BAB 3

1528 Words
“Syaratnya cuma satu, Kin. Lo harus kencan dengan seseorang.” Kinara tidak segera menjawab, kembali menajamkan pendengarannya. Ia merasa pikirannya agak kurang jernih, sehingga tidak bisa menangkap kalimat Tamia barusan. Apa mungkin karena pengaruh hangover? Bisa jadi. “Maksudnya?” tanya Kinara memastikan, setelah dirinya berusaha untuk memahami syarat Tamia, namun otaknya gagal menemukan jawaban. “Iya Kin, lo boleh pegang apartemen, boleh lo kelola aplikasinya, omset setahun full buat lo, tapi dengan syarat lo harus mau buat coba pacaran sama laki-laki.” Tamia terdiam sebentar. “Atau perempuan, kalo lo mau. Bebas sih. Tergantung orientasi seksual lo apa.” “What?!” Kinara terkejut. Dia sudah menduga sejak awal, pasti akan ada kejutan dalam tawaean yang Tamia berikan. Tamia menyeringai. “Ya kali gue kasih cuma-cuma. Lo pikir sendiri lah, cuan itu, cuan!” “Kenapa harus kencan, sih?? Apa nggak ada syarat lain yang lebih mutu??” Kinara tidak terima. “Aneh banget! lni nggak apple to apple, tauk!” “Ya suka-suka guelah! Apartemen gue, syaratnya ya terserah gue! Tinggal lo aja mau teria apa gak?” “Eh! Apa sih untungnya buat kalian kalau gue pergi kencan? Tam, yang namanya tantangan itu harus sepadan. Harus saling menguntungkan!” “Apa yang menguntungkan itu kan sifatnya subyektif, KinKin! Kalo menurut gue menguntungkan ya pasti gue tawarin dong. Yang penting pokoknya gue maunya itu! Just take it or leave it.” Kinara terus mencak-mencak, sambil mengomel panjang lebar dengan kalimat-kalimat yang separuhnya adalah umpatan. Sementara Lina dan Diana hanya tergelak, mereka sudah sering terlibat dalam permainan taruhan begini, namun belum pernah menggunakan syarat yang absurb seperti ini. Biasanya mereka hanya bertaruh mentraktir makan atau tiket nonton saja. Jujur saja, syarat yang Tamia ajukan sama sekali tidak masuk akal bagi Kinara. Jika diibarat dengan sebuah neraca timbang, itu sudah langsung anjlok ke salah satu sisi. Suatu fakta, memang Kinara tidak pernah menjalin suatu hubungan romantis apa pun dengan lawan jenis atau memilih untuk berpacaran dengan seseorang. Namun, prinsipnya itu bisa mudah dia tepikan, jika itu berarti uang dalam jumlah besar, dan tanpa syarat ketentuan lainnya. Toh, Tamia juga menyertakan kata “mencoba” dalam persyawatannya. Masalahnya, syarat itu jelas super timpang bila dibandingkan dengan apa yang dia dapatkan. Di sisi lain, Tamia justru tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari tantangan ini. Dan Kinara sudah belajar bahwa hal-hal baik yang terlalu banyak, biasanya justru membawa pisau tajam di baliknya. Kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Apa Tamia punya maksud dan tujuan lain? “Jadi ini cuma kencan doang, kan?” tanya Kinara memastikan. Tamia mengangguk. “Enjoy your life, Kin. Mumpung masih muda. Rasakan gelora cinta, sensasi naik turun perasaan, jantung yang suka marathon sendiri gak jelas, dan gairah yang meledak-ledak. Lo, kan, miskin pengalaman kayak gitu.” “Woi! Jujur banget sih kalo ngomong.” Kinara melotot kesal, Tamia hanya tertawa. “Tapi ini kencan sama siapa pun, kan? Terserah gue mau kencan sama siapa, kan?” Tamia tersenyum. “Of course not, Baby.” ‘Nah kan, udah bener tebakan gue. Pasti ada maksudnya nih,’ batin Kinara. “Lo nggak mau nyuruh gue buat ikutan nikah, kan?” Kinara bertanya curiga. “Ogah, ya! Nggak pake nikah!” Tamia tergelak, lucu rasanya melihat ekspresi kesal dan panik Kinara. “Enggak, Sayangku, enggaaaak. Gue cuma mau supaya lo coba menjalin hubungan dengan orang-orang tertentu, nggak cuma asal pilih.” “Orang-orang tertentu? Maksud lo gimana?” “Ya orang-orang tertentu, orang-orang yang sudah gue, Diana, dan Lina setujui,” jawab Tamia. “Kita bakal siapin calon pacar potensial buat lo, yang kita jamin bibit, bebet, bobotnya oke. Jadi, tugas lo cukup satu atau dua kali kencan aja. Kalau lo ngerasa cocok ya silahkan dilanjut, tapi kalau nggak ya next!” Kinara terdiam sebentar, coba diajaknya otaknya yang masih hangover itu untuk berpikir lebih keras. Lantas dia mengumpat cukup keras, kala otaknya menyimpulkan rentetan kalimat dalam pembicaraan mereka. “Anjir, lah! Ini kenapa gue berasa jadi kayak open BO yang dijual sama mucikari! Dan lo bertiga udah macam mucikarinya! Kalian yang temukan pelanggan, gue yang bagian melayani.” Diana tersenyum geli. “Jelek, ah, analoginya. Lo tuh nggak paham kali maksudnya Tamia.” “Kenapa harus kalian yang nyariin gue laki-laki? Kan gue yang bakal kencan! Harusnya gue sendiri dong yang milih buat kencan sama laki-laki mana!” “Tamia itu cuma pengin lo ketemu laki-laki yang baik, Kinnn,” sambung Lina. “Kalau lo udah punya calon sendiri, ya, nggak apa-apa. Bisa diatur. Ya kan, Tam?” Tamia mengangguk. “Dengan syarat, gue, Lina, dan Diana setuju kalo lo mau jalan sama laki-laki itu. Listen, Beb. Lo tuh kadang nggak paham sama diri lo sendiri, semacam gimana gue bilangnya ya?” “Kinara nggak tahu apa yang dia butuhkan?” bantu Diana. Tamia menjentikkan jari. “Nah! Itu dia! Dan lo tuh kadang-kadang ya begitulah pokoknya. Makanya, soal pilihan pacar ini, harus ngelewatin persetujuan gue, Diana, dan Lina.” “Tamia nggak mau lo salah pilih dan nantinya tersakiti,” bantu Diana lagi. “True! Lagian gue curiga lo bakal curang, pura-pura pacaran sama laki-laki random kalau dibebasin. Jadi supaya fair, laki-laki yang lo ajak kencan harus sudah lolos persetujuan kita bertiga.” Kinara terkesiap sesaat, cukup kaget dengan pernyataan Tamia barusan. Kok bisa-bisanya Tamia membaca isi pikirannya dengan sangat tepat? Padahal sejak tadi dia berusaha untuk tidak mengeluarkan ekspresi liciknya. Trik itu memang sudah muncul di dalam otaknya sejak awal dia mendengar syarat dari Tamia. “Ya kalau kalian nggak mau gue sampe sakit hati, kenapa juga harus ribet begini, sih?” Kinara masih berusaha membantah teman-temannya. “Nggak ada pacar, nggak ada patah hati. Simpel, kan? Lo semua tuh nyuruh gue buat pacarana, itu sama artinya nyuruh gue buat siap patah hati juga! Aneh!” Alih-alih Tamia yang membantah, atau Diana yang menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah, justru Lina-lah yang menjawab. “Tamia, gue dan Diana itu cuma khawatir lo bakal kesepian setelah kami semua berkeluarga, Kin,” kata Lina. “Kita mau, selama lo nggak bisa ngumpul bareng kita, lo masih punya seseorang yang menemani dan berbagi rasa sama lo.” *** Pintu terayun membuka, disusul suara mesin sensor kunci otomatis yang berdenting. Lampu lorong otomatis menyala mengikuti sensor, saat Kinara memasuki apartemennya, lalu kembali mati secara otomatis setelah Kinara melepas sepatu dan berjalan ke ruang tengah. Kinara tidak menyalakan lampu utama, ia hanya dibantu penerangan samar-samar lampu balkon apertemennya yang otomoatis menyala saat sore hari. Cahaya lampu balkon menembus dinding kaca yang ditutup tirai tipis, karena memang Kinara belum menutup tirai tebal jendelanya. Kinara menyeret tubuh lelahnya berdasarkan feeling dan kebiasaan, dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofabed yang ada di depan televisi. Bantal yang empuk menyambut pipinya. Kinara beringsut. Kinara meraba-raba sofabed dengan seluruh anggota tubuhnya, untuk mendapatkan posisi berbaring yang nyaman. Beberapa menit dalam posisi terlentang yang nyaman, dia memiringkan posisi tidurnya, menghadap tirai tipis yang menutupi dinding kaca ke arah balkon, beberapa tanaman bunga dan kaktus yang ia pelihara nampak berjajar dalam pot-pot yang diatur pada sebuah rak besi. “Haaahh capeknya,” bisiknya kepada diri sendiri. Kinara enggan melirik jam yang tergantung di atas TV, namun harusnya sekarang sudah lewat dari pukul 9 malam. Betisnya terasa pegal karena seharian ini ia nyaris tidak berhenti bergerak. Bolak balik ke vanue klien dan harus mengurus beberapa dokumen ke kantor. Belum lagi beberapa rapat di luar yang jaraknya cukup membuat betisnya keram karena terlalu lama menginjak pedal gas dan kopling. Kebijakan baru di kantornya untuk melakukan absen finger print setiap awal dan akhir bekerja itu dirasa sangat tidak efektif. Pasalnya, bagi tim sales seperti dia dan rekan-rekannya, mereka tidak bisa selalu bekerja di kantor. Mereka bekerja bisa dari mana saja, di mana pun suka-suka kliennya. Kadang di kantor klien, kadang di venue acara, kadang di restoran atau kafe. Jadi, kalau mereka harus ke kantor dulu setiap pagi, itu bisa jadi neraka apalagi bila itu dan di jam macet dan rutenya memutar. Ini juga yang menjadi alasan bagi Kinara untuk memikirkan soal mengganti unit mobilnya, dari transmisi manual ke matic. Sudah sebulan ini ia harus mondar-mandir ke lokasi-lokasi yang terkenal dengan kemacetannya, dan ditambah lagi dia tetap harus bolak-balik ke kantornya hanya untuk melakukan absen finger print. Baru sebulan, tapi dia sudah merasa ukuran betisnya mengalami peningkatan. Kinara menghela napas panjang dan memejamkan mata. Seketika itu, benaknya kembali berkelana. ‘Kerja nggak kenal akhir pekan, pulang paling cepat pukul delapan malam, apa yang sebenarnya lo dicari, Kinara?’ Bukan hanya satu-dua kali pertanyaan itu Kinara terima. Namun, jawabannya sangat mudah, tidak perlu berputar-putar atau mencari filosofi supaya terdengar bijak. Tentu yang dia cari adalah harta. Memangnya apa lagi? Sederhana saja, Kinara ingin kaya. Dia ingin bisa beli ini dan itu tanpa harus berpikir panjang-panjang dulu. Dia ingin memenuhi semua kebutuhannya, tanpa harus membuat daftar mana yang perlu didahulukan. Dia ingin bisa check out ini itu di marketplace, tanpa harus nunggu gajian dulu. Dia ingin punya tempat pulang yang bebas ditata sesuka hati, tanpa harus mendengar omelan induk semang. Dia ingin bepergian dengan rasa aman tanpa harus berpindah-pindah kendaraan. Dia ingin mengompensasi semua yang tidak ada dalam hidupnya, meski itu dengan cara membeli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD