Ruangan televisi itu mendadak terasa lebih dingin.
Nara tidak bisa bergerak.
Perempuan di depannya benar-benar mirip dirinya. Tinggi badan, suara, bahkan t**i lalat kecil di bawah mata kiri.
Bedanya…
Kulit perempuan itu pucat seperti mayat.
Dan kedua matanya hitam kosong.
“A-apa maksud lo…” bisik Nara.
Perempuan itu melangkah mendekat perlahan.
“Aku Nara.”
“Dan kamu juga Nara.”
Dimas masih terikat di kursi sambil berusaha melepaskan kabel hitam dari tubuhnya.
“Nar! Jangan dengerin dia!”
Namun perempuan itu tersenyum tipis.
“Kafe ini suka memainkan waktu.”
“Orang yang masuk tidak selalu sadar kapan mereka mati.”
Kalimat itu membuat d**a Nara terasa sesak.
“Mati…?”
Televisi-televisi di ruangan tiba-tiba berubah channel sendiri.
Satu layar memperlihatkan berita kecelakaan motor.
Satu korban meninggal.
Dua orang hilang.
Tanggalnya…
20 Mei 2026.
Nara menatap layar itu dengan napas memburu.
Foto korban muncul perlahan.
Itu Dimas.
Dan dirinya.
“Ini bohong…”
Nara mundur sambil menggeleng cepat.
“Ini cuma halusinasi.”
Perempuan itu menunjuk layar lain.
Di sana terlihat motor Dimas hancur di jalan basah karena hujan.
Tubuh seseorang tergeletak penuh darah.
Helmnya pecah.
Nara mulai gemetar.
Potongan memori aneh muncul di kepalanya.
Suara rem mendecit.
Lampu truk.
Tubuh terlempar.
Dan suara Dimas memanggil namanya.
“Lo ingat sekarang?” tanya perempuan itu lirih.
Air mata Nara mulai jatuh.
“Kalau kami mati…”
“Kenapa kami masih di sini?”
“Karena Midnight Coffee tidak membiarkan semua arwah pergi.”
Ruangan mendadak dipenuhi suara bisikan.
Ratusan suara.
“Tetaplah di sini…”
“Kami kesepian…”
Televisi menyala semakin terang.
Nara melihat ratusan wajah di dalam layar.
Semua menatapnya.
Beberapa mulai mengetuk kaca televisi dari dalam.
TOK.
TOK.
TOK.
Dimas akhirnya berhasil melepaskan satu tangan.
“NAR!”
“ITU BUKAN LO!”
Perempuan itu langsung menoleh pelan ke arah Dimas.
Lehernya berbunyi retak.
KRKKK.
“Aku lebih nyata daripada kalian.”
Lampu mati mendadak.
Gelap total.
Lalu terdengar suara langkah kaki mengelilingi mereka.
Cepat.
Tidak wajar.
Nara menahan napas.
Sampai sebuah bisikan muncul tepat di telinganya.
“Kalau ingin hidup lagi…”
“Gantikan seseorang.”
Lampu menyala kembali.
Kini seluruh televisi menampilkan satu wajah yang sama.
Seorang gadis SMA berhijab.
Wajahnya penuh darah.
Itu siswi yang tadi memperingatkan mereka tentang meja 7.
Di bawah wajahnya muncul tulisan:
STATUS: BELUM DIGANTIKAN
Perempuan versi Nara tersenyum kecil.
“Kafe selalu butuh penjaga baru.”
“Kalau ada yang menggantikan posisi mereka…”
“Yang lama bisa pergi.”
Dimas langsung mengerti.
“Jadi semua arwah di sini terjebak?”
Perempuan itu mengangguk.
“Dan sekarang giliran kalian memilih.”
Tiba-tiba terdengar jeritan dari lorong luar.
Panjang.
Menyakitkan.
Pintu ruang televisi terbuka sendiri perlahan.
CREEEK…
Sosok siswi berhijab tadi berdiri di sana.
Tubuhnya basah kuyup darah.
Namun kali ini wajahnya penuh ketakutan.
“Tolong…”
“Dia datang…”
“Siapa?” tanya Nara.
Belum sempat gadis itu menjawab—
TANGAN HITAM besar muncul dari langit-langit.
Menarik tubuhnya ke atas.
Gadis itu menjerit histeris sambil mencakar lantai.
“TOLONG JANGAN BIARKAN AKU BALIK KE DAPUR!”
Tubuhnya hilang ke kegelapan.
Dan sesuatu mulai merangkak turun dari plafon.
Perlahan.
Suara tulangnya patah terdengar jelas.
KRKK.
KRKK.
KRKK.
Makhluk tinggi tanpa mata itu muncul lagi.
Kini mulutnya terbuka penuh gigi hitam tajam.
Di dadanya tertulis angka merah:
7
Makhluk itu menatap Nara.
Lalu menunjuknya dengan jari panjang kurus.
“Kursimu sudah siap.”