Adel dan Bobby digiring masuk ke dalam sebuah mobil BMW hitam mengkilat yang tiba-tiba datang setelah seseorang berpakaian serba hitam menelponnya dari tempat kejadian. Adel sudah tidak bisa berkata apa-apa saat seorang gadis muda menangis sesegukan di samping anjingnya yang sudah terbujur kaku. Tidak ada yang memaki dirinya dan juga Bobby. Hanya tatapan menghakimi dan menyalahkan dari warga sekitar begitu menyayat hati Adel.
Di keadaan genting seperti ini, kepala Adel rasanya ingin meledak saat Bobby justru menangis dengan tubuh bergetar hebat. Laki-laki itu benar-benar ketakutan. Adel sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dia juga tidak tahu akan dibawa ke mana. Sialnya, satu tempat mengerikan langsung tertebak di kepala Adel.
"Gu-gue takut, Del. Gue gak mau dipenjara. Ibu gue lagi sakit. Ya Allah, Adel ...." Bobby terisak-isak. Laki-laki itu benar-benar cengeng. Adel sendiri tadi hampir menangis. Namun melihat kondisi Bobby yang begitu buruk, air matanya langsung menyurut dari dalam.
"Gue juga takut, Bob." Kantor polisi. Jeruji sel. Berpakaian tahanan. Tidak. Bahkan Adel tak pernah memikirkan kondisi itu dalam hidupnya. Satu-satunya yang Adel bisa saat ini hanya tenang. Lalu menceritakan duduk permasalahan. Ini murni kecelakaan. Bukan sepenuhnya salah Bobby. Tapi juga salah si pemilik anjing yang tidak menjaga peliharaannya dengan baik. Mencoba tenang adalah kunci. Meski kondisi jantung dan kepala Adel penuh semrawut memikirkan nasib dirinya dan Bobby seperti sudah di ujung tanduk.
Adel dengan baik hati mengusap punggung Bobby saat sesegukan tangis dari laki-laki itu semakin menyakitkan di telinga. Bobby tidak bisa mengontrol emosinya. Dia memikirkan kondisi ibunya yang terbaring sakit dan juga karier pekerjaannya. Bobby takut dipecat atas masalah ini dan perihal masalah mobil kantor pecah depan cukup parah.
Adel membisu. Tubuhnya seakan lemas tak bertulang. Dia sendiri tak berani membuka suara meski hanya untuk sekadar bertanya pada sopir dirinya ini akan di bawa ke mana. Adel hanya pasrah. Beruntungnya dia tidak diamuk masa. Hanya dia dan Bobby serta satu sopir berpakaian serba hitam yang ada di dalam mobil itu. Sepasang mata Adel mengedar sesaat. Memperhatikan bentuk mobil yang membuat ia langsung menelan saliva hingga kering.
Mobil bukan sembarang mobil. Adel tahu ini bukan mobil murahan. Kondisinya bahkan bersih seperti tidak ada debu dan terlihat rutin dibersihkan. Suara mesinnya juga begitu halus, sangat sopan masuk ke dalam telinga. Adel mengigit bibir bawahnya, cemas. Memikirkan berapa besar biaya yang akan ia tanggung dengan Bobby.
Jantung Adel ketar-ketir dengan darah terus berdesir dingin saat mobil melintasi beberapa kantor polisi. Lemas. Seluruh darah Adel seperti disedot habis. Tubuhnya bahkan telah basah terkena keringat dingin yang terus merembes keluar dari dalam kulitnya. Tenggorokan Adel seperti ada yang mencekik dari belakang. Dadanya juga seperti ditimpa benda berat sampai gadis itu merasa sesak.
Di sebelahnya, Bobby tak lagi menangis. Hanya terdengar sesegukan. Tapi tangannya terus bergetar. Pun bahunya berguncang. Adel menahan napas saat mobil ini justru masuk ke dalam sebuah gerbang perumahan paling mewah di kota ini. Adel benar-benar dibuat syok. Bahkan dia sampai menegapkan tubuhnya. Netra mata gadis itu membesar setelah sopir menunjukkan identitas diri pada para penjaga gerbang sehingga mobil ini dapat masuk lebih dalam.
Bobby juga sama. Laki-laki yang wajahnya sembab dan penuh bekas air mata mulai bertanya-tanya. Keduanya menatap keluar jendela untuk melihat deretan rumah-rumah megah bak istana yang langsung membuat Adel dan Bobby ketar-ketir dan serempak menelan saliva.
Bobby dan Adel tampak tercengang melihat jalan sekitaran yang begitu indah penuh tumbuhan hijau mengelilingi rumah-rumah megah layaknya seperti pada negeri Greenlands, begitu asri dan bersih. Letak rumah satu dengan yang lainnya cukup berjarak jauh dipisahkan oleh sebuah jalan dan juga petakan taman-taman juga ada sebuah restoran besar yang baru saja Adel lewati. Sumpah mati Adel tercengang melihat hunian di perumahan ini yang membuat Adel langsung menciut dan merasa kecil. Untuk menayangkan bisa tinggal di sini saja bahkan dari mimpi juga rasanya tidak pantas.
"Del, kita mau dibawa ke mana?" Bobby bertanya dengan menyenggol lengan Adel meski sesegukan kecil masih keluar menjengkelkan dari mulutnya.
"Lo tanya tuh sama sopir. Tanya kok tanya gue."
Bobby menggembungkan pipinya. Laki-laki itu tampak kesal. Tapi benar juga. Sudah tahu percuma bertanya pada Adel, tapi kenapa juga dia masih melakukannya. Laki-laki itu kini menggeser diri mendekat ke Adel lalu berbisik dengan satu tangan menyamping menutupi mulut dan pipi agar tidak bisa terbaca oleh siapa pun.
"Gue takut kalau kita diculik lalu dibunuh terus organ-organ kita dijual. Gue belum minta maaf sama Ibu, Del ...." Suara Bobby terdengar serak dan kentara bergetar. Sepertinya dia ingin menangis lagi.
"Lo!" Kali ini Adel muak. Dia mendorong Bobby untuk menjauh dari dirinya. Mata Adel melotot. Menyorot bola mata Bobby yang sudah berkaca-kaca. "Kebanyakan nonton film! Sekali-kali kayaknya lo perlu nonton Masha and the Bear biar gak gila!"
Bobby semakin mengerucutkan bibirnya. Wajahnya benar-benar ditekuk kesal. Bulu kuduk Adel seluruhnya berdiri saat mobil ini berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan bangunan tinggi menjulang angkuh dan benar-benar besar. Berkali-kali lipat dari rumahnya sendiri. Saat itu juga lidah Adel terasa kelu. Tapi ada setitik rasa lega saat dirinya tidak langsung diseret ke kantor polisi. Tapi, kenapa dia justru dibawa ke tempat ini? Apa dirinya hendak dihadapkan dengan tuan rumah pemilik anjing beserta mobil yang tak sengaja tertabrak? Melotot mata Adel. Jantungnya seakan mau meloncat dari rongga.
Adel meringsek mundur saat pintu dibuka dari luar. Gadis itu mencengkeram pakaiannya dengan melotot. Wajah Adel tampak pias. Pucat merambat di kulitnya yang kini beku sedingin es.
"Silakan ikut saya. Kalian telah ditunggu." Suara bariton berat dan tegas meremukkan tulang-tulang Adel. Wanita itu kini telah mirip seperti ikan terdampar kekurangan oksigen. Adel rasanya ingin kabur, berlari kencang dan menghilang tapi justru kedua kakinya sulit untuk digerakkan.
Tidak mau membuat pria yang baru saja menjadi sopir mobil ini menunggu terlalu lama dan semakin mengamuk, Adel akhirnya turun terlebih dahulu. Diikuti dengan Bobby yang langsung mengekor dan bersembunyi di balik tubuhnya. Adel benar-benar mengutuk temannya itu. Bobby seperti tidak ada jiwa seorang laki-laki dalam dirinya. Lihat? Bahkan tubuh Adel yang jauh lebih pendek dan lebih kecil dari dia dijadikan sebuah tameng pertahanan diri.
"Mari ikut saya."
Pria dewasa itu tampak sangat tidak bersahabat. Wajahnya dingin dan kaku. Sorot matanya juga setajam warga kompleks di areal taman tadi. Berhadapan dengannya saja sudah membuat Adel terintimidasi. Perawakannya tinggi besar dan tegap. Tubuhnya penuh otot. Kaus hitam di tubuhnya terlihat ketat membelah d**a kekar seperti rutin olahraga angkat beban, kedua lengan tebal mengerikan, membuat Adel mengangguk saja dan mengikuti pria itu dari belakang. Adel berdecak kesal saat Bobby justru mencengkeram erat-erat kausnya. Jika tidak ada pria penuh otot itu sudah lah Adel mengumpat dari tadi.
Keduanya digiring menuju rumah tersebut yang membuat Adel dan Bobby langsung membelalakkan kedua matanya. Kedua mata anak itu menjelajah lancang melihat bangunan interior megah hingga mulut keduanya ternganga. Bangunan tinggi, besar, luas yang diluar perkiraan Adel bahkan mungkin ruangan depan ini saja tiga sampai empat kali lipat dari rumahnya sendiri. Kedua manusia itu langsung merasa kerdil. Seperti tidak pantas untuk memijakkan kaki di rumah yang sudah mirip seperti istana kerajaan dengan penghuninya jelas bukan orang-orang biasa. Bahkan saat Adel tak sengaja menatap anak tangga panjang, besar dan melingkar naik, permukaan lantainya dilapisi dengan red carpet. Nuansa rumah ini seperti mengambil tema Eropa. Klasik, megah, tinggi.
Kepala Adel mendongak. Menatap langit-langit rumah yang membuat leher Adel langsung terasa pegal. Di saat-saat seperti ini Adel justru memikirkan bagaimana cara mengganti lampu jika daya benda itu tiba-tiba mati. Bahkan dengan bantuan anak tangga pun sepertinya tidak bisa menjangkau tempat itu. Juga butuh berapa banyak pekerja untuk membersihkan rumah sampai permukaan lantai di depan sana memantulkan bayangan tampak mengkilap seperti tidak pernah absen tersentuh kain pel.
"Silakan duduk." Pria penuh otot itu menyilakan. Jantung Adel dan Bobby sudah tak waras. Keduanya duduk bersamaan pada sofa besar panjang dengan warna putih keemasan. Sangat-sangat empuk. Itulah kesan saat keduanya tengah merasakan duduk di kursi sultan. Di bawahnya ada sebuah karpet dengan warna senada. Saking panik dan tegang sekaligus terpukauanya dengan desain interior beserta barang-barang mewah di rumah ini, sampi tidak menyadarkan Adel untuk melepas sepatunya yang mungkin saja kotor mengenai karpet itu.
Adel meremas-remas kedua tangannya. Apa pemilik rumah ini adalah seorang pejabat? Atau, seorang kepala dengan banyak lencana di seragam? Apa jangan-jangan seorang mafia yang mempunyai banyak senjata tajam?! Gila! Lebih baik Adel diwawancarai di kantor polisi saja daripada berurusan dengan orang mengerikan seperti terkaan di kepala.
Tidak lama kemudian, seseorang yang dikawal dengan dua pria serba hitam, sama persis seperti orang yang menggiring Adel dan Bobby ke rumah ini, berdiri di belakang wanita anggun yang usianya mungkin sudah memiliki cucu, terlihat kulit wajahnya telah mengendur, tatapan matanya juga mulai redup, namun tertutupi dengan setelan pakaian mahal dengan kedua kaki yang dibungkus sepatu selop dengan merek ternama terpampang nyata di sana. Wanita itu berjalan mendekat. Rambut pendek tebal agak mengembang dan didominasi warna putih itu menatap keduanya dengan kepala dan punggung tegak tanpa senyum di wajahnya. Hal itu kontan membuat Adel dan Bobby refleks berdiri memberikan sambutan. Dari gema sol sepatu kakinya saja ada aura berbeda yang membuat Adel dan Bobby benar-benar salah besar sampai bisa berurusan dengan keluarga ini.
Wanita itu menyuruh Adel dan Bobby untuk kembali duduk hanya dengan menggerakkan satu tangannya. Sementara wanita itu duduk di kursi seberang. Cukup jauh dari keduanya. Lalu salah satu orang yang tadi berjalan sebagai pengawalnya meletakkan benda yang mirip seperti ... Handuk atau selimut kecil di atas paha wanita itu. Bola mata Adel dan Bobby semakin melotot melihat mereknya. Tidak perlu dirupiahkan. Jelas harganya mampu membeli dua sampai tiga motor.
"Jadi, kalian pelaku penabrakan anjing keponakan saya sampai tewas di tempat? Juga mobil milik keluarga saya dikabarkan rusak depan?"
Mampus
Adel dan Bobby serempak menelan ludah. Keduanya menegap. Matanya melotot. Tubuhnya lagi-lagi beku dan dingin seperti disiram air es. Adel tanpa sadar sampai menahan napas. Tak ada di antara mereka yang bersuara. Lidah seperti kaku dan dipotong dari dalam. Kedua tangan Adel mengepal erat meremas ujung pakaiannya. Apalagi mendapat tatapan tajam dari wanita di seberang saja seperti ujung lancip busur panah melayang tepat menembus ulu hati Adel. Selang beberapa detik, semua orang yang ada di ruangan itu dikagetkan dengan Bobby yang tiba-tiba menjatuhkan diri dengan menyatukan kedua tangan, memohon ampunan seiring tangisnya pecah di hadapan si tuan rumah.
"Saya mohon, maafkan saya. Saya tidak sengaja menabrak anjing dan mobil milik Anda. Ampunilah saya, Nyonya. Jangan penjarakan saya. Ibu saya lagi sakit. Saya butuh biaya untuk menebus obat dan segala keperluan. Ampun, Nyonya. Maaf kan saya." Tangis Bobby meraung-raung. Laki-laki itu bahkan bersujud yang membuat mata Adel kian melotot. Dasar laki-laki tidak punya harga diri!
Salah satu pengawal atau bisa disebut bodyguard itu mengangkat tubuh Bobby untuk kembali duduk dengan benar saat tangis Bobby kian menjadi-jadi, meraung minta dikasihani.
"Apakah permintaan maaf dan air mata kamu bisa menghidupkan anjing kesayangan dari keluarga saya? Berhentilah. Jangan membuat saya memilih jalur yang lebih rumit."
Bobby mengangguk-angguk. Menghapus air matanya yang tak kunjung kering. Dan terus turun tanpa diminta. Adel menghela napas. Kasian sih, tapi kesal juga atas Bobby yang tidak bisa mengontrol diri.
"Tolong beri KTP kalian pada saya untuk jaminan diri agar kalian tidak kabur dari tanggungjawab."
Adel mengerutkan dahinya. Bobby menurut saja. Dia mengeluarkan dompet dan KTP di saku celana belakang. Menyerahkannya pada pengawal. Sedang Adel menggelengkan kepala saat ditodong.
"Saya tidak bawa KTP." Adel jujur. Dia memang tidak bawa apa-apa selain raga. Dan ... Pie! Mampus! Bu Nadia!
"Catat jati dirinya." Tuan rumah itu berkata lagi. Si pengawal mengangguk.
"Nama lengkap Anda."
Adel menatap pria yang menjulang itu dengan tidak suka. Dia melirik sekilas pada si wanita yang tengah menunggunya. Dan dengan terpaksa Adel menyebut namanya. Salsabila Adelia."
"Tolong eja satu per satu angka."
Melotot mata Adel. Rahang gadis itu langsung mengeras. Kekuatan tangan meremas ujung pakaiannya semakin lagi. Cuping hidung Adel melebar. Tapi apa boleh buat, dia akhirnya mengeja satu per satu huruf namanya. KTP Bobby dibawa seorang yang lain. Menuju sebuah meja di seberang sana dengan seorang wanita cantik bergaya seperti pramugari dengan rambut digulung rapi ke atas sudah siap dengan sebuah laptop yang terbuka.
"Tanggal lahir Anda."
"Untuk apa?" Kali ini Adel bertanya ketus. Tapi lengan kirinya langsung disenggol Bobby.
Adel mendengus, lalu menyebutkan tanggal lahirnya secara lengkap. Sekarang dia menatap penuh curiga orang-orang kaya ini. Identitas diri tidak boleh dibocorkan sembarangan. Apalagi dengan orang asing tidak dikenal.
"Apa kita mau dijual, Del?"
Sialan si Bobby itu. Benar-benar membuat Adel pusing sendiri. Berbagai prasangka buruk langsung menghantui Adel. Ingin rasanya dia melakban bibir Bobby agar tidak terlalu banyak bicara.
"Salsabila Adelia. Kelahiran Jakarta Utara. Dua puluh delapan tahun. Domisili Jakarta Utara. Belum menikah. Lulusan S1 Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Jakarta. Anak tunggal dari Diana Elma S. Alamat, Gang Waru nomor dua puluh. Pekerjaan pegawai aktif Kafe Kejora sejak lima tahun dari sekarang."
Adel benar-benar tersentak. Kepalanya mendongak menatap wanita di balik laptop itu yang membacakan semua identitas dirinya menggunakan mikrofon dan menggema jelas di ruangan besar ini. Napas Adel memburu cepat. Detak jantungnya tak keruan. Keringat dingin kembali mengucur deras. Tubuh Adel lemas mendengar seluruh data dirinya telah ada di sana.
"Total kerugian diperkirakan sekitar lima ratus juta rupiah. Mulai dari ganti rugi kerusakan mobil, serta ganti rugi biaya hidup Molly selaku anjing keluarga kami dimulai dari lahir hingga tutup usia yang ke-sembilan tahun. Batas pembayaran ganti rugi adalah enam bulan. Atau penjara paling tidak sepuluh tahun bahkan lebih."
BRAKKK!
Suara gedebuk nyaring itu menyita semua perhatian. Seseorang dengan tubuh cukup gendut telah tergerak mengenaskan di bawah sana. Bobby pingsan.