Meski pria itu terlihat santai dan biasa saja, kali itu adalah kencan pertama dan terakhir mereka. Ricky bilang bahwa dirinya akan menghubungi Kinara kembali dan mereka harus jalan barengo lagi lain waktu. Nyatanya, pria itu tidak pernah menghubungi Kinara lagi. Beberapa hari kemudian, Diana menelepon Kinara dan bertanya.
“Sepupu gue lo apain, Beb?”
“Maksudnya?”
“Masa dia bilang kalian nggak cocok? Kok bisa?”
Diam-diam Kinara tersenyum senang. Ternyata triknya ampuh. “Lah, kenapa nggak bisa, sih? Ya berarti gue bukan tipe ceweknya Ricky, kali.”
Diana terdiam sebentar. “Beneran lo nggak aneh-aneh?”
Kinara tergelak. “Ya ampun, Di, lo udah kayak Tamia, tahu. Over thinking aja kerjaannya.”
Dua kencan yang gagal lalu mereka menyerah? Jelas tidak. Kinara sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk itu menilik watak sahabat-sahabatnya. Satu demi satu kencan dia lewati, dan sejauh ini, semuanya berjalan sesuai harapannya.
Pria ketiga, seorang jurnalis, dan kencan itu gagal karena Kinara mengeluh pria itu terlalu banyak omong. Satu setengah jam kencan terasa seperti pidato politik atau kuliah di jurusan ilmu politik — kebetulan pria itu bertugas di desk politik. Selain Kinara tidak paham topiknya, Kinara juga bosan luar biasa — sementara pria itu sepertinya tidak belajar membaca gestur teman kencannya karena terus mengoceh sampai Kinara mengeluh ngantuk.
Pria keempat, seorang dosen di perguruan tinggi negeri, mirip dengan Ricky yang mundur pelan-pelan dan menghilang setelah tahu alasan Kinara mau kencan buta. Pria kelima, seorang dokter gigi, dinilai Kinara sedikit kurang sopan karena terus-terusan menatap rok pendeknya saat mereka bicara. Pria keenam, seorang IT Developer, Kinara bilang terlalu pendiam, sampai-sampai Kinara kelelahan putar otak cari topik pembicaraan agar mereka tidak berujung diam-diaman selama kencan. Pria ketujuh, Kinara bilang terlalu boros dan punya kecenderungan flexing. Hingga akhirnya, saat chat Tamia meledak marah di grup Cuan Ladies.
Tamia Maharani:
LO MAUNYA APA SIH KIN KE NAPA GAK ADA YG BERES?! SEMUA AJA LO TOLAK! GUE GAK MAU TAU NANTI KETEMU DI YOUR DADDY KITA BAHAS SAMPAI TUNTAS
Saat itu, Kinara baru saja selesai rapat mingguan dengan tim sales. Senyum gelinya terbit membaca chat Tamia yang penuh amarah. Dia hanya menjawab “Ok” lalu bergegas menuju lokasi meeting dengan klien untuk mengejar project bernilai 300 juta.
***
“Bisa-bisanya tujuh laki nggak ada yang nyangkut?!” gerutu Tamia. “Selera lo yang kayak apa,sih?!”
Hari ini benar-benar menjadi hari sidang etik bagi Kinara. Sepulang kerja, dia ke Your Daddies — kafe langganan mereka berempat — dan di sana ketiga sahabatnya sudah menunggu dengan ekspresi penuh penghakiman.
“Yang seru,” jawab Kinara.
“Main PUBG sana kalo mau seru!”
“Yang nggak lebay. Yang sopan, lucu, santai, ganteng, trendi, seksi, kaya raya, mandiri, dewasa, baik hati, lembut, nggak suka ngebentak, royal, nggak cerewet, nggak cringe, nggak neko-neko, senyumnya sopan, nggak jelalatan, nggak banyak omong tapi juga nggak terlalu diam —”
“KinKin,” potong Lina dengan suara ringan. “Lo sengaja, ya?”
Kinara mengerutkan dahi. “Sengaja apa, Na?”
Sebenarnya dia agak terkejut. Namun, sejak dulu Kinara merasa Lina itu wujud dari pepatah air tenang menghanyutkan. Meski seringnya terlihat polos dan clueless, Lina sering menebak sesuatu dengan jitu. Kinara sering curiga bahwa sahabatnya yang satu ini genius. Mungkin kapan-kapan Kinara perlu menanyakan skor IQ Lina.
“Nah! Iya! Gue juga ngerasa gitu, Na!” Tamia terpancing. “Bener! Gue rasa lo sengaja bikin keluhan ini itu biar gagal semua. Ya, kan?”
‘Tentu saja,’ batin Kinara.
“Ih, apaan, sih?” Kinara pura-pura tidak terima.
“Nggak, ya! Gue kan cuma mengungkapkan apa yang gue rasakan. Emang apa anehnya dengan mencoba kencan lalu nggak cocok? Masa iya gue harus selalu cocok yang lo sodorin? Mureeeh bener dong gue?”
“Masalahnya udah tujuh orang dan nggak ada yang bener!”
“Ya berarti emang nggak bisa dipaksain, Tamia sayaaaang. Namanya juga masalah hati. Mungkin yang gue perluin bukan perjodohan-perjodohan kayak gini, melainkan sosok yang datang secara natural ke hidup gue.”
“Tuh, kan!” Tamia menjentikkan tangan bersemangat. Lalu dia menoleh kepada Diana dan Lina. “Kalian lihat, kan? lni anak emang sengaja. Dia pikir kalau nggak ada yang berhasil, kita bakalan cepat nyerah gitu aja, Guys. Oh, no, Baby. Nooo!” Kali ini Tamia mengacungkan telunjuknya di depan muka Kinara dan menggoyang-goyangkannya dengan ekspresif. “Gue nggak bakalan nyerah. Lo lihat aja, Kin. Tujuh orang lo tolak, gue bakal cariin tujuh puluh orang lagi!”
Sumpah Tamia lumayan meresahkan Kinara, tetapi dia memasang tampang cool dengan mengedikkan bahu. Kinara yakin Tamia dan yang lain tetap punya limit kesabaran. Yang penting, Kinara tetap dengan trik awalnya.
Satu, cari kelemahan apa saja dari laki-laki itu yang membuatnya tidak bisa diterima.
Dua, jika tidak ketemu, langsung ke cara utama yaitu menunjukkan seberapa matre dirinya dengan mengungkap alasan utama mau kencan buta.
“Gue punya satu kandidat yang gue rasa bakalan memenuhi segambreng kriteria Kinara tadi,” Tamia berkata dengan nada serius. “Kalau ini laki-laki ditolak juga, gue rasa Kinara beneran sengaja.”
‘Here we go, they did it again.’ Kinara menyipitkan mata. Tamia, Diana, dan Lina mulai berdiskusi tentangnya, seolah-olah Kinara tidak ada di sana. Kinara jadi kesal. Kalau maunya begitu, kenapa dia harus disuruh datang ke sini juga?
“Siapa, Beb?” tanya Lina antusias.
“Dewandaru.”
“Maksud lo, Dewandaru Hutama?” tanya Diana.
“Yup...”
“Cuy, yang benar aja?” Diana langsung menyipitkan alis, menatap Tamia dengan ekspresi sangsi. Berikutnya, dengan sedikit keberatan, dia bertanya. “Masa dia?”
“Why not?” Tamia mengangkat alis. “Dewa Oke.”
“Tapi gosipnya…”
Tamia mengibaskan tangan. “I know him. Nggak semuanya benar.”
Dalam sikap pura-pura cool-nya, Kinara diam-diam penasaran siapa laki-laki yang Tamia dan Diana perdebatkan.
“Tunggu-tunggu,” Lina mengangkat tangannya.
“Somebody please tell me… Dewa siapa sih? Nggak mungkin Dewa yang atasan lo itu kan, Tam?”
“Yup. Dia.”
“Serius lo?” Lina ikut-ikutan membeliak.
“Yup.”
Oh, dia, pikir Kinara. Meski belum pernah bertemu, Tamia memang cukup sering bercerita tentang atasannya di kantor. Kebanyakan sih berisi caci maki khas bawahan ke atasan. Kinara juga sering melakukan itu kepada Enrico, bosnya di kantor.
“Ih, kalau Dewa gue juga mau!” Lina mengikik genit.
Diana menegur Lina melalui pandangan matanya. Namun, Lina hanya tergelak.
“Ganteng, kariernya bagus, seksi — Oh yeah, gue harus mengakui kalau doi emang seksi abis. Kalau nggak ada Danis, udah gue sikat juga dia. Lucu, fun, santai, royal — gue rasa — dan yang jelas bertanggung jawab. Kerjaannya beres semua.”
“Gue setuju Kinara coba kencan sama Dewa!” putus Lina semangat.
Tamia mengangguk puas, lalu berpaling pada Diana. “Kalau lo, Bund?”
Diana masih terlihat keberatan, tetapi akhirnya mengangguk juga.
“Oke. Sudah diputuskan. Kandidat jodoh Kinara berikutnya adalah Dewa.”
“Tapi emang doi jomlo, Tam?” tanya Lina tiba-tiba.
“Good question!” dukung Diana.
“Setahu gue sih jomlo.” Tamia berpikir sebentar.
“Tapi gue bakal cek dulu buat make sure.”
“Tunggu, tunggu.” Kinara memotong sembari mengangkat tangan, saat dia menemukan keping memori dalam ingatannya tentang Dewa yang sering disebut-sebut Tamia. Meski dia tidak peduli siapa pun yang harus dia kencani, dia benci karena hak bicaranya tidak berfungsi. “Gue ingat ini Dewa yang sering lo katain f**k boy, kan? Bukannya lo bilang dia berengsek?”
Tamia menatapnya sengit. “Gue kasih laki-laki-laki-laki baik, semuanya lo lepehin. Sekarang gue kasih lo laki-laki berengsek, biar next time gue kasih laki-laki baik, lo bisa lebih bersyukur!”
Kinara berdecak kesal. Kadang-kadang dia sulit memahami pemikiran Tamia. Namun, dia memilih diam saja. Lagi pula, tidak ada gunanya terlalu mendebat atau bersikeras. Yang penting kan dia menuruti permintaan Tamia. Toh, dia sudah punya trik yang ampuh.
“Serah, deh.”
OkeIah, Kinara akan mengencani Dewa siapalah itu.