Sepanjang acara siang itu, Raja tidak melepaskan tangan Lyara sebentar pun dari tangannya. Bahkan saat teman-teman Raja datang menyapa dan mengejeknya yang tidak sabaran juga bucin akut, Raja hanya menjawabnya dengan wajah penuh senyum. Ia juga tidak memberikan tangan Lyara menyambut salam dari teman-temannya. “Mereka bawa kuman yang bikin gatel, jangan pegang-pegang,” ucap Raja dengan nada mengejek. “Sialan anj!” salah satu dari empat pria berjas itu menepuk pundak Raja dengan ringan. Ketiga lainnya membala dengan umptan serupa. Lyara melihatnya dengan senyuman yang tidak pernah turun. Genta adalah salah satu diantaranya. Ia berdiri di dekatnya, “Ini terlalu nyata untuk sebuah kontrak, kan?” bisiknya pelan. Lyara setuju dengan itu. “Kamu bisa membuatnya jadi kenyataan?” tanya Genta.

