Salting

1104 Words
"Ra, besok kita ke Bandung. Kita ketemu klient di sana, sekaligus kita ke kantor cabang. Kamu kan belum pernah ke sana. Kamu harus tahu lebih detail lagi tentang perusahaan tempat kamu kerja," tutur Agatha yang baru keluar dari ruang rapat berbarengan dengan Sahira. "Baik pak. Saya bareng Bapak atau gimana?" Sahira sedikit ragu jika Agatha akan mengajaknya satu mobil. "Iya lah Ra, kalau kamu berangkat sendiri, kesasar gimana? repot jadinya. Nanti pagi-pagi sekali saya akan jemput kamu, dan kamu harus sudah dandan dan siap berangkat. Saya ngak mau loh nunggu-nunggu cewek dandan, nanti lama lagi," Agatha berceloteh seperti perempuan saja. "Baik Pak. Kita berdua atau ada yang lain Pak" Sahira berpikir jika berdua maka akan sangat canggung dan tidak baik karena berduaan dengan seorang lelaki meskipun Agatha adalah Bosnya. "Bertigalah, masak berdua. Yang nyetir siapa dong kalo berdua, emang kamu bisa nyetir sampe Bandung?" Agatha sudah tahu jawaban apa yang akan di berikan Sahira, namun menggoda Sahira ia sangat suka. Meskipun ia sangat ingin menahannya. " Oh iya sih. Saya cuma mastiin aja pak, siapa tahu berangkatnya rombongan gitu. Hehe" saat berbincang seperti ini terkadang Sahira lupa bahwa Agatha adalah Bosnya. Ia menikmati irama berbincang bersama Agatha layaknya SMA dulu. "Sahira kita mau ketemu klient, bukan tamasya keliling-keliling kota,"Agatha kadang suka kesal tapi geli kalau lagi berbicara pada Sahira. "Hehehe, Bisa aja si Bapak," Sahira lagi menggaruk kerudung. "Makanya jangan ngelawak. Ini pembicaraan serius loh Ira," 'DEG' Panggilan tiba-tiba Agatha yang berubah, membuat jantung Sahira terasa berhenti. Sahira ingat jelas jika Agatha dulu memanggilnya dengan sebutan itu dan itu terasa begitu akrab di telinga Sahira. 'Ra' Sahira mengulang kata itu dalam hati. "Eh, kenapa bengong. Kesambet lo" Agatha menatap Sahira yang diam saja, entah apa yang ia pikirkan. "Eh Pak, Saya belum sholat Ashar. Saya ke musholah dulu ya?" Sahira ingin segera pergi dari hadapan Agatha. Berlama-lama di dekat Agatha bisa membuat tubuhnya gemetaran. "Oh ya, saya juga belum. Ya sudah bareng saja kita ke musholahnya!" Agatha yang tidak paham dengan maksud Sahira malah ingin bareng dengannya. "Huhhhh,...." Sahira menghembuskan nafas panjang. "Kenapa, Ada yang salah?" Agatha mendapati gelagat Sahira yang sedikit aneh. "Eh,... ngak Pak. Ayuk bareng Pak" ucap Sahira dengan senyum-senyum. "Ra' habis sholat kalo mau pulang, pulang aja ngak papa, ngak usah izin lagi. Nanti bikin laporannya di rumah aja, besok sekalian saya periksa pas lagi di perjalanan" ucap Agatha yang melajukan kursi rodanya menuju musholah. Sahira hanya diam, ia menikmati saat-saat Agatha kembali memanggilnya 'Ra' panggilan yang sudah lama tidak ia dengar dari laki-laki yang di cintainya dulu dan sekarang. "Ra' kok bengong lagi. Saya berasa nyamuk lo disini ngak di anggep. Kamu mikirin apa?" Agatha tahu betul jika Sahira sedang memikirkan sesuatu. "Eh,.. ngak Pak. Maksud saya Ya, saya akan langsung pulang nanti. Nanti saya siapkan laporannya" Sahira salah tingkah. 'Apa Sahira sedang memikirkan Si Pembual itu, dia lebih sering bengong ngak seperti biasanya' batin Agatha. 'Apa sih aku ini, jadi salting gini' batin Sahira. tanpa Sahira sadar tangannya memukul-mukul kepalanya sendiri. "Ra' kamu kenapa, pusing?" tanya Agatha heran dengan sikap Sahira. "Ngak,.. ngak. Eh,.. Pak udah di depan musholah aja kita. Saya wudhu dulu ya Pak" Sahira segera pergi dengan tingkah saltingnya. Agatha yang baru menyadari tingkah Sahira terkekeh. Ia ingat tingkah yang sama ketika ia PDKT dengan Sahira di waktu SMA yang akhirnya cinta Agatha di sambut oleh Sahira. # Flash Back On "Hey, kamu namanya siapa?" ucap Agatha mengambil botol minuman di kursi pinggir lapangan basket. "Mmm,.. anu. Aku Sahira Kak" ucap Sahira menulurkan tangan dengan kepala menunduk. "Aku Iman. Sahira kamu manis" ucap Agatha menyambut tangan Sahira kemudian meneguk minuman di botolnya. Sahira memandangi tubuh Agatha yang penuh keringat, bahkan keringatnya menetes dari ujung dagunya. Dengan senyum-senyum karena terbang oleh pujian Agatha. Sahira makin menunduk ketika Agatha selesai minum dan tersenyum pada Sahira. "Cie,.. cie..." ucap teman-teman Sahira yang berbarangan dengan berlarinya Agatha masuk arena basket. Bermain basket memang olah raga favorite Agatha. Agatha dan teman-temannya sedang berlatih basket untuk turnamen bulan depan mewakili dari sekolah mereka. "Cie, Sahira berasa terbang di atas awan ni ye?" ucap Rere sahabat dekat Sahira. "Awas lo Ra, Kak Iman kan banyak fansnya. Nanti kamu di gebukin satu sekolahan loh. Ih ngeri ah" Ucap Ria yang juga teman dekat Sahira. Sahira, Rere dan Ria memang selalu bareng kemanapun. "Ria kamu jangan bikin Sahira parno dong. Jangan Nakut-nakutin kayak gitu. Kamu kan tahu Sahira udah suka sama Kak Iman dari kita masih MOS. Dengan kamu ngomong kayak tadi sama aja kamu matahin hati sahabat kamu sendiri" ucap Rere yang marah pada Ria. "Udalah ngak usah ribut. Kalian berdua itu perusak suasana hatiku, kalian ngak tahu apa rasanya jantungku mau copot. Sekarang mending kita ke ke kantin, traktir aku, karena kalian sudah salah menilai jika Kak Iman ngak bisa tertarik sama gadis culun kayak aku, buktinya udah di depan mata kan" ucap Sahira yang mulai meninggikan bahu. "Eww,... Aku mah ogah neraktir, selama ini kan kamu tahu uang jajan aku aja kurang. Gimana mau teraktir kamu" ucap Rere yang memang dari keluarga susah. Ibunya seorang buruh cuci dan Bapaknya buruh bangunan. "Aku bukan ngak mau teraktir Ra, tapi kan kamu tahu aku ngak mendukung jika kamu suka sama Kak Iman, inget loh Ra' dia banyak Fansnya. Dia ganteng, ketua Osis, pinter main basket lagi. Aku yakin banyak yang ngak suka sama kamu nantinya jika kamu dekat sama Kak Iman" Ria masih dengan pendapatnya. "Itulah gunanya sahabat, kalian kan bisa jadi bodyguard pas aku sama Kak Iman berduaan. Hehe" ucap Sahira cengengesan. "OGAH" ucap Rere dan Ria serentak. "Lagian kamu PD banget bisa jadian sama Kak Iman," ucap Ria menyepelekan. "Iya sih, baru di sapa satu kali kan belum tentu artinya suka Ra," sahut Rere. "Nomor Handphone dong?" ucap Iman yang tanpa mereka sadar sudah berada di belakang Sahira yang membelakangi lapangan bola basket. "A,..a,.. apa Kak. Maksud Kakak saya?" ucap Sahira terbata. "Hahaha," Agatha terkekeh mendengar ucapan gugup Sahira. "Ya kamu lah, siapa lagi?" "Re, Ria nomor HP aku mana?" ucap Sahira salah tingkah. "Ngak bawa HP aku" ucap Ria. "Kok nanya ke aku sih, kamu kan tahu aku ngak ada HP. Lagian biasanya kamu hapal nomor kamu sendiri" ucap Rere yang paham jika Sahira sedang salah tingkah. "Aku lupa" ucap Sahira lemas. Orang itu bawaan ngblank kalo lagi panik. Sahira menyesal tadi tidak membawa ponselnya ke sekolah. Agatha pergi dari dekat mereka, Sahira kecewa Agatha pergi begitu saja. "Ini!" ucap Agatha menyerahkan secarik kertas yang berisi nomor HPnya. Sahira tersenyum dan mengambil kertas dari tangan Agatha. "Misscall aja ya, nanti biar aku yang telpon" ucap Agatha yang pergi mengambil tasnya di kursi pinggir lapangan. Lama Sahira menatap tak percaya. Mimpikah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD