apa aku juga ada dalam Do'a Abang? Emang Abang sholat," ucap Sahira menatap Iman. "Hehe, Maaf ya Ra'. Aku udah lama ngak do'a, terakhir solat waktu praktek sholat di SMP. Tapi aku benar-benar serius lo sama kamu. SUER," Iman mengangkat tangan membentuk huruf V. Sahira menganga mendapat pernyataan Iman barusan. Wajah Sahira yang tadinya penuh senyum berubah cemberut dan menjadi diam. Beberapa saat suasana menjadi hening. "Ra', jikalau nanti kita berpisah karena suatu hal, Abang ingin kamu tahu Ra' bahwa Abang tidak pernah menggantikan posisi kamu di hati Abang. Ra' kamu punya tempat tersendiri sebagai cinta pertama Abang, tidak akan ada yang bisa menggantinya." Sahira hanya diam, pikirannya melayang memikirkan agama apa sebenarnya yang di anut Iman. Masak islam kok ngak solat, mau islam ktp juga belum punya ktp. 'bukankah namanya Iman, seharusnya dia beriman dalam Islam,' batin Sahira. "Ra' kok diem aja sih, kamu marah ya?" tanya Imam. Sahira masih saja cemberut dan tidak mau menjawab pertanyaan dari Iman. "Abang muslim bukan sih Bang. Kalau muslim, seenggaknya sholat setahun sekali gitu, pas lebaran. Ini sholat terakhir beberapa tahun yang lalu," ucap Sahira sambil manyun. "Hahaha," Agatha tergelak. "Loh kok malah ketawa, orang serius juga," Sahira masih dengan manyunnya. "Iya aku tahu. Jadi kamu marah karena itu?" "Ya udah, do'ain Abang terus ya. Semoga Abang di berikan hidayah," ucap Iman sambil mengacak rambut Sahira lembut. "Hidayah itu di jemput Bang, bukan cuma di tunggu," Ucap Sahira ngegas. "Iya Neng iya. Duh makin cantik deh kalau lagi marah," Agatha mencubit hidung Sahira. Flashback off.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD