Part Eight

1891 Words

- Bev pov - "Ayo kita menikah." Aku mengenal suara itu, suara Nico. Apa? Menikah?  Dia pikir menikah semudah itu. Aku langsung menatap Nico yang sedang berdiri disana dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celananya. Fefe menatap daddynya dengan tatapan bingung. Kemudian Nico berjalan mendekati kami berdua. Nico mengelus rambut Fefe dengan lembut kemudian menatapku. "Ayo kita menikah. Anggap saja ini untuk Fefe." Tunggu, cuaca diluar memang mendung tetapi aku belum mendengar petir. Tetapi mengapa ucapan Nico berasa seperti petir yang menyambarku. Aku menatapnya dengan tatapan tajam, aku memang mencintainya. Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya mengajakku menikah. Dia pikir menikah itu sebuah permainan. "Lo butuh gue, Nic." Tiba tiba seseorang masuk ke ruang inapku, sese

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD