***
Tak ada raut bahagia apalagi senyum yang terpancar di wajahnya. Pernikahan itu meskipun dibuat begitu luar biasa namun Nona Yun menganggapnya hanyalah sebuah pagelaran gila yang hanya akan mengikatnya makin kuat. Semakin ia terikat semakin erat pula ia tidak bisa keluar dari pusaran permainan sang kaisar Qiang.
Langkahnya berat, berjalan pelan menuju ke kamar lamanya. Namun sesampainya di depan pintu, penjaga kamar dengan sigap menyilangkan pedang di depan pintu. Tindakan mencolok itu cukup membuat Nona Yun mencuramkan alis, ia tidak suka dengan tindakan sang penjaga.
"Kenapa kalian berbuat seperti itu padaku? Aku ingin istirahat, sekarang ijinkan aku masuk!" perintah Nona Yun dengan tegas membuat kedua penjaga membungkuk hormat tanpa berusaha menurunkan pedangnya yang menyilang.
"Ampun Yang Mulia, hamba hanya menjalankan perintah Yang Mulia Kaisar untuk menutup semua kamar untuk Anda," jawabnya takut dan bergetar.
Jantung Nona Yun seakan dirobek, tangannya mendadak mengepal erat. Secara alami bola matanya yang kelam berubah menjadi merah semerah darah, kemarahannya perlahan berkobar. "Kenapa? Apa ia ingin aku tidur di luar malam ini?"
"Ampun Yang Mulia, sebenarnya Yang Mulia Kaisar sudah menyiapkan kamar untuk Anda," jawab salah satu dayang seraya membungkuk di belakangnya.
Nona Yun mengangkat sebelah alisnya, ia masih terdiam hingga beberapa saat. Inikah rencana Kaisar Qiang yang ia bisikkan tadi siang?
Sejenak ingatannya kembali pada peristiwa di tengah hutan itu, bukan trauma tapi ia enggan. Iblis tak pernah memiliki nafsu tanpa seijin dirinya sendiri, meskipun Nona Yun sekarang benar-benar menjadi pendamping Yang Mulia Kaisar tapi ia lebih suka menjadi orang biasa dan tetap bebas berkeliaran dimana pun yang ia suka.
"Aku akan cari tempat lain untuk istirahat. Jangan ikuti aku, biarkan aku pergi sendiri," ucap Nona Yun pelan lalu berbalik badan dan meninggalkan para dayang yang mengikutinya.
"Kau akan pergi tanpa seijin suamimu?" celetuk seseorang terdengar menyebalkan.
Langkah Nona Yun kembali terhenti ketika suara yang familiar itu menyindir dirinya cukup pedas, ia hanya melirik lewat ekor matanya.
"Apa kau lupa, istana masih begitu ramai oleh pertunjukkan hingga 7 hari ke depan. Apa kau juga lupa jika tadi siang aku meminangmu sekaligus melantikmu menjadi ratuku?" ucap Kaisar Qiang dingin seraya melangkah mendekati Nona Yun dan meraih pergelangan tangannya.
Tanpa pikir panjang sang kaisar menarik tangannya hingga Nona Yun terhempas ke dalam pelukannya yang hangat, tatapan mereka tak bisa terhindarkan sedikitpun.
"Pergilah kalian semua, aku ingin berbicara dengan ratuku berdua saja," titah Kaisar Qiang tanpa melepaskan jerat bola matanya yang begitu tajam.
Semua dayang dan pengawal raja membungkuk serempak. Mereka perlahan undur diri dari hadapan sang kaisar dan ratu.
"Kenapa kau menutup semua pintu kamar? Apa kau ingin aku tidur di luar? Jika begitu kenapa kau menahanku?" tanya Nona Yun tak bisa menyembunyikan amarahnya.
"Apakah kau tidak ingin melaksanakan malam pertama denganku?" tanya balik Kaisar Qiang tanpa rasa malu sedikitpun.
Wajah Nona Yun seakan terbakar, ia segera berpaling menutupi rasa aneh yang menyelimuti dirinya saat ini. Bagaimanapun Kaisar Qiang terlalu vulgar menanyakan hal itu kepadanya. Apakah yang ada di otak pria ini hanyalah itu-itu saja?
"Apakah kau tidak ingin melayaniku? Kau istriku, kau bahkan sudah tahu apa saja tugas dari seorang istri. Jadi apakah kau keberatan?" cebik Kaisar Qiang dengan nada tajam sembari mencengkeram pinggul Nona Yun dan semakin mendekatkan wajahnya ke depan Nona Yun.
"Kau menginginkan tubuhku? Kau ingin mencicipiku? Apakah itu tujuanmu mengikatku dalam pernikahan? Kau bukan hanya gila kekuasaan tapi kau..."
"Aku tidak ingin mendengar kritikanmu, aku hanya ingin membina rumah tangga seindah mungkin. Itu saja," sahut Kaisar Qiang lalu meraih pergelangan tangan Nona Yun dan menyeretnya agar mengikutinya menuju ke kamar pengantin.
"Kau mau membawaku kemana?" tanya Nona Yun berusaha berontak tapi ia terus terseret langkah Kaisar Qiang yang cepat.
Pria di depannya hanya diam, ia terus meluruskan langkah kakinya menuju ke sebuah kamar yang letaknya menyendiri di istana. Sebuah kamar yang terletak di tengah-tengah danau buatan yang berair begitu jernih, jembatan kecil menjadi penghubung antara daratan dengan kamar itu.
Perlahan Nona Yun terpukau, ia tidak pernah melihat kediaman secantik ini. Sebuah kamar yang diukir dengan motif bunga dan naga, sekelilingnya ditanami bunga peony, bunga kesukaannya.
"Ini akan jadi kediamanmu yang baru," ucap Kaisar Qiang datar tanpa menatap Nona Yun.
Pria itu usai melewati jembatan kecil lalu disambut beberapa dayang yang berjaga di depan kamar Nona Yun yang baru, perlahan pria itu masuk ke dalam kamar setelah para dayang membukakan pintu untuknya.
"Kenapa kau diam? Apa kau takjub dengan semua ini?" tanya Kaisar Qiang lalu berbalik badan ketika melihat Nona Yun terus mengunci suaranya.
Nona Yun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ia tidak memungkiri jika tempat yang dipersembahkan Kaisar untuknya sangatlah mewah dari kediaman pribadi sang kaisar sendiri.
"Kamar ini sungguh bagus tapi kau memberikannya pada orang yang salah. Seharusnya kau memberikannya pada orang yang balik mencintaimu sedangkan aku, aku hanyalah makluk rendah. Bahkan setelah hari ini kau akan mempekerjakan aku untuk usahamu yang lain," ucap Nona Yun tenang sambil berjalan menuju ke kursi empuk berukuran panjang yang telah dilapisi dengan bulu beruang yang begitu hangat.
Kaisar Qiang mengerutkan dahi, ia memilih terdiam sejenak sebelum pada akhirnya ia mengunci semua pintu dan jendela dengan kekuatan yang cukup keras memberikan efek kaget pada diri Nona Yun. Pria gagah itu berjalan menuju ke meja, menjungkirkan sebuah teko pada cawan emas di hadapannya.
"Aku tak peduli jika pemberianku ini terlalu bagus atau sebaliknya, aku juga tak peduli jika orang mengkritik bahwa aku memberikannya pada orang yang salah...." Kaisar Qiang mengangkat cawan itu lalu menoleh dan berjalan ke hadapan Nona Yun.
"Apapun dirimu, baik atau buruknya dirimu aku sungguh tidak peduli. Hatiku sudah memilih kamu, hanya kamu." ucap Kaisar Qiang dingin sambil menyodorkan cawan itu pada Nona Yun.
"Apa?" tanya Nona Yun tak mengerti dengan segala tindakan perhatian yang kaisar berikan padanya.
"Aku dengar darah rusa sangat manis, aku berburu sebelum matahari terbit. Kau menyukai darah bukan? Kalau iya terimalah!" ucap Kaisar Qiang dengan tenang.
Sekali lagi Kaisar menyodorkan cawan itu dengan maksud agar Nona Yun mau menerimanya. Gadis iblis itu mengulurkan tangannya, berniat menerima cawan dan melihat apa isinya. Benar, itu memang benar darah rusa. Darah kesukaannya.
"Darimana kau tahu aku menyukai darah rusa?" tanya Nona Yun masih menaruh curiga.
"Hanya mengira, rusa adalah binatang berdarah tercantik di dunia. Aku memburunya khusus untukmu, sebaiknya kau tak banyak bertanya dan segeralah meminumnya." tukas Kaisar Qiang lalu melepas jubah kebesarannya yang begitu berat.
"Terimakasih." bibir kelu Nona Yun berucap. Gadis itu lantas meneguk isi cawan itu sampai habis, ia tahu hanya suaminyalah yang tahu akan kebutuhan darah dirinya. Sudah lama ia tidak mengonsumsinya hingga seteguk saja rasanya begitu nikmat.
"Apa kau menikmatinya?" tanya Kaisar Qiang lalu duduk di samping Nona Yun yang masih berusaha membersihkan sisa darah di sudut bibirnya.
"Aku bisa memberikannya lebih untukmu." ucap Kaisar Qiang menatap dua bola mata Nona Yun.
Kaisar Qiang mengarahkan tangannya ke meja dan secara ajaib teko tersebut terbang ke arahnya. Dengan sigap ia meraihnya, menuangkannya sekali lagi di cawan Nona Yun dan membiarkan gadis itu terus minum pemberiannya.
"Aku akan memberikannya setiap kau mau Nona Yun. Aku juga akan memburu rusa untukmu setiap kali kau menginginkannya." ucap sang Kaisar terdengar begitu manis.
Perlahan Kaisar Qiang kembali menaruh teko itu pada tempatnya tanpa harus berdiri, kekuatannya cukup unik dan itu menjadi daya tarik tersendiri dari kaisar. Nona Yun menyeka bibirnya namun ditahan oleh sang kaisar hingga tatapan mereka kembali beradu pandang.
"Kau terlihat manis dengan bola matamu yang merah." ucap Kaisar Qiang terdengar berbisik di depan wajah Nona Yun.
Gadis itu merona, ia membiarkan saja tatkala Kaisar menyeka bibirnya dengan ibu jarinya yang besar. Darahnya berdesir ketika tangan kaisar yang sedikit kasar itu sengaja mengusap pahanya.
"Katakan padaku apa yang kau mau Nona Yun?" tanya Kaisar Qiang dengan wajah semakin mendekat membuat Nona Yun tak bisa menghindari gesekan masing-masing hidung mereka.
"Bisakah kau sedikit memundurkan wajahmu?" pinta Nona Yun lirih namun Kaisar Qiang justru tak bergeming. Ia justru dengan sengaja malah mencengkeram paha Nona Yun membuat gadis itu harus menggelinjang karena geli.
"Kenapa? Apa kau terganggu?" tanya Kaisar Qiang terdengar justru memancing.
Nafas Kaisar yang berbau mint begitu menggoda, entah kenapa setiap perlakuan Kaisar padanya membuat Nona Yun merasa makin sensitif. Ada apa dengan dirinya? Kenapa melihat Kaisar m***m itu darahnya terus memanas?
Gadis itu bernafas semakin berat, dadanya terasa sesak apalagi Kaisar terus menggodanya dengan menyentuh ujung saraf di tubuhnya.
"Kenapa? Apa kau merasakan sesuatu? Kenapa kau berpeluh?" tanya Kaisar Qiang di hadapan Nona Yun tanpa berhenti membelai pipi sang gadis yang begitu menggemaskan.
"Aku merasa tubuhku tidak karuan, tubuhku memanas dengan sendirinya. Aku... Aku..." Nona Yun terlihat sedikit gelisah. Ia menyeka peluhnya yang bercucuran, jantungnya berdegup kencang apalagi saat melihat bibir Kaisar Qiang yang tipis dan menggoda.
"Apa aku perlu membukakan pakaianmu?" tawar Kaisar Qiang tenang namun membuat darah Nona Yun semakin berdesir aneh.
Kenapa? Kenapa hanya melihat bibirnya saja, Nona Yun bisa merasakan hasrat aneh di tubuhnya? Gadis itu berpaling, dengan tidak melihat diri Kaisar Qiang ia bisa menahan dirinya.
"Kenapa? Kau tidak menyukaiku?" tanyanya lagi, kali ini sang Kaisar meluruskan tubuhnya dan mulai membuka bajunya hingga bertelanjang d**a.
Nona Yun tak menjawab, kini dalam hatinya ia tengah bertarung hebat dengan hasratnya. Tidak mungkin ia berubah aneh setelah meminum darah rusa atau jangan-jangan....
"Apa kau mencampur sesuatu di minumanku?" tanya Nona Yun tiba-tiba membuat sang Kaisar kembali menoleh dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Nona Yun. Sesuatu yang terus membuat Nona Yun berdebar keras dan meremas kursi dengan kencang.
"Kenapa kau bertanya demikian? Memangnya apa yang kau rasakan?" pancing Kaisar Qiang lalu menyeringai dan memegangi rahang Nona Yun agar gadis itu tak lagi berpaling dari tatapannya yang tajam.
Nona Yun membisu, ia terus menjerit dalam hati karena tubuhnya makin memberontak karena hasratnya tak segera tersalurkan.
"Apa kau tak ingin menikmati malam yang indah ini Nona Yun? Bersamaku, hanya dengan diriku." gumam Kaisar Qiang lalu menyapu leher Nona Yun hingga membuat sang gadis merinding geli.
Gadis itu menggigit bibirnya, ia makin tak tahan ketika tangan Kaisar dengan usil menyentuh dadanya dan menimbulkan sensasi berdesir di jantungnya.
"Kita bisa melakukannya berdua, tanpa orang lain yang mengganggu. Kau tahu kamar ini cukup jauh dari keramaian jadi...."
Cup.
Nona Yun menarik tangan sang kaisar lalu menciumnya brutal, ia tidak tahu lagi dengan apa ia mengendalikan dirinya yang tengah terbakar. Sepertinya Kaisar Qiang telah mencampurkan ramuan peningkat gairah dalam minumannya dan akhirnya kini bisa ditebak apa yang terjadi.
Gadis itu tak bisa menahan dirinya terlalu lama, ia mencium Kaisar Qiang penuh nafsu yang membara. Mata merahnya terpejam, menikmati setiap ujung syaraf di bibir sang kaisar.
"Kau begitu lancang Kaisar Qiang. Kau apakan diriku? Kenapa aku bisa seperti ini?" desis Nona Yun seusai mencium Kaisar Qiang Wen.
Gadis itu menatap sang kaisar dengan tatapan jalang, seperti seorang wanita yang sangat kehausan. Kaisar Qiang tak menjawab, ia meraih tubuh Nona Yun dan mendudukkannya di pakuannya. Mereka berhadapan, berpandangan cukup lama hingga akhirnya Kaisar Qiang tersenyum tipis di hadapan Nona Yun.
"Malam ini milik kita Nona Yun, mendekatlah, aku suamimu." bisiknya terdengar begitu manis.
Kaisar Qiang menangkup wajah Nona Yun, menariknya agar mendekatkan wajah mereka kembali. Mereka sama-sama terpejam tatkala bibir mereka saling bersinggungan. Lembut, sesuatu yang ia rasakan pertama kali ketika bibirnya mengecup bibir sang kaisar.
Pria itu melepas ciuman Nona Yun sedikit paksa. Gadis itu masih terpejam lalu membuka kedua bola matanya yang merah semerah darah. Mereka kembali bertatapan hingga akhirnya Nona Yun yang menyambar lebih dulu bibir sang kaisar. Gadis itu dengan nafasnya yang tersengal-sengal, meraih wajah Kaisar Qiang lalu melumanya cukup lama. Manis, sesuatu yang mampu ia kecap dalam setiap hisapan.
Kenapa ia bisa semabuk ini? Kenapa dalam hitungan secepat ini ia bisa begitu menggilai sang kaisar bahkan tangan nakalnya berani menggerayangi d**a sang kaisar.
Kaisar Qiang Wen membalas ciuman basah Nona Yun dengan kekuatannya ia mematikan semua lampu minyak hingga gelap gulita dan hanya menyisakan satu buah lampu minyak yang bercahaya temaram.
"Katakan padaku Nona Yun, apa yang kau mau?" bisik Kaisar Qiang setelah melepas paksa bibir Nona Yun.
Gadis itu meremas kursi, bibirnya bergetar tak karuan. Tubuhnya sangat panas, ia tidak bisa menahan geloranya. Dengan mengacuhkan rasa malunya ia kembali hendak menyambar bibir Kaisar Qiang namun ditolak begiti saja oleh sang kaisar.
"Katakan Nona Yun!" perintah Kaisar Qiang mendesak seakan tahu bagaimana kondisi Nona Yun saat ini. Gadis itu tengah terombang-ambing akan hasratnya sendiri, ia sungguh terlihat tak berdaya.
"Aku... Aku..."
"Katakan padaku, Ratuku." bisik Kaisar Qiang sembari mengelus wajah Nona Yun yang merona merah.
"Aku... Aku menginginkan tubuhmu Kaisar Qiang. Aku menginginkanmu."
*********-**********