***
Dari kejauhan Anna sedang mengemati mereka dengan ponsel yang ada pada tangannya. Menggerakan ponsel itu untuk mengambil adegan Yang tengah terjadi di sana, Garis senyumnya mengangkat ujung bibirnya.
"Frans?" Sekali lagi Renata memanggilnya.
Frans hanya sekejap memperhatikan Renata lalu pandangannya teralihkan ke arah laki-laki yang tengah memegang tangan istrinya itu,
"Frans Alvarado...." Juan sedikit heran mengapa Frans yang berdiri di sana?.
"Lepaskan tangan istri saya tuan Juan." Frans menekankan nadanya pada dua kalimat itu, ISTRI SAYA memperjelas jika wanita yang berdiri di hadapannya adalah miliknya.
Juan melepaskan genggamannya, "kenapa itu bisa anda?" Tanyanya
"Tunggu Neta apa Frans Alvarado yang kau nikahi?" Juan masih tidak percaya dengan kebenaran yang ada.
"Iya, itu saya suami Renata Perkins oh tidak Renata Alvarado. Dan kau siapa? Beraninya menyentuh Istri Saya!" Frans tidak bisa mentoleransi lagi tangannya sudah mengepal siap meninju laki-laki di depannya. Tangan satunya yang masih terus mencengkram lengan Renata membuat dirinya merintih kesakitan.
"Saya adalah-"
"Frans berhentilah membuat masalah. Kita sedang berada di pesta sekarang kita bicara ini baik-baik." potong Rena lalu menenangkan Frans.
Frans mendengar suara Renata itu memalingkan wajahnya menghadap ke wajah Pucatnya, Renata tahu saat ini Frans masih di kuasi amarahnya.
"Oke saya ikuti kemauan anda." Frans berubah sopan dan menarik tangan Renata untuk menjauh dari pestanya.
Berjalan dengan tergesa-gesa membuat beberapa kali Renata hampir terjatuh karena menginjak gaunnya sendiri yang menjuntai. Tubuhnya tidak bisa mengontrol untuk mengikuti langkah kakinya Frans, seakan dirinya termakan api cemburu yang membara membuat Renata ikut terbakar.
Menjauh dari keramaian pesta memang hal yang tepat tetapi dalam keadaan seperti ini Tidak memberikan sedikit ruang untuk melepaskan pegangan dari Frans.
Frans membawanya ke salah satu kamar hotel yang berada di lantai 50 dengan nomor kamar DK1127. Kamar yang sudah Frans pesan secara khusus untuk ruang istirahat setelah pesta usai.
Setelah memasuki kamar Frans menghempaskan tubuh Renata di atas Ranjang dengan keras, melepaskan dasi, lalu ke bagian jasnya hingga membuka kancing kemejanya setengah yang memperlihatkan garis dadanya.
"Frans apa yang mau kau lakukan?" Ucap Renata seraya terus memundurkan tubuhnya yang masih sedikit terbaring di atas Ranjang, karena tenaganya sudah termakan abis oleh jarak ruang pesta dengan kamar sangat jauh.
"Kau bilang ingin bicara, tapi Sayang aku lebih suka memakanmu." Ucapan Frans berhasil mendirikan bulu kuduk milik Renata, Keringat dingin sudah Rena rasakan.
Dirinya langsung mendekat ke arah Renata, menindihnya dengan posisi kedua tangan Renata yang Frans tahan dengan kedua tangan miliknya, sehingga tidak ada ruang untuk Renata bergerak.
"Frans kita bicarakan ini baik-baik." Bujuk Rena.
"Baik-baik kau bilang? Aku tidak peduli bagaimana kau mengenal tunangan Resya-"
"Resya? Siapa dia?" Potong Renata
"Kenapa kau begitu penasaran Dengan saudariku? Sayang akan aku tunjukan dengan siapa kau bermain? Akan aku perjelas lagi kalau kau adalah Wanitaku dan hanya aku yang bisa menyentuhmu!!" Frans sungguh berada di ujung amarahnya, penekanan nadanya membuat manik-manik mata Renata kini berkaca-kaca, takut gelisah menjadi satu.
"Apa yang mau kau perjelas!! Frans dengar semenjak aku menikah denganmu kehidupanku lebih hancur dari sebelumnya, lantas apa yang kau takutkan?? Hanya kau yang mampu membunuhku!" Gertaknya dengan air mata yang kini membasahi pipinya, meronta mencoba melepaskan tubuhnya dari tubuh Frans yang semakin menekannya.
"Oke aku akan membunuhmu malam ini!!" Jelasnya dan langsung mencium Renata dengan gairah yang sudah memuncak.
Renata terus mencoba melepaskan diri darinya dan semakin Frans berusaha untuk memperburuk malamnya, Frans kini merobek gaun milik Renata. Merobeknya hingga terlepas dari badan bagian atas Renata yang mampu memperlihatkan dua buah dadanya, garis perutnya hingga pusarnya yang terlihat begitu jelas.
Renata yang menahan sakit serta tangisnya membuat tubuhnya seakan menahan sesak nafas, "Frans kumohon lepaskan aku." Isaknya
"Ahh Frans!" Renata merintih ketika Frans lebih membuatnya berada di ujung hasratnya.
Renata sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan kepuasan dan hasrat Frans, dia hanya bisa melewati malam panasnya dengan mengikuti kemauan dari suaminya.
Frans sudah melewati zona yang lebih menggairahkan lebih intim, sehelai pakaian tidak lagi menempel pada badan Frans dan Renata.
***
"Apa yang sedang kau lakukan?" Anna menghampiri Juan yang berada di balkon lantai 45. Sebuah aula besar pesta itu sedang berlangsung.
Membawa dua gelas Wine merah lalu memberikan satu ke Juan, berdiri di sampingnya dengan bersender di pagar balkon.
"Pesta belum selesai, aku akan memperkenalkanmu ke kolega lainnya." Ucap Anna namun tidak di respon Juan.
Anna meneguk winenya, lalu menghadap ke arah Juan.
"Apa kau mencintainya?" Anna mencoba mengorek informasi lebih dari Juan mengenai hubungannya dengan Rena
"Jadi dia menikah dengan suamimu kakak dari Resya. Apa yang sebenarnya terjadi?" Juan mencoba mengalihkan topik pembicaraannya, masalah pribadinya hanya dirinya yang harus tahu bukan orang lain sekalipun itu Renata.
Seteguk demi seteguk Mereka meminum winenya lagi "Anna aku tahu Renata bukan tipe wanita yang menikahinya karena harta! Lantas kenapa harus Frans? Apa dia tidak tahu jika suaminya sudah menikah?" Juan mendesah kesal pada diri sendiri.
"Aku tahu, Pernikahan itu seperti bisnis. Saat kau mencoba meraih tujuan berbagai cara akan kau lakukan. Cinta dalam pernikahan bukanlah hal yang penting Juan, mereka mampu memuaskan hasrat mereka sesuai keinginannya-"
"Aku harus berbicara dengannya" potong Juan
Anna tersenyum lalu bersulang dengan Juan, meneguk wine terakhirnya dengan sedikit menaikan ujung alisnya.
Mereka kembali masuk kedalam pesta, meski Frans tidak berada di tempat. Pesta masih berjalan meriah, Anna mengenalkan Juan ke salah satu kolega bisnisnya.
"Hello, perkenalkan dia sepupu saya Juan le willkinson" Sapa Anna
Juan menyambut sapaan itu hangat dan berbincang-bincang.
***
Mentari kini memasuki celah kaca jendela kamar hotel yang sudah terbuka sejak pagi. Gorden yang dengan sengaja terbuka setengah itu dan membiarkan sang mentari menarik diri untuk membangunkan intan yang tengah meringkup di balik selimut putih, selimut itu menutupi hampir sebagian tubuhnya kecuali bagian kepala.
Matanya masih sembab, dan tubuhnya terasa sangat sakit. Laki-laki yang memuaskannya semalam berdiri dengan tenang di depan kaca jendela yang lebar itu. Mengenakan piyama putih bersih menjadikan bak lukisan yang indah.
Kedua tangannya menyilang memandang ke luar jendela, "Nanti Jim akan membawakan pakaianmu, gaun mu sudah saya buang." Ucap Frans lalu memalingkan wajahnya menatap Renata.
"Saya sangat membencimu!"
"Saya tidak butuh pengakuan apapun darimu-" Frans mendekat ke Renata yang enggan bangun karena tubuh telanjangnya tidak ingin ia perlihatkan lagi ke pada Frans.
Mendekat lalu menundukan kepalanya karena posisi Renata masih terbaring, membelai rambutnya. Lalu berbisik di telinganya.
"Kau harus ingat kau adalah wanitaku!" Frans menekankan lagi dan mempertegas lagi status Renata.
Renata mendorong tubuh Frans hingga dirinya kembali menegakan tubuh tinggi berototnya itu, Frans hanya tersenyum lalu meraih kemeja miliknya yang berada di atas ubin. Memberikannya kepada Renata,
Renata masih erat memegang selimut yang menutupi tubuh telanjangnya,
"Pakailah sampai Jim membawa pakaianmu-"
"Saya tidak mau!". Potong Renata
"Sayang apa kau mau melanjutkan yang semalam? Jangan biarkan aku melihat dirimu yang telanjang itu aku takut akan memuaskanmu lagi!" Frans masih terus menggoda Renata meski masalah semalam masih membuat Frans marah.
Renata menarik kemeja milik Frans dan memakainya, kemeja yang berukuran cukup besar mampu menutupi tubuh Renata sampa ke pahanya, setidaknya ini lebih baik. Batinya
Tidak lagi mengandalkan selimut tebal putih yang menghancurkan hidupnya semalam kini dirinya bangun dan berdiri di depan Frans.
"Aku pikir kehangatan mu itu nyata dan kau sudah berubah menjadi lebih baik, faktanya semua itu bohong. Kau masih sebrengsek Frans yang aku kenal, kau pikir dengan meniduriku kau bisa membuatku mencintaimu? Kau salah! Aku semakin membencimu!!" u*****n Renata sedikit menggerkan hati Frans dengan sikap diamnya yang hanya terus menatap Renata. Setelah mengatakan itu semua dirinya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Frans masih mematung melihat Renata yang sudah tidak lagi terlihat oleh kedua matanya, dia tahu Istrinya hanya akan semakin membencinya. Tetapi dia tidak peduli yang paling penting Renata harus tahu siapa statusnya yang menjadi Nyonya Alvarado. Frans meraih ponsel yang berada di atas meja kecil samping tempat tidur itu lalu menghubungi sekertarisnya. Untuk segera menyiapkan mobil.
Selang beberapa jam Renata sudah selesai membersihkan diri dan memakai pakaian yang Jim bawa untuknya, Jim sudah menunggu di depan kamar hotel. Frans meminta dirinya untuk membawa Renata kembali ke mansion.
"Jim bawa saya ke Butik." Pinta Renata.
to be continued