Mature Content... Harap kebijaksanaannya... Resiko tanggung sendiri..
*****
"Aku bersumpah... Aku bersumpah demi nama Ayah dan Ibuku... Aku akan membunuhmu, Kaisar Qiang." runtuk Nona Yun dalam hati seraya terus menolak setiap jamahan tangan Kaisar Qiang di tubuhnya.
Pria itu terlalu kuat untuknya bahkan kekuatannya melebihi kekuatan yang iblis punya. Gadis itu terus menahan d**a Kaisar Qiang yang berusaha terus menghimpit tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya berdebar mungkin lebih tepatnya lagi bisa dibilang akan meledak.
"Nona Yun...." bisik Kaisar Qiang lirih sambil terus mengecupi leher gadis itu penuh nafsu.
"Kau sangat menjijikkan, enyahlah dari tubuhku." peringat Nona Yun hampir berteriak seraya berusaha menendang-nendang tubuh pria itu.
Kaisar bergeming, ia terus mendaratkan ciuman maut di tubuh Nona Yun. Sesekali ia memainkan lidahnya, menyapu setiap permukaan tubuh Nona Yun penuh rasa memburu. Tangannya pun tak kalah gila, dengan jemari yang kokoh ia meremas aset berharga Nona Yun, menarik atasan yang tersisa hingga gadis itu benar-benar bugil dibuatnya.
"Kau... Kau merendahkanku, kaisar m***m!" dengkus Nona Yun kesal seraya menutupi sepasang awan di dadanya dengan sebelah tangannya.
Gadis itu mendorong tubuh Kaisar Qiang sekuat tenaga membuat tubuh sang kaisar sedikit bergeser dari atas tubuhnya. Nona Yun segera bangun dan meraih kain yang berserakan di sampingnya namun dengan cekatan Kaisar Qiang menahannya. "Jangan berusaha mengakhirinya Nona Yun, kau bahkan belum memuaskan aku."
"Pergilah kau ke neraka!" sembur Nona Yun muak lalu menghempaskan tangan Kaisar Qiang.
Gadis itu bergerak cepat, memungut pakaian dan menutupi tubuh polosnya. Ketika tangan Kaisar hendak menjamahnya kembali, Nona Yun mengangkat tangannya dan menunjukkan cakar-cakarnya yang runcing. "Kau sentuh aku sekali lagi maka ku pastikan kuku-kukuku ini menancap di tubuhmu dan menggores kulitmu, Qiang Wen."
Kaisar Qiang tetap tenang, ia lalu bangkit dari duduknya. Tanpa rasa malu sedikitpun ia membuka celananya yang tersisa di hadapan Nona Yun. Gadis itu tercekat, matanya telah ternoda dengan kebugilan kaisar gila itu. Buru-buru ia berpaling dan bergegas bangkit namun tubuh mungilnya lantas disambar begitu saja oleh Kaisar Qiang. Pria dingin itu menyorong tubuh Nona Yun yang berontak hingga terbentur meja usang sampai berantakan.
Melihat dirinya berada dalam bahaya, Nona Yun tak punya pilihan selain mencakar punggung Kaisar Qiang. Pria itu menyeringai kesakitan namun sama sekali tak beranjak dari hadapan Nona Yun.
"Kau melawan? Kau ingin melukaiku?" dengkus Kaisar Qiang datar membuat Nona Yun cukup ketakutan pasalnya meskipun ia menggores begitu dalam, luka di tubuh Kaisar berangsur-angsur sembuh dengan sendirinya.
"Kau takkan bisa melukaiku, Nona Yun." ucap Kaisar berbisik di telinga gadis itu dan mulai menjilatnya sensual.
"A... Apa?" ucap Nona Yun tertahan, sejenak ia panik luar biasa. Sekarang dengan apa lagi ia akan mempertahankan diri? Dengan apa?
Gadis itu merintih ketika Kaisar Qiang kembali menghimpit tubuhnya, merebahkannya dengan paksa di bawah kendalinya. Pria itu menggigit kecil lehernya dan mencengkeram kedua tangannya.
"Aku mohon... Aku mohon jangan lakukan itu!" ucap Nona Yun akhirnya memohon setelah sekian lama bergulat mempertahankan diri.
Kaisar Qiang tak menghiraukan, ia terus sibuk menyapu setiap ujung saraf tubuh Nona Yun. Tak peduli dengan rintihan Nona Yun yang kini menghiasi telinga sang kaisar. "Aku mohon... Lepaskan aku. Biarkan aku hidup sekali saja, kau sudah membuatku yatim piatu setidaknya kau mengasihaniku dan melepaskanku. Aku mohon!" rintih Nona Yun sembari mendorong bahu pria itu agar tidak terlalu menghimpitnya.
Kaisar Qiang melepaskan ciuman panasnya, menatap kedua mata Nona Yun yang menyorot pasrah di bawahnya. Bukannya merasa kasihan namun gejolak birahi sang kaisar justru bertambah makin hebat.
"Kau tak bisa memohon padaku, Nona Yun. Tidak bisa." bisik Kaisar Qiang lalu kembali mencumbui Nona Yun dengan ganas.
Bibirnya kini mengarah ke d**a Nona Yun Xiaowen, menciumnya penuh nafsu seolah ia baru saja merasakan nikmatnya sebuah candu. Nona Yun berusaha sebisa mungkin mengelak namun bibir Kaisar Qiang terus bermain, menusuk perasaannya hingga membuatnya semakin tak berdaya.
"Aaaahh...." rintihan Nona Yun lolos begitu saja dari bibirnya. Sesuatu yang sebenarnya harus ia tahan justru kini dengan seenaknya sendiri meluncur tanpa dosa dari bibirnya.
Kaisar Qiang menyeringai kecil, bukannya mengakhiri justru ia semakin getol mengincar tubuh Nona Yun dan membuatnya menggelinjang.
"Aku mohon... Hentikan sekarang juga." desis Nona Yun masih berusaha memohon seraya memegangi kepala sang kaisar yang terus mengeksplor dadanya yang sintal tanpa ampun.
Diam, Kaisar Qiang terus menyembunyikan suaranya. Tak peduli dengan segala rintihan ataupun permohonan yang diungkapkan Nona Yun padanya. Tanpa memberi jeda, Kaisar Qiang turun ke bawah. Mencium perut rata Nona Yun hingga menimbulkan sensasi panas di tubuh keduanya.
"Jangan.... Jangan lakukan itu. Uuuhh..." desah Nona Yun tak berdaya ketika pria tampan itu membuka pahanya dan mulai menjilati area pribadinya dengan lidahnya. Bermain sesuka hati tanpa menghiraukan bagaimana perasaan Nona Yun yang mendapatkan perlakuan sedemikian intim.
"Sudah.... Hentikan.." ucap Nona Yun hampir kehabisan nafas karena tersengal-sengal menahan gejolak di bawah sana.
Gadis itu hanya bisa mencakar-cakar lantai kayu, mengekspresikan bagaimana gejolak yang bercampur dalam dadanya. Rasa kesal, marah namun begitu nikmat dan luar biasa yang tak bisa ia ungkapkan.
"Aaahhh... Kaisar, hentikan. Aku... Aku tidak sanggup." desah Nona Yun dengan wajah memerah sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Kaisar terus membisu, membuat Nona Yun menjerit-jerit menahan gejolaknya sendiri. Tanpa henti sang pria terus memainkan k******s Nona Yun, menjilat dan mencecapnya penuh hawa panas.
"Ssshh...."desis Nona Yun dengan tubuh sedikit bergetar. Ia tak kuasa menahan permainan Kaisar Qiang yang begitu panas dan menggoda jiwanya. Ada apa dengan dirinya? Kenapa tubuhnya seakan pasrah saja ketika satu per satu kenikmatan itu menguasai benaknya.
"Nona Yun, apa yang kau rasakan?" tanya Kaisar Qiang lirih lalu menatap wajah merah Nona Yun.
Gadis itu membungkam mulutnya dengan tangan, ia gemetaran dan peluh mengucur tanpa bisa ia kendalikan. Huh, tubuhnya kini sangat panas apalagi ketika Kaisar Qiang kembali menjilati vaginanya hingga cairan bening itu keluar dari miliknya.
"Nona Yun...." bisik Kaisar Qiang lalu kembali naik dan meremas payudaranya yang menyembul sempurna. Pria itu menyeka bibirnya yang basah, tubuhnya tak kalah gemetar ketika melihat Nona Yun makin terlihat menggoda dengan tubuh polosnya.
Kaisar Qiang lantas menciumi leher Nona Yun penuh hasrat, tangannya yang kekar perlahan turun dan memainkan bibir v****a calon ratunya itu dengan lembut.
"Qiang Wen..." rintih Nona Yun memejamkan matanya dengan wajah terus merona memerah.
Uuhh,, Kaisar Qiang benci untuk mengakuinya namun ia merasakan bahwa ia merasa gemas dengan ekspresi wajah yang Nona Yun perlihatkan.
Sang kaisar lantas melumat bibir mungil Nona Yun, menggigitnya kecil dan mencecapnya tanpa ampun. Menyusupkan lidahnya di dalam mulut Nona Yun dan mengajaknya menari-nari, sungguh ciuman basah dan panas yang begitu menggelora.
Ketika Kaisar Qiang terus mencecap dan mempermainkan lidah gadis itu, tangannya bergerilya turun. Hasratnya sudah tak terbendung, ia ingin merasakannya untuk yang pertama kali. Pria itu menempatkan kejantanannya tepat di pintu masuk v****a Nona Yun dan bersiap memasukinya.
Gadis berkulit mulus itu membuka matanya, mencoba melepaskan ciuman Kaisar Qiang yang begitu brutal di bibirnya. Ia berontak tatkala kejantanan Kaisar Qiang sudah ia rasakan berada di pintu masuknya.
"Jangan... Aku masih perawan. Jangan nodai aku, aku mohon... Ini terlarang, kita tidak boleh berhubungan. Qiang Wen aku..... Aaahhhhh...." pekik Nona Yun seperti kesakitan seraya meremas lengan Kaisar Qiang hingga kuku-kukunya menembus lengan sang kaisar.
Pria yang tengah menguasainya tak ambil peduli, ia terus menyelusupkan batang kejantanannya semakin dalam dan dalam lagi.
"Hhhmmm..." desah Kaisar Qiang ketika kejantanannya sudah habis tenggelam di v****a Nona Yun.
Perlahan ia mengatur nafasnya, merasakan kenikmatan tiada tara yang kini merasuk dalam dadanya. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan hubungan intim, meskipun ia memiliki dua puluh selir tapi ia sama sekali tak bernafsu apalagi berniat untuk mencicipinya. Namun bayangan dan gelora tinggi itu perlahan muncul ketika ia melihat sosok Nona Yun, entah kenapa dengan dirinya ia merasa kejantanannya selalu mengeras dan selalu berfantasi untuk menjamah tubuhnya.
"Nona Yun, ini nikmat sekali." bisik Kaisar Qiang di telinga sang gadis lalu dengan perlahan ia memompa kejantanannya naik turun.
"Sakiiiit.... "rintih Nona Yun hampir tak terdengar, tanpa ia sadari ia menitikkan airmatanya.
Kaisar Qiang yang begitu dingin hanya menatapnya datar, ia meneruskan tindakannya memompa kejantanannya yang perlahan-lahan semakin ia percepat.
"Aahhhh.... Uhmm..." Nona Yun terbungkam ketika Kaisar Qiang kembali memagut bibirnya. Gadis itu terus meremas lengan Kaisar dengan erat.
Rasa sakit dan perih yang menghujam vaginanya perlahan menghilang dan berganti dengan seribu kenikmatan. Sang Kaisar melepaskan ciumannya, menatap wajah Nona Yun yang begitu menggoda birahinya.
"Oh... Nona Yun.... Nikmat sekali." ungkap Kaisar lirih sembari terus menghentak tanpa ampun.
Tangannya meraih tangan Nona Yun, menggenggamnya sangat erat lalu menawarkan kembali ciuman panasnya tanpa berhenti menghujam.
"Aahhh.... Ahh..." keduanya saling mendesah tak karuan. Menikmati setiap tusukan yang mampu merasuk d**a dan tulang-tulangnya.
"Nona Yun, kau nikmat sekali. Aahhh... Aku ingin keluar." bisik Kaisar Qiang setengah terpejam.
Nona Yun hanya diam, ia tak kalah gilanya dengan sang kaisar. Ia membalas ciuman pria itu dengan ganas, melupakan siapa yang tengah ia ajak bercinta.
"Nona Yun.... Aaaahhhh.... Uhhmmmm..." Kaisar Qiang melenguh nikmat seiring dengan tingkahnya yang makin menggila memompa v****a Nona Yun.
Cairan kenikmatan itu mengalir membasahi liang v****a Nona Yun, sang kaisar hanya menatap Nona Yun yang berpaling tak menatapnya. Wajah itu memerah, tak bisa dipungkiri bahwa keduanya begitu menikmati surga dunia tersebut.
Kaisar Qiang masih menghentak perlahan, tangannya mengusap rambut hitam Nona Yun dengan lembut. Kejantanannya terus meminta lebih, merangsek masuk makin dalam dan minta dihentak makin keras.
"Aku tak bisa berhenti Nona Yun, aku belum bisa puas. Kau sangat nikmat dan manis, aku menginginkanmu lagi." desis Kaisar sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nona Yun.
Dengan lidahnya, ia menyapu bibir Nona Yun. Kembali mencecapnya penuh kelembutan dengan sesekali menghisapnya nakal. Sedang di bawah sana terus menghentak bahkan bunyi derit lantai kayu sama sekali tak dihiraukan.
"Qiang Wen...." desis Nona Yun berusaha berbicara dengan nafas yang naik turun tak karuan.
"Hhhmmmm...."
"Bebaskan aku, aku mohon... Ijinkan aku kembali ke duniaku, setidaknya.... Aaahhhh... Aahhh..."
"Tidak akan." ucap Kaisar Qiang bernada tegas sembari menghentak kasar dan cepat.
"Tidak akan... Aku tidak akan melepaskanmu sedikit saja. Kau milikku Nona Yun, hanya milikku. Kau berada dibawah kekuasaanku, kau tak boleh pergi sama sekali. Tidak boleh." geramnya keras lalu mencengkeram pergelangan tangan Nona Yun dengan kencang.
"Ssa.. Sakit..." desis Nona Yun ketika tanpa sadar Kaisar Qiang melukai pergelangannya.
Pria itu menghentak keras, melakukan penetrasi sedalam mungkin membuat sang gadis harus menjerit-jerit merasakan kenikmatan luar biasa. Kaisar Qiang Wen terus menguasainya, melakukannya tanpa henti dan tanpa kenal lelah.
Malam itu, di tengah hutan di sebuah gubuk kecil seorang Kaisar sebengis iblis merobek keperjakaannya sendiri dan melakukannya tanpa henti.
Malam semakin dingin, merestui hubungan badan tanpa ikatan seintim mungkin diantara mereka.
Entah sampai kapan sang kaisar berhenti menyetubuhi gadis itu, membuat sang gadis terkulai lemah dan tak berdaya sedangkan dirinya masih ingin lebih dan lebih.
"Nona Yun, aku memang tak mencintaimu aku hanya akan memanfaatkanmu. Jadi... Tolong maafkan aku. Aku mungkin tak bisa memberimu cinta tapi aku bisa memberimu perlindungan. Aku janji Nona Yun." gumam Kaisar Qiang lirih sembari mengusap pipi halus Nona Yun yang pingsan akibat kelelahan.
Pria itu masih menguasainya, perlahan ia mencabut batang kejantanannya yang masih berdiri tegak. Dengan sayu ia menatap wajah Nona Yun dengan tenang.
"Hanya denganmulah aku merasa puas, berjanjilah padaku Nona Yun... Kita akan melakukannya lagi lain kali."
***********