"Apa?" Randi melirik ke arah Marisa dengan tatapan tidak mengerti. Meski ia mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkan Marisa barusan. "Ayo, kita bercerai." Ulang Marisa dengan nada suara bergetar. Cerai, satu hal yang diinginkannya selama ini. Tapi entah mengapa, mengucapkan kalimat tersebut tidak semudah bayangannya selama ini. Tubuhnya bergetar hebat, bahkan suaranya hampir saja tidak bisa keluar, tertahan di tenggorokan yang membuat jantungnya terasa sakit. "Kenapa kita harus bercerai, coba sebutkan alasannya." Randi menaruh sendok dan garpu dari kedua tangannya. Kini ia menatap serius ke arah Marisa. "Karena Ratih? Atau karena aku tidak memberimu nafkah lahir dan batin secara layak?" Tubuh Marisa kian bergetar hebat, bahkan dengan tidak tahu diri air mata lolos dari pelupuk

