19.Selalu Sama

2015 Words
*** "Apa kau tak ingin bertemu dengan Yang Mulia Kaisar?" tanya seseorang di belakang Nona Yun Xiaowen yang tengah membidik sasaran dengan panahnya. Nona Yun terdiam, ia hanya bergeming sama sekali. Tanpa menoleh ia yakin sekali jika suara itu milik Pangeran Hong. Wanita itu masih dengan santai mengarahkan bidikannya agar lebih akurat. "Kau juga menjauhi keramaian, apa kau tak suka? Istana masih mengadakan pesta untuk pernikahan kalian, tidakkah kau ingin menyambut rakyatmu?" ucapnya sekali lagi seakan bernada protes. "Pesta itu bukan untukku, tapi untuk Yang Mulia m***m. Dari dulu aku tak menyukai pestanya manusia, mereka suka bermalas-malasan dan bersenang-senang. Lagipula untuk apa aku menyambut yang jelas-jelas bukan rakyatku, aku adalah iblis dan rakyatku adalah iblis bukan manusia," jawab Nona Yun menohok dan sedikit ketus. Wanita berambut panjang dengan tatanan rambut disanggul setengah itu menarik busurnya kuat-kuat lalu melepasnya tanpa ragu. Matanya yang jeli bisa mengawasi bagaimana anak panahnya menancap sempurna pada apel yang masih tergantung di pohonnya. "Aku hanya ingin melaksanakan tugasku saja, membahagiakan dirimu Pangeran Hong. Bagiku yang lainnya sudah tidak penting, daripada kau di sini dan menyia-nyiakan waktumu sebaiknya kau bergegas kemasi barangmu dan kembali ke kerajaan kita," perintah Nona Yun dingin tanpa menoleh ke arah anak kecil itu. "Sepertinya kau menghindari Yang Mulia, memangnya ada apa?" tanyanya lagi seakan ingin tahu. Nona Yun menghela napas, ia terpaksa menghentikan niatnya untuk kembali membidik. Sebuah ingatan yang membuatnya harus menahan malu karena bertingkah di luar batas normalnya. Gadis itu sejenak memejamkan matanya erat-erat seakan tak ingin mengingat lagi kejadian malam pertama yang begitu memalukan dan membuatnya canggung setengah mati. "Kau masih anak kecil sebaiknya berhentilah untuk bertanya-tanya padaku." tegas Nona Yun bernada sinis dan tak suka lalu kembali mengangkat busur panahnya. Gadis itu terkesiap ketika sebuah tangan besar menggenggam lengannya dan menariknya agar segera berbalik menatapnya. Mata Nona Yun terbelalak kaget, wajah canggung langsung terpampang jelas di wajahnya. Ia sangat kaget ketika melihat Kaisar Qiang di hadapannya, menatapnya seakan menerkam sambil membuang busur panahnya. "Pa.. Pangeran Hong..." "Tidak ada Pangeran Hong di sini." tukas Kaisar Qiang Wen dengan dingin tanpa melepaskan genggaman tangannya di lengan Nona Yun. Pria itu sengaja menirukan suara Pangeran Hong agar bisa mengelabuhi Nona Yun karena setelah malam pernikahan itu Nona Yun seakan menghindar darinya dan selalu menolak untuk bertemu dengannya. "Kenapa kau selalu menghindariku? Bagaimana aku bisa menjelaskan pada rakyatku ketika mereka ingin mengagungkan namamu dan sekadar menyapamu?" ucap Kaisar Qiang terdengar tajam dan menusuk. "A.. Aku tak punya waktu, sebaiknya jangan ganggu aku. Tinggalkan aku sendiri." ucap Nona Yun menahan malu ketika sepotong demi sepotong memori itu bermain di otak kecilnya tentang kejadian malam itu. Gadis itu berusaha melepaskan kaitannya namun semakin ia berusaha pria itu semakin erat menggenggamnya, Nona Yun balas menatap mata Kaisar Qiang. Mata yang kelam berangsur memerah karena emosinya terganggu akibat ulah Kaisar Qiang yang sedikit kasar. "Lepaskan aku!" ucap Nona Yun bernada perintah namun Kaisar Qiang tak peduli bahkan ketika gadis itu mengeluarkan cakar dan menggores tangan sang kaisar, pria itu memilih tak bergeming. "Pergilah! Daripada kau selalu menggangguku sebaiknya segera siapkan surat perintah untukku untuk melancarkan ambisi besarmu itu." tegas Nona Yun mencoba mengalihkan perhatian sang kaisar. Liuu Qiang Wen tak membalas ucapan Nona Yun, dia justru semakin mengencangkan genggamannya dan menarik tubuh itu semakin dekat dengannya. Tanpa merasa malu karena ada beberapa dayang dan pengawal yang mendampinginya Kaisar Qiang memagut bibir Nona Yun dengan cepat. Mata gadis itu membulat, ia bahkan tak mampu menghindar ketika Kaisar Qiang menyambar bibirnya dengan begitu cepat. Ia berusaha menolak namun pria itu lebih dahulu menguasai bibirnya, tak ada yang bisa ia perbuat selain pasrah dan menunggu hingga Kaisar Qiang melepaskan bibirnya. "Kau sungguh tidak sopan." sembur Nona Yun ketika Kaisar Qiang begitu melepaskan pagutan mautnya. Tanpa jeda Kaisar Qiang kembali mengecup bibir Nona Yun seakan ungkapan tadi hanyalah angin saja. Nona Yun memberontak, ia memukul d**a sang kaisar dan kembali hendak mencakarnya namun sang kaisar bisa menahannya tanpa melepaskan ciumannya. "Apa yang kau mau?" tanya Nona Yun dengan nafas menderu ketika berhasil melepaskan diri dari ciuman sang kaisar. Kaisar Qiang masih tak menjawab, ia bahkan dengan seenaknya sendiri mengangkat tubuh Nona Yun hingga gadis itu menendang-nendangkan kakinya macam orang yang diculik saja. Kaisar tak bergeming hingga akhirnya ia melepaskan tubuh Nona Yun dan menyorongnya hingga membentur pada sebuah batang pohon. Mata Nona Yun menyorot kesal, ia segera meraih tangan Kaisar Qiang yang kini mencengkeram rahangnya kuat-kuat. Ia balas mencengkeram tangan sang kaisar dengan cakar yang hampir menembus kulit pergelangan tangan sang kaisar. Tes. Darah menetes dari tangan sang kaisar, pria itu tetap tak bergeming meskipun Nona Yun telah melukainya dan dengan sedikit memaksa ia hendak kembali mencium Nona Yun. Namun sebelum Kaisar Qiang mendapatkan inginnya, Nona Yun mampu memukul perasaan Sang kaisar dengan keras. "Kenapa? Kenapa kau begitu bernafsu menyentuh tubuhku Qiang Wen? Apa kau mulai menyukaiku? Apa kau lupa bahwa kau telah mengatakan bahwa kau adalah raja yang tak mengenal cinta kasih? Apa kau lupa semua itu?" Kaisar Qiang terdiam. Ia mencerna setiap kata Nona Yun dengan tatapan tertohok. "Jika kau memang ingin meraih tujuh dunia besar, aku sarankan sebaiknya kau tidak terlalu dekat denganku. Jangan pernah jatuh cinta padaku ataupun berniat ingin memiliki anak dariku. Jika kau memang berniat ingin menggapainya, bersiaplah untuk melepaskan segalanya Qiang Wen." tegas Nona Yun dengan suara sedikit bergetar. Perlahan genggaman tangan sang kaisar merenggang, ia menatap Nona Yun dengan tatapan kecewa dan itu terlihat jelas sekali di wajahnya. "Kau boleh menyentuhku kapanpun kau mau Qiang Wen karena aku sekarang adalah istrimu tapi jangan membuat dirimu berlarut-larut hingga akhirnya kau benar-benar jatuh cinta padaku. Setiap keinginan pasti ada pengorbanan, kau harus tahu hal itu Qiang Wen. Jaga jarak dariku dan jangan libatkan dirimu terlalu jauh jika kau memang benar-benar ingin menjadi penguasa tunggal di dunia ini." peringat Nona Yun serius. Gadis itu menatap mata Kaisar Qiang Wen sejenak lalu menghela nafas dalam-dalam. "Aku bersedia berlutut di hadapanmu menjadi b***k untuk menjadi perantara kesuksesanmu, semua itu demi kebahagiaan Pangeran Hong. Qiang Wen segera tepati janjimu itu dan aku akan segera mewujudkan ambisimu." peringat Nona Yun lalu melangkah pergi. Namun dengan sigap tangan Kaisar Qiang menangkap pergelangan tangan Nona Yun dan menahannya agar tidak pergi, mereka bertatapan cukup lama. "Jujur, apa kau tak mencintaiku? Apa kau tak bahagia jika bersamaku? Aku tidak begitu mengenal cinta dengan baik tapi aku selalu yakin cinta tak pernah berniat untuk melukai. Lalu apa maksudmu? Bisakah kau jelaskan padaku? Kenapa kau menikamku dengan perkataanmu seperti itu? Aku tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik, aku juga tidak bisa membuatnya bahagia dan balik terkesima padaku. Namun apa yang kau katakan padaku cukup mengena di hatiku. Aku bukanlah orang yang gampang jatuh cinta namun aku tahu apa yang tengah aku rasakan. Aku juga bukanlah orang baik-baik tapi aku tahu bagaimana memperlakukanmu. Ini terasa begitu sakit ketika aku harus mengakuinya di depanmu terlebih aku adalah orang yang begitu meninggikan ego, tapi kau harus tahu. Kau harus tahu... Aku menyukaimu Yun Xiaowen." Nona Yun terbungkam, dadanya mendadak sesak luar biasa. Kenapa hubungannya bisa sejauh ini? Biasanya ia hanya menganggap angin lalu tapi entah kenapa rasanya kali ini berbeda. Sekali lagi ucapannya yang pedas tadi kembali pada dirinya, ia seperti ditampar tangannya sendiri. Qiang Wen membalikkan fakta, menohok balik hatinya dengan ucapan lembut namun begitu menyakitkan di ulu hati. Sesaat Nona Yun mulai ragu, benarkah ia juga memiliki perasaan yang sama seperti Qiang Wen? Kenapa hanya dengan mendengar pengakuannya saja hatinya ikut terasa sesak dan sakit? Ada apa? Ada apa dengan dirinya? **** "Yang Mulia, pemberontakan kaum iblis makin merajalela. Mereka ingin Yang Mulia Ratu segera dibebaskan." lapor Panglima Xue di kediaman Qiang Wen. Pria itu belum menjawab, ia tengah memperhatikan pesta rakyat yang kini diadakan di halaman istana untuk acara pernikahannya dari balik tirai jendela kamarnya. "Aku tidak akan menyerahkan Nona Yun." jawab Kaisar Qiang singkat. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membendung pemberontakan mereka tapi kekuatan mereka memang diluar batas. Jika terus-menerus seperti ini kaum iblis bisa sampai kemari dan menyerang kita untuk mendapatkan ratu mereka kembali." "Ini adalah konspirasi,selama ini aku tak pernah melakukan apa saja yang dituduhkan mereka. Sebaiknya bendung mereka agar tidak menyerang kerajaan jika mereka tetap tidak bisa dikendalikan bunuh saja mereka. Kita tak punya waktu untuk meladeni mereka." titah sang raja dengan tatapan dinginnya. "Baik Yang Mulia." patuh sang panglima sambil membungkuk. "Beri pengertian pada mereka jika mereka tetap tidak mengerti dan justru semakin merepotkan maka tak ada cara lain selain menyingkirkannya. Tapi ingat jangan sampai hal ini terdengar Nona Yun, kau harus menjaga rahasia ini sampai kapanpun." ucap Kaisar lirih sembari melirik ke arah Panglima Xue. "Baik Yang Mulia, saya akan berangkat dengan sebagian prajurit secara diam-diam untuk membasmi iblis yang meresahkan tersebut. Saya mohon undur diri Yang Mulia." ucap Panglima Xue membungkuk hormat lalu melangkahkan kaki meninggalkan kediaman kaisar yang begitu sepi. Sang kaisar terdiam, ia kembali memikirkan Nona Yun lengkap dengan segala ucapannya yang kini tertanam kuat dalam benaknya. Semua perkataan yang mampu menahannya untuk mendekati Nona Yun lebih dekat lagi. Sepertinya ia memang sudah kehilangan jati dirinya, kenapa setiap bersama Nona Yun ia bahkan merasa kehilangan sisi dingin dan kekejaman yang ia punya? Wanita itu tidak memiliki apa-apa kecuali sikap ketus dan tak ramah kepadanya namun entah kenapa dirinya dengan begitu mudah menerima kekurangan wanita itu dengan sabar. Ini seperti bukan dirinya. Kaisar Qiang menghela nafas, ia belum juga beranjak dari samping jendela. Seumur hidupnya ia tidak pernah merasa tak nyaman seperti ini, perasaan yang begitu membingungkan. "Yang Mulia.." sapa seseorang membuat Kaisar Qiang menoleh dengan dingin ke arah asal suara. Mata tajam itu melihat siapa yang datang, Selir Won selir ketiganya. Sang kaisar tak bersuara ia kembali menatap ke arah luar jendela, ia bahkan tak tertarik dengan kedatangan selir tersebut. "Yang Mulia kenapa anda tidak keluar dari ruangan? Istana masih sangat ramai, anda harus ikut merayakannya." bujuk Selir Won lalu mendekati sang kaisar. "Katakan apa maumu Selir Won." ucap Kaisar Qiang begitu dingin. Wajah Selir Won terlihat kecewa, namun ia segera menepis perasaannya. Perlahan ia meraih lengan Kaisar Qiang, mencoba mendekatinya dan menyandarkan kepalanya di sana penuh rasa manja. "Aku tahu anda pasti sedih karena Nona Yun tidak menemani anda, tapi anda harus tahu bahwa banyak gadis yang menginginkan kebersamaan dengan anda. Jangan sedih Yang Mulia." hibur Selir Won lirih. Kaisar Qiang terdiam, ia memilih untuk tidak bersuara sedikitpun hingga akhirnya Selir Won dengan berani meraih wajah tampan Kaisar Qiang dan menangkupnya lembut. "Yang Mulia saya juga mencintai anda, anda harus tahu itu." bisiknya lagi dengan tatapan memelas. Kaisar Qiang balas menatap Selir Won dengan dingin, ia bahkan membiarkan saja ketika selir ketiganya itu berjingkat hendak mencium bibirnya. Tak ada tanggapan dari tubuh Kaisar Qiang ketika selirnya itu mampu menjangkau bibirnya namun... Kriett... Suara pintu terbuka, Nona Yun datang bertepatan saat mereka berciuman. Kaisar hendak menoleh namun Selir Won memang sengaja mengunci ciuman mereka cukup lama hingga Nona Yun harus melihat adegan itu cukup lama. Gadis iblis itu memundurkan langkahnya tanpa sadar, kakinya mendadak lemah luar biasa. "Ratu...." gumam Kaisar Qiang ketika berhasil melepaskan diri dari ciuman Selir Won. " Maaf aku mengganggu kalian. Aku akan datang nanti lagi." ucap Nona Yun lirih lalu berbalik badan meninggalkan Kaisar bersama selirnya. "Tidak. Nona Yun berhentilah, aku mohon." kejar Kaisar Qiang lalu melangkah mengejar Nona Yun. "Nona Yun...." panggil Kaisar Qiang sambil menangkap tangan Nona Yun. Mereka bertatapan sejenak, Nona Yun lantas memalingkan wajahnya berharap Kaisar Qiang tidak melihat perasaan campur aduknya. "Nona Yun soal tadi aku bisa jelaskan kalau...." "Sejak kapan kau sepanik ini Kaisar Qiang? Aku hanya melihatmu berciuman, itu saja. Lalu kenapa kau panik? Aku tidak apa-apa." jawab Nona Yun tanpa menatap mata kaisar. Qiang Wen menangkup wajah Nona Yun, memaksanya untuk balas menatap mata sang kaisar. Ia tercekat karena melihat manik merah Nona Yun begitu menyala, itu pertanda memang Nona Yun sedang marah namun tak ingin memperlihatkan. "Apa kau yakin tak apa-apa?" "Ya." jawab Nona Yun lalu berpaling namun sekali lagi Kaisar Qiang menahan wajahnya agar tidak kembali berpaling darinya. "Bibirmu mungkin bisa berbohong tapi matamu tidak, Nona Yun. Aku bisa melihatnya dengan jelas, jadi bisakah kau mengatakan perasaanmu sekarang?" *********---***************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD