Alis Lyara bertaut, bibirnya juga mengerucut kesal. Klien mengesalkan seperti itu memang selalu membuatnya kesulitan. Ia menekan tombol telepon dan suara serak Rakha di seberang sana segera terdengar.
“Baru bangun? Jadi lo baru liat laporan yang gue kirim?” tanya Lyara langsung menodongnya. Ia mengunci kembali pintu depan rumah dan duduk di kursi teras sambil memakai sepatunya.
“Bukan laporan lo yang baru gue liat, Ra,” jawab Rakha.
“Terus?”
“Kali ini gue gak tau gimana caranya bela lo, Lyara,” Rakha terdengar frustasi.
“Ada apa sih? Serius banget cuma karena gue tendang? Helo? Gue juga rugi di sini. Sepatu gue patah!” cecar Lyara tak bersabar. Ia mulai marah. Apakah ia salah jika membela dirinya sendiri?
“Lo bisa datang?” tanya Rakha dengan nada lembutnya. Ia tahu sekali kalau Lyara sudah terpancing emosinya.
Lyara melirik jam di ponsel, lalu mengangguk, “Bisa. Gue ketemu Pak Kevin jam delapan,” jawab Lyara. “Ini emang mau ke sana,” lanjutnya lagi.
“Oke, gue kasih tau setelah lo nyampe,” jawab Rakha kemudian memutuskan sambungan telepon.
Lyara menatap ponselnya dengan kesal. Kerugiannya lebih besar dari cedera yang bisa diakibatkan dari tendangannya. Tapi ia harus mengikuti aturan main. Bisa apa jika ia akhirnya harus mendapat hukuman dari apa yang sudah dilakukannya?
Memasukkan ponsel ke tasnya, Lyara meraih kedua paper bag yang ia letakan di lantai, menyelipkan talinya digantungan motor, setelah merapatkan jaket, Lyara merapikan rambut sebelum memakai helm.
-o0o-
Melepaskan helmnya dan membawa masuk ke dalam bangunan dua lantai berdinding cream dengan dua tiang ala eropa di depannya, Lyara tidak perlu berakting dengan senyum manis menawan saat di sana. Ia menjadi dirinya sendiri dan tidak perlu menggunakan skillnya. Tangan kirinya penuh dengan dua paper bag besarnya.
Ia harus mengembalikan properti perusahaan. Benar sekali, kedua benda itu bukan miliknya. Bagaimana bisa ia punya tas dan baju buatan desainer dengan keadaannya yang sekarang? Itu adalah suatu kemustahilan. Meskipun sepatunya adalah miliknya sendiri, sepatu itu bukan lahir dari dompetnya. Sepatu itu adalah bagiannya dari sponsor.
Semacam itu. Sepatu mahal itu adalah hadiah.
Lyara menyapa Pak Setya, satpam yang bertugas hari ini. Pak Setya tersenyum ramah padanya dan membalas sapaannya. Tangan Lyara terangkat dan mengangguk.
“Alina udah datang belum, Pak?” Lyara bertanya sambil menyimpan kedua paper bagnya di lantai. Ia berdiri di depan meja Pak Setya.
Pak Setya menggeleng, “Belum. Neng Ra yang duluan datang,” jawabnya.
Senyum Lyara mengembang. Tentu saja ia yang datang lebih dulu. Karena urusannya yang paling mendesak disini. “Aku ke belakang dulu ya, Pak,” pamitnya dengan tangan kembali mengambil tali paper bag.
Pak Setya mengangguk.
“Tapi Rakha ada, kan?”
“Dia gak pulang kayaknya tadi malem,” jawab Pak Setya.
Mata Lyara membulat, “Lagi?”
“Biasa, Neng, malam minggu,” Pak Setya tersenyum.
Bibir Lyara membulat, ia mengangguk mengerti, kemudian berlalu dari lobi. Langkahnya membawanya masuk ke lobi dalam kantor. Lobi kantor itu diisi dengan satu meja tinggi resepsionis di sisi kiri, dengan logo Lofou dan hiasan bunga juga papan penerima tamu. Ada sofa empuk berwarna hitam yang mengelilingi meja rendah dengan kaca hitam tebal. Ia berjalan lebih masuk lagi. Ada beberapa pintu di dalamnya. Satu pintu ke pantri, lalu ke kamar mandi, dan satu lagi adalah pintu ke ruangan paling besar di kantor Lofou. Ruang penyimpanan. Ia membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya. Ruangan itu penuh dengan baju-baju dan tas-tas, juga sepatu-sepatu mahal. Ada juga banyak kotak aksesoris yang terpajang di sana. Semuanya adalah properti yang biasa di pakai para talent untuk pererjaan mereka.
Tangan Lyara meletakkan kedua paper bag di meja panjang di sudut ruangan. Tempat yang Alina siapkan untuk pengembalian properti yang sudah selesai digunakan. Juga untuk menyimpan properti yang sudah disiapkan Alina untuk setiap proyek. Lyara mengambil dua paper bag yang bertuliskan namanya. Properti untuk pagi dan malam ini.
Alina adalah penata busana dan penata gaya yang sudah bekerja sangat lama di Looking For You.com. Lebih lama dari Lyara. Alina juga adalah orang paling santai kerjaannya. Biasanya Alina akan dapat lembar kriteria klien untuk memadu-padankan kostum apa yang akan dipakai para talent untuk pekerjaan mereka.
Termasuk memilihkan baju yang dipakai Lyara tadi malam. Lyara menyukai ide two in one dressnya. Tapi ia langsung kesal saat ingat kembali apa yang dialaminya tadi malam. Benar adanya kalau hari sial itu tidak ada dalam kalender. Dan ia menobatkan malam tadi adalah malam sialnya selama bertahun-tahun.
Mengingat itu, Lyara tidak lagi berlama-lama di ruangan Alina. Langkahnya langsung membawanya naik ke lantai dua, ia tahu dimana Rakha berada.
Tebakannya benar. Lelaki yang hanya dua bulan lebih tua darinya itu masih memakai kaos oblong dan kolor bergambar patrick star. Berada di balik meja komputernya yang canggih dan hanya menyembulkan kepalanya saat mendengar pintu terbuka. Menyambutnya dengan wajah yang selalu sama setiap kali Lyara berkunjung.
“Lo udah baca laporan gue?” todong Lyara setelah melihat kepala Rakha kembali menghilang dibalik layar monitor besarnya. Ia menyimpan helm dan paperbagnya di sofa.
“Udah,” jawab Rakha pelan. “Sekarang, lo liat foto-foto yang gue kirim,” lanjutnya memerintah.
Lyara mengerjap, tadi ia langsung memakai jaket dan menyimpan ponsel tanpa melihatnya lagi. Tangannya membuka tas tangannya dan mengeluarkan ponsel. Ponsel yang sudah dua tahun menemaninya bekerja dan kemana-mana.
Mata Lyara membelalak kaget saat melihat foto-foto yang dikirimkan Rakha. Ujung bibirnya tertarik naik.
Rakha yang sudah berdiri di samping Lyara menatap layar ponsel gadis itu juga.
“Lo kira gue yang bikin orang gila ini jadi gini?” tanya Lyara mengangkat layar ponselnya. Ia menyeringai. Entah kenapa, meskipun bukan dirinya yang membuat orang gila itu menjadi seperti di foto, tapi rasanya ia puas sekali. Wajah Anthony yang babak belur membuatnya merasa lebih baik. Harusnya tangannya sendiri yang berbuat begitu.
“Lo gak bisa?”
“Bisa. Tapi mood gue ancur karena heels gue patah, Rakha!”
“Jadi bukan lo yang bikin kayak gini?”
“Gue akan lebih bahagia kalau gue yang beneran bikin dia gitu,” jawab Lyara dengan cengiran yang belum menghilang.
“Jadi siapa? Pacar lo?”
Lyara mengerjap, “Pacar?”
Kepala Rakha memiring sambil memicing menatap Lyara. Tatapannya menyelidik.
“Sejak kapan gue punya waktu luang buat punya pacar?” cerca Lyara.
Rakha memutar layar monitornya.
Mata Lyara membulat melihat apa yang terpampang di depannya. Adegan memalukan yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman ini. Alisnya bertautan dan matanya melirik Rakha dengan tajam.
“Lo mata-matain gue?!”
-o0o-
Rakha adalah teman lamanya. Satu-satunya temannya. Satu-satunya yang Lyara percaya selain keluarganya. Lyara bertemu Rakha pertama kali saat masih sekolah di kelas akting. Saat Lyara masih menjadi anak orang kaya. Saat Lyara belum mengerti bagaimana susahnya mencari uang. Rakha menjadi seniornya di kelas akting. Beberapa kali menjadi pasangan dalam pentas yang digelar kelasnya, Lyara menghilang setelah Ayah bangkrut dan ia kehilangan kontak dengan Rakha.
Barulah dua tahun lalu ia kembali bertemu dengan lelaki itu secara tidak sengaja. Rakha menawarkannya pekerjaan ini. Bertanya tentang pelajaran akting yang masih diingat Lyara. Begitulah selanjutnya, ia menjadi salah satu talent Looking For You. Setelah bekerja dengannya, lelaki yang bertindak sebagai penampung semua keluhan para talent itu, juga menjadi penampung semua curhatan dan keluhannya.
Dan sejak saat itulah Lyara bisa sedikit bernapas lega. Karena ternyata pekerjaannya ini menghasilkan uang yang lebih besar untuknya. Jika bekerja di kafe dan resto hanya akan mendapat setengah dari UMR, maka bekerja dengan Rakha akan mendapat berkali lipat UMR. Tapi sejak saat itu, Ayah jadi lebih sering sakit. Dan Mama semakin menghamburkan uang yang tidak seberapa itu.
Lyara beringsut menutupi layar yang tentu saja menjadi tindakan yang sia-sia. Matanya menatap lelaki di depannya. Ia bertanya antara malu dan marah. Entah mana yang lebih besar persenannya. Tapi ia marah sekaligus malu sekarang.
“Terus? Siapa orang itu? Kenapa dia—”
Lyara mengangkat tangan, menutup mulut Rakha dan menggeleng. “Dia orang gila!” desisnya. Ia berusaha agar Rakha tidak mengucapkan hal yang membuatnya malu. Tentang ciuman tidak bermoralnya tadi malam.
-o0o-