*** Angin pagi itu cukup keras, hembusannya cukup mampu membuat pintu jendela kamar Yun Xiaowen terbuka. Tirai jendela transparan nampak melambai-lambai akibat tiupan sang angin. Mengerjap, Yun Xiaowen memulai aktivitasnya dengan membuka kedua mata indahnya secara perlahan. Angin yang dingin menembus kulitnya, membuatnya harus kembali meringkuk seraya menggenggam erat selimut yang menyelimutinya. Sebelum matanya menutup kembali, Yun Xiaowen teringat akan tugas-tugasnya. Hal kecil yang sanggup membuatnya tidak bisa hidup bebas layaknya seorang puteri bangsawan. Terlalu berat tugas yang ia sandang, namun karena kekuatan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya Yun Xiaowen tak bisa mengenyahkannya. Wanita bersurai legam itu segera bangun dari tidurnya, ia terduduk dan menyadari jika hanf

