Mata merah itu menatap langsung ke arah Nara.
Tidak berkedip.
Tidak bergerak.
Namun tekanan yang keluar darinya membuat d**a Nara terasa sesak.
Udara di lorong berubah panas dan dingin secara bersamaan.
Maya mundur sambil gemetar hebat.
“Kita terlambat…”
Dimas menggenggam tangan Nara.
“Kita turun sekarang.”
“Apa lo gila?!”
“Kalau tetap di sini kita juga mati!”
Kalimat itu membuat semua pengunjung tanpa wajah tertawa bersamaan.
Suara mereka menggema seperti gema dari sumur dalam.
“Kalian sudah mati…”
“Kalian sudah mati…”
Tangga basement dipenuhi noda hitam seperti bekas terbakar.
Setiap langkah terasa lengket.
Seolah lantainya hidup.
Lampu kecil merah menyala di sepanjang dinding batu tua.
Dan semakin mereka turun…
Suara detak jantung itu makin keras.
DUK.
DUK.
DUK.
Nara memegangi kepalanya.
Setiap detakan membuat memorinya kembali sedikit demi sedikit.
Ia ingat rasa sakit saat tubuhnya menghantam aspal.
Ia ingat suara orang-orang berteriak memanggil ambulans.
Dan yang paling membuatnya takut…
Ia ingat sempat melihat Midnight Coffee sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.
Seolah kafe itu menunggu mereka sejak awal.
Di dasar tangga terdapat ruangan besar berbentuk lingkaran.
Dindingnya dipenuhi simbol ritual merah tua.
Di tengah ruangan ada sumur hitam raksasa.
Asap keluar dari dalamnya.
Dan di sekeliling sumur…
Berdiri banyak sosok berjubah hitam.
Diam.
Tidak bergerak.
“Siapa mereka?” bisik Nara.
Maya menjawab pelan:
“Pengunjung pertama.”
Tiba-tiba salah satu sosok berjubah mengangkat kepala.
Wajahnya hangus terbakar.
Lalu satu per satu yang lain ikut mengangkat kepala.
Semua wajah mereka rusak.
Korban kebakaran 1998.
“Dulu mereka melakukan ritual supaya bisa hidup selamanya,” kata Maya lirih.
“Tapi sesuatu datang dari bawah sumur.”
Suara dari dalam sumur terdengar.
Pelan.
Seperti orang berbisik dari kedalaman.
“Aku lapar…”
Nara merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri.
Dimas menyorotkan flash HP ke dalam sumur.
Dan ia langsung mundur ketakutan.
Di dalam sana…
Ada ribuan tangan manusia bergerak-gerak.
Mencoba memanjat keluar.
Mendadak sosok berjubah mulai bergerak mendekati mereka.
Pelan.
Kaku.
“Lari…” bisik Maya.
Namun salah satu sosok langsung menangkap tangannya.
TANGANNYA PUTUS.
“MAYAAA!”
Perempuan itu menjerit kesakitan.
Tubuhnya mulai berubah menjadi abu.
“Aku nggak kuat lama-lama…”
Nara membantu menarik Maya menjauh.
Sementara Dimas menemukan sesuatu di dekat sumur.
Sebuah pintu besi kecil dengan simbol angka:
7
“Ada pintu di sini!”
Maya langsung panik.
“Jangan dibuka sebelum ritual selesai!”
“Ritual apa?!”
Maya menangis.
“Kafe selalu memilih satu jiwa baru setiap malam.”
Nara membeku.
“Dan malam ini…”
Maya menatapnya.
“Itu kamu.”
DUK.
DUK.
DUK.
Detak jantung raksasa tiba-tiba berhenti.
Semua sosok berjubah ikut diam.
Sunyi total.
Lalu…
Sesuatu bergerak dari dalam sumur.
Perlahan.
Suara rantai terdengar.
SRET.
SRET.
SRET.
Dan tangan besar hitam muncul dari dalam kegelapan.
Ukurannya tidak normal.
Penuh luka bakar.
Kemudian kepala makhluk itu mulai terlihat.
Tubuhnya seperti manusia…
Namun terlalu tinggi.
Terlalu kurus.
Dan wajahnya…
Terdiri dari banyak wajah manusia menyatu.
Semua menangis.
Semua berteriak.
Makhluk itu tersenyum saat melihat Nara.
“Akhirnya.”
“Penggantiku datang.”