Reuni SMA [Part 4]

734 Words
Bunga masih mematung di sana. "Beri semangat dulu dong untuk teman kita, Bunga." Pinta Max pada para tamu yang hadir. Lalu semua orang memberikan tepuk tangan untuk Bunga. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kalau aku bilang aku akan pergi, mereka akan mengejekku tukang cari makan gratisan aja. Tapi kalau aku maju, apa yang harus kuceritakan?" Bunga merasa bingung. Lalu tanpa sengaja Bunga melihat Jaka duduk bersama seorang wanita, tampaknya dia adalah istri Jaka. Maka dalam sekejap keberanian Bunga muncul. Dia melangkahkan kakinya maju dan naik ke pentas. Bunga berdiri di depan microphone dan mulai bicara. "Tadinya saya ingin menyapa apa kabar, tapi tampaknya kita semua hari ini dalam keadaan sehat dan bahagia. Jadi semoga kita terus berbahagia, karena itulah yang paling penting dalam hidup ini." Mendengarnya membuat semua orang tersenyum. "Saya yakin setiap orang punya kebahagiaannya masing-masing, ada yang bahagia karena memiliki pasangan, ada juga yang bahagia karena mencapai karier dalam hidupnya. Atau mungkin hal lainnya." Lanjut Bunga. "Lantas hal apa yang membuat kamu bahagia?" Max yang penasaran bertanya padanya. Bunga melihat ke arah Max lalu menunjuk ke arahnya. "Aku?" Max salah tingkah. "Di sana, saat pertama saya bertemu dengan seseorang yang menjadi cinta pertama dalam hidup saya." Ternyata Bunga menunjuk ke arah jalan raya. Jaka yang sedang minum jus tiba-tiba terbatuk. "Kamu gak papa?" Cemas istrinya. Jaka menggelengkan kepalanya. "Dia yang selalu berusaha untuk mendapatkan hati saya, tapi saya tidak pernah menyadarinya. Saya hanya tau kalau cinta itu harus dikatakan bukan dengan tindakan. Pada akhirnya kami berpisah tanpa pernah saling tau perasaan satu sama lain." Cerita Bunga membuat semua orang terdiam dan menyimak dengan fokus, termasuk siswa tadi. "Selama 10 tahun saya menyimpan perasaan itu untuk dia, lalu saat kami bertemu lagi, dia mengantarkan undangan pernikahannya." Kini Jaka yakin kalau orang yang dimaksud Bunga adalah dirinya. 3 tahun yang lalu, Jaka bertemu Bunga di tempat Bunga mengajar. "Bunga." Seperti biasa, Jaka selalu menyapanya dengan ramah. Kali ini Bunga terlihat bahagia. "Akhirnya kamu datang lagi Jaka." Dia pikir masih ada harapan. "Kamu ngajar di sini?" Tanya Jaka. "Iya, kamu kok di sini?" Bunga balik bertanya. "Aku mau mengantar undangan untuk teman aku yang bekerja di sini." Jawab Jaka. "Undangan?" Tanya Bunga. "Oh ya, karena aku ketemu kamu di sini, sekalian aku mau mengundang kamu datang ke pernikahan aku ya?" Ternyata itu adalah undangan pernikahan Jaka. Langit seakan runtuh, seketika raut wajah Bunga berubah muram. "Oh, kamu mau nikah? Selamat ya." Tetapi Bunga harus tetap tegar meski batinnya menangis pilu. "Hai Jaka, kamu sudah datang." Lalu teman Jaka yang juga guru di tempat Bunga bekerja datang. "Jaka, aku masuk kelas dulu ya." Bunga segera pergi meninggalkan mereka berdua di halaman sekolah. Air mata jatuh di pipi Bunga, segera dia menghapusnya dan berjalan menuju ke kelas. Kepiluan itu turut dirasakan semua alumni yang mendengar cerita Bunga. "Ternyata kami memang tidak ditakdirkan bersama. Terkadang saya menyesali kenapa dulu saya mengabaikannya, menjauhinya, andaikan saja saya tidak seperti itu, mungkin kami sudah bersama." Bunga melanjutkan ceritanya. "Apakah dia alumni SMA kita juga?" Max menjadi penasaran. Bunga mengangguk. "Tapi saya menceritakan semua ini bukan karena saya masih mencintainya, saya hanya ingin memberi tahukan kepada adik-adik kami di sini, jika kalian mencintai seseorang, katakanlah, terlepas nanti diterima atau ditolak, itu hal biasa, terlepas kalian laki-laki atau perempuan yang harus lebih dulu, gak masalah. Ingat, ini soal hati, jangan sampai kalian menyesal di kemudian hari. Karena cinta bukan soal memberi atau diberi, apalagi terikat hal-hal yang tidak pantas. Cinta hanya perlu diungkapkan, dan cinta sejati itu adalah ketika kalian bahagia meski hanya menyebut namanya saja, meski tidak memilikinya." Bunga mengakhiri ceritanya dengan senyuman. Dia nampak tegar. Miko yang sudah bergabung duduk bersama tamu undangan, berdiri lalu memberikan tepuk tangan untuk Bunga yang disusul oleh seluruh tamu dan siswa di sana. "Dia keren." Puji siswa yang ditemui Bunga tadi. Bahkan ada yang bersiul. "Luar biasa." Mereka mengelu-elukan Bunga. Bunga merasa sangat lega, kini dia dapat meninggalkan lokasi acara tanpa rasa yang tertinggal. Miko membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Bunga masuk. Mobil mereka meninggalkan sekolah, Bunga menoleh ke belakang sambil tersenyum. "Sekarang semuanya akan tertinggal di sini." Gumam hatinya. Miko juga bahagia melihat Bunga yang begitu bahagia karena bisa mengungkapkan isi hatinya yang lama terpendam. "Tapi Bu, saya penasaran, kini pada siapa hati ibu tertaut?" Tanya Miko kemudian. "Pada cinta terakhir saya." Jawab Bunga dengan penuh percaya diri. "Apa Ibu sudah menemukannya?" Tanya Miko. "Kami akan segera bertemu." Jawab Bunga penuh keyakinan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD