Desakan Mertua

1366 Words
Tak berapa lama, Bu Retno datang dari ruang tengah bersama Adhitama. Wajah Bu Retno tampak berseri, tetapi tidak dengan Adhitama. Sorot mata Adhitama tajam menatap Embun. Apa yang dikatakan Mama pada Mas Adhitama? Akankah menceritakan hal yang tidak kuinginkan? Mungkinkah ada hal lain yang dibicarakan setelah aku pergi tadi? Embun berkata dalam hati. Embun  menghela napas dengan panjang. “Tama, kamu harusnya di sini temani calon istri kamu ini. Bukannya malah di ruang tengah.” Bu Retno menatap Adhitama tajam, lalu beralih pada Hilya dengan senyuman yang manis. Melihat sikap Bu Retno pada Hilya, Embun merasa iri, pasalnya mertuanya itu tak pernah memperlakukan seperti itu. Dari awal menikah, beliau memang seperti tak suka pada Embun. Mungkin karena Embun hanya seorang yatim piatu tanpa asal-usul yang jelas. “Ma, Tama, kan, udah bilang dari dulu kalau Tama nggak akan pernah menyakiti Embun.” Adhitama berbicara dengan nada memelas. “Halah, Embun nggak akan tersakiti, kok. Bener, ‘kan, Embun?” tanya Bu Retno sambil menatapnya sinis. Embun menelan ludah pahit. Perlahan Embun pun mengangguk, agar mertuanya senang. “Embun jangan bohong! Aku kenal kamu udah lama. Dua tahun pacaran dan tujuh tahun menikah. Aku tahu kamu pintar nyembunyiin perasaan sedih kamu.” Adhitama menatap Embun dengan tajam. Embun merasa terharu mendengar pernyataan Adhitama. Ya, dia sangat mengerti dan memahami Embun. Bahkan, tanpa diberi tahu kalau Embun lagi sakit pun Adhitama bisa paham. Sebelum Embun meminta sesuatu yang diinginkan, pasti Adhitama sudah tahu lebih dulu. Hanya dengan memperhatikan sikap Embun yang tak biasa. “Mas, aku nggak bohong,” jawab Embun. “Pokoknya aku nggak mau nikah lagi. Titik.” Tegas Adhitama berucap. “Pokoknya Mama mau kamu nikah lagi. Semua ini demi kebaikan kamu, supaya kamu bisa secepatnya punya keturunan. Agar keluarga kita memiliki pewaris, Tama!” Bu Retno tak mau kalah. Embun hanya mampu bergeming menyaksikan anak dan ibu berseteru. Hati kecilnya senang saat  Adhitama bersikeras tak mau menikah lagi, tapi di sisi lain Embun tak boleh egois. Apalagi dia tak mampu memberikan keluarga ini pewaris. “Eemm, Hilya, maaf, ya, kamu jadi melihat pertengkaran di keluarga kami.” Embun memegang jemari Hilya dengan erat. “Nggak apa-apa, Mbak. Memang sebaiknya aku nggak datang ke sini. Sudah jelas suami Mbak begitu mencintai Mbak. Jadi jangan pernah memintanya menikah lagi.” Hilya melepas pegangan jemarinya, lalu menepuk tangan Embun pelan. “Kamu jangan pedulikan Tama, Nak Hilya. Mama akan tetap memaksa dia menikah. Tama harus bisa kasih keturunan. Kalau nggak mau menikah lagi, maka Tama juga harus bercerai dengan Embun.” Bu Retno berkata dengan penuh penekanan sambil menatap Embun tajam. Embun menunduk mendengar perkataan Bu Retno. “Mama ngomong apa, sih? Tama mencintai Embun, sampai kapan pun nggak akan pernah meninggalkannya. Mama nggak bisa atur hidup Tama.” Adhitama benar-benar kesal pada mamanya. “Dan kamu sebaiknya pulang saja Hilya. Jangan turuti keinginan kakak kelasmu ini,” ucap Adhitama pada Hilya. Hilya pun mengangguk. “Maaf, Mas, kalau kehadiranku membuat kekacauan. Aku permisi. Mbak Embun, aku pamit dulu, ya? Tolong jangan paksa aku lagi.” Hilya tersenyum pada Embun, lalu setelah mengucapkan salam dia melangkah keluar rumah. “Tunggu, Hilya!” teriak Bu Retno, tapi Hilya tak memedulikannya. “Ma, sudahlah nggak usah paksa Tama ataupun gadis itu lagi. Lagian, Mama belum kenal dengan gadis yang dibawa Embun ke sini,” ucap Adhitama. Bu Retno hanya berdecak kesal. “Tama gadis itu sangat cocok sama kamu. Sudah cantik, pakaiannya islami, sopan, dan tentunya dia bukan yatim piatu. Pasti bisa kasih keturunan untuk keluarga kita.” Bu Retno berhenti sejenak, lalu menoleh padaku. “Nggak kayak istrimu ini, sudah yatim piatu, mandul pula,” lanjut Bu Retno. Embun terbelalak mendengar perkataan Bu Retno. Kenapa Mama mengingkari janjinya? Bukankah sudah kesepakatan bersama kalau kemandulanku tidak akan pernah diceritakan pada Mas Adhitama? Mama begitu tega. Embun berkata dalam hati. Matanya berkaca-kaca. Dia menarik napas dalam. “Maksud Mama apa? Mandul? Siapa yang mandul?” tanya Adhitama dengan memandang Embun dan Mama bergantian. Embun tak mampu berkata-kata. Tak sanggup menjawab pertanyaan Bu Retno. Air matanya langsung menetes satu per satu tanpa diminta. Dengan kasar dia mengusapnya, lalu berlari ke kamar. “Dasar nggak sopan! Mertua masih di sini malah ditinggal ke kamar!” Bu Retno masih saja mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Sama sekali tak menghargai perasaan Embun.  Adhitama memanggil Embun dan hendak menyusulnya. Namun, Bu Retno menahannya. Napas Embun kembang kempis menahan sesak.  Entah, bagaimana perlakuan Mas Adhitama setelah ini. Akankah dia tetap bersikeras tak mau menikah lagi? Atau justru dia akan meninggalkanku? Oh Tuhan ... apa yang harus hamba lakukan? Lagi-lagi Embun hanya mampu bertanya dalam hati. “Nggak usah kejar Embun! Biarkan saja dia! Lagian memang salah dia sendiri mandul!” Bu Retno berkata dengan begitu sinis. “Tama nggak nyangka kalau Mama suka berkata kasar pada Embun. Jangan-jangan memang seperti ini setiap hari kalau Mama berkunjung ke sini tanpa ada Tama.” Adhitama membingkai Bu Retno dengan tatapan dalam. “Wajarlah Mama kayak gini, dia salah.” Lagi-lagi Bu Retno menyalahkan Embun. “Ma, Embun nggak salah! Dan Tama baru tahu kalau Embun ternyata mandul.” Adhitama menghela napas dalam. “Makanya itu Mama kasih tahu kamu, biar tahu dan kamu bisa memikirkan untuk menikah lagi.” Bu Retno tersenyum menatap Adhitama. “Nggak akan Ma. Sekali nggak ya nggak!” sentak Adhitama. “Kamu berani berkata kasar sama Mama sekarang, ya?” tanya Bu Retno. “Itu semua karena Mama juga.” Adhitama menarik napas dalam. “Sebaiknya Mama pulang saja,” lanjut Adhitama. “Kamu ngusir Mama?” tanya Bu Retno. “Daripada di sini Mama terus marah-marah,” lanjut Adhitama. Bu Retno pun akhirnya pulang dengan perasaan kesal. Sementara Adhitama pun pergi ke kamar untuk menyusul Embun. Sementara Embun, di kamar dia langsung menelungkupkan badan di kasur. Menumpahkan segala kesedihan di hati. Segumpal daging di dalam sini begitu nyeri. Air matanya terus mengalir tiada henti bagai samudra. Tiba-tiba terasa tangan seseorang mengelus rambutnya dengan lembut. Embun berbalik, tampak Adhitama tersenyum menatap Embun. Wanita itu tak menyadari kehadiran Adhitama, karena terlalu larut dalam kesedihan. “Kamu kenapa nyembunyiin masalah besar ini dari aku, Embun?” Adhitama berkata dengan nada lembut. Embun pun kemudian duduk sambil mengusap air mata yang masih mengalir. “Mama masih di sini, Mas?” Bukannya menjawab pertanyaan Adhitama, Embun malah menanyakan Bu Retno. “Udah pulang. Aku memintanya untuk pulang. Jawab pertanyaanku tadi.” Adhitama masih membingkai Embun dengan tatapan dalam. “A-a-aku takut, kamu meninggalkanku kalau tahu yang sebenarnya, Mas,” lirih Embun. “Embun, kenapa kamu berpikiran kayak gitu? Aku mencintaimu, apa pun yang terjadi padamu aku nggak akan pernah meninggalkanmu.” Adhitama meraih jemari Embun, lalu menggenggamnya dengan erat. Embun terenyuh mendengar perkataan Adhitama. Ya, seharusnya dia memang menceritakan masalah ini padanya. “Kalau saja kamu cerita dari awal, kita bisa adopsi anak di rumah sakit, tanpa harus memaksaku menikah lagi.” Lagi pernyataan Adhitama membuat Embun terharu. Embun hanya bergeming tak mampu berkata-kata. Dia tersedu-sedu, kemudian menenggelamkan wajah di pelukan Adhitama. “Kamu harus tetap menikah lagi, Mas. Aku nggak mau Mama memintaku bercerai darimu.” Suara Embun bergetar. Embun akhirnya berkata jujur pada Adhitama tentang semua perlakuan mertuanya pada Embun. “Maksudmu? Kenapa harus bercerai kalau aku nggak mau menikah lagi?” Mata Adhitama menyipit. Sebelum menceritakan semuanya, Embun menarik napas dalam. Mencoba menata hati agar sedikit tenang. Lalu, meluncurlah kata demi kata dari mulutnya. Embun mengatakan kalau Bu Retno mengajaknya periksa kandungan, ketika dokter menyatakan  mandul, Bu Retno begitu murka. Dia menyuruh agar Embun meminta cerai dari Adhitama. Tentu saja Embun menolak karena tak sanggup kehilangan suami tercinta. Lalu, Bu Retno memberi pilihan, bercerai atau mencarikan istri muda untuk Adhitama. Akhirnya, dengan berat hati Embun pun memilih yang kedua. Namun, Embun memberi syarat agar mertuanya itu tak memberi tahu soal kemandulannya pada Adhitama. Nyatanya Bu Retno mengingkari janjinya. “Kenapa kamu nggak pernah cerita soal ini sama aku? Kenapa kamu menyembunyikan kesedihanmu sendirian? Aku ini suamimu.” Adhitama kembali merengkuh Embun ke dalam pelukannya. “Aku nggak mau hubungan kamu dengan Mama menjadi buruk, Mas. Aku sayang kamu dan juga Mama. Mama sudah kuanggap ibu sendiri, meskipun beliau nggak pernah menganggapku menantu. Meskipun perlakuan Mama padaku begitu buruk.” Embun terisak di pelukan Adhitama. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD