Guru Pengganti

946 Words
Kamis 14 Oktober 2017, suasana riuh di dalam kelas 12 SMU Taruna Jaya siang itu, Dejan sedang menyalin tugas fisika dari buku milik teman sekelasnya, ia memilih untuk mencontek dan mengerjakan PRnya di sekolah daripada pusing pusing mengerjakannya di rumah, Dejan memang tergolong siswa yang bebal dan pemalas, hampir tidak ada pelajaran yang ia kuasai disekolah, dia hanya cukup beruntung memiliki wajah yang tampan diatas rata rata sehingga dengan mudahnya mengelabui teman teman perempuannya untuk memberikan contekan gratis, tanpa itu mungkin saja ia tetap tinggal di kelas 10 sampai hari ini. Sesaat kemudian Pak Josep memasuki kelasnya dengan diikuti seorang perempuan muda, yang belum pernah terlihat di sekolah itu sebelumnya. "selamat siang semuanya, hari ini kita kedatanganan tamu spesial, beliau akan mengajar kelas bahasa Inggris menggantikan Bu Yulia yang sedang cuti melahirkan untuk beberapa Minggu kedepan" Kata Pak Josep yang merupakan kepala sekolah di Sekolah itu. "Silahkan Bu, tempat ini milik anda, saya akan kembali ke ruangan saya" Kata Pak Josep mempersilahkan, "terimakasih Pak" Ucapnya sambil sedikit membungkukkan badan diikuti Pak Josep yang berlalu meninggalkan kelas. Perempuan itu tidak terlalu tinggi, tingginya hanya sebatas bahu Dejan, rambutnya tertata rapi bak pramugari, matanya agak sipit berkacamata, senyumnya terlihat manis dengan lesung pipi yang menawan, kulitnya coklat eksotis dibalut baju batik berwarna merah menyala, terlihat sangat elegan. "Cantik, sepertinya masih sangat muda tapi udah jadi guru, hebat". Dejan memuji dalam hati. "Baiklah anak anak, Kalian bisa memanggil saya Bu Meida, untuk beberapa minggu kedepan saya akan membantu kalian memahami pelajaran bahasa Inggris, saya harap kalian sama antusiasnya seperti saya, dan sekarang silahkan nyalakan laptop kalian, saya akan memberi beberapa soal untuk mengenal kemampuan kalian". "Gila, cantik sih tapi kok.. baru juga masuk kelas udah kasih soal aja, apa dia guru killer??" Celetuk Dejan dalam hati yang dibarengi dengan suara sumbang dari seisi kelas tanda keberatan, namun mereka tetap menurut walaupun sambil bergumam tak senang. "Kring.. Kring.. " Bel sekolah berbunyi 2x pertanda sekolah telah usai, Dejan bergegas mengemasi laptop dan beberapa buku miliknya kedalam tas dengan tergesa-gesa, "aku harus cepat, Rita mungkin sudah menungguku sedari tadi" Gumamnya sambil berlari ke tempat motornya terparkir di halaman depan Sekolah. Rita adalah pacar Dejan, gadis cantik yang ia pacari semenjak SMP, mereka bersekolah di tempat yang berbeda, Rita tidak diizinkan Sekolah di tempat yang sama dengan Dejan, selain karena jaraknya yang lebih jauh dari rumah Rita, orang tua Rita juga lebih senang Rita bersekolah di SMA favorit yang terkenal mahal dan bonafit. Dejan memacu motornya membelah jalanan padat Kota Surabaya, beberapa menit kemudian Dejan sudah sampai di depan Sekolah Rita, dari kejauhan Dejan bisa melihat Rita sedang duduk di halte bus tempat biasa ia menunggu Dejan sambil memainkan ponsel. "hai sayang, maaf aku terlambat, tadi ada guru baru yang menyebalkan" kata Dejan menyapa. "iya nggk papa, kita langsung pulang aja ya, tadi mama menelpon minta ditemani belanja" Kata Rita menimpali. "Hmm baiklah sayang, batal lagi dong rencana kita ke bioskop", jawab Dejan dengan raut muka kecewa, mereka berdua memang sudah merencanakan akan pergi menonton film siang ini, tapi Rita tidak bisa menolak permintaan mamanya untuk menemaninya berbelanja. beberapa menit kemudian mereka sampai di depan rumah Rita, rumah Rita terletak di salah satu komplek perumahan mewah di Surabaya, ayah Rita adalah seorang pejabat Pemerintahan yang cukup memiliki pengaruh di kota itu, "Makasih ya sayang, maaf nggk jadi ke bioskop, lain kali ya kita perginya" Ucap Rita sambil menunjukkan penyesalan seusai turun dari motor Dejan, "iya santai aja sayang, mama kan nggak sering minta temenin belanja" Jawab Dejan sambil melempar senyum termanis, "yaudah kalau gitu aku langsung pulang ya, salam buat mama kamu" Kata Dejan berpamitan, Rita membalas dengan senyuman dan lambaian tangan sambil mengisyaratkan cium dari jauh, Dejan tertawa gemas sebelum berlalu. Jarak antara rumah Dejan dan Rita sebenarnya cukup jauh, Dejan harus kembali memutar ke arah sekolahnya untuk pulang dan menambah 30 menit perjalanan sebelum sampai kerumahnya yang berada di pinggiran kota, walau begitu ia tetap setia berusaha sebisa mungkin mengantar Rita pulang setiap hari, hanya jika jam pulang sekolah mereka berbeda Dejan tidak mengantar Rita pulang, Selain karena ingin tetap bertemu setiap hari Dejan juga ingin menarik simpati orang tua Rita yang sebenarnya tidak senang dengan hubungan keduanya, walaupun mereka terkesan membiarkan Rita dan Dejan berpacaran tapi Dejan tau orang tua Rita tak akan memberikan restu untuk hubungan yang lebih serius dimasa depan, mereka tak suka dengan status dejan yang hanya anak kampung, ekonominya biasa saja dan dari keluarga sederhana, ayahnya hanya seorang pensiunan guru dan ibunya hanya berdagang sayur mayur di pasar. dalam perjalanan pulang Dejan sempat mampir ke toko peralatan musik untuk membeli senar gitar baru, sudah sepekan ia tidak memetik gitarnya karena senarnya putus. Dejan cukup mahir bermain gitar walau tidak pernah kursus, kebiasaannya berkumpul dengan teman sebayanya di pos kamling di kampungnya membuat Dejan mahir bermain gitar, ia belajar secara otodidak dari teman temannya, tak disangka ternyata Dejan berbakat dan dengan cepat menguasai berbagai kunci dan melodi. "totalnya 20.000 mas, apakah ada yang lain? tanya kasir penjaga toko musik itu. "Oh enggak, itu saja mbak" Jawab Dejan sambil mengeluarkan uang dari tasnya. Dejan keluar dan berjalan menuju tempat motornya terparkir ketika ia melihat sebuah dompet berwarna biru muda di trotoar dekat tempat parkir, Dejan memungutnya, "tadi sepertinya ada mobil yang parkir disini tepat ditempat jatuhnya dompet ini" Gumam Dejan berusaha mengingat sambil menoleh ke segala arah mencari seseorang yang mungkin sedang kebingungan mencari dompet itu namun dia tak melihat seorangpun. Dejan kemudian memutuskan untuk membawa dompet itu pulang dan berniat mengembalikannya keesokan hari, "pasti ada alamat dan identitas pemiliknya didalamnya, akan aku periksa nanti, sekarang aku harus segera pulang, langit juga semakin gelap sepertinya akan hujan", katanya dalam hati, kemudian Dejan bergegas menyalakan motornya dan berlalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD