Pagi pun datang.
Carrie terlalu lelah sehingga menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Dia tidak sadar kalau telah melewatkan sarapannya. Kejadian semalam terlalu menguras pikiran dan air matanya. Setelah turun dari ranjang, dia segera memutar kenop pintu dengan hati-hati, dan untungnya telah dibuka oleh James.
Ya, dia bebas berkeliaran di dalam rumah kembali, hanya di dalam rumah. Setelah itu, dia mengendap-endap ke pintu depan yang masih terkunci rapat. Dia menyibak kelambu jendela, berharap ada seseorang yang lewat di jalanan depan rumah. Namun, harapannya tidak kunjung terwujud, pedesaan ini luar biasa sepi—binatang saja tidak kelihatan, hanya dedaunan yang mulai gugur dari pepohonan.
Mendadak suara James datang dari dalam. “Nona Wilson, mungkin sebaiknya kau bantu aku membereskan dapur, kau belum sarapan, bukan? Kemarilah.”
Carrie terkesiap. Dia tidak menyangka kalau pria itu mengetahui gerak-geriknya, padahal langkahnya begitu pelan, nyaris tidak ada suara apapun, kecuali bunyi “klek” pintu tadi.
Tak ada pilihan lain, dia masuk ke dalam untuk menemui sang penculik. Sejak kemarin, wanita ini menjadi lebih waspada. Emosi James terkadang mengerikan, dan dia tidak mau melihat wajah tegang seperti itu lagi.
James sedang membereskan meja dapur, merapikan segalanya di dalam rak-rak. Carrie sedikit heran karena sebelumnya tempat ini seperti pembuangan sampah. Namun sekarang pria yang malas membersihkannya mendadak bertingkah berbeda? Bukankah lebih baik menyuruhnya seperti kemarin? Mengapa sikapnya berubah drastis?
Wajah James jauh lebih cerah hari ini. Itu karena memang perut sudah terisi, kebutuhan tidur sudah tercukupi, dan sedang tidak ada permasalahan. Dia tersenyum pada Carrie sembari menyuguhkan sandwich di atas meja.
Carrie duduk di kursi sembari memandangi memandangi sandwich yang tidak ada bedanya dari kemarin. Dia penasaran apakah akan terus memakan ini sampai masa penculikannya selesai. Memang, dia bukanlah wanita yang pemilih makanan, tapi dia tidak terlalu menyukai rasa daging.
“Oh, kenapa? Kau sudah tidak tahan dengan makanan di rumah ini? Kau harusnya senang, Nona, aku memberimu makan, banyak sekali penculik yang membiarkan tawanannya mati kelaparan—lalu membuang mayatnya setelah tuntutannya terpenuhi,” sindir James sembari duduk di kursi seberang meja, lalu melipat tangan di atas meja sembari mengamati wajah murung Carrie.
“Aku tidak mengeluh.” Carrie memakannya. Dia masih menampakkan wajah yang tidak suka semua ini. Pikirannya masih dipenuhi hal buruk. Sebelum dia tahu apa rencana sang ayah, mana mungkin dia membiarkan dirinya berada di sini. Ketakutannya pada pria yang membesarkannya itu sama besarnya dengan sosok James. Dua pria ini sama-sama mengerikan.
“Oh, Sayangku, kau benar-benar seperti pegawai yang tahu kalau akan dipecat, muram sekali, apa kau masih marah atas apa yang terjadi semalam?” tanya James terdengar lembut dan agak menyesal atas apa yang dilakukannya tadi malam. “Oke, aku mungkin menakutimu, jadi aku minta maaf.”
Carrie terkejut, lalu memberikan pandangan penuh keheranan pada pria ini. “Minta maaf? Kau minta maaf?”
“Dengar, aku bisa meminta maaf jika itu maksudmu, ya—ya, kriminal pun bisa meminta maaf. Kau hidup di dunia yang terang dimana kriminal yang ayahmu dan jajarannya tangkap itu sangat jahat, kejam dan tidak menyesali perbuatannya. Aku, jujur saja—aku tidak suka melakukan penculikan ini, tapi entahlah sebagian besar dari diriku, tidak peduli. Intinya adalah ini adalah cara tercepat untuk mendapatkan perhatian ayahmu. Coba kau pikir, jika aku hanya mengandalkan cara hukum, dia akan memenjarakanku sebelum aku bisa bicara, kalau dengan cara ini—aku bisa bicara sepuasku dengannya.”
Carrie tidak menampik ucapannya tersebut karena tahu betul sifat sang ayah yang begitu egosi dan arogan. Akan tetapi, dia merasa kasihan dengan James yang kemungkinan besar rencananya pastilah gagal. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika persembunyian mereka diketahui. “James, jika tempat ini ketahuan, kita akan pergi kemana?”
“Aku tak perlu memberitahumu ‘kan?”
“Tapi aku—”
“Oke, aku punya sebuah pondok tak jauh dari sini, di tengah danau besar yang pastinya jarang sekali dijamah orang, lahannya pun milik pribadi, milikku tapi atas nama orang lain, intinya—aku bisa mengelabui semua orang suruhan tunanganmu itu jika lokasi kita benar-benar diketahui.”
“Mantan tunangan,” ralat Carrie cepat, “tapi James, kau terdengar meremehkan mereka.”
“Tidak, Sayang, sudahlah, kau yang terdengar meremehkanku, kau tak tahu siapa aku. Sejak remaja aku sudah mengetahui trik kotor kriminal, berkat ayahmu tentu saja, dan semuanya akan sesuai perhitunganku. Well, ini permainan, kita lihat saja—apakah ayahmu bisa menemukan kita dalam waktu seminggu sebelum aku menyebar keburukannya?”
“Seminggu?”
“Aku memberinya waktu seminggu untuk mengakui perbuatannya di depan publik atau akan kusebar keburukannya serta berita kalau kau sedang kuculik. Kau pasti penasaran bagaimana reaksi publik kalau putri emas seorang kepala polisi diculik seseorang dan ternyata ayahnya tidak melakukan apapun selama ini? oh—kejamnya!” James seolah menikmati permainan yang sedang dia mainkan dengan sosok bernama Jeffrey Wilson ini. Dendam dan kebenciannya sudah mendarah-daging sampai tidak mampu diredam apapun.
Namun, berulang kali amarah itu seolah lenyap ketika melihat wajah Carrie, cinta membuatnya lemah dan ia sadar itu. Lambat laun perasaan cintanya pada wanita ini membara. Setiap detik yang mereka lalui, bahkan suara lembutnya pun kini selalu ternging di kepalanya. Menghabiskan waktu sehari dengan seorang Carrie Wilson seolah membuat akal sehatnya hilang, dendamnya menyusut, dan yang dia inginkan hanyalah—membawanya kabur dan hidup dengannya.
Hanya itu.
Pancaran mata yang ditujukan pada Carrie mengatakan semua itu dengan jelas.
Carrie belum memahaminya, malah terkesan takut karena terus dipandangi. “Kau yakin kalau kau berhasil, maksudku, apa yang akan terjadi setelah seminggu berlalu? Bagaimana jika kau sudah membalaskan dendam dan ayahku hancur? Bagaimana denganku?”
“Aku akan melepaskanmu.”
“Seminggu?”
“Ya, itulah kenapa aku selalu bilang, tenanglah.”
“Begitu saja? Kau akan melepaskanku begitu saja? Begitu ... saja?”
“Memangnya kau ingin aku melakukan apa padamu?” James menyeringai, berusaha untuk menutupi rasa cinta yang terlanjur berkobar di kedua bola matanya. Dia memikirkan hal-hal jorok tentang Carrie untuk meyakinkan dirinya bahwa perasaannya untuk wanita itu murni hanya karena ketertarikan fisik, tak lebih. Sebagai pria sudah pasti dia akan menyukai wanita seperti ini. Cantik, ramping, pirang, dan terlihat sangat nyaman jika diajak berada di ranjang.
Carrie menghela napas panjang, lalu mengamati roi isinya. “Baiklah, aku takkan mencoba kabur, aku percaya padamu.” Ya, dia mulai bisa merasakan kalau James kemungkinan tidak sebodoh dan sejahat yang dia kira. Namun, tetap saja, jika ada kesempatan untuk lari, dia akan lari sejauh mungkin. Untuk sementara, dia merasa aman.
“Untuk sore ini, aku ingin kau membersihkan rumah seperti biasa, aku akan berbelanja makanan, baik-baiklah di rumah dan jadi istri rumah tangga yang baik.”
“Lucu sekali.”
“Aku serius, Sayang, bukankah kita seperti pasangan suami istri? Aku melakukan pekerjaanku untuk bekerja, dan kau pun mengurus rumah.”
“Kau tidak bekerja, kau menculikku, dan aku terpaksa diam di sini.”
James tertawa terbahak-bahak. “Kau tak punya selera humor, ya? Benar-benar keras kepala.”
Carrie mengerutkan dahinya. Tidak sekalipun dia ingin tertawa melihat situasinya ini. “Humor? Aku diculik dan disekap di rumah ini, dan kau ingin aku tertawa?”
“Ambil sisi baiknya, Tuan Penculik ini tampan dan baik.”
“Tapi Tuan Penculik itu sangat berbahaya dan m***m, sedangkan Nona Tawanan ini seorang wanita yang berulang kali hendak dilecehkan.”
Tawa James lenyap, dia hanya mengangguk membenarkan hal itu. “Oke, aku memang begitu, tapi aku tidak menyesali ciuman waktu itu, menurutku—kau pun juga merasa senang.” Dia kembali menyeringai seraya berdiri, lalu berkata, “aku akan ke ruang tengah dan bersantai.”
“Setelah aku makan, apa yang harus kulakukan?”
“Entahlah, b******a saja denganku.”
***