Pembelaan Ibu Mertua

721 Words
"Maafkan aku, Jeremy. Aku ...." Joanna tidak bisa menahan tangis, ia mengambil jeda. "Aku terlalu terbawa suasana. Madeline mengatakan padaku bahwa dia tidak akan membicarakan soal perceraian dengan kakek. Dia tidak ingin melepaskanmu.” “Omong kosong! Aku tidak pernah mengatakan itu!!” Untuk pertama kalinya, Madeline tak bisa mengendalikan diri di hadapan Jeremy. “Kau?” Jeremy menatap Madeline dengan sorot mata tajam. “Kalau kau tidak percaya padaku, aku bisa berbicara dengan kakekmu sekarang juga.” Madeline berusaha meyakinkan pria itu dan bersikap acuh. Jeremy langsung mengusap pelipisnya sambil menghela nafas. “Joanna, aku tahu kau ingin pernikahanku segera berakhir. Tapi aku sudah jelaskan. Aku sedang mengkhawatirkan kesehatan kakek. Aku ingin pesta ulang tahunnya berlangsung sempurna dan tanpa beban. Jika kau terus mendesakku membuat pilihan, aku khawatir akan mengecewakanmu.” Joanna merasa jatuh ke dasar laut. Ia panik mendengar kalimat itu. Ia mengulurkan tangan, menarik lengan kemeja pria disana. Sungguh menyedihkan. “Maafkan aku, Jeremy. Aku tidak bersungguh-sungguh. Seharusnya aku lebih bersabar dan tidak berdebat soal ini malam kemarin. Aku hanya takut … aku takut kamu ragu bercerai dan menolakku ….” Tanpa diduga-duga, Joanna berani memeluk Jeremy di hadapan umum dan juga istrinya. Kontan, Madeline membulatkan mata. Saat Madeline hendak mengutuknya, sebuah suara menyela. “Dasar memalukan! Berani-beraninya kau memeluk suami orang lain di depan umum dan istrinya sendiri?” Madeline merasa tak asing dengan suara itu. Ia hampir saja berbalik, namun kalimat Jeremy langsung menghilangkan rasa penasarannya. “Bu, kenapa ibu ada disini?” “Memangnya siapa yang berani melarangku kesini? Aku sedang melakukan monitoring di pusat perbelanjaan ku sendiri dan menemukan adegan yang tidak patut disini. Dan yang lebih memalukan lagi, pelakunya adalah anakku sendiri.” Brittany Whitman mendengus kesal. “Bu, ini bukan salah Joanna. Dia tidak sengaja dan ….” Ucapan Jeremy tertahan ketika Brittany menyela dengan paksa. “Kalau ini bukan salah wanita itu. Berarti ini salah dirimu, Jeremy. Kau memeluk wanita lain di depan istrimu? Sungguh memalukan membesarkan anak sepertimu!” Brittany tidak pernah bisa menyembunyikan rasa benci terhadap simpanan anaknya itu. "Sebaiknya kau bersikap baik. Kalau aku memergoki sedang menggoda wanita lain selain istrimu lagi, kau akan dicoret dari keluarga Whitman, kau dengar? Nama Whitman tidak boleh ternoda dengan tindakan asusila seperti itu." Tanpa basa-basi lagi, Brittany menegaskan. Madeline cukup terkejut. Setelah menikah, Madeline dan Jeremy tinggal di rumah sendiri. Jadi, mereka jarang pulang ke rumah keluarga Whitman. Sehingga pertemuan Madeline dengan ibu mertuanya pun jarang terjadi. Dalam pikirannya, Madeline mengira ibu mertuanya itu seorang introvert dan selalu bersikap dingin hingga menciptakan kesan kalau sang ibu mertua tidak pernah menyukainya. Madeline sering merasa rendah diri, mengira Brittany lebih suka punya menantu dengan status setara dengannya—anggun, cantik, dan memiliki latar belakang yang baik. Mengingat asal usulnya yang sederhana, Madeline yakin ia bukanlah menantu idaman Brittany. Untuk itu, Madeline tak pernah berinisiatif mendekatinya. Madeline tidak menyangka, Brittany akan turun tangan untuk membelanya di hadapan Joanna. Dan hal itu, sangat menyenangkan. Joanna mengepalkan tangan. “Saya baru saja datang dan mendengar pesta ulang tahun Tuan Charles akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Jadi, saya cuma mau membelikan hadiah. Kebetulan karena Jeremy tahu apa yang disukai tuan, jadi aku memintanya untuk memberikan saran. Tolong jangan jangan salahkan Jeremy." Brittany menatap tajam wanita itu. “Setahuku, ayah tidak mengundamu. Jadi, jangan repot-repot memberikan hadiah. Tidak akan berguna.” “Bu, tolong hentikan. Aku yang mengundangnya.” Jeremy sudah tidak tahan lagi dengan sikap dingin sang ibu terhadap Joanna. “Diam!” Brittany tak suka dibantah, ia menatap tajam Jeremy. “Ini hari ulang tahun kakekmu, bukan ulang tahunmu. Kau bisa mengundang siapapun yang diinginkan. Tapi sejak kapan kau bisa mengambil keputusan atas nama kakekmu?” Wajah Joanna berubah pias. Ia tampak seperti boneka tak bernyawa. Kemudian, Brittany memberikan pertanyaan pada Joanna dengan nada tajam. "Dan bukankah kamu tidak punya pekerjaan? Darimana uang yang kau dapatkan? Apa dari anakku? Lalu sekarang kau masih mau menghabiskan uang Whitman?” Joanna yang sudah berusaha menahan emosi, akhirnya meluap. “Terima kasih atas perhatianmu, Nyonya Whitman. Meski keluargaku tidak lagi kaya raya seperti dulu, namun kami masih bisa menanggung kebutuhan kami. Meski keluarga Bartley sudah terperosok, tapi tentu jauh lebih baik daripada keluarga menantumu. Madeline bukanlah siapa-siapa, dia hanya anak yatim piatu yang ditanggung oleh keluarga Whitman. Kau bisa tanya, apa dia bisa membeli hadiah sendiri?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD