Moana melirik nasi bungkus di depannya. Masih utuh berada di dalam kantong plastik berwarna transparan, meski begitu makanan tersebut sudah tidak lagi hangat. Bahkan sangat dingin. Sesekali ia melirik ke arah pintu, secara bergantian. Seseorang yang ditunggu belum juga kembali, padahal waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam. Kekhawatiran Moana kian bertambah, ketika pesan yang dikirimnya tidak kunjung berbalas, bahkan centang satu. Ponsel El mati, tidak bisa dihubungi dan lelaki belum juga kembali. Semakin malam, semakin bertambah juga kekhawatiran Moana. Ia pun beranjak dari tempat duduknya, dan memilih menunggu El di teras depan rumah. Hening dan dingin langsung menyambutnya. Di waktu seperti ini orang-orang pasti sudah terlelap dan berada di alam mimpi masing-masing.

