2 tahun berlalu. Gladis menatap atensi didepannya, hal yang dia pikirkan akhir-akhir ini setelah ia kembali menetap di Australia. Satu lembar kertas yang sudah menjadi bahan pikiran Gladis, surat perpanjangan tugasnya di Aussie. Sepertinya Gladis harus menyerahkan segala egonya untuk kembali ke Indonesia, dia harus bertahan lebih lama disini demi Artha. Maka dengan gerakan cepat Gladis menandatangani kertas tersebut cepat. Memantapkan hatinya. “Sesuai kesepakatan yang tertulis, jika anda membatalkan sepihak perjanjian ini. Anda akan membayar pinalti yang sudah ditentukan.” “Iya Pak.” >> Clek... “BUNA!!!!” Sambutan manis saat dia membuka pintu seakan melepaskan Gladis dari segala penatnya pekerjaan, sedangkan pelukan hangat dari kedua anaknya seolah memberikan tempat beri

